"Setiap orang memiliki alasannya sendiri mengenai bagaimana ia harus bersikap. Jadi, tugas kita bukanlah untuk membenci ataupun bertanya mengapa? tapi kita wajib menghargainya"
.
Aisyah Raina Abdullah, gadis cantik yang memilih menutup dirinya, demi untuk menjaga marwah pribadinya juga keluarganya.
Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak ia mengenal sifat. Ada yang murah senyum, ada pula yang dingin layaknya es.
Saat itu juga, Raina menemukan sosok pria yang sangat berbeda baginya, namanya Malik Fajar Admajaya. Akrab di sapa Fajar, ia adalah laki-laki yang memiliki sifat sedingin es.
Ia juga sangat membenci sosok wanita, kecuali sang Ibunda. Selama ini ia tak mau perduli dan tersenyum pada wanita manapun, kalaupun ia memiliki seorang 'wanita' itu hanyalah permainan baginya.
.
Kemudian, dua anak manusia yang berbeda karakter itu dipersatukan dalam mahligai cinta yang halal.
Walaupun pasti banyak rintangan yang akan menghadang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tris riyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah!
Author Pov
Kak Fajar..
apa kamu tahu?
Saat ini, saat pertama kali aku melihatmu
bersiap-siap menjalankan kewajibanmu.
Aku merasa, kamu memang pria yang berbeda..
...-----♡●♡-----...
Semarang, Jum’at 28 Oktober 2016
.
Pagi ini.. semuanya akan segera berubah. Raina dengan gaun putih yang menawan berbalut niqab yang melekat indah di wajah ayunya, tengah menunggu di barisan para wanita dibelakang.
Dengan perasaan campur aduk didalam hatinya, ketika menantikan ijab qabul yang akan di ikrarkan Fajar untuk menghalalkan hubungan mereka.
Sementara Fajar, dengan jas setelan berwarna putih senada dengan Raina, tampak datar menungu Abdullah, Abi Raina menjabat tangannya, tak ada perasaan apapun saat ini didalam hatinya. Tak ada kegelisahan, ataupun kebahagiaan, Ia tampak tak menganggap serius pernikahan ini, dan mungkin ini hanya lah formalitas belaka bagi dirinya.
“Baik, kamu sudah siap nak Fajar?” Tanya Abi Abdullah dengan senyuman, kepada Fajar yang dijawab dengan anggukan pelan oleh Fajar.
“Bismillahirrahmanirrahiim.. saya nikahkan dan saya kawinkan putri kandungku, Aisyah Raina Abdullah binti Abdullah dengan mu Malik Fajar Admajaya bin Surya Admajaya dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai satu juta rupiah di bayar tunai.”
Dengan menutup matanya Fajar menjawab, “Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Raina Abdullah binti Abdullah, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Kemudian terdengar suara saksi yang menggema mengucapkan kata sah! Sebagai tanda, kini Raina dan Fajar telah memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang baru.
Kini mereka merupakan pakaian bagi satu sama lain, keburukan Fajar adalah tanggung jawab Raina untuk memperbaikinya. Keelokan Raina, adalah tanggung jawab Fajar untuk menjaganya mulai detik ini.
Kemudian dengan arahan Ayahnya, Fajar kemudian datang menghampiri Raina yang tengah duduk di bagian belakang. Sementara Raina, ia masih tertunduk. Ia takut melihat Fajar ataupun menatap matanya.
“Nduk.. angkat kepalamu, Fajar datang. Jabat dan ciumlah tangannya, rasakanlah keteduhan seorang wanita yang mencium aroma tangan suaminya,” titah Umi Fatma pada sang putri.
Mendengar seruan sang Umi, kemudian Raina berani untuk menjabat tangan Fajar dan menciumnya. Sementara Fajar, ia hanya terdiam tak mengatakan apapun itu, tersenyum saja tidak dia lakukan. Ia malah memalingkan wajahnya ketika Raina mencium punggung tangannya.
“Udah!!” kata Fajar pelan, namun menyakitnya bagi siapa saja yang mendengarkannya, sambil menghempaskan tangan Raina.
Namun tidak dengan Raina, ia bahkan sudah menduga sebelumnya, Fajar akan bersikap seperti itu kepada dirinya.
Amarahmu adalah tugas ku untuk memperbaikinya kak Fajar suamiku. Aku tidak peduli apa tanggapanmu tentang diriku. Yang menjadi fokus utamaku mulai saat ini adalah membuatmu kembali seperti dulu. Walaupun itu harus mengorbankan kesabaranku – batin Raina sambil menatap lekat mata tajam yang Fajar alihkan dari dirinya.
Apapun yang lo lakuin, gue gak akan peduli, dan jangan harap gue akan berubah hanya karena lo. Pernikahan ini bagi gue hanya formalitas, gue cuma gak mau Bunda kecewa untuk kesekian kalinya. Dan hanya dengan cara inilah dirinya kembali mendapatkan senyumannya – batin Fajar yang menatap lekat sang Bunda yang tengah tersenyum melihat nya bersama Raina.
Setelah semua acara selesai di laksanakan, karena memang sesuai permintaan Fajar dan Raina, hanya keluarga saja yang mereka undang, jadi mereka hanya menggelar acara yang sederhana.
Terlebih lagi ini hari Jum’at, para pria juga harus bersiap untuk menjalankan salah satu kewajibannya, menunaikan shalat jum’at berjama’ah di Masjid yang ada di Pesantren keluarga Abdullah.
Raina.. dengan tatapannya yang dalam, ia melihat Fajar yang tengah bersiap di dalam kamar untuk pergi ke masjid.
Kak Fajar, apa kamu tahu? Saat ini, saat pertama kali aku melihatmu bersiap-siap menjalankan kewajibanmu. Aku merasa, kamu memang pria yang berbeda – batin Raina, sambil tersenyum di balik niqabnya.
Kemudian Raina dibuat kaget dengan hentakan pintu, yang Fajar tutup dari arah luar. “Astaghfirullah.. aku akan mulai terbiasa dengan ini, all is well. Suami esku,” cicit Raina pelan, melihat tingkah dingin Fajar.
...*****...
Hari sudah semakin sore, dan Raina juga sudah mempersiapkan koper yang berisi pakaian miliknya, yang akan di bawanya ke rumah keluarga Admajaya.
Kemudian giliran Fajar yang berpamitan dengan keluarga Raina yang langsung pergi keluar, disusul dengan Raina yang juga berpamitan dengan keluarganya.
Dengan mata yang nanar, Raina mencoba menahan agar tidak menjatuhkan air matanya di depan mereka semua.
“Ana pamit ya Mi.. do’ain ana dalam perjuangan ini. Semua nasihat yang selama Umi berikan untuk ana, akan ana jadikan pelajaran dalam mengarungi kehidupan yang akan ana jalani nantinya.”
“Umi percaya nduk.. kamu adalah gadis yang kuat, sikap dingin Fajar tidak akan merobohkan keberanianmu bukan?” kata Umi Fatma yang membuat Raina kehilangan pertahanan, untuk menahan air matanya. Ia terisak di pelukan sang Umi.
“Udah.. sekarang, hapus air matamu nduk, jangan izinkan dia mengalir lagi di pipimu. Karena sebuah senyuman akan merubah segalanya. Terkadang berpura-pura kuat adalah cara terbaik kita untuk menjadi sangat kuat. Kamu ngerti toh maksud Umi?”
Raina mengurai pelukannya, kemudian mengangguk paham sebagai tanda ia mengerti maksud perkataan sang Umi.
Sekarang Raina beralih kearah sang Abi dan mencium punggung tangan cinta pertamanya itu, “Bi.. makasih untuk semua kekuatan yang sudah Abi ajarkan untuk ana. Bela diri, memanah, berkuda, itu salah satu modal ana untuk selalu berani dan kuat Bi.”
“Abi tahu.. semua itu akan kamu terapkan, setiap kesabaran dan kejelian ketika kamu berlatih selama ini, itu juga yang telah Abi lihat dalam dirimu. Ingat nduk.. kamu tidak sendiri, Allah selalu bersama denganmu. Walaupun Abi, Umi dan Mas Arkan disini. Walaupun Abi dan Mas mu ndak bisa menjagamu. Dan kini Fajarlah yang akan menjaga kamu," ucap Abdullah sambil tetap tersenyum, untuk menyalurkan energi semangat pada putrinya.
“Mas dong, lama banget sih sama Abi,” kini giliran Arkan yang tampak protes pada Raina.
Melihat Arkan seperti ini, Rainapun terkekeh. Sejenak dirinya merasa tenang, dan tak memikirkan apapun hal yang buruk. Lalu dia menghampiri Arkan dan menangis di hadapannya.
“Ihh.. cengeng banget sih,” ucap Arkan sambil menarik hidung Raina yang tertutup cadar.
“Mas.. nanti ana bakalan gak bisa lagi latihan sama Mas Arkan. Ana bakalan kangen banget," kata Raina masih dengan mata nanarnya.
“Emm.. nanti Mas bakalan cari orang lain dong, yang bisa diajak latihan bareng, dunia ini kan luas Dek,” katanya sedikit sombong pada adik satu-satunya itu.
Arkan hanya tidak ingin adik tercintanya larut dalam air mata, makanya ia berkata seperti itu yang membuat Raina terkekeh.
“Udah ya.. jangan nangis, kalau ada apa-apa Adek telpon aja Mas," katanya sambil mengusap lembut kepala Raina.
“Walaupun Mas nanti di Kairo, Mas akan langsung pulang kalau ana telpon?” kata Raina dengan kekehan.
"Jika itu diperlukan.." jawab Arkan singkat, dan masih dengan hiasan senyumannya yang manis.
...*****...
Usai berpamitan dengan keluarganya, Raina kemudian berjalan menuju mobil yang akan ia kendarai bersama Fajar. Tentu saja, kali ini bukan Fajar yang mengemudi, mereka ditemani oleh Pak Maman, supir pribadi keluarga Admajaya.
Mobil ini terasa sepi dan hening disepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan anatara mereka semua. Fajar sibuk dengan musik keras di headsetnya, sedangkan Raina memilih menyebarkan pandangannya untuk melihat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.
Namun keheningan itu kembali pecah ketika Fajar meminta Pak Maman menghentikan laju mobil yang mereka tumpangi. Menyadari itu semua Raina langsung mengalihkan pandangannya kearah Fajar. Raina tampak heran, kali ini apa yang akan pria es itu lakukan.
“Saya turun disini aja Pak, nanti saya yang akan hubungi Bunda,” katanya singkat pada Pak Maman dan masih tak melihat sedikitpun kearah Raina.
“Baik Den Fajar, nanti saya sampaikan.”
Apa yang akan kak Fajar lakukan? Ini masih setengah dari perjalanan kami, lalu dia akan menggunakan apa untuk sampai di Jakarta? – batin Raina yang masih bingung memperhatikan tingkah aneh Fajar.
“Ndak apa-apa Non, den Fajar punya bengkel di daerah sini Non. Dan mungkin dia nggak mau pakai mobil, jadi mau ambil motor di sana,” kata Pak Maman menjelaskan apa yang dilakukan Fajar, dan tentu saja itu menjawab segala pertanyaan yang ada di dalam kepala Raina.
...*****...
Jakarta
Malam telah tiba, kini mereka semua telah sampai di Rumah megah kediaman keluarga Admajaya. Raina yang baru pertama kali melihat rumah semegah itu, tampak berdecak kagum sekaligus heran.
Maa syaaAllah, ini rumah atau istana? – batin Raina yang masih tak sadar bahwa dia sedang diperhatikan oleh ibu mertuanya.
“Raina.. Fajar dimana?” tanya Bunda Sinta yang tidak melihat sosok Fajar, di dalam mobil maupun di samping Raina.
“Hah.. kak Fajar tadi turun di tengah jalan Bunda.”
“Kebiasaan, dia memang seperti itu, ya udah Ayo masuk..” ajak Bunda Sinta dengan senyuman ramah pada menantunya itu.
“Bunda.. disini cuma tinggal bertiga?” tanya Raina yang membuat wanita paruh itu terkekeh.
“Iya sayang.. tapi nggak juga, kan ada Pak Maman dan istrinya juga asisten rumah tangga yang lainnya. Nah.. sekarang biar Mbok Asih yang ajak kamu ke kamar ya..”
“Mari non, saya antar,” kata wanita paruh itu ramah padanya. Dan dengan senyuman dan anggukan Raina mengiyakan dan langsung mengikuti langkah Mbok Asih.
Rumah itu sangat luas, sehingga lumayan menguras waktu dan tenaga untuk mencapai salah satu ruangan di sini.
Kemudian, sampailah Raina pada sebuah ruangan yang bernuansa monokrom yang membuat mata siapa saja nyaman melihatnya.
Di pintu kamar itu tertulis kata yang menyambutnya dan Fajar, "Ahlan wa Sahlah Raina dan Fajar"
Raina tersenyum kemudian masuk kedalam ruangan itu, banyak sekali bunga yang menghiasi kamar itu.
“Semoga Non Raina betah ya non, kalau gitu.. Mbok keluar dulu,” ucap Mbok Asih, kemudian berlalu dan di jawab senyuman oleh gadis bercadar itu.
Kamar ini memang indah, dengan berhiaskan buku-buku penuh debu dirak sudut ruangan, yang semakin meyakinkan dirinya bahwa Fajar adalah sosok yang berbeda di masa lalu.
Disana juga terdapat drum dan gitar, mungkin itu hobi yang Fajar miliki.
Usai membereskan pakaiannya dan memasukkannya kedalam lemari, Raina kemudian membersihkan dan tak lupa ia menjalankan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Bantulah hamba ya Rab.. untuk memulai segalanya di tempat ini, kupercayakan segala urusanku pada-Mu - ucap Raina lirih di sela banyaknya do’a-do’a yang ia panjatkan.
Kemudian, ia memutuskan untuk menunggu Fajar yang sedari tadi belum pulang, di balkon kamar mereka.
Ia menyebarkan pandangannya untuk mengamati semua keindahan dari atas rumah itu. Raina teringat akan satu ayat yang Allah ulang-ulang sebanyak tiga puluh satu kali di dalam Surah Ar-Rahman.
^^^فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ^^^
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
...-----♡●♡-----...
Have a nice day 🌱
Alhamdullah, Allah banyak sekali memberikan kita kenikmatan bukan? jadi.. jangan pernah lupa bersyukur ya🌷
Dan untuk mendukung cerita ini😁, jangan lupa like🖒 komen😀 dan votenya yah..
Salam manis dari 'Fajar dan Raina'
.
Jazakillah Khair💖
semangat terus ya thor...
tetap semangat untuk karya selanjutnya .... love you full....😍😍😍
semangat ya....
aku udah baca sampai sini....
lanjut terooos....💪💪💪💪💪💪
di tunggu kelanjutan nya 👍👍❤❤❤
salam hangat dari Zahra Anak Yang Tak Berdosa