NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

Pagi itu… seharusnya hangat.

Anak-anak lain mungkin sedang duduk santai, menunggu sarapan sambil bersiap berangkat sekolah.

Tapi tidak dengan Zhira.

Di dapur, suara air mengalir dan dentingan piring menjadi satu-satunya “teman” pagi itu. Tangannya bergerak cepat, mencuci piring yang menumpuk.

Jam dinding menunjukkan 06.57.

Tiga menit lagi.

Zhira menoleh ke arah jam, napasnya mulai tidak teratur.

Hari ini… ada ulangan.

Kalau terlambat, dia bisa tidak diizinkan masuk.

“Ra!”

Suara ibunya menggema.

Zhira langsung menegakkan tubuhnya.

“Cuci itu sampai bersih, terus baju kotor masukin mesin cuci!”

Zhira menggigit bibir.

“Buk… Zhira berangkat dulu ya? Ini udah hampir jam tujuh… nanti Zhira telat…”

Suaranya pelan. Takut. Seperti orang yang tahu jawabannya… tapi tetap berharap.

Ibunya menoleh. Tatapannya dingin.

“Kamu sekarang berani bantah ibu?”

Deg.

“Bukan gitu, buk… Zhira cuma—”

“Cuma apa?!” bentaknya. “Mau jadi anak durhaka kamu?!”

Kalimat itu langsung menghantam dada Zhira.

Ia menunduk, suaranya bergetar.

“Zhira capek, buk… semalaman nyetrika… tiga keranjang… itu juga baju kita semua…”

Sunyi sejenak.

Tapi bukan empati yang datang.

Melainkan kemarahan.

“Dasar anak nggak tahu diri! Ibu capek-capek nyekolahin kamu, ini balasannya?!”

BRAK!

Satu piring dilempar ke bak cucian.

Air kotor memercik ke wajah Zhira.

Ia terdiam.

Air matanya jatuh… tanpa suara.

Dan seperti biasa—

Zhira memilih diam.

Memilih mengalah.

Memilih… terluka.

Hari itu, Zhira tidak pergi ke sekolah.

Dari balik jendela, ia melihat ibunya tersenyum saat mengantar Rara dan Bimo.

Senyum yang… tidak pernah ia rasakan.

Tidak ada yang menoleh padanya.

Tidak ada yang bertanya, “Kamu kenapa?”

Zhira kembali ke dapur.

Mencuci.

Mengangkat.

Membersihkan.

Seperti biasa.

Seperti… memang itu tugasnya.

Bukan sebagai anak.

Tapi sebagai seseorang yang… harus selalu ada, tapi tak pernah dianggap.

Malam tiba.

Meja makan dipenuhi aroma ayam goreng.

Zhira yang memasaknya.

“Buk, ambilin ayah ayam itu. Kayaknya enak… pasti Zhira yang masak.”

Suara ayahnya membuat Zhira tersenyum kecil.

Setidaknya… masih ada yang menyadari.

“Iya yah, ini buat ayah. Ini buat Rara sama Bimo, makan ya sayang.”

Satu per satu ayam diambil.

Zhira memperhatikan.

Sampai…

Tidak ada lagi.

Tangannya mengepal pelan di bawah meja.

“Buk… ayamnya buat Zhira mana?”

Pertanyaan itu lirih.

Hampir tak terdengar.

“Kamu makan sayur aja.”

Jawaban itu cepat. Dingin.

Tanpa melihatnya.

“Tapi… Zhira juga pengen, buk…”

“Kamu ini kenapa sih?” suara ibunya mulai meninggi. “Suka cari masalah!”

Zhira menelan ludah.

“Itu… Zhira yang masak…”

“Kalau pengen, sana goreng lagi!”

Kalimat itu seperti tamparan.

Perih.

“Suruh aja Rara yang goreng, buk… tadi Zhira yang masak…”

“Zhira!”

Nada itu cukup untuk menghentikan semuanya.

“Kamu itu sudah besar! Harusnya bisa ngalah sama adik!”

Zhira terdiam.

Lagi.

Selalu begitu.

Ia perlahan tersenyum.

Senyum yang sudah terlalu sering ia pakai…

Untuk menyembunyikan semuanya.

Malam itu, Zhira makan tanpa ayam.

Hanya sayur.

Dan sesuatu yang lebih pahit dari itu—

Perasaan tidak pernah dianggap sebagai anak.

Zhira menatap piringnya yang kosong.

Lalu tanpa sadar…

Satu tetes air mata jatuh.

Ia cepat menghapusnya.

Tak ingin ada yang melihat.

Tak ingin… dianggap lemah.

Tapi dalam hatinya, satu kalimat terus berulang—

“Apa aku… benar-benar anak di rumah ini?”

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bantu aku uppp yaaaa biar lanjut russsss❤️❤️

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!