NovelToon NovelToon
Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Tidak Melakukan Apapun, Aku Menjadi Kuat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Ren cuma pegawai kantoran biasa.

Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.

Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:

"Tidak Melakukan Apapun."

Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.

Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Pintu otomatis itu mendesing pelan, terbuka dengan ritme yang seolah mengejek. Ren melangkah keluar, menimang-nimang kartu perunggu di tangannya.

"Entahlah, aku juga bingung," gumam Ren.

Ia mengusap tengkuknya. Bukan karena sakit, tapi karena sisa abu api yang masih menempel di sana. Ia tidak mengerti kenapa atasannya itu terlihat sangat tersinggung.

Koridor sekarang lebih ramai daripada waktu awal ia datang. Orang-orang dengan seragam taktis mondar-mandir, sibuk dengan urusan dunia yang entah kenapa selalu terasa di ujung tanduk.

"Eh, lihat. Itu si Admin Ren, kan?"

Bisikan itu mulai merayap. Ren tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang bicara. Di belokan dekat dispenser, sekelompok staf administrasi sedang berkumpul, berpura-pura sibuk dengan kertas di tangan mereka.

"Katanya dia baru tes Awakened. Hasilnya cuma C?"

"Serius? Padahal dia sudah lama jadi staf Admin senior. Cuma C? Rendah banget, seharusnya setingkat Admin bisa lebih tinggi lagi."

"Mungkin dia cuma hoki selama ini. Dasar beban tim."

Ren menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. Ia tidak memasang wajah sangar. Ia hanya berdiri di sana dengan ekspresi datarnya yang khas, menatap mereka satu per satu.

"Aku mendengarnya, lho," celetuk Ren datar.

Suasana langsung mendadak senyap. Salah satu staf perempuan hampir menjatuhkan gelas kopinya. Mereka segera membubarkan diri dengan langkah seribu, bergumam soal "rapat mendadak" yang jelas-jelas bohong.

Ia sudah sering mendapatkan perlakuan ini, orang yang tiba-tiba muncul begitu saja, kemudian melejit. Mendapatkan promosi Admin.

Ren menghela napas. "Yah, mungkin telingaku menjadi lebih tajam ketika Awakening."

Ia melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. Pikirannya melayang kembali pada sosok Han Jue. Selama bertahun-tahun bekerja di dekat Han Jue, Ren tahu Han Jue adalah orang yang cukup tegas, tapi tidak pernah terlihat emosional tanpa alasan.

Tapi tadi? Matanya benar-benar menunjukkan kilat amarah yang murni. Apakah karena egonya sedang terluka? Atau ada hal lain yang Ren lewatkan?

'Ah, masa bodoh. Urusan perut jauh lebih mendesak daripada urusan ego seorang pria yang aku tidak begitu dekat,' Gumamnya, seolah ia merasa lapar.

Ia melangkah ke arah pintu kaca, melangkah keluar ketika pintu itu terbuka. Meninggalkan area perbincangan busuk para staff itu.

***

Lonceng di atas pintu berdenting pelan. Bau harum minyak wijen, bawang putih yang digoreng garing, dan uap kaldu yang kental menyambut Ren seperti pelukan hangat.

"Ah, Ren! Baru kelihatan lagi kamu!"

Seorang wanita paruh baya, yang dipanggil semua orang dengan sebutan Nenek Lin, muncul dari balik tirai dapur. Wajahnya yang keriput langsung mekar menjadi senyum lebar. Ia mengelap tangannya yang basah ke celemek merahnya yang sudah pudar.

"Seperti biasa, Nek," kata Ren, menarik kursi plastik di sudut ruangan.

"Mie babi spesial dengan ekstra kulit garing? Dan teh krisan dingin?" Nenek Lin menebak tanpa perlu menunggu jawaban.

Ren mengangguk. "Nenek memang yang terbaik."

Beberapa pegawai di sana—kebanyakan adalah pemuda-pemuda dari lingkungan kumuh sekitar yang dulu pengangguran—menyapa Ren dengan hormat. Mereka bukan sekadar menyapa pelanggan, tapi menyapa seseorang yang mereka anggap sebagai pelindung.

Restoran ini, "Lin's Kitchen", adalah sebuah anomali di tengah distrik yang mulai membusuk ini. Tempatnya bersih, terang, dan makanannya terlalu murah untuk kualitas yang diberikan.

Ren menatap uap yang mengepul dari mangkuknya yang baru saja diantarkan. Pikirannya terseret ke beberapa tahun yang lalu.

Waktu itu, tempat ini hanyalah sebuah bangunan reot yang hampir roboh. Nenek Lin duduk di pinggir jalan, menangis karena uangnya habis dibawa lari oleh anak kandungnya sendiri. Bisnisnya hancur, dan ia tidak punya apa-apa lagi selain satu set panci tua.

Ren yang saat itu baru saja mendapatkan bonus besar dari misi inspeksi rift, hanya lewat begitu saja. Tapi ia berhenti. Bukan karena panggilan jiwa kepahlawanan yang menggebu, tapi karena ia merasa malas jika harus mencari rumah makan lain—atau lebih tepatnya ia sangat lapar.

Ia memberikan semua bonusnya hari itu.

"Anggap ini investasi," katanya waktu itu pada Nenek Lin yang gemetar. "Aku ingin makan mie enak di sini selamanya. Jangan sampai tempat ini tutup."

Dan ia tidak pernah meminta bagian keuntungan sedikit pun. Ia hanya lapar, itu saja. Ia punya banyak uang dari pekerjaan berisikonya, tapi ia tidak tahu cara menghabiskannya. Investasi "bodoh" adalah hobinya.

"Kamu terlihat lesu, Ren. Ada masalah di kantor?" Nenek Lin duduk sebentar di hadapannya, sambil mengupas bawang.

"Hanya sedikit drama peringkat, Nek. Biasalah, politik kantor," jawab Ren sambil menyeruput kuahnya. Gurihnya luar biasa.

"Peringkat itu cuma angka di atas kertas," sahut Nenek Lin bijak. "Yang penting perut kenyang dan hati tenang. Orang-orang di luar sana terlalu sibuk jadi 'pahlawan', sampai lupa jadi manusia."

Ren terkekeh meskipun ia merasa biasa saja tentang itu. "Nenek benar. Makanya aku lebih suka di sini."

Tiba-tiba, suara dari televisi yang terpasang di sudut langit-langit restoran mengeras. Seorang presenter berita dengan wajah panik melaporkan sesuatu.

"Breaking News. Rift Kategori 3 baru saja terdeteksi terbuka di perbatasan kota tetangga—Tieshi. Intensitas mana mencapai level merah. Warga diminta untuk segera mengungsi ke bunker bawah tanah ..."

Gambar di layar menunjukkan retakan ungu raksasa di langit yang memuntahkan makhluk-makhluk bersayap. Ren melirik sekilas, lalu kembali fokus pada mie-nya.

"Repot juga ya kalau pindah ke sana," gumamnya santai.

Ia tidak sadar, di meja paling pojok belakang, ada seorang wanita yang duduk sendirian. Ia mengenakan mantel parit berwarna krem, lengkap dengan topi lebar dan kacamata hitam. Menutupi wajahnya.

Sejak Ren masuk, fokusnya tertuju pada pemuda itu. Ia mendengarkan setiap percakapan, mendengarkan kisah bagaimana Ren bertemu dengan Nenek Lin tadi. Bahkan melupakan bahwa dia datang untuk makan di tempat itu.

"Jadi, itukah salah satu kisahmu, Admin?" Bisik Hwaran.

1
Filan
benda yang bakal memutar balikan keadaankah?
Ironside: Enggak sih, konteksnya sesuai judul cerita ini.
total 1 replies
Filan
kayaknya sekarang Ren bakal dapat kekuatan
Filan
satu Bab nya pendek juga ya.
Ironside: Legenda Penapak Langit
total 3 replies
Filan
ahli artefak dia...
Ironside: Iya, dia admin pemerintah/AFC soalnya. Jadi tahu banyak soal artifak, atau ... hal lain juga /Doge/
total 1 replies
Filan
untung ditepuknya ga kenceng ya 😅
Ironside: Kalau kencang, bisa remuk. xixixi 😆
total 1 replies
Filan
kalau langit-langit itu dalam bahasa Indonesia plafon.
Liu Bang Xie Lit (Hiastus)
sudah 28 chapter dan tidak ada insect, kecewa...
hiat: berakkkkk aja dia mah
total 6 replies
Became of Patung Berhala
Tikus Besar/Proud/
Ironside: Collosal Rat /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
cepet banget abis kak/Curse/
Ironside: Memang pendek-pendek chapternya Kak /Curse/
total 1 replies
Became of Patung Berhala
keren banget kak semangat!😍
Aoooo
Insectnya mana kak/Curse/
Ironside: Tidak ada insect Kak /Curse/
total 1 replies
fernan Do
semangat thor
hiat
PoV 3 omnicient?
Ironside: /Scowl/, Hentikan /Curse/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!