Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Membujuk secara halus.
Bang Rinto membuang nafas lega sampai mengelus dada. Jujur ia pun ikut panik setiap mendengar ancaman Anye.
"Keluar dulu, kita bicara baik-baik..!!" Bujuk Bang Rinto.
"Anye nggak mau nikah sama Bang Rinto. Anye sudah suka sama orang lain." Ujar Anye tegas dan jelas.
"Makanya kamu keluar. Tidak akan ada titik temu kalau kita tidak bicara."
Cckkllkk..
Suara pintu terbuka. Anye keluar dan langsung menatap wajah Bang Rinto yang sudah menunggunya di depan pintu kamar.
"Abang mau nikahi Anye, kan???"
"Tergantung, kamu mau atau tidak." Jawab Bang Rinto dengan wajah datar.
Hanya para rekan yang menghela nafas panjang merasakan ketidak sesuaian hati sang Danton dengan kenyataan.
"Tidak."
"Kita tidak nikah besok pagi. Kita bisa perkenalan dulu dan.... Latihan nikah." Saran Bang Rinto membuat semua orang terperangah.
Sontak saja Pak Herliz dan Pak Harra saling lirik. Pak Harra berdehem lalu menyenggol lengan pria di sampingnya itu.
"Ehm.. Be_nar juga apa kata Rinto. Latihan nikah saja dulu." Ujar Pak Herliz.
Pak Harra pun menyimpan tawa melihat jawaban reflek dari ayah Anyelir.
"Anye punya syarat." Kata Anye.
"Apa?" Tanya Bang Rinto menanggapi.
...
Di saksikan perangkat desa setempat, Bang Rinto mengucap ijab qobul di hadapan Pak Herliz.
Dengan rasa haru namun ragu, beliau 'menyerahkan' putrinya pada laki-laki yang terkenal 'product failed' dalam hal wanita.
"Latihan ini nyata, tapi aku belum ikhlas." Bisik pada Pak Herliz.
"Baca do'a dulu..!!" Balas Pak Harra.
Dengan tetes air mata, Pak Herliz menatap wajah Bang Rinto dengan kesal tapi beliau tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin putrinya terlibat masalah hati dengan pria tidak di kenal dan mengalami modus penipuan.
"Bang.. Perjanjiannya?" Tanya Anye saat para tamu sedang kusyuk membaca do'a.
Secepatnya Bang Rinto meletakan telunjuk di depan bibir Anye. Seketika Anye terdiam mendengar teguran lembut Bang Rinto.
Anye pun menekuk wajahnya tapi Bang Rinto menyentuh tangannya.
"Setelah ini kita urus." Jawab Bang Rinto dengan nada tenang.
...
Bang Rinto menghisap rokok sambil membaca setiap poin yang di ajukan Anye atas perjanjian hubungan mereka.
Saat ini Anye menulis perjanjian kontrak untuk berpacaran dengan Bang Rinto selama satu bulan.
"Bagaimana?? Abang setuju??" Tanya Anye karena ekspresi wajah Bang Rinto hanya datar saja.
"Terserahmu saja." Jawab Bang Rinto.
"Tanda tangan setelah Abang menyebutkan keinginan di kertas itu, semua harus jelas agar Abang tidak menyalahkan Anye kalau nanti ada sesuatu di antara kita."
"Mana pulpen nya..!!" Bang Rinto menyodorkan tangannya, meminta alat tulis yang masih ada dalam genggaman tangan Anye.
Anye menyerahkan pulpen tersebut sambil mengintip apa yang akan Bang Rinto uraikan disana.
'DUA KALI MEMAAFKAN KESALAHAN SAYA.'
"Itu saja??" Tanya Anye dengan rasa tidak percaya.
"Ini sudah cukup." Jawab Bang Rinto kemudian meletakan pulpen tersebut di atas meja.
"Okeeyy.. Nggak masalah kalau nggak mau." Anye mengambil kertas tersebut lalu melipat dan menyimpannya di dalam saku.
Bang Rinto kembali menguarkan asap rokoknya namun kali ini mengarahkannya lebih jauh lagi dari Anye. Tangannya mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Ini ada dua kartu ATM punya saya, mulai sekarang kamu yang bawa. Besok baru saya urus aplikasinya di ponselmu." Kata Bang Rinto.
"Oohh.. Sebegitu pengennya di miskinkan??" Celetuk Anye dengan senyum liciknya.
"Asal itu istri saya, silakan saja. Bukankah seorang istri berhak bahagia mendapatkan hasil kerja keras suaminya." Jawab Bang Rinto.
Anye tercengang hingga tak ada hal yang bisa membuatnya menyanggah jawaban Bang Rinto. Tapi melihat sikap tenang Bang Rinto, Anye pun bertanya-tanya dalam hati.
"Sebenarnya apa alasan Abang sampai menyetujui perjanjian itu??" Tanya Anye. Wajahnya mendadak menjadi kesal.
"Tidak ada alasan. Yang jelas.. janji saya di hadapan Tuhan, bukan di hadapan secarik kertas."
Anye tidak memahami maksud Bang Rinto, tapi rasa gengsinya terus bergelayut melingkupi hatinya. "Bahkan tujuan orang makan pun juga untuk hidup, masa om tidak punya alasan."
Bang Rinto kembali menghisap rokoknya, ekspresi wajahnya begitu tenang. "Saya ingin ada tempat pulang yang menenangkan batin. Ingin memandang wajah teduh seorang wanita bergelar istri dan jika Allah mengijinkan, saya ingin mendengar tangis bayi dalam dekapan saya."
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu