No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan apa ini?
...“Ah!” Zhara memejamkan mata, tangannya refleks mencengkeram kemeja Daniel....
...Daniel segera menahan tubuhnya dengan siku agar tidak menimpa Zhara. Ia menatap wajah Zhara yang kini sangat dekat, hanya beberapa inci dari wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya....
...Zhara membuka mata perlahan. Melihat wajah Daniel begitu dekat, jantungnya berdegup tak karuan. Ia bisa merasakan hangat tubuh Daniel, tubuhnya yang berotot terlihat kuat di balik kemeja putih yang dipakainya. Terlalu dekat, terlalu nyata, hingga membuatnya kehilangan fokus....
...Sejenak, tidak ada yang bergerak. Bahkan suara napas pun terasa terlalu jelas di telinga masing-masing....
...“Ehem…!”...
...Suara dehaman terdengar jelas dari arah pintu tegas, sengaja, cukup untuk mengalihkan perhatian mereka berdua....
...Daniel langsung tersentak. Ia berdeham kecil, mengalihkan pandangan, lalu berdiri cepat....
... Tangannya mengibas seolah merapikan pakaian, wajahnya tampak sangat canggung....
...Zhara langsung tersadar. Ia buru-buru duduk kembali, menggigit bibir bawahnya pelan. Wajahnya terasa memanas. Tangannya saling menggenggam gelisah di atas pangkuannya....
...Di dekat pintu, Tiara berdiri dengan tangan menutup mulut, menatap mereka bergantian....
...“Aku tidak melihat… aku tidak sedang melihat… aku tidak mencoba melihat apa pun…” ucap Tiara cepat, seolah ingin mengklarifikasi situasi yang baru saja ia saksikan....
...Tiara berlari ke arah meja, meraih ponselnya dengan cepat. Tanpa basa-basi, ia langsung berbalik dan melangkah keluar dari ruangan....
...Ruangan kembali hening, menyisakan rasa canggung di antara mereka berdua. Mereka terdiam membatu, saling bertatapan....
...Daniel berdiri tak jauh darinya, kedua tangannya mengepal di samping tubuh. Rahangnya sedikit mengeras. Ia berusaha terlihat tenang, tetapi dari matanya jelas tidak sepenuhnya bisa berbohong. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata itu seperti sulit diucapkan....
...“Maaf…” ucap Daniel, suaranya hampir tak terdengar, berharap Zhara tidak marah....
...Zhara menelan ludah. Matanya tak mampu berpaling....
...“Aku juga minta maaf… pada Kakak,” jawabnya pelan, nyaris bergetar....
...“Karena tubuhku tidak kuat menopang badan Kakak tadi…” lanjutnya polos....
...Daniel terdiam sesaat, lalu menghela napas pendek. Ekspresinya yang semula tegang perlahan melunak. Ia bahkan hampir tersenyum, senyum tipis yang hangat, berusaha menenangkan suasana....
...“Kamu tadi makan buburnya sedikit…” suara Daniel terdengar lebih lembut dari sebelumnya....
... “Dan sekarang sudah dingin.”...
...“Masih ada sup dari Kakak yang belum aku makan?” Zhara menunjuk ke arah meja....
...“Kamu mau mencobanya?” tanya Daniel, nada suaranya terdengar senang tapi juga ragu....
...“Iya…” Zhara mengerucutkan bibir, sedikit malu. “Kak Daniel yang masak, atau memesan di kantin?”...
...Daniel terdiam, lalu tersenyum tipis. Ada sedikit rasa canggung di wajahnya....
...“Saya memasaknya sendiri,” jawabnya singkat....
...Zhara mengangkat alis, tidak percaya dengan apa yang ia dengar....
...“Baiklah… tolong suapi lagi,” pinta Zhara pelan....
...Daniel terdiam. Ia tidak menyangka mendengar permintaan itu. Pandangannya bertemu dengan tatapan Zhara, mencoba memastikan ia tidak salah dengar. Bibirnya kemudian tersenyum kecil....
...Ia mengambil mangkuk sup itu, meniupnya pelan agar tidak terlalu panas, lalu menyendok sedikit. Dengan hati-hati, ia mendekatkan sendok ke arah Zhara....
...Zhara membuka mulut perlahan, menerima suapan dari tangan Daniel....
...“Em… enak,” puji Zhara pelan, wajahnya tersenyum ceria....
...Daniel tersenyum lebar mendengarnya. Ada rasa lega yang jelas terlihat di wajahnya....
...Kalau kamu suka, saya sangat senang… bisa masakin kamu setiap hari, batinnya....
...“Cepat sembuh ya… soalnya kalau kamu masih sakit, perusahaan terasa sepi,” ucap Daniel pelan....
...“Jadi… yang kangen itu Kak Daniel atau perusahaan?” tanya Zhara sambil melirik, tatapannya sedikit menggoda....
...Daniel yang masih menyuapinya hanya tersenyum mendengar itu. Ia menghela napas kecil, memilih tidak menjawab....
...Zhara langsung mengangkat wajahnya, menatap Daniel lembut....
...“Kakak…” ucap Zhara pelan, seperti ingin mengatakan sesuatu....
...“Sudah habis. Kamu pintar menghabiskan makanan,” potong Daniel cepat, mengalihkan suasana yang mulai canggung....
...Zhara yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahnya. “Ya… soalnya enak,” gumamnya, nyaris seperti pembelaan....
...Kalimat itu membuat Daniel terdiam, lalu ia tersenyum hangat. Ia berdiri, menata kembali mangkuk di meja, lalu mulai mengemas sisanya dengan rapi. Daniel mengambil botol minum dari tas kecilnya, lalu menyodorkannya ke arah Zhara....
...“Minum dulu,” ucapnya pelan....
...Zhara mengambil botol itu, lalu meneguk airnya perlahan. Setelah itu ia menyerahkannya kembali....
...Zhara memperhatikannya diam-diam dari tempat tidur. Ada perasaan aneh yang belum sepenuhnya hilang dari dadanya....
...Kenapa aku merasa nyaman sedekat ini sama Kak Daniel… kenapa ada perasaan yang sulit dijelaskan… pikirnya lirih dalam hati....
...Zhara mencengkeram selimutnya, berusaha menenangkan perasaan yang mulai sulit ia pahami sendiri....
...Daniel kembali duduk. Matanya tertuju pada Zhara....
...“Ini sudah menjelang sore… saya mau pulang. Istirahat ya, jangan memaksakan diri untuk beraktivitas dulu,” ucapnya penuh perhatian....
...Zhara mengangguk kecil, tersenyum tipis....
...“Iya…” jawab Zhara pelan....
...Daniel berdiri perlahan, mengambil tas kecil di atas meja. Ia sempat melirik Zhara sekali lagi, tatapannya melembut. Lalu ia melangkah ke arah pintu, namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti dan menoleh sedikit....
...“Hati-hati di jalan, Kak Daniel,” ucap Zhara sambil melambaikan tangan kecilnya....
...Daniel tersenyum tipis mendengarnya....
...“Iya,” balasnya pelan. Langkahnya sedikit lebih berat dari biasanya. Pintu perlahan terbuka, lalu tertutup kembali....
...Bibi Widya dan Tiara yang sedang duduk mengobrol di luar sama-sama menoleh saat melihat Daniel keluar dan menutup pintu dengan pelan....
...Keduanya saling bertukar pandang....
...“Kakak sudah mau pulang?” tanya Tiara sambil berdiri....
...“Iya,” jawab Daniel singkat....
...Bibi Widya yang sejak tadi memperhatikan juga berdiri perlahan. Ia hanya tersenyum tipis....
...“Daniel… terima kasih sudah menjaga Zhara,” ucap Bibi Widya dengan nada hangat....
...“Iya, Bi…” jawabnya pelan....
...“Hati-hati di jalan, Daniel,” lanjut Bibi Widya sambil tersenyum lembut, menatapnya penuh arti....
...“Terima kasih… saya duluan,” balas Daniel sambil tersenyum....
...“Dadah, Kak Daniel… semoga nanti bisa tidur nyenyak ya,” goda Tiara setengah serius....
...Daniel menatap Tiara datar. “Iya, asal kamu tidak bergentayangan,” ucapnya dingin....
...Tiara langsung mengangkat alis, ekspresinya antara kaget dan tersinggung....
...“Iss… mana ada setan seimut diriku,” balasnya protes....
...Daniel melangkah pergi. Langkahnya cepat menyusuri lorong yang semakin sepi....
... Punggungnya perlahan menjauh hingga akhirnya menghilang di tikungan....
...“Tiara, yuk masuk,” ajak Bibi Widya lembut....
...Mereka berdua melangkah masuk ke dalam. Pintu dibuka perlahan, seolah tidak ingin mengganggu....
...Di dalam, Zhara terlihat duduk membaca majalah. Wajahnya lebih tenang, tersenyum lembut saat melihat mereka masuk....
...“Zhara… kamu tidak tidur?” tanya Bibi sambil duduk di samping ranjang....
...“Belum mengantuk, Bibi…” jawab Zhara pelan....
...“Bibi… aku mau ke kantin sebentar. Ada yang mau Bibi titip?” tanya Tiara sambil tersenyum ke arah Zhara....
...“Tidak ada, Tiara,” jawab Bibi dengan ramah....
...Tiara melangkah keluar, lalu menutup pintu dengan pelan....