Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Persiapan Unik
Beberapa hari berlalu, dan hari pelaksanaan lomba latihan ketangkasan akhirnya tiba. Seluruh lapangan utama Sekte Angin Hijau sudah dipenuhi oleh ratusan murid yang datang untuk berpartisipasi maupun menonton. Suasana terasa ramai dan penuh semangat.
Di satu sudut lapangan, terlihat Mu Chen yang sedang duduk santai di atas tikar kecil — berbeda dengan peserta lain yang sibuk melakukan pemanasan serius dan berkonsentrasi penuh. Di sampingnya tergeletak sebuah keranjang anyaman yang tertutup kain.
"Mu Chen, kau siap?" tanya Bai Hao yang baru saja datang bersama Su Ling.
"Siap dong! Sudah siap sejak semalam," jawab Mu Chen sambil mengangguk antusias.
"Baguslah. Ingat, ini hanya lomba latihan, jadi tidak perlu terlalu memaksakan diri. Yang penting berusaha dengan kemampuan sendiri," tambah Su Ling.
Mu Chen tersenyum lebar dan membuka sedikit tutup keranjangnya: "Tenang saja! Saya sudah membawa persiapan lengkap. Ini ada air minum dingin, buah-buahan segar, dan kue kering untuk dimakan kalau sudah lelah. Nanti setelah pertandingan selesai kita bisa makan bersama!"
Bai Hao dan Su Ling saling pandang sambil tertawa kecil — ini benar-benar persiapan yang tidak biasa untuk sebuah lomba latihan.
Feng Hao yang Menunggu
Di sisi lain lapangan, Feng Hao berdiri tegak dengan pakaian yang rapi dan ekspresi wajah yang dingin. Ia sudah mendaftar dengan nomor urut yang ia atur agar bisa bertemu dengan Mu Chen lebih cepat. Matanya sesekali melirik ke arah Mu Chen yang sedang sibuk memakan buah pir.
"Masih santai saja rupanya. Nanti kau akan tahu rasanya!" pikirnya dalam hati.
Tak lama kemudian, pembawa acara mengumumkan giliran pertandingan.
"Pertandingan berikutnya: nomor 37 — Mu Chen, melawan nomor 12 — Feng Hao!"
Suara penonton langsung riuh. Banyak yang mengenal Feng Hao sebagai murid berbakat dan putra Perdana Menteri, sedangkan Mu Chen hanya dikenal sebagai murid biasa yang kadang membantu di kebun dan dapur.
"Ini pasti pertandingan yang cepat selesai," bisik seorang penonton."Bagaimana bisa murid tingkat pelatihan melawan murid tingkat transformasi? Pasti dia akan kalah dalam satu gerakan saja!"
Ling Yue yang juga datang untuk menonton duduk di barisan depan. Ia menatap kedua peserta dengan ekspresi tenang, namun hatinya sedikit penasaran.
Pertandingan Dimulai
Keduanya berdiri berhadapan di tengah lapangan. Feng Hao menatap Mu Chen dengan pandangan meremehkan:"Mu Chen, kan? Lebih baik kau menyerah saja sekarang. Aku tidak ingin melukai orang yang tidak bersalah."
Mu Chen menggaruk kepalanya kikuk: "Terima kasih peringatannya. Tapi saya mau coba dulu. Lagipula hadiahnya benih tanaman obat, saya butuh untuk kebun saya."
Feng Hao hampir tersedak mendengar jawaban itu — orang ini benar-benar hanya memikirkan hadiahnya saja!
"Baiklah, kalau begitu mulai saja!" seru Feng Hao sambil langsung bersiap.
"Pertandingan dimulai!" teriak wasit.
Segera setelah aba-aba, Feng Hao langsung bergerak cepat. Ia melangkah maju dan melepaskan Tinju Gelombang Angin — jurus yang cukup kuat untuk membuat orang terlempar beberapa meter.
"Hati-hati!" seru Su Ling.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat semua orang tertegun. Mu Chen tidak menghindar, tidak menangkis dengan keras — ia malah sedikit memiringkan badannya, dan dengan gerakan yang terlihat sangat sederhana seolah sedang menyeimbangkan beban berat...
"Wah, anginnya lumayan kencang ya!" gumamnya polos.
Begitu gelombang energi itu menyentuhnya, aliran energinya perlahan terserap dan disebarkan merata ke tanah di sekitar kakinya — seolah air yang dituang ke pasir. Tidak ada guncangan, tidak ada cedera, bahkan bajunya tidak berantakan sedikit pun.
Feng Hao tertegun: "Apa?! Energiku diserap begitu saja?!"
Ia tidak percaya, lalu menyerang lagi dengan jurus yang lebih kuat — Belati Angin Berputar. Beberapa bilah energi tajam terbang ke arah Mu Chen dari berbagai sisi.
Mu Chen menatap gerakan itu sebentar, lalu matanya berkilau samar — Mata Kebenarannya terbuka. Ia melihat jelas aliran energi dan pola gerakannya.
"Wah, jurusnya bagus juga. Saya coba tiru sedikit ya!" katanya dengan antusias.
Dengan gerakan yang persis sama namun lebih halus dan stabil, ia menciptakan bilah energi serupa — tapi miliknya terlihat lebih padat dan stabil, bahkan warnanya sedikit keperakan. Ia tidak melemparkannya dengan keras, hanya mengayunkannya perlahan untuk menangkis serangan lawan.
"Bruk!"Dua kekuatan bertemu, dan bilah energi Feng Hao hancur terurai, sedangkan milik Mu Chen perlahan menghilang seperti kabut tipis.
Semua orang di lapangan terdiam seketika. Bahkan para tetua yang menonton dari atas juga mengerutkan kening — apa yang sebenarnya terjadi di sana?
Feng Hao yang merasa harga dirinya terluka menjadi semakin marah. Ia melepaskan serangan demi serangan dengan kekuatan yang semakin besar, berusaha membuat Mu Chen mundur. Namun setiap kali, hasilnya selalu sama:
Serangan yang terlalu keras — diserap dan disebarkan
Serangan yang berbelit — ditiru dan ditangkis dengan cara yang lebih sederhana
Bahkan ketika Feng Hao mencoba mendekat untuk bertarung jarak dekat, Mu Chen hanya bergerak dengan santai sambil berkata: "Eh, jangan terlalu dekat ya. Nanti tidak sengaja menyenggol, malah sakit lho!"
Setelah beberapa menit bertarung, Feng Hao mulai terengah-engah — ia sudah mengeluarkan banyak tenaga. Sedangkan Mu Chen masih berdiri dengan tenang, bahkan masih terlihat segar. Ia sesekali melirik keranjangnya dan berkata dalam hati: "Kalau selesai sebentar lagi, saya bisa makan kue yang saya buat tadi."
"Kenapa dia tidak menyerang balik? Apakah dia hanya bisa bertahan saja?!" geram Feng Hao.
Mu Chen mengangkat bahu dan menjawab dengan jujur:"Kenapa harus menyerang? Kalau saya menyerang terlalu keras, nanti kamu jatuh terguling dan bisa sakit. Lagipula, saya tidak pandai membuat orang sakit. Lebih baik kita selesaikan dengan damai saja. Kalau kamu sudah lelah, boleh berhenti dan istirahat sebentar. Saya masih punya air minum lho, dingin dan segar!"
Ia bahkan menunjuk ke arah keranjangnya dengan wajah ramah — membuat semua orang yang menonton hampir tertawa terbahak-bahak meski suasana tadinya tegang.
Feng Hao semakin geram, tapi ia juga sadar bahwa energinya sudah mulai menipis sedangkan lawannya masih segar. Ia merasa dipermalukan habis-habisan — baik karena tidak bisa menang, maupun karena perlakuan "ramah" Mu Chen yang terdengar seperti meremehkan.
Namun, karena ia tidak mau kalah dengan cara yang memalukan, ia memutuskan untuk menghentikan pertandingan:"Aku... aku mengakui pertandingan ini seri untuk sementara!"
Ia berbalik dan pergi dengan langkah cepat, wajahnya merah padam karena campuran marah dan malu.
Wasit yang bingung namun melihat situasi berkata: "Baiklah, pertandingan ini dinyatakan selesai. Silakan kedua peserta istirahat."
Begitu aba-aba selesai, Mu Chen langsung berjalan kembali ke tikarnya, membuka keranjangnya, dan membagikan buah serta air minum kepada Bai Hao dan Su Ling:"Nah, selesai juga! Tadi pertandingannya seru ya. Eh, ada air minumnya, segar lho. Kalau mau coba juga boleh."
Su Ling menahan tawa: "Kau benar-benar... dalam pertandingan yang tegang saja masih memikirkan makanan dan air minum."
Mu Chen tersenyum lebar: "Tentu saja! Berlatih dan bertarung butuh tenaga, perut harus dijaga juga. Oh ya, nanti saya bisa mendapatkan benih tanaman obatnya kan? Itu yang paling penting!"
Di sudut lapangan, Ling Yue menatapnya dengan pandangan yang sedikit berbeda. Ia melihat jelas bahwa meski terlihat santai dan polos, kemampuan Mu Chen sebenarnya sangat luar biasa — bahkan mampu menahan serangan murid tingkat Transformasi tanpa bersusah payah. Dan yang lebih menarik, ia tidak pernah memiliki niat jahat sama sekali.
Setelah Pertandingan
Malam harinya, di tempat tinggal Mu Chen, ia sedang menyusun benih tanaman obat yang ia dapatkan sebagai hadiah. Di dalam benaknya, Kitab Jalan Bintang berkomentar:
"Feng Hao pasti tidak akan berhenti begitu saja. Ia merasa harga dirinya terluka."
Mu Chen meletakkan benih itu dengan hati-hati, lalu mengangkat bahu:"Biarkan saja. Selama dia tidak merusak kebun saya dan tidak mengganggu saat saya memasak, saya tidak peduli. Kalau dia datang lagi, saya bisa menyedot sedikit energinya saja — cukup untuk membuatnya sadar. Lagipula, saya masih punya persediaan air minum dingin kalau dia butuh penyegar pikiran!"
Ia tertawa kecil, lalu beralih memikirkan rencana besok:"Besok saya akan menanam benih ini. Semoga tumbuh subur, nanti bisa dijadikan bumbu masakan juga. Enak kan kalau tanaman obat juga bisa dimakan!"