Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.4
Handoko mendekati sang putri yang hanya bisa tertunduk itu, dicengkramnya pipi gadis yang masih nampak bekas tangannya disana. "Anak siapa itu??" tanyanya geram hingga terdengar giginya saling bergemeletuk.
"Miko??".
"Jawab Papa, Syela!!!" bentak Handoko.
"Bukan" jawab Syela tegas. "Lalu?" tanya Papanya lagi tapi Syela tak kunjung menjawab juga.
Handoko sudah kembali ingin melayangkan tamparan, jika Syela tidak segera menjawab "Aku nggak tau Pa".
"Apa maksudmu Syela, gimana bisa kamu nggak tau kalau kamu sendiri yang berbuat?" Handoko geram bukan main.
"Sudah berapa laki laki yang menyentuhmu, sampai kau tidak tau siapa Ayah anak itu Syela?". Kini sang Mama yang bertanya, yang terang saja membuat Syela membelalak sekekita karena pertanyaan dari sang Mama seolah olah membuatnya jadi seorang yang paling buruk saat ini. Bahkan tamparan sang Papa tak terasa dibanding sakit hatinya ditanyai seperti itu.
Sudah berapa tanyanya sedangkan satu saja ia tak pernah melihatnya dengan jelas.
"Syela!!!!" Sang Papa kembali membentak.
"Aku, Aku dip*r*osa!!!" Jawabnya lantang membuat Papa dan Mamanya terdiam sesaat.
Akhirnya Syela menceritakan kejadian malam itu dia pergi ke klub bersama teman temannya tak terkecuali Catherine. Dan saat dirinya terbangun sendiri dipagi hari dengan hanya menggunakan selimut dan sprei berdarah, lalu keluar dari sana tanpa memikirkan apapun lagi.
"Tapi Catherine pulang baik baik saja bahkan dia bisa langsung pergi ke Ausi, dia bilang kamu menginap dirumah temanmu".
"Aku tidak tau Pa, Aku betul betul tidak ingat" jelas Syela jujur.
"Syela, syela, syela!!!" Ucap sang Papa geram. "Dasar bodoh...., jadi bagaimana sekarang hah??!!, kalau keluarga dan rekan kerja Papa tau, astaga malunya Papa Syela...... " ujarnya prustasi.
"Belum lagi Miko, Papanya.... Bisa bisa kerjasama bisnis kami hancur berantakan".
Syela tak salah dengarkan, setelah ia jujur pun sang Papa bukannya ikut simpati atau bahkan merasakan sedikit penderitaannya sebagai korban tapi malah pusing, malu dengan tanggapan orang orang juga bisnisnya. Setidaknya dirinya adalah seorang putri yang harus dilindungi bagaimanapun keadaannya.
Seorang Ayah harusnya merangkul dan memberikan jalan keluar untuk kesalahan putrinya.
"Gugurkan anak itu Syela" seorang Ibu dengan sadar mengatakan hal yang mengerikan, bahkan dengan santainya Mama Susi bicara sembari mengelus punggung sang suami yang sudah terduduk disofa.
Wajar untuk Syela menginginkan hal itu karena dia memang masih muda, belum siap bahkan siapa ayah bayi itupun ia tak tau. Tapi Susi seorang ibu yang harusnya bisa lebih legowo menerima kesalahan putrinya malah meminta sesuatu yang mengerikan.
"Benar kata Mamamu, gugurkan anak itu Syela" tambahnya Handoko pun mantap mendukung istrinya tersebut.
"Nggak bisa Pa" jawab Syela lesu.
Terang saja membuat Handoko kembali naik pitam mendengar jawaban putrinya itu.
"Maksudmu apa Syela, apa maumu...., kau ingin Miko tau kalau kau hamil, kau pikir dia mau menerima bayi yang bukan miliknya hahh!!!!"
Syela menangis menggeleng sambil terisak. "Bukan cuma Papa, aku juga mau anak ini hilang dari perutku, tapi Papa lihat sendiri tadi, dia sehat sehat saja padahal sudah semua penggugur kandungan Syela minum, tapi dia tetap disini Pa" jawabnya sambil memegangi perutnya yang masih rata itu.
Handoko kembali berdiri, mengacak rambutnya frustasi. "Bisa gila aku jika seperti ini" ujarnya.
"Biarkan Syela lahirkan anak ini dulu Pa, kalau dia sudah lahir Syela pasrah mau Papa apakan Anak ini" ujar Syela lemah meminta sedikit keringanan pada sang Papa untuk menyudahi drama hari ini jujur dia lelah, hati, otak dan raganya benar benar lelah saat ini.
Sang Papa terdiam menatap putrinya tak terbaca. Mendapat elusan dilengannya dari istrinya dia menoleh.
Susi mengangguk "untuk sementara kita sembunyikan dulu Syela sampai anak itu lahir, kita berikan alasan pada semua orang yang bertanya termasuk Miko" terangnya membujuk sang suami. "Hanya itu jalan satu satunya saat ini Mas" tambahnya.
Handoko terdiam sesaat sebelum menghela napas panjang. "Baiklah" jawabnya lemah. Pria itu menunjuk sang putri dengan telunjuk juga tatapan tajam mengancamnya.
"Tapi ingat kau tidak boleh keluar dari rumah 1 jengkal pun Syela, sampai anak itu lahir kau terpenjara dirumah ini, dan jangan memikirkan keluar bahkan untuk memeriksakannya sekalipun mengerti!!!!"
Syela hanya bisa mengangguk pasrah, air matanya masih mengalir tak berhenti. Gadis itu beranjak berdiri dengan lemah setelah kepergian kedua orang tuanya.
Dia menuju kekamar dan merebahkan diri perlahan dikasurnya. Untuk saat ini dia memilih tidur demi menenangkan jiwa dan pikiran kacaunya.
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya