Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Dua Puluh Tahun yang Hilang
Dunia tidak menyambut Wei Mou Sha dengan hangat saat ia lahir. Dunia menyambutnya dengan pisau bedah dan mantra pengunci.
Ia tidak ingat wajah ibunya. Tidak ingat apakah ada tangisan saat ia keluar ke dunia ini.
Yang pertama kali ia ingat adalah langit-langit batu. Suara seseorang yang berbicara di atas tubuhnya.
"Responnya lebih kuat dari yang kuduga. Naikkan dosis nya."
"Tetua, jika dinaikkan lagi, ada risiko kerusakan permanen pada..."
"Aku tahu risikonya. Lakukan saja"
Wei Mou Sha berusia tiga tahun waktu itu. Ia tidak mengerti kata-kata mereka. Tapi ia mengerti jarum yang menghujam titik-titik qi di sepanjang tulang belakangnya, dan ia mengerti bahwa menangis tidak mengubah apapun karena ia sudah mencobanya berulang kali.
Jadi ia berhenti untuk menangis.
Itu pelajaran pertama yang ia pelajari di dunia.
Tempat itu tidak punya nama resmi, Ia memanggilnya ruangan abu-abu dalam pikirannya, karena memang begitulah adanya.
Ruang bawah tanah dengan dinding batu yang tidak pernah melihat matahari, diterangi oleh bola cahaya qi yang menggantung di langit-langit sepanjang waktu, tidak terlalu terang, tidak terlalu gelap, selalu sama.
Tidak ada jendela. Tidak ada pergantian siang dan malam. Tidak ada cara untuk tahu sudah berapa lama ia ada di sana kecuali dari tinggi badannya sendiri yang perlahan bertambah setiap kali ia melihat bayangan di dinding batu.
Yang ada hanya meja batu. Ranjang tipis. Dan orang-orang berbaju hitam yang datang dan pergi dengan wajah yang selalu ditutupi kain.
Mereka menyuntik. Mereka mencatat. Mereka berbisik satu sama lain dengan nada-nada yang tidak ia mengerti.
Dan sesekali, seorang tetua datang.
Tetua itu tidak pernah memperkenalkan dirinya dan tidak pernah menyebut namanya. Wajahnya selalu tertutup kabut tipis.
Yang Wei Mou Sha ingat dari tetua itu hanya suaranya yang tenang, dan presisi.
Dan tangannya, tangan keriput yang menekan sebuah segel ke dada Wei Mou Sha di suatu malam ketika ia berusia tujuh tahun.
Segel itu terasa seperti api yang dipadatkan menjadi es.
Ia ingat dadanya seperti meledak ke dalam, seolah seluruh ruang di dalam dadanya tiba-tiba runtuh menjadi satu titik yang sangat kecil dan sangat dingin.
Ia ingat tetua itu berdiri di sisinya, menonton, mencatat sesuatu di atas lembaran kulit dengan pena yang terbuat dari tulang.
"Reaksinya normal," kata tetua itu kepada asistennya yang berdiri di sudut. "Integrasi berlangsung sesuai prediksi. Mulai fase kedua minggu depan."
"Anak ini..." asisten itu ragu. "Tetua, ia masih sangat muda untuk..."
"Justru karena ia masih muda," potong tetua itu tanpa mengangkat kepala dari catatannya.
Wei Mou Sha tidak bisa bergerak selama tiga hari setelah malam itu.
Di hari keempat, ia bisa duduk.
Di hari ketujuh, ia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan, duduk bersila dan mencoba merasakan qi di dalam tubuhnya seperti yang pernah diajarkan asisten berbaju hitam itu.
Yang ia temukan bukan qi.
Yang ia temukan adalah kekosongan, ruangan yang luas gelap dan dalam, seperti sumur tanpa dasar, seperti langit malam tanpa bintang. Dan di tengah kekosongan itu, berdenyut sesuatu seperti lubang yang perlahan memakan sekelilingnya.
Segel itu.
Segel Kekosongan Abadi.
Ia belum tahu namanya waktu itu.
****
Di usia delapan tahun, ia masih bisa marah.
Di usia sepuluh tahun, rasa marah itu menjadi lebih jarang.
Di usia dua belas tahun, ia mencoba mengingat kapan terakhir ia merasa takut.
Di usia empat belas tahun, seseorang di antara para asisten berbaju hitam itu, seorang pria muda yang berbeda dari yang lain karena sesekali suka tersenyum padanya, tiba tiba jatuh sakit dan tidak datang selama seminggu.
Wei Mou Sha menunggu kepulangannya. Ia tidak tahu mengapa. Tapi ketika pria itu akhirnya kembali dengan wajah lebih pucat dan berjalan agak pincang, Wei Mou Sha menatapnya dari atas ranjangnya dan berkata.
"Kamu sakit."
Pria itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Iya. Tapi sudah baikan."
Wei Mou Sha tidak menjawab. Ia berbalik menghadap dinding.
Tapi malam itu ia duduk sangat lama menatap langit-langit batu abu-abu itu, mencoba memahami mengapa kepulangan pria itu membuat sesuatu yang sangat kecil bergerak di dalam dadanya, di tempat yang harusnya sudah kosong.
Ia tidak menemukan jawabannya.
Di usia empat belas tahun tiga bulan, Wei Mou Sha membunuh untuk pertama kalinya.
Karena suatu malam dua penjaga berbicara di luar pintu sel dengan suara yang cukup keras untuk ia dengar.
Ia tidak akan pernah dilepaskan dari sini.
"Ia terlalu berharga untuk dilepas," kata penjaga pertama. "Tetua bilang fase akhir masih butuh delapan tahun lagi."
"Delapan tahun lagi di ruang ini?" penjaga kedua tertawa kecil. "Kasihan juga ya."
"Kasihan? Ini bukan manusia biasa. Ini instrumen."
Keheningan pun terjadi sebentar.
"Iya juga."
Wei Mou Sha duduk di atas ranjangnya dalam kegelapan, mendengarkan suara langkah kaki mereka menjauh.
Instrumen.
Ia meresapi kata kata itu dalam pikirannya selama beberapa menit.
Kemudian ia berdiri mendekati pintu dan menunggu.
Penjaga pertama masuk dua jam kemudian untuk membawa makanan malam.
Penjaga kedua masuk sepuluh menit kemudian untuk memeriksa kenapa rekannya lama dan tidak keluar.
Kemudian Wei Mou Sha mengambil kunci dari pinggang penjaga pertama, membuka pintu sel, dan berjalan keluar dengan langkah yang sama tenangnya seperti seseorang yang ingin pergi untuk berjalan-jalan sore.
Ia tidak tahu cara bertarung dengan benar. Tidak ada yang mengajarinya teknik pedang atau ilmu bertarung. Yang ia tahu hanya titik-titik qi di tubuh manusia yang sering ia perhatikan saat para asisten memeriksa tubuhnya, titik mana yang jika ditekan membuat seseorang tidak bisa bergerak, titik mana yang lebih permanen akibatnya.
Pengetahuan itu ternyata cukup.
Dua belas penjaga. Dua belas menit.
Saat Wei Mou Sha keluar ke permukaan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, langit sedang menjelang fajar, abu-abu keunguan di ujung timur, bintang-bintang terakhir masih terlihat di barat. Udara yang masuk ke paru-parunya terasa asing, terlalu segar, terlalu luas, tidak seperti udara pengap ruang bawah tanah yang sudah ia hirup selama bertahun-tahun.
Ia berdiri di sana selama beberapa detik, menatap langit.
Kemudian ia berjalan ke depan.
Tidak tahu ke mana. Tidak punya tujuan selain pergi. Tidak membawa apapun kecuali baju tipis yang sudah kebesaran karena dibuat untuk tubuh yang lebih besar darinya.
Di belakangnya, dua belas penjaga tergeletak di lantai koridor bawah tanah.
Ia tidak menoleh.
Itu dua puluh tahun yang lalu.