NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 11

Setelah lampu ruang tamu perlahan diredupkan, aku menatap Dina sambil tersenyum nakal.

“Dina… besok aku punya ide,” kataku pelan. “Kalau Ma bikin sarapan spesial seperti biasanya, kita bikin sedikit kejutan lucu.”

Dina menatapku, mata berbinar. “Kejutan lucu? Maksudmu apa, Raka?”

Aku mencondongkan tubuh, suara menahan tawa. “Bayangkan ini… kita buat kue mini yang mirip wajah Ma, terus letakkan di piringnya sambil bilang, ‘Ini sarapan khusus versi Raja Tidur dan Ratu Hangat Hatimu!’”

Dina terkikik, menutup mulut. “Hahaha… Raka! Kau gila. Ma pasti tertawa sampai gagal makan kalau lihat itu!”

Aku menepuk bahunya sambil tersenyum lebar. “Tepat! Dan sambil Ma terkejut, kita bisa pura-pura kagum sama Ma, sesuai hukuman kemarin malam.”

Dina tertawa lagi, menatapku dengan mata berbinar. “Raka… kau memang selalu punya ide konyol. Tapi aku suka. Rumah ini memang hidup karena momen-momen seperti ini.”

Aku menggenggam tangannya, menatapnya hangat. “Iya… selain lucu, aku ingin Ma merasa dihargai. Semua usaha Ma, tawa Ma, perhatian Ma… kita buat lebih spesial dengan cara sederhana tapi konyol.”

Dina tersenyum lembut, menempelkan kepalanya di bahuku. “Raka… aku senang kita selalu bisa saling dukung, saling mencintai, dan tetap bisa bercanda. Rumah ini hidup karena kita semua.”

Aku menepuk punggungnya pelan. “Betul, Dina. Dan besok… kita akan bikin Ma terkejut dengan senyum lebar. Rumah ini penuh tawa, cinta, dan perhatian. Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

Dina menatapku lembut, tersenyum. “Selamanya, Raka… rumah ini akan tetap hangat, hidup, dan penuh cinta, selamanya.”

Aku tersenyum, mencondongkan tubuh, membisikkan: “Selamanya, Dina… selamanya. Dan besok, kita bikin Ma tertawa sampai pagi.”

Kami tertawa pelan, menikmati malam yang tenang dan hangat, aroma teh dan kue yang masih tersisa, serta cahaya lampu lembut. Rumah tetap hidup, hangat, dan penuh tawa—akhir malam yang sempurna bagi keluarga yang saling mencintai, menghargai, dan siap menambah momen lucu besok pagi.

---

Pagi itu, aroma sarapan sudah mulai tercium dari dapur. Aku dan Dina saling menatap sambil menahan tawa.

“Raka… siap ya?” bisik Dina sambil menahan senyum.

“Siap, tapi jangan sampai ketahuan Ma,” jawabku sