Rania saraswati seorang mahasiswi jenius, membuat riset tentang mati suri. Gadis periang dan tomboi ini mengalami kejadian yang aneh. Tiba-tiba jiwanya tertukar dengan seorang gadis kaya raya yang tertindas
Rania menolong gadis yang telah di siksa dan di perlakukan tidak manusiawi oleh ibu, paman dan saudara tirinya. Rania yang telah bertukar jiwa dengan gadis bernama Clara berusaha melawan orang-orang yang telah menindasnya.
Masalah tidak sampai disitu, Clara telah di jodohkan oleh pria kaya raya bernama Radit manggala putra, pria dingin dan angkuh. Pria ini sulit jatuh cinta dengan lawan jenisnya bahkan menolak mentah-mentah bila di jodohkan oleh sang kakek. Namun, siapa sangka ia tertarik dengan wanita bar-bar bernama Clara, yang telah bertukar jiwa dengan Rania.
Lalu bagaimana kah kehidupan Clara dan Rania setelah tertukar jiwa?'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketegangan di rumah sakit
Rania yang masih bingung dengan keadaannya sekarang, hanya diam sambil duduk mematung. Ia masih berpikir hal apa yang harus ia lakukan setelah masuk kedalam jiwa orang lain.
"Awww..." kepala ku sangat sakit dan berdenyut-denyut. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan tubuh wanita ini? Kenapa wajahnya penuh luka dan lebam. Pasti sangat jelek wajah wanita ini!" gerutu Rania.
"Isssh.. Aku kebelet mau pipis!"
Buru-buru Rania turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi.
Sementara dua orang suster berjalan di koridor rumah sakit. Malam ini ia di tugaskan untuk mengindentifikasi mayat seorang gadis yang baru beberapa jam meninggal.
"Mell, kau tahu tidak. Aku paling malas dapat shift malam. Apa lagi ngurusin mayat orang meninggal tabrakan, pasti arwahnya gentayangan."
"Iiihhhh... bulu kudukku jadi meremang, sudah nggak usah di bahas lagi. Ini sudah tugas kita jadi seorang perawat."
Mereka melangkah cepat meninggalkan jejak mereka. Suasana malam itu begitu mencekam, dan lorong-lorong sepi tanpa ada seseorang pun yang melintasi tempat tersebut.
"Sudah jam berapa?" tanya suster di sampingnya.
Wanita itu melirik arloji di pergelangan tangannya. "Sudah jam dua. Ayo cepat jalan mu, kita harus sampai di tempat nona Clara."
"Ahh sial, kita harus naik lift mayat. Lift umum sudah di matikan."
Pintu lift terbuka, mereka masuk kedalam dan menekan angka 7. Setelah sampai di lantai tujuh, mereka mencari nomor ruangan pasien yang baru dua jam lalu meninggal. Setelah memastikan angka didepan pintu, dua wanita itu membuka pintu dengan perlahan. Saat pintu sudah terbuka lebar, mereka terkejut karena tidak ada mayat seorang wanita yang meninggal diatas bunker.
"Kemana mayat itu? Kenapa tidak ada di ruangannya?" tanya sang suster pada teman di sebelahnya.
"Apa kita tidak salah kamar?"
"Tidak kok, di map ini tertera angka 207. Sama dengan nomor kamar ini."
"Apa ada yang mencuri mayat wanita itu?"
"Tidak mungkin, mana ada orang curi mayat di rumah sakit! celetuk sang suster
"Kalau begitu ayo kita masuk kedalam. kalau tidak ada baru kita laporkan ke dokter."
Mereka berdua masuk kedalam ruangan ICU dengan was-was, untuk memastikan mayat tersebut masih ada.
"Ternyata tidak ada mayatnya di atas bunker, jadi apa yang harus Kita lakukan?"
"Kalau begitu, ayo kita lampirkan."
Terdengar suara pintu di buka dari kamar mandi, keduanya langsung terdiam dan berlutut dalam pikiran masing-masing. Mereka merasakan hawa dingin mulai menyergap.
"Anda cari siapa?! Tukas suara di belakang punggung mereka, keduanya saling bersitatap dan menoleh dengan perlahan.
"Setannnnn!!!" jerit dua orang suster dan langsung berlarian keluar dari ruangan ICU.
Rania melongo dengan tingkah kedua suster tersebut. "Hey! Kenapa kalian menyebut ku setan! Apakah wajah wanita ini begitu menyeramkan?"
Rania kembali naik keatas ranjang, ia mulai bosan dan tiba-tiba perutnya terasa lapar.
"Perut ku sangat sakit, dimana cari makanan jam segini?" ruangan ini sangat sepi, hanya aku seorang diri. Lebih baik aku turun kebawah dan cari makanan.
Rania turun dari ranjang dan keluar dari ruangan ICU. Ia baru menyadari kalau sedang berada di ruangan ICU. "Ternyata aku berada di ruangan ICU? Pantas saja tidak ada pasien lainnya."
Rania benar-benar sudah bekat, ia melewati pintu-pintu rumah sakit yang tertutup, ia terus berjalan melintasi lorong-lorong yang sepi, untuk menuju ruangan jaga perawat.
Rania sudah sampai di depan ruangan jaga para perawat. Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Sus, boleh minta tolong."
"Minta tolong apa?" tanya suster sambil berkutat di depan layar komputer.
"Saya lapar, boleh bawakan makanan ke ruangan saya?"
"Tidak bisa, malam-malam begini bagian gizi sudah pulang." balasnya tanpa menoleh
"Tapi saya lapar sus!" seru Rania yang mulai kesal.
"Baiklah, akan saya minta bagian gizi buatkan makanan untuk pasien. Dimana ruangan nona?"
"Di ruangan ICU.'
Seketika sang suster terdiam, lalu ia mengangkat kepalanya. Ia terkejut saat melihat wajah Clara yang penuh luka bangun tiba-tiba.
"Ka-u.. bukannya sudah meninggal?! Tukas suster sambil tergagap.
Rania kembali bengong "Siapa yang sudah meninggal? Saya masih hidup!" serunya meyakinkan sang suster
Suster itu langsung berlari meninggalkan mejanya. Rania hanya menatap bingung suster yang pergi, a mengangkat kedua telapak tangannya.
"Apakah sebenarnya, roh wanita yang memiliki tubuh ini sudah mati?! Kalau memang pemilik tubuh ini sudah benar-benar mati, aku tidak bisa kembali lagi ke tubuh ku semula." ucapnya lirih
Rania yang baru menyadari semua itu, ia tidak dapat menutupi rasa khawatirnya. Airmata mulai bercucuran dari sudut matanya.
"Professor bilang, bila aku masuk ke tubuh orang yang sudah meninggal. Tidak akan bisa kembali lagi ke tubuh ku." hiks...
"Aku tidak akan bisa menemui ibu lagi, aku tidak bisa berjumpa dengan sahabat-sahabat ku. Aku sendiri tidak tahu nasib ku sekarang, aku juga belum tahu sedang berada di kota mana?"
Rania terduduk di lantai, sambil membekap kedua kakinya. Ia masih memikirkan nasibnya sekarang.
"Bagaimana bila tubuh ku sudah tidak bernyawa lagi? dan aku benar-benar di nyatakan meninggal. Pasti semua orang menyalahkan Professor Cipto."
Saat Rania sedang merenung, dari arah lorong satpam dan beberapa orang suster datang menghampiri Rania
"Itu dia mayatnya hidup kembali." seru seorang suster yang tadi berlari.
"Apa wanita itu sudah menjadi hantu? Dan gentayangan di rumah sakit?" pekik salam seorang satpam
Mereka semua mendekat dengan takut-takut, lalu menatap gadis itu dari atas sampai bawah. Rania sudah pasrah dengan nasibnya, sebab perpindahan jiwa adalah keinginannya sendiri.
Rania menoleh dan menatap mereka satu-persatu "Saya manusia biasa dan bukan hantu!" sahut Rania.
"Tapi, jam sebelas tadi, nona sudah di nyatakan meninggal. di kepala nona banyak mengeluarkan darah dan nona tidak bisa tertolong lagi."
"Mungkin, tadi aku mati suri! dan sekarang sudah kembali lagi ke tubuh ku."
Semuanya terdiam, tak lama kemudian dokter yang tadi menangani Clara datang, untuk memastikan kondisi wanita tabrakan yang sudah ia vonis meninggal.
"Nona Clara! Apa anda benar-benar hidup kembali?" tanya sang dokter sambil mendekat dan meraih pergelangan tangan Rania.
"Ajaib, denyut nadinya kembali normal." tukas sang dokter, para suster dan satpam saling bersitatap karena hampir tak percaya dengan kejadian langka tersebut.
"Sus, tempatkan nona Clara di ruangan rawat inap, tidak usah kembali keruangan ICU."
"Baik Dok!"
"Dok, perut saya sakit. Saya sangat lapar."
"Baiklah, saya akan suruh suster membawakan makanan."
Rania di antar suster keruangan rawat inap, setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter, ia menyantap makanan dengan lahap.
Rania mulai memikirkan nasibnya esok dan ingin tahu. siapakah kelurga bernama Clara, wanita yang sudah bertukar jiwa dengannya.
ALL, TOLONG DUKUNG KARYA TERBARU NOVEL BUNDA 🙏 BANYAKIN KOMENTAR NYA. BERIKAN PENILAIAN DI RATE BINTANG 5 DAN BERI LIKE, VOTE, GIFT 💜💜💜
Terima kasih
lg seru soalnya 🤣🤣😍