Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Jarum jam di dinding sudah menunjuk ke angka sembilan pagi. Di sofa, Aruna tampak gelisah sambil membolak-balik lembaran kontrak yang tebalnya keterlaluan itu.
"Pak Adrian," panggilnya memecah keheningan. Aku mendongak sedikit dari layar laptop. "Saya izin keluar sebentar mau ambil minum di meja depan, sekalian isi air."
Aku hanya berdeham pendek sebagai jawaban setuju. Mataku kembali fokus pada angka-angka sialan di layar, sementara ekor mataku menangkap pergerakannya yang buru-buru keluar ruangan.
Namun, setelah lima belas menit berlalu, kursi sofa itu masih kosong. Gadis itu belum juga kembali. Aku sempat melirik ke luar dinding kaca, mejanya kosong. Ke mana dia? Apa mengambil air saja harus sekalian bertapa di pantry? Aku mulai merasa sedikit dongkol, mengira dia sengaja mengulur waktu untuk menghindari tumpukan tugasnya.
Tok, tok.
Pintu terdorong terbuka. Aruna masuk dengan napas sedikit terengah-engah. Alih-alih langsung kembali ke sofa, dia justru melangkah lurus menuju meja kerjaku.
Pluk!
Sebungkus roti bun isi cokelat kemasan diletakkannya tepat di sebelah cangkir kopi manis buatannya tadi.
"Ini, Pak. Buat ganjal perut," ucapnya agak canggung, tangannya meremas ujung kemejanya sendiri. "Tadi saya sekalian turun ke bawah, tapi di kantin tersisa ini buat sarapan. Bapak dari semalam belum makan, kan? Nanti kalau Bapak pingsan, saya yang repot."
Aku tertegun. Pandanganku terkunci pada bungkusan roti murahan dari kantin kantor itu, lalu perlahan beralih menatap wajah polosnya.
Sial. Dadaku mendadak berdebar aneh.
Di tengah kepalaku yang mau pecah mengurus kekacauan kerjaan, di saat aku bahkan benar-benar lupa kapan terakhir kali tubuhku diberi asupan makanan, justru gadis yang baru sehari kujadikan sekretaris ini yang berinisiatif memikirkan perutku. Perhatian kecil yang datang di waktu yang sangat tepat. Jujur, ada letup perasaan yang menggelitik egoku saat itu juga. Tapi, tentu saja, gengsi seorang Adrian Wiratama tidak boleh runtuh begitu saja.
Aku berdeham pelan, buru-buru mengeraskan garis wajahku agar terlihat sedatar mungkin.
"Saya tidak minta dibelikan roti, Aruna," sahutku ketus, padahal tanganku justru langsung bergerak merobek plastik bungkusannya. "Tapi karena kamu sudah terlanjur beli, akan saya makan. Terima kasih."
Aruna menghembuskan napas lega yang kentara sekali, lalu berbalik menuju sofa dengan langkah yang jauh lebih ringan. Aku menggigit roti itu, mengunyahnya pelan sambil menyembunyikan senyuman tipis di balik punggung tanganku.
Keheningan kembali merayap selama beberapa menit. Aku dan Aruna sama-sama tenggelam dalam kesibukan masing-masing, sampai sebuah ketukan ragu-ragu terdengar dari balik pintu jati ruanganku.
Tok... Tok...
"Masuk," ujarku tanpa mengalihkan pandangan.
Pintu terbuka. Sosok staf administrasi melangkah masuk dengan kaku. Kalau tidak salah ingat, namanya Fika—salah satu teman satu kubikel Aruna dulu. Dia datang membawa map merah berisi laporan anggaran mingguan, tugas rutin yang biasanya dilakukan oleh Aruna sebelum dipromosikan paksa.
Namun, begitu Fika melangkah melewati pintu, langkahnya langsung mengendur. Matanya membelalak sempurna, menatap Aruna yang sedang duduk dikelilingi tumpukan map di atas sofa ruanganku.
Aku tahu apa yang ada di dalam kepala staf administrasi itu. Dia pasti syok setengah mati. Selama dia bekerja di sini, aku terkenal sangat menjaga privasi ruang kerja. Mau sebanyak apapun pekerjaan yang menumpuk, dan sesering apapun sekretarisku berganti, tidak pernah ada satupun dari mereka yang diizinkan bekerja di dalam ruangan pribadiku selagi aku ada di sana. Ruangan ini adalah wilayah steril. Tapi sekarang, Aruna ada di sini, duduk di sofaku, dan aku membiarkannya begitu saja.
Begitu mendengar suara pintu dibuka, Aruna otomatis menengok. Begitu melihat siapa yang datang, wajah waswasnya langsung sirna, digantikan binar mata yang luar biasa cerah. Dia kelihatan sangat senang melihat temannya itu. Sampai melambai tangan kecil kepada temannya itu.
Fika berjalan mendekat ke mejaku dengan gerakan patah-patah seperti robot rusak, matanya masih sesekali melirik Aruna dengan penuh tanya.
"P-Pak Adrian... ini ada dokumen yang perlu ditandatangani," ujar Fika dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup.
Aku mengulurkan tangan, mengambil map merah itu tanpa bersuara. Saat aku membuka lembaran kertas dan mulai membubuhkan tanda tangan dengan pulpenku, sebuah bisikan pelan yang mereka kira tidak akan terdengar olehku menyusup ke indera pendengaranku.
"Fik, Fik... nanti makan siang bareng di bawah ya, tungguin aku," bisik Aruna setengah mendesah dari arah sofa, wajahnya sengaja dicondongkan ke arah Fika.
Fika yang ketakutan setengah mati langsung melirikku dengan sudut matanya yang panik, lalu balas berbisik dengan nada super tegang, "Diem, Na! Diem!”
Bukannya takut, Aruna malah mencebikkan bibirnya, bersiap membalas lagi ucapan temannya itu.
Melihat kelakuan amatir dua orang di depanku ini yang mengira volume suara mereka sudah cukup aman, aku menutup map merah itu dengan hentakan yang sengaja kubuat sedikit keras.
BRAK!
"Ehem!"
Aku berdeham berat, memberikan nada intimidasi mutlak yang langsung memutus pasokan udara di dalam ruangan.
Seketika itu juga, Aruna langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat dan pura-pura amnesia, buru-buru menunduk menatap kertas di pangkuannya. Sementara Fika langsung menegakkan punggungnya dengan wajah pucat pasi, menahan napas mampus karena takut diamuk di tempat.
"Ini masih jam sepuluh, Aruna. Jam makan siang kamu masih lama," ujarku dingin, memecah keheningan mencekam setelah dehaman beratku tadi. Mata elang kutujukan lurus pada gadis di sofa yang sekarang pura-pura mendadak tuli.
Fika yang berdiri di depan mejaku tampak makin pucat pasi. Tubuhnya bergetar kecil mendengarkan suaraku. Tanpa membuang waktu lagi, dengan gerakan kaku dan super cepat, dia langsung menyambar map merah yang sudah selesai kutandatangani dari atas meja.
"B-baik, Pak Adrian. Terima kasih banyak. Saya... saya permisi kembali bekerja!" pamit Fika terbata-bata. Dia membungkuk sekilas, lalu praktis setengah berlari keluar dari ruanganku, seolah-olah baru saja lolos dari terkaman predator.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat, suasana ruangan kembali sunyi. Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama. Dari arah sofa, aku mendengar suara embusan napas panjang, disusul oleh gumaman amat pelan yang penuh dengan nada kejengkelan.
"Dasar Bos Sableng... pelit amat sama waktu, orang cuma mau ngajak makan siang doang..."
Aku meletakkan pulpenku di atas meja dengan ketukan yang cukup nyaring. "Saya dengar, Aruna."
Gadis itu tersentak kaget. Bahunya langsung menegak kaku. Dia menurunkan dokumen yang sejak tadi dipakainya untuk menutupi wajah, lalu menatapku dengan mata bulatnya yang berkedip panik. Otak kecilnya pasti sedang berputar keras mencari alasan untuk menyelamatkan diri.
"Eh? Bapak bilang apa?" tanyanya, mencoba memasang wajah paling polos sedunia.
"Kamu bilang apa tadi? Bos Sableng?" pancingku, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatapnya intens, sengaja ingin melihat sejauh mana dia bisa mengelak.
"Ah! N-nggak kok, Pak!" ngelesnya cepat, lengkap dengan senyum kaku yang dipaksakan. "Bapak salah dengar mungkin. Saya tadi bilang... emm... nggak apa-apa kok, Pak. Maksud saya tadi, buat makan siang nanti... rencananya mau saya belikan roti lagi buat Bapak. Iya, begitu maksud saya!"
Aku menaikkan sebelah alisku, menahan kedutan di sudut bibir agar tidak lolos menjadi tawa. Alasan yang luar biasa absurd dan tidak masuk akal. Jelas-jelas tadi dia menggerutu karena kesal, tapi sekarang malah membawa-bawa urusan membelikanku makanan lagi agar tidak dimarahi.
"Oh, ya?" sahutku datar, pura-pura percaya pada bualan amatirnya. "Kalau begitu, pastikan nanti siang rotinya tidak kemanisan seperti kopi buatanmu pagi ini. Sekarang, kembali fokus ke kerjaan kamu. Kalau itu tidak selesai sebelum jam dua belas, saya tidak akan mengizinkan kamu keluar dari ruangan ini."
"Baik, Pak," cicitnya pasrah, kembali menenggelamkan wajahnya di balik berkas dengan bibir yang mengerucut sebal.
Aku kembali menatap layar laptop, menggelengkan kepala pelan dengan senyuman tipis yang akhirnya tidak bisa lagi kusembunyikan. Menghadapi sekretaris baru yang hobi ngeles secara aneh seperti ini ternyata jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan.