NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penjara Tanpa Bentuk & Sang Pemakan

Lokasi: Celah Dasar Reaktor, Kedalaman -85 Meter.

Waktu: 17.05 WIB.

Uap dingin menyeruak dari rekahan lantai panggung yang hancur, membawa serta aroma kemenyan yang sangat pekat dan bau bunga kantil yang menusuk hidung. Aroma ini sangat kontras dengan bau sulfur dan ozon yang mendominasi ruangan.

Sarah menyorotkan senternya ke dalam celah selebar dua meter itu. Tangannya yang memegang senapan kosong tampak sedikit bergetar.

“Dim,” panggil Sarah pelan, suaranya menggema di ruangan logam yang kini mati total itu. “Bawah tanah yang minim oksigen nggak mungkin punya bunga kantil segar. Ini manifestasi spiritual kelas berat.”

Dimas masih duduk bersandar pada dinding sisa panel obsidian. Ia merobek ujung kemeja batiknya, lalu mengikatkannya erat-erat ke lengan kanannya yang mengalami luka bakar gesekan. Ia meringis menahan perih.

“Sar,” Dimas menelan ludah, menatap istrinya dengan rasa bersalah yang kelam. “Ledakan kita tadi… itu bukan mematikan bom. Reaktor itu adalah gemboknya.”

Dimas menceritakan Visi Retro-Kognisi yang ia alami dari panel Lemuria. Tentang entitas bayangan, tentang kepanikan ras pra-sejarah, dan tentang peringatan merah yang sengaja ia abaikan demi menyelamatkan Sarah dari Golem Andesit.

Sarah terdiam mendengar pengakuan suaminya. Ia membiarkan senapannya menggantung di sling (tali sandang), lalu berjalan mendekati Dimas.

Dimas menunduk, bersiap menerima omelan logis dari istrinya. “Maaf, Sar. Aku tahu aku ceroboh. Aku baru saja melepas Dajal purba karena—“

Sarah berlutut, menangkup wajah Dimas dengan kedua tangannya yang kotor oleh debu mesiu, lalu mencium bibirnya singkat namun penuh tekanan.

Dimas terbelalak kaget.

“Jangan pernah minta maaf karena udah milih nyawaku diatas segalanya,” potong Sarah tegas, matanya menatap Dimas dalam-dalam. “Kalau posisinya dibalik, aku juga bakal ledakin Gunung Padang ini sampai rata demi kamu.”

Sarah berdiri, menarik napas panjang, mengembalikan mode profesionalnya.

“Oke. Kita bikin berantakan, kita yang harus bersihin. Militer diatas nggak akan sanggup ngadepin apapun yang ada dibawah sana. Gimana rencana kita, Prof?”

Dimas tersenyum tipis. Keberanian Sarah adalah sumber tenaga utamanya. Ia bangkit berdiri, menghunus Keris Patrem-nya di tangan kiri (karena tangannya sedang cidera).

“Kita turun. Kita cari tahu apa itu ‘Sang Pemakan’. Dan kalau bisa… kita cari cara buat mensegelnya manual pakai cara Majapahit, sebelum benda itu naik ke permukaan.”

Lorong Turun (The Abyss).

Mereka menggunakan sisa tali kernmantle untuk turun perlahan menembus celah gelap itu.

Hanya butuh sepuluh meter ke bawah, namun perubahan suasananya sangat ekstrem. Dinding obsidian yang dipotong rapi dengan laser kini menghilang, digantikan oleh lorong gua alami yang basah, berlendir, dan ditumbuhi akar-akar pohon beringin pucat yang menembus ratusan meter dari permukaan tanah.

Suhu anjlok drastis ke titik beku. Napas mereka membentuk kabut putih tebal.

“Kamu dengar itu?” Bisik Dimas.

Sarah menajamkan pendengarannya. Dari dasar gua, terdengar suara senandung pelan. Bukan suara mesin, melainkan suara wanita menyanyikan Mocopat (tembang Jawa) Kuno. Nadanya mendayu-dayu, sangat sedih, tapi disaat yang sama membuat bulu kuduk berdiri.

“… Lingsir Wengi… sliramu tumeking sirno…”

“Itu kidung penolak bala,” kata Sarah, mengerutkan kening. “Kenapa ada entitas jahat yang nyanyiin lagu penolak setan?”

“Itu bukan penolak setan, Sar,” bisik Dimas pucat. “Itu Mimikri. Makhluk ini meniru suara manusia untuk memancing mangsanya agar mendekat. Dia membaca apa yang ada di pikiran bawah sadar kita.”

Mereka tiba di dasar gua.

Ruangan itu sangat luas, namun tidak ada pencahayaan selain senter Sarah. Di tengah ruangan, terdapat sebuah kolam bundar. Bukan berisi air, melainkan cairan hitam pekat yang bergerak seperti cairan magnetik kental.

Di sekeliling kolam itu, tertancap ribuan keris karatan, tombak patah, dan tengkorak manusia dari berbagai zaman. Dari manusia purba hingga tentara kolonial Belanda. Tempat ini adalah kuburan massal bagi mereka yang mencoba turun ke sini di masa lalu.

Tiba-tiba, suara nyanyian itu berhenti.

Permukaan cairan hitam di kolam itu bergolak. Gelembung-gelembung raksasa pecah.

Dari dalam kolam pekat itu, sebuah sosok perlahan bangkit.

Bentuknya… tidak masuk akal. Awalnya ia terlihat seperti asap tebal, lalu memadat menjadi siluet manusia yang sangat tinggi, lalu berubah lagi menjadi tumpukan daging tanpa kulit yang disatukan oleh bayangan. Matanya tidak ada, hanya ada retakan dikepalanya yang memancarkan cahaya merah darah.

Udara di ruangan itu terasa berat hingga membuat dada sesak.

“Kaliaaaaaannn…” suara makhluk itu menggema bukan di udara, melainkan langsung di dalam tengkorak Dimas dan Sarah. Suaranya berlapis-lapis; suara pria, wanita, dan anak-anak yang menjerit bersamaan.

“Mundur pelan-pelan,” instruksi Dimas, memposisikan dirinya di depan Sarah.

“Berapa lama aku tertidur… Ribuan musim… Terkurung oleh sangkar cahaya sialan itu…” Entitas itu melayang keluar dari kolam hitam, merayap di udara mendekati mereka. “Dan kini… anak-anak zaman baru membukakan pintunya untukku. Sebagai balas budi, aku akan memakan kalian pertama kali.”

Sarah menarik tongkat stun-gun beraliran listrik tinggi dari pinggangnya, lalu melemparkan sebuah granat suar langsung ke arah dada makhluk itu.

BLAAARR!

Cahaya putih meledak.

Namun makhluk itu tidak terluka. Bayangan hitamnya justru menelan cahaya ledakan itu seolah itu hanyalah camilan.

“Dia menyerap energi kinetik dan cahaya!” Teriak Sarah ngeri.

Makhluk itu mengulurkan tangannya yang terbuat dari asap hitam.

WUSH!

Sebuah sulur bayangan melesat, mencekik leher Dimas dan mengangkat tubuhnya ke udara.

“DIMAS!” Sarah memukul sulur asap itu dengan stun-gun-nya, tapi listrik bervoltase tinggi itu langsung padam saat menyentuh kulit bayangan makhluk tersebut. Entitas ini adalah anomali penyedot energi.

Dimas meronta di udara, napasnya terputus. Keris di tangannya terjatuh ke lantai gua yang becek.

Makhluk itu mendekatkan wajahnya yang retak bercahaya ke wajah Dimas.

“Pemuda yang malang,” bisik makhluk itu di kepala Dimas, mengaduk-aduk memorinya. “Kau punya jiwa yang rasanya seperti besi berkarat. Trauma… Kesedihan… Ah… Aku melihatnya. Trowulan. Bubat. Mayat gadis cantik bersimbah darah. Kau menyalahkan dirimu sendiri atas kematiannya, bukan?”

Dimas membelalakan matanya. Entitas itu membongkar paksa laci trauma terdalam di otaknya.

Ilusi mengerikan mulai merasuki pikiran Dimas. Gua gelap itu berubah menjadi Lapangan Bubat. Dimas melihat Dyah Pitaloka berdiri di depannya, menatapnya dengan darah mengalir dari dada, menudingkan jarinya ke wajah Dimas.

‘Kenapa kau tidak menyelamatkanku, Dipa? Kau membiarkanku mati…’ suara ilusi Pitaloka menggema, membuat Dimas nyaris kehilangan kewarasannya.

