Sinopsis
Su Yelan, murid dari Tabib Ilahi legendaris, datang ke ibu kota hanya dengan satu tujuan sederhana, mengobati kebutaan seorang pria yang dikenal sebagai Tuan Ketujuh, sosok bangsawan yang berkuasa namun terkenal dingin dan tak tersentuh.
Niat baik itu justru berujung pada sebuah taruhan berbahaya.
Jika ia gagal, hidupnya akan sepenuhnya berada di bawah kendali sang pangeran.
Dengan dalih menjalankan pengobatan, Su Yelan mulai “menyiksa” pasiennya dengan cara yang tidak biasa. Setiap hidangan yang disajikan kepadanya dipenuhi rasa pedas menyengat, cukup untuk membuat siapa pun berkeringat dan mengernyit kesakitan.
Melihat sang pangeran yang biasanya angkuh terpaksa menahan pedas, wajahnya memerah dan napasnya berat, Su Yelan justru merasa puas diam-diam.
Namun di balik semua itu, gadis yang tampak keras kepala ini sebenarnya bukan orang yang kejam.
Sedikit demi sedikit, kebersamaan mereka mengikis jarak yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Mo Qingyuan
Bab 2: Sumpah Mo Qingyuan
Para pengawal di gerbang Kediaman Perdana Menteri masih berdiri kaku ketika sosok gadis itu
menghilang melewati pintu utama bersama tuan mereka.
Beberapa dari mereka saling menatap dengan wajah masam.
Hal yang paling membuat mereka kesal bukan hanya karena gadis itu berhasil masuk dengan
begitu mudah.
Melainkan karena gadis itu hanyalah seorang gadis desa.
Dan yang lebih menyebalkan lagi seorang gadis desa dengan lidah yang tajam, licik, dan sama sekali tidak tahu takut.
Angin sore bertiup perlahan melewati halaman luar kediaman yang luas. Daun-daun pohon pinus
tua berdesir lembut, seolah ikut menertawakan mereka.
Namun kemarahan para pengawal itu tak bisa mereka tumpahkan.
Lagipula, gadis itu baru saja masuk ke dalam bersama Perdana Menteri sendiri.
Sementara itu, di dalam aula utama Kediaman Perdana Menteri, suasananya jauh berbeda.
...----------------...
Ruangan besar itu dipenuhi aroma kayu cendana dan dupa yang terbakar perlahan di sudut ruangan.
Pilar-pilar merah tinggi menopang langit-langit yang diukir dengan pola awan keberuntungan.
Cahaya matahari senja masuk melalui jendela-jendela tinggi, memantulkan warna emas hangat di lantai kayu yang dipoles halus.
Begitu memasuki ruangan, Perdana Menteri Liang Guozheng langsung duduk di kursi utama
yang terbuat dari kayu huanghuali tua.
Janggut abu-abunya bergerak pelan tertiup angin yang masuk dari jendela.
Namun wajahnya tidak lagi santai seperti sebelumnya.
Ia menatap gadis yang berdiri di depannya dengan penuh harap.“Di mana Mo Qingyuan sekarang?” tanyanya langsung, suaranya berat dan tidak sabar.
Su Yelan, yang baru saja duduk di kursi berlengan dari kayu padauk merah di sisi ruangan, mengangkat cangkir teh yang baru disajikan pelayan.
Aroma teh hijau ringan naik bersama uap hangatnya.
Ia menyesapnya dengan santai sebelum menjawab.
“Ah… Guru sudah pergi lagi.”
Kata-kata itu jatuh dengan ringan.
Namun efeknya seperti batu yang dilemparkan ke air tenang.
Ekspresi Liang Guozheng langsung berubah.
“Apa?!”
Suara bentakan itu menggema di seluruh aula.
Ia berdiri tiba-tiba hingga jubah resminya berkibar.
Janggut panjangnya bahkan tampak bergetar karena marah.
Dengan keras ia menggebrak meja kayu di depannya.
BRAK!
“AKU SUDAH MENEGASKAN dalam suratku bahwa dia harus datang ke ibu kota!”
geramnya. “Bagaimana mungkin dia melanggar janjinya begitu saja?!”
Wajah tua itu memerah oleh amarah.
“Benar-benar membuatku marah!”
Namun di hadapannya, Su Yelan tampak sama sekali tidak terpengaruh.
Ia tetap duduk santai, satu tangan menyangga dagunya, sementara tangan lain memegang cangkir teh.
“Perdana Menteri Liang,” katanya dengan nada ringan, “urusan Anda sebenarnya bisa
diserahkan kepada saya.”
Ia melirik lelaki tua itu dengan senyum tipis.Namun senyum itu mengandung sesuatu yang sulit dijelaskan.
Seolah licik.
Seolah penuh rahasia.
“Ada apa?” katanya santai. “Apakah Anda tidak percaya bahwa saya bisa mewakili guru saya?”
Liang Guozheng mendengus keras.
“Anak muda,” katanya dengan nada tajam, “apakah kau tahu mengapa aku meminta gurumu datang ke ibu kota?”
Su Yelan menurunkan cangkir tehnya perlahan.
“Guru saya terkenal sebagai Tabib Ilahi,” jawabnya. “Seperti orang-orang lain yang mencarinya… Anda sedang mencari obat.”
Liang Guozheng mengangguk.
“Kau benar.”
Tatapannya menjadi lebih tajam.
“Kalau begitu, mengapa dia tidak datang sendiri?”
Su Yelan menatapnya sebentar.
Lalu ia menghela napas pelan.
“Perdana Menteri,” katanya, “Anda telah melakukan kesalahan terhadap guru saya.”
Kening Liang Guozheng langsung berkerut.
“Apa maksudmu?”
Su Yelan menatap jendela di samping ruangan. Cahaya matahari yang mulai redup memantulkan bayangan tipis di wajahnya.
“Seperti yang mungkin sudah Anda dengar,” katanya perlahan, “guru saya bersumpah untuk berhenti berpraktik kedokteran setelah kematian istrinya lima tahun lalu.”
Suaranya lebih tenang sekarang.
“Ia bersumpah untuk meninggalkan semua godaan duniawi… dan tidak akan menyelamatkan satu jiwa pun lagi.”
Mendengar penjelasan itu, Liang Guozheng terdiam.
Ia memang pernah mendengar kabar itu.
Beberapa tahun lalu, kisah tersebut bahkan menyebar ke seluruh negeri.
Mo Qingyuan, sang Tabib Ilahi, adalah legenda hidup dalam dunia pengobatan.
Konon katanya, selama pasien masih bernapas satu kali pun, Mo Qingyuan masih mampu
menariknya kembali dari tangan Yama, Raja Neraka.
Tidak peduli seberapa parah penyakitnya.
Namun takdir justru mempermainkannya dengan kejam.
Istrinya sendiri jatuh sakit parah… ketika ia sedang pergi jauh menyelamatkan pasien lain.
Ketika Mo Qingyuan akhirnya pulang
istrinya telah lama meninggal.
Sejak hari itu, lelaki yang terkenal tenang itu menangis seperti orang kehilangan jiwa.
Kesedihannya begitu dalam hingga ia bersumpah tidak akan lagi menyentuh dunia pengobatan.
Ia bahkan berkata bahwa seseorang yang tidak mampu menyelamatkan istrinya sendiri tidak
layak disebut tabib.
Setelah sumpah itu diucapkan…
Mo Qingyuan menghilang.
Seolah menguap ke udara.
Tidak ada yang tahu ke mana ia pergi.
Hingga dua bulan yang lalu.
Liang Guozheng akhirnya mendengar kabar bahwa sahabat lamanya itu terlihat di wilayah
Lin'an.
Ia segera mengirim orang mencarinya.
Dan benar saja Mo Qingyuan ditemukan tanpa ragu, Liang Guozheng langsung mengirim surat dengan nada penuh kesungguhan,
memohon agar sahabat lamanya itu datang ke ibu kota.
Namun sekarang orang yang datang bukanlah Mo Qingyuan.
Melainkan gadis muda di depannya.
Tidak heran jika ia marah.
Liang Guozheng menghela napas berat.
“Singkatnya,” katanya dengan nada lebih dingin, “ada beberapa hal yang tidak bisa dibicarakan dengan gadis muda."
Tatapannya kembali tajam.
“Bisakah kau menulis surat kepada gurumu dan memintanya datang ke ibu kota?”
Su Yelan tiba-tiba mengangkat kepalanya.
Tatapannya langsung bertemu dengan mata Perdana Menteri.
Tatapan itu tenang.
Namun ada sesuatu yang membuat orang merasa tidak nyaman.
Liang Guozheng merasakan bulu kuduknya berdiri.
Gadis itu tampak seperti tersenyum…
namun sebenarnya tidak tersenyum sama sekali.
“Perdana Menteri Liang,” katanya tiba-tiba, “Anda telah menderita migrain selama empat tahun terakhir, bukan?”
Liang Guozheng tertegun.
“Apa?”
Ia menatap gadis itu dengan heran.
“Bagaimana kau tahu aku menderita migrain? Apakah gurumu yang memberitahumu?”
Su Yelan menggeleng pelan.“Anda kehilangan kontak dengan guru saya lima tahun lalu,” katanya. “Tidak peduli seberapa hebat dia, mustahil baginya merasakan denyut nadi Anda dari jarak seribu li.”
“Lalu bagaimana kau bisa tahu?”
Su Yelan mencondongkan tubuhnya sedikit.
“Dalam pengobatan tradisional,” katanya tenang, “ada empat metode: melihat, mendengar, bertanya, dan merasakan denyut nadi.”
Ia menatap wajah Liang Guozheng dengan penuh perhatian.
“Walaupun saya belum memeriksa denyut nadi Anda, wajah Anda sudah memberi banyak petunjuk.”
Ia mulai menjelaskan dengan tenang.
“Warna kulit Anda pucat kekuningan tanda kekurangan darah dan qi.”
“Lingkaran hitam di bawah mata menunjukkan kualitas tidur yang buruk.”
“Warna bibir yang agak gelap menandakan sirkulasi darah yang tidak lancar.”
“Dan pupil mata yang sedikit keruh menunjukkan kondisi hati yang tidak baik.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian berkata dengan suara pelan.
“Adapun penyebab migrain Anda… jika saya tidak salah mendiagnosis… itu berkaitan dengan racun yang pernah Anda alami.”
Liang Guozheng menatapnya dengan tak percaya.
Gadis ini baru berusia sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun.
Namun hanya dengan melihatnya beberapa saat…
ia telah menggambarkan hampir seluruh kondisi tubuhnya dengan tepat.
Bertahun-tahun lalu, Liang Guozheng memang pernah dijebak oleh musuh politiknya.
Ia diracuni.
Nyawanya hampir melayang.Meskipun akhirnya selamat, sejak saat itu ia selalu menderita migrain yang menyiksa.
Banyak tabib terkenal mencoba mengobatinya.
Namun tidak ada yang berhasil sepenuhnya.
Seiring waktu, ia bahkan mulai menganggapnya sebagai bagian dari takdirnya.
Melihat ekspresi terkejut di wajah lelaki tua itu, Su Yelan tersenyum tipis.
Ia membuka tas kainnya yang penuh tambalan.
Dari dalam, ia mengeluarkan sebotol kecil dari giok hijau pucat.
Botol itu tampak sederhana, namun ukirannya halus.
Ia menyerahkannya kepada Liang Guozheng.
“Perdana Menteri,” katanya, “buka sumbatnya dan cium aromanya.”
Liang Guozheng sedikit ragu.
Namun rasa ingin tahu akhirnya mengalahkan keraguannya.
Ia membuka sumbat botol itu.
Seketika aroma segar yang lembut keluar dari dalamnya.
Aroma itu sulit dijelaskan seperti campuran bunga gunung, daun herbal, dan embun pagi.
Ia menghirupnya sekali.
Lalu sekali lagi.
Sesaat kemudian, kepalanya yang biasanya terasa berat tiba-tiba terasa jauh lebih ringan.
Pikirannya menjadi sangat tenang.
Ia menatap botol itu dengan heran.
“Nak… apa isi botol ini?”
Su Yelan tersenyum.
“Itu disebut Aroma Penentram.”Ia berkata santai.
“Di dalamnya ada ramuan herbal langka yang mampu menetralkan racun.”
Ia menatapnya penuh percaya diri.
“Jika Anda menghirupnya selama waktu satu batang dupa sekitar setengah jam tiga kali sehari…
migrain yang mengganggu Anda selama bertahun-tahun akan hilang dalam tujuh hari.”
Liang Guozheng menatapnya lama.
“Benarkah seampuh itu?”
Su Yelan mengangkat bahu ringan.
“Cobalah dulu.”
“Lalu beritahu saya jawabannya nanti.”
Meskipun Liang Guozheng memiliki perasaan yang rumit terhadap Mo Qingyuan…
ia justru merasa cukup menyukai murid Mo yang satu ini.
Su Yelan akhirnya diizinkan tinggal di Kediaman Perdana Menteri.
Di satu sisi, Liang Guozheng berharap gadis itu bisa membujuk Mo Qingyuan datang ke ibu kota.
Di sisi lain
ia juga ingin mengetahui apakah botol giok hijau itu benar-benar seampuh yang dikatakan gadis tersebut.
Kediaman Perdana Menteri sendiri sangat luas.
Walaupun bangunannya megah, sebenarnya tidak banyak orang yang tinggal di sana.
Istri Liang Guozheng telah meninggal karena penyakit ketika ia berusia lima puluh tahun.
Ia memiliki dua putra dan satu putri.
Namun kedua putranya bertugas di militer di perbatasan sehingga jarang pulang.
Sedangkan putrinya telah menikah jauh dari ibu kota.Akibatnya, rumah besar itu sering terasa terlalu sunyi bagi seorang lelaki tua yang memikul begitu banyak urusan negara.
Dan sekarang, kehadiran seorang gadis desa bermulut tajam telah membawa sedikit kegaduhan baru ke dalam kediaman yang biasanya tenang itu.