PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Persimpangan Takdir dan Kutukan Bisu
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, menyelimuti jalan utama menuju perbatasan wilayah Duke dengan nuansa hangat yang menipu. Angin berhembus pelan, membawa debu tipis yang beterbangan setiap kali derap kaki kuda para prajurit menghantam tanah. Suasana yang seharusnya damai ini justru terasa mencekam bagi siapa pun yang melihat barisan ksatria elit Klan Wiraatmadja yang dipimpin oleh sang Putra Mahkota, Xander.
Xander berjalan di depan dengan kuda perangnya yang gagah. Ia mengenakan mantel hitam panjang dengan sulaman perak khas keluarga Duke, wajahnya sedingin es, namun matanya yang tajam terus mengawasi sekitar seolah mencari mangsa. Di sampingnya, Julian tampak santai seperti biasa, satu tangan memegang kendali kuda dan tangan lainnya di saku, seolah perjalanan ini hanyalah jalan-jalan sore untuk mencari udara segar, bukan misi penyelamatan darurat.
Namun, langkah rombongan besar itu tiba-tiba terhenti di sebuah persimpangan jalan utama.
"Xander, lihat itu," Julian mengangkat alis, dagunya menunjuk ke arah barisan ksatria dengan panah emas kekaisaran yang mendekat dari arah berlawanan Wiratmadja . “Wah… ini bukan rombongan biasa. Sepertinya kita kedatangan tamu agung di jam yang salah.”
Xander tidak langsung menjawab. Ia menarik tali kekang kudanya hingga berhenti tepat beberapa meter dari rombongan tersebut. Seorang pria muda melangkah maju dari barisan kekaisaran. Rambutnya hitam legam, tersisir rapi, dengan aura bangsawan yang begitu kuat hingga membuat prajurit di sekitarnya tampak seperti bayangan. Di belakangnya, seorang gadis cantik dengan gaun elegan namun praktis untuk perjalanan berdiri dengan ekspresi tenang.
Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan perhitungan politik. “Lama tidak bertemu, Xander Wiraatmadja. Aku tidak menyangka akan menemukan 'Singa Muda' berkeliaran di jalanan umum dengan pasukan lengkap.”
Xander sedikit mengangguk hormat, namun tetap tegak di atas kudanya. “Riski Pratama. Putra pertama Kekaisaran. Suatu kehormatan bertemu denganmu di perbatasan wilayah kami.”
Julian menyenggol pelan bahu Xander dengan sikunya. “Gaya banget ya masuknya, Pangeran Riski. Pakai pengawal sebanyak itu cuma buat menyapa?”
Riski tertawa kecil ke arah Julian. “Dan aku dengar kau masih sama saja, Julian. Masih suka bicara sembarangan di depan otoritas.”
Julian nyeringai lebar. “Dan aku dengar kau masih suka tampil dramatis dengan cahaya matahari sebagai latar belakangmu. Sangat spotlight.”
Di belakang Riski, sang putri kekaisaran melangkah maju. Putri Mytha Lestari. Wajahnya anggun, namun sorot matanya yang tajam seolah-olah sedang membedah setiap rahasia yang disembunyikan Xander. “Aku juga di sini, kalau kalian tidak keberatan menyadari keberadaanku.”
Julian langsung menoleh, memasang wajah pesoleknya. “Oh, maaf, Tuan Putri. Aura Anda terlalu kalem dan berkelas, jadi agak tertutup sama kakak Anda yang haus perhatian ini.”
Belum selesai suasana memanas, suara langkah kaki terburu-buru dan derap kuda lain terdengar dari arah samping.
“Eh, Xander! Kita telat nggak? Jangan bilang kalian mau perang tanpa mengajak kami!”
Tiga orang pria mendekat dengan cepat. Yanuar Mahesa, dengan gaya santainya yang khas, langsung memacu kudanya ke samping Xander dan menepuk bahu sahabatnya itu. “Bro, rame juga ternyata. Ada acara reuni keluarga kerajaan ya?”
Di sebelahnya, Liandra Dirgantara berdiri tegap di atas kudanya, ekspresinya serius dan waspada. “Kami datang sesuai permintaanmu lewat pesan kilat tadi. Keluarga Dirgantara siap mendukung.”
Satu orang lagi muncul dari belakang mereka, membawa tas besar berisi berbagai peralatan aneh sambil terengah-engah. “Tunggu… tunggu… jangan mulai dulu… oksigenku… habis…”
Julian melirik pria itu dengan dahi berkerut. “Yanuar, ini siapa lagi? Kamu bawa asisten tukang pijat?”
Yanuar tertawa bangga. “Kenalin, ini tambahan tim rahasia kita. Namanya Arga Wicaksana. Otaknya encer seencer kuah bakso, tapi ya itu… napasnya sependek sumbu meriam.”
Arga langsung protes sambil memegangi dadanya. “Gue nggak pendek napas… ini cuma… lari kecil dari ibu kota… yang jaraknya… lima puluh kilometer… pake kuda yang lambat!”
Julian tertawa terbahak-bahak. “Udah, santai. Kita juga baru mulai drama pertemuannya.”
Riski Pratama menyilangkan tangan di depan dada, menatap kerumunan itu. “Sepertinya ini akan jadi perjalanan yang… sangat ramai dan tidak efisien.”
Yanuar langsung menyahut dengan cengiran. “Tenang saja, Pangeran. Kami tipe yang bisa membuat suasana hidup meski di tengah pemakaman sekalipun.”
Liandra menambahkan dengan nada datar, “Atau setidaknya, sangat berisik.”
Tiba-tiba, suara langkah ringan lainnya terdengar. Seorang gadis muncul, anggun dengan gaun berwarna biru lembut. Wajahnya hampir mirip dengan Putri Mytha, namun aura yang dibawanya lebih lembut dan misterius. Putri Amelia, putri kedua kekaisaran.
“Sepertinya aku tidak terlambat untuk melihat keributan ini,” ucap Amelia lembut.
Riski menghela napas panjang. “Amelia… kau juga datang. Apa Ibu tahu kau berkeliaran di perbatasan?”
Putri Amelia tersenyum tipis, matanya melirik ke arah jalan menuju kediaman Duke. “Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memastikan sesuatu yang menarik.”
Julian berbisik ke Xander dengan nada sarkastik. “Ini keluarga kerajaan atau rombongan piknik akhir pekan? Kenapa semua orang kumpul di persimpangan jalan ini?”
Xander tidak menjawab, namun matanya tetap fokus pada tujuan awalnya: Panti Asuhan Gema Harapan.
Putri Mytha melirik adiknya, Amelia, lalu menatap Xander. “Kalian mau ke mana dengan pasukan sebanyak ini? Ada pemberontakan?”
“Urusan internal keluarga, Putri,” jawab Xander singkat.
Julian menambahkan, “Urusan membuang sampah. Ada beberapa tikus yang perlu diinjak.”
Yanuar langsung bersemangat. “Nah! Urusan injak-menginjak itu bagian kesukaanku!”
Putri Mytha tersenyum misterius. “Kalau begitu, kami berpisah di sini. Kami tidak ikut kalian ke Utara.”
Julian langsung bingung. “Lah? Terus ngapain jauh-jauh ke sini? Cuma mau pamer baju baru?”
***Amelia** menjawab santai sambil menatap ke arah kediaman Duke. “Kami ingin bertemu dengan Evelyn dan Celine**. Ada hal-hal antar wanita yang perlu kami bicarakan*.”
Nama itu membuat suasana berubah. Xander dan Julian saling melirik dengan tatapan yang sangat kompleks. Mereka teringat batin Rosalind yang membongkar bahwa Evelyn ditipu surat cinta dan Celine akan jadi kambing hitam.
Mytha melirik Xander dengan tajam. “Kenapa ekspresi kalian begitu? Seperti melihat hantu?”
Julian berdehem, mencoba menutupi kegugupannya. Ia mendekat sedikit ke arah kuda Xander dan berbisik pelan, nyaris tak terdengar. “Xander… masalah Rosalind… kita harus memperingatkan mereka tentang—"
Tiba-tiba, Julian terdiam. Ia membuka mulutnya, lidahnya bergerak, tapi tidak ada satu pun suara yang keluar. Ia memegangi lehernya, wajahnya memerah karena berusaha mengejan. “Mmmph?! Mmmph?!”
Xander mencoba membela. “Riski, Mytha, kalian harus tahu bahwa di kediaman kami ada—”
Suara Xander juga terhenti. Tenggorokannya seolah tersumbat oleh segumpal kapas ajaib yang sangat padat. Seolah-olah ada kekuatan kuno yang melarang rahasia tentang "Batin Rosalind" dibocorkan kepada siapa pun di luar Pakta Keheningan.
Arga Wicaksana yang melihat mereka langsung panik. “Kalian kenapa? Tiba-tiba jadi kayak ikan kehabisan air? Apa ada gas beracun di sini?!”
Yanuar malah ketawa ngakak. “Wah, kalian lagi latihan akting pantomim ya? Bagus, gerakannya dapet banget!”
Julian mencoba lagi dengan tenaga maksimal. “ROSA—!” Hening. Tetap tidak ada suara. Ia memukul lehernya sendiri dengan frustrasi. “Oke… ini beneran nggak lucu.”
Liandra Dirgantara menyipitkan mata, menyadari ada yang tidak beres secara supranatural. “Kalian mencoba mengatakan sesuatu yang penting, tapi kekuatan luar menahannya?”
Xander mengangguk pelan dengan wajah yang sangat masam. Ia mengerti sekarang. Rosalind (atau sistemnya) telah mengunci mulut mereka. Mereka boleh bertindak berdasarkan informasi itu, tapi tidak boleh menceritakannya kepada orang yang belum tahu.
“Menarik…” gumam Putri Mytha. Ia bertukar lirik dengan Amelia. Mereka merasakan ada aura misterius yang menyelimuti Xander dan Julian. “Sepertinya ada sesuatu yang sangat berharga dan berbahaya yang sedang kalian sembunyikan.”
Amelia tersenyum kecil. “Kalau begitu, kami akan mencarinya sendiri di kediaman kalian. Ayo, Mytha. Biarkan para ksatria ini pergi bermain lumpur di Utara.”
Putri Mytha dan Putri Amelia berbalik arah bersama pengawal mereka, menuju kediaman Duke. Julian melambaikan tangan dengan wajah lesu, masih merasa kesal karena suaranya sempat hilang.
“Hati-hati di jalan, Tuan Putri! Jangan kaget kalau ketemu kejutan di sana!” teriak Julian saat suaranya sudah kembali.
Yanuar Mahesa menepuk punggung Xander. “Sudahlah, Bro. Fokus ke Baron Malvin itu. Aku sudah kangen mematahkan tulang orang sombong.”
Liandra mengangguk. “Pasukan Dirgantara siap bergerak.”
Arga menghela napas, mencoba mengatur napasnya yang masih pendek. “Ayo jalan… sebelum aku pingsan karena laper…”
Rombongan ksatria dan para ksatria muda berbakat itu pun memacu kuda mereka menuju Desa Grier, membawa amarah yang siap meledak.
Sementara itu… di Paviliun Musim Semi…
Rosalind sedang duduk bersandar dengan tumpukan bantal beludru yang sangat empuk. Di tangannya, terdapat sebuah mangkuk kristal berisi puding karamel yang masih dingin, dengan siraman saus gula cokelat yang mengkilap.
[“Slrruupp… ahhh…”]
Rosalind memejamkan mata, merasakan tekstur puding yang lembut meleleh di lidahnya. “Ini… beneran karya seni kuliner. Koki di sini kalau di duniaku dulu pasti sudah dapet bintang Michelin sepuluh biji.”
Ia mengambil satu sendok lagi dengan wajah penuh kemenangan.[ “Aku harus pura-pura pingsan atau batuk darah lebih sering. Semakin mereka merasa bersalah, semakin enak makanan yang datang. Ini namanya taktik Low Effort, High Reward.”]
[Sistem Peri Nana (Muncul dengan wajah datar):]
{“Nona… prioritas Anda benar-benar mengkhawatirkan. Kakak Anda sedang memacu kuda sekuat tenaga untuk bertempur, dan Anda di sini sedang memuji tekstur gula?”}
Rosalind menjawab santai sambil menjilat sendoknya. [“Tujuan utama bisa menunggu, Nana. Tapi puding dingin ini kalau sudah meleleh tidak akan bisa kembali ke tekstur asalnya. Ini masalah urgensi kuliner.”]
Sistem peri Nana terdiam sejenak. {“Karakter Inang saya benar-benar rusak…”}
{“Nona, ada informasi tambahan,”} lanjut Nana.
Rosalind masih fokus mengerok sisa karamel di dasar mangkuk. [“Kalau bukan soal menu makan malam, nanti saja pas aku bangun tidur siang.”]
[Sistem Peri Nana:]
[“Ini tentang Hans Jarwo Kliwon. Ada data tersembunyi bahwa dia bukan hanya mata-mata, tapi dia memegang 'Kunci Rahasia' tentang kematian Ibu kandung Anda, Duchess terdahulu.”]
Sendok Rosalind berhenti tepat di depan mulutnya. Matanya yang ungu mendadak menjadi sangat dingin dan tajam, aura agen rahasia Ghost Viper seketika menyelimuti ruangan.
“Hah?”
Ia menaruh mangkuknya di atas meja dengan bunyi dentang yang tajam. [“Hans Jarwo… nama yang terdengar seperti nama tetangga tukang kebun, tapi ternyata seberbahaya itu?”]
[Sistem Peri Nana:]
{“Informasi lengkap tentang keterlibatan Hans Jarwo dalam tragedi sepuluh tahun lalu akan terbuka jika Nona berhasil meningkatkan level sinkronisasi di bab berikutnya.”}
***Rosalind** mendesis kesal. [“Kenapa harus pakai sistem Next Episode sih?! Kamu kira aku ini pemain game gacha? Kasih tahu sekarang atau aku hapus data memorimu***!”]
Sistem peri Nana menjawab datar, [“Maaf, Nona. Ini demi menjaga struktur plot dan ketegangan narasi agar Anda tidak bosan.”]
Rosalind menghela napas panjang, lalu mengambil mangkuk pudingnya kembali. [“Ya sudah… sambil menunggu ksatria perak itu pulang bawa kabar, aku makan dulu. Setidaknya kalau mau balas dendam, perutku harus terisi gula.”]
Ia tersenyum kecil, namun matanya tetap menatap ke arah luar jendela. “[Hans Jarwo… aku harap kau punya nyawa cadangan. Karena setelah aku selesai dengan puding ini, aku akan mengulitimu hidup-hidup lewat batin para saudaraku.”]