“LEPASKAN DIA!” Jerit Sarah.

Sarah tidak punya senjata tersisa. Ia membuang senapan dan tongkatnya. Ia melihat Keris Patrem milik Dimas yang tergeletak di tanah.

Sarah memungut keris itu. Walaupun dia bukan praktisi spiritual, dia tahu bahwa senjata itu menyimpan energi dari pemiliknya.

Sarah tidak menyerang makhluk raksasa itu. Ia melakukan tindakan yang sangat nekat.

Ia berlari dan menggoreskan keris itu ke Telapak Tangannya Sendiri.

SRAAT!

Sarah segar menetes dari telapak tangan Sarah, jatuh mengenai lantai batu yang dipenuhi ukiran kuno di sekitar kolam hitam.

“Hei, Parasit!” Teriak Sarah, mengangkat tangannya yang berdarah. “Kamu suka rasa penderitaan? Coba telan ini!”

Makhluk bayangan itu menoleh. Aroma darah segar Sarah—darah manusia modern yang penuh semangat hidup—mengalihkan perhatiannya sesaat. Cengkeraman sulur asap di leher Dimas mengendur.

Dimas jatuh berdebum ke tanah, terbatuk-batuk keras, meraup oksigen dengan rakus. Ilusi Bubat di kepalanya pecah.

“Sar… kamu ngapain…” rintih Dimas.

“Bikin dia lapar,” Sarah memegang telapak tangannya. “Dim, dia nyerap energi fisik dan mental! Kita nggak bisa pukul dia!”

Dimas bangkit bersandar pada lututnya. Otaknya berputar cepat, mencari referensi dari ribuan arsip sejarah yang ia baca. Bagaimana Majapahit menyegel roh tanpa bentuk?

“Wadah…” gumam Dimas. “Dia butuh wadah material supaya bisa dikurung!”

Dimas menatap ke sekeliling kolam. Ribuan tengkorak berserakan.

“Sar! Mundur ke tangga tali! Bawa kerisku!” Perintah Dimas.

Dimas merogoh saku dalam jaketnya dengan tangan kirinya. Ia mengeluarkan botol kecil berisi sisa Minyak Misik Hitam dan segenggam Kemenyan Arab.

Makhluk bayangan itu menyadari bahwa dua mangsa kecilnya sedang merencanakan sesuatu. Ia meraung, melepaskan gelombang energi hitam yang membuat dinding gua retak.

“Kalian tidak akan bisa mengurungku lagi!”

“Kita lihat saja,” geram Dimas.

Dimas berlari mengitari kolam, menghindari sabetan sulur-sulur bayangan yang menghancurkan batu-batu di sekitarnya. Ia mengambil sebuah Tengkorak Berlapis Emas (yang mungkin milik seorang raja purba) dari pinggir kolam.

Dimas menggigit ujung ibu jarinya yang terluka, menggunakan darahnya sendiri untuk melukis aksara Rajah Segel Majapahit dengan kecepatan kilat di atas tengkorak emas itu. Ia menuangkan seluruh minyak misik kedalam tengkorak itu.

“SARAH! LEMPAR KERISNYA KE KOLAM!” Teriak Dimas.

Dari dekat tali, Sarah melemparkan Keris Patrem sekuat tenaga ke arah tengah kolam cairan hitam.

Begitu besi pusaka itu menyentuh cairan hitam, terjadi reaksi penolakan elemen yang dahsyat. Kolam itu mendidih. Makhluk bayangan itu menjerit kesakitan karena jangkar energinya diganggu.

Di momen yang sama, Dimas berlari ke tengah, lalu menekan kuat-kuat Tengkorak Emas berrajah darah itu tepat di dahi makhluk bayangan tersebut.

“OM AWIGHNAM ASTU NAMAH SIDDHAM! MASUK KAU KE DALAM TANAH!” Raung Dimas, membaca mantra pemanggil bumi.

Tengkorak emas itu bersinar terang benderang. Daya isap yang luar biasa tercipta dari dalam tengkorak tersebut, berfungsi seperti penyedot debu spiritual raksasa.

Tubuh asap makhluk itu tersedot masuk ke dalam tengkorak. Jeritannya memekikan telinga, menciptakan gempa bumi lokal berskala kecil. Gua itu mulai runtuh. Stalaktit tajam berjatuhan dari langit-langit.

“TIDAK!! AKU TIDAK MAU KEMBALI KE KEGELAPAN!!”

Jeritan itu terputus. Asap hitam itu lenyap sepenuhnya ke dalam tengkorak emas.

Dimas langsung membanting tengkorak itu ke tanah dan memukulnya dengan balok batu besar berulang kali hingga gepeng dan hancur, merusak struktur wadahnya agar makhluk itu tidak bisa menggunakannya untuk bergerak, namun membiarkannya terkunci di dalam kegelapan emas tersebut.

“Dim! Gua ini mau runtuh!” Teriak Sarah. Tali mereka berayun liar.

Dimas memungut kerisnya, lalu berlari sekencang mungkin menuju Sarah. Ia meraih tali itu.

Mereka berdua menekan tombol motor penarik pada alat ascander taktis mereka. Tali itu menarik mereka ke atas dengan kecepatan tinggi.

Di bawah mereka, lantai dasar gua ambles sepenuhnya, menelan kolam hitam dan kepingan tengkorak itu ke dalam perut bumi terdalam. Gemuruh bebatuan menutupi celah tempat mereka baru saja turun.

Teras Kedua Gunung Padang (Permukaan). Waktu 17.40 WIB.

Hujan sudah reda. Langit sore Cianjur berwarna kelabu.

Pasukan Kapten Bayu sedang bersiaga dengan tegang ketika tiba-tiba, Dimas dan Sarah terlempar keluar dari lubang sinkhole yang tadinya penuh uap panas.

Mereka mendarat di atas lumpur, bernapas tersengal-sengal, sekujur tubuh tertutup jelaga hitam dan luka gores. Tali di belakang mereka putus tertimpa batu, sesaat sebelum lubang itu akhirnya menutup sendiri akibat pergeseran tanah tektonik dari bawah.

“Profesor! Dokter!” Dr. Hendra dan tim medis militer langsung berlari menghampiri mereka.

Sarah terbaring telentang, dadanya naik turun, menatap langit abu-abu. Ia menoleh ke arah Dimas yang juga tergeletak di sebelahnya.

“Kita… kita berhasil, Dim?” Tanya Sarah lemah, tangannya yang berdarah sudah dibalut perban darurat oleh medis.

Dimas perlahan duduk. Wajahnya tidak memancarkan kelegaan. Ia menatap bekas lubang yang kini tertutup tanah itu dengan pandangan kosong dan sangat cemas.

“Kita menutup pintunya, Sar,” bisik Dimas pelan. “Dan aku berhasil menghancurkan wadah utamanya dibawah sana.”

“Tapi?” Sarah mengenal betul nada suara suaminya jika ada informasi buruk yang ditahan.

Dimas mengalihkan pandangannya ke ufuk utara (arah Jakarta). Matanya yang memiliki Mata Batin melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kamera atau radar militer manapun.

Jatuh di atas awan gelap yang menyelimuti Jawa Barat, Dimas melihat selubung asap hitam tipis melesat terbang ke arah perkotaan padat penduduk.

“Saat gua itu runtuh,” jawab Dimas lirih, “sebagian kecil dari asap bayangan itu… berhasil lolos ke permukaan. Sangat kecil, tapi cukup.”

Sarah terbelalak, berusaha duduk. “Maksudmu… Sang Pemakan itu lepas di dunia kita?”

Dimas mengangguk kaku.

“Dan dia kelaparan, Sar. Makhluk yang makan penderitaan manusia dan mampu merasuki pikiran tergelap siapapun… kini bebas di tengah kota berpenduduk jutaan orang.”

Angin sore berhembus dingin, membawa hawa kengerian yang baru. Gunung Padang mungkin telah kembali tertidur, tapi bencana yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Misi mereka bukan lagi sekedar menyelamatkan artefak purba. Kini, The Archivist harus memburu entitas iblis prasejarah sebelum benda itu menciptakan kiamat psikologis di Nusantara.

1
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NP
Makasih ya Kak, Nusantara Üniverse menanti selanjutnya 🤣
Akbar Aulia
,iya kak ,ceritanya seru
Akbar Aulia
nanti kalo sampai kabari aku ya, semoga tidak ada halangan
Akbar Aulia
terimakasih thor sudah membuat cerita yg bagus sekali, semangat terus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!