NovelToon NovelToon
Surat Cinta Untuk Dinara

Surat Cinta Untuk Dinara

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Cinta setelah menikah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Pagi di Surabaya tidak pernah benar-benar tenang. Suara klakson yang bersahutan di kejauhan dan deru mesin kendaraan dari arah Jalan Ahmad Yani menjadi latar musik rutin yang menemani aroma kopi dari dapur kecil apartemen lantai tujuh itu.

Dimas mengencangkan ikatan sarungnya, baru saja menyelesaikan dzikir setelah shalat Subuh berjamaah dengan istrinya. Ia menoleh ke samping, menatap Dinara yang masih bersimpuh di atas sajadah bunga-bunganya. Gadis itu tampak khusyuk, kepalanya tertunduk dengan mukena putih yang membingkai wajah polosnya.

Ada sesuatu yang selalu membuat dada Dimas berdesir setiap kali melihat pemandangan ini. Setahun lalu, ia hanyalah seorang pria yang dipaksa menyerah pada ego orang tuanya di Blitar. Kini, ia adalah seorang suami yang merasa menemukan rumahnya dalam diri gadis yang usianya dua tahun di bawahnya ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Aroma Pagi di Surabaya

Alarm dari ponsel di atas nakas sudah berteriak untuk kelima kalinya, namun benda itu hanya berakhir diseret masuk ke bawah bantal oleh sebuah tangan yang terkulai lemas. Cahaya matahari Surabaya yang terkenal galak mulai mengintip dari celah gorden apartemen lantai tujuh itu, menyinari ruangan yang masih beraroma sisa-sisa kehangatan semalam.

Dinara melenguh pelan. Kelopak matanya terasa seberat beton. Ia mencoba menggerakkan badannya, namun rasa pegal yang menjalar di pinggang dan bahunya membuatnya kembali terbenam ke dalam kasur. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam lalu—saat suaminya, pria yang di depan orang tuanya tampak begitu tenang dan sopan, berubah menjadi sosok yang sangat "ganas" dalam menuntut haknya sebagai suami. Dimas benar-benar tidak memberikan celah bagi Dinara untuk sekadar memikirkan tugas kuliahnya semalam.

"Mas..." gumam Dinara dengan suara serak, namun ia hanya mendapati sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.

Ia melirik jam dinding. Pukul 06.00.

Seketika mata Dinara membelalak. "Astagfirullah! Jam tujuh ada kelas Hukum Administrasi Negara!"

Dinara mencoba bangkit dengan terburu-buru, namun rasa pening di kepala membuatnya terduduk kembali di tepi ranjang. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. Di tengah kepanikannya, pintu kamar terbuka pelan.

Dimas masuk hanya dengan mengenakan kaos singlet putih dan celana pendek kain. Wajahnya tampak segar—tipikal pria yang baru saja selesai mandi air dingin—meskipun lingkaran hitam di matanya tidak bisa berbohong kalau dia pun sebenarnya masih mengantuk berat.

"Lho, Tuan Putri sudah bangun?" goda Dimas sambil bersandar di kusen pintu. "Tadi Mas mau bangunin, tapi kok kelihatannya kamu nyenyak banget. Kayak habis lari maraton sepuluh kilo."

Dinara melempar bantal ke arah suaminya, yang dengan sigap ditangkap oleh Dimas sambil tertawa. "Mas itu! Sudah tahu aku ada kelas pagi, malah nggak dibangunin dari tadi. Ini jam enam lebih, Mas!"

"Tenang, Sayang. Gak usah kemrungsung. Surabaya ini macetnya sudah Mas antisipasi," sahut Dimas santai. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di samping Dinara, mengecup kening istrinya singkat. "Mandi sana. Biar segerrr. Mas sudah siapkan 'senjata' di meja makan."

Dinara mendengus, namun tak urung ia beranjak juga menuju kamar mandi dengan langkah yang masih sedikit goyah. "Siapkan mobil juga, Mas! Jangan sampai aku telat."

"Siap, Bos kecil!"

Lima belas menit kemudian, Dinara keluar dengan pakaian rapi dan tas kuliah yang sudah tersampir di bahu. Di meja makan kecil mereka, sudah tersedia selembar roti bakar isi selai kacang dan sebuah cangkir besar berisi cairan hitam pekat yang aromanya sangat kuat.

"Kopi anti-ngantuk ala Lini Masa Cafe," ujar Dimas yang kini sudah berganti pakaian rapi dengan kemeja flanel. "Ini biji kopi pilihan, Mas sangrai khusus biar otakmu encer menghadapi dosen hukum yang galak-galak itu. Habiskan, mumpung masih hangat."

Dinara menyesap kopi itu. Rasanya kuat, pahit namun ada jejak manis madu di ujungnya. Kafein itu seolah menyengat sarafnya, mengusir sisa-sisa kantuk dan lelah. "Enak, Mas. Tapi Mas kok sudah rapi? Katanya mau ngetik naskah di rumah saja?"

"Lho, ya mau antar kamu dhisik lah. Mas nggak tenang kalau kamu nyetir sendiri dengan kondisi badan yang... ya, kamu tahu sendirilah gimana kondisimu gara-gara Mas semalam," Dimas mengedipkan sebelah mata, membuat pipi Dinara seketika memerah padam.

"Mas! Gak usah dibahas!" seru Dinara sambil menyumpal mulutnya dengan roti bakar.

"Hahaha, ya sudah. Cepetan makannya. Mas mau manasin mobil dulu. Surabaya lagi panas-panasnya ini, AC mobil harus dingin maksimal biar kamu nggak emosi di jalan," Dimas meraih kunci mobilnya di gantungan dekat pintu.

Di bawah, di area parkir apartemen, deru mesin mobil Dimas sudah terdengar. Surabaya pagi itu sudah mulai berisik. Suara kendaraan yang lalu lalang dan klakson yang mulai bersahutan menjadi latar belakang keberangkatan mereka. Begitu Dinara masuk ke dalam mobil, hawa dingin AC langsung menyambutnya, kontras dengan udara luar yang mulai menyengat.

Dimas mulai membelah kemacetan Surabaya. Tangannya dengan lincah memutar kemudi, sesekali mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu nasyid yang mengalun pelan dari radio.

"Mas, ngantuk ya?" tanya Dinara saat melihat Dimas sesekali menguap kecil.

"Dikit, Dek. Tapi ya nggak apa-apa. Ini namanya perjuangan suami demi masa depan Hakim Agung Indonesia," sahut Dimas sambil melirik istrinya. "Lagian, Mas ini sudah terbiasa begadang buat nulis naskah. Bedanya, semalam naskahnya lebih hidup saja."

Dinara mencubit lengan Dimas. "Mas ini kalau ngomong nggak ada filternya ya."

"Lho, kan cuma sama kamu. Sama Ibu di Blitar ya Mas jadi anak sholeh," tawa Dimas pecah. "Oiya, nanti pulang jam berapa? Mas jemput ya. Mas mau nunggu di kafe depan kampusmu sekalian cari ide buat bab baru."

"Jam dua siang, Mas. Tapi jangan jemput telat ya, Dinara capek banget hari ini."

"Beres. Sebelum dosenmu bilang 'Wassalamualaikum', Mas sudah standby di gerbang sambil bawa es teh plastik," janji Dimas.

Saat mobil berhenti di lampu merah daerah Ahmad Yani yang macetnya minta ampun, Dimas menoleh ke arah Dinara. Ia melihat istrinya sedang sibuk membaca kembali catatan di ponselnya. Ada rasa bangga yang menyelinap di dada Dimas. Gadis yang setahun lalu menangis karena takut menikah dengannya, kini berada di sampingnya, berjuang untuk mimpinya tanpa kehilangan kehormatannya sebagai istri.

"Dek," panggil Dimas pelan.

"Nggih, Mas?"

"Semangat ya kuliahnya. Jangan terlalu dipikirkan omongan orang di grup WA keluarga atau sindiran Ibu kemarin. Di sini cuma ada kita. Fokus saja sama belajarmu. Mas bakal selalu ada di belakangmu, atau di depanmu kalau ada yang mau macam-macam."

Dinara meletakkan ponselnya, lalu menggenggam tangan kiri Dimas yang sedang menganggur di atas tuas persneling. "Terima kasih, Mas. Kadang Dinara ngerasa nggak enak kalau Mas harus repot begini setiap pagi."

"Repot apanya? Wong cuma nyetir sambil dengerin radio kok dibilang repot. Yang repot itu kalau Mas harus ngerjain tugas hukummu, Mas nggak paham pasal-pasal," gurau Dimas. Ia membalikkan tangan Dinara, mengecup punggung tangan itu dengan lembut tepat saat lampu hijau menyala. "Ayo, berangkat! Surabaya nggak nungguin kita romantis-romantisan di tengah jalan."

Mobil melaju kembali. Rutinitas pagi di Surabaya ini mungkin terasa melelahkan bagi sebagian orang, namun bagi mereka, setiap detik di tengah kemacetan adalah momen untuk saling mengenal lebih dalam. Dimas dengan kejahilannya yang tak pernah habis, dan Dinara dengan kelembutannya yang perlahan mulai berani muncul.

Begitu sampai di depan gerbang kampus, Dinara bersiap turun. "Dinara masuk dulu ya, Mas. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Oiya, Dek!" panggil Dimas saat Dinara baru membuka pintu.

"Apa lagi, Mas?"

"Jangan lupa... senyumnya disimpan buat Mas saja ya. Jangan ditebar-tebar ke mahasiswa lain. Mas ini cemburuan lho, levelnya tingkat nasional," Dimas nyengir lebar.

Dinara hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. "Nggih, Mas Dimas yang paling ganteng. Sudah ya, Dinara telat!"

Dimas menatap punggung istrinya yang menjauh dan masuk ke dalam gedung kampus. Ia menarik napas panjang, aroma parfum Dinara masih tertinggal di dalam mobilnya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa kantuk yang tersisa sebelum ia sendiri harus bertarung dengan draf-draf novelnya di kafe.

Aroma pagi di Surabaya memang penuh dengan asap knalpot dan peluh, namun bagi Dimas dan Dinara, aroma itu kini bercampur dengan wangi kopi dan harapan akan kehidupan yang jauh lebih manis daripada apa yang pernah orang tua mereka bayangkan.

1
Wardah Saiful
bagus ceritanya,semangat thor
kaka_21: siap kakak! (kaka)
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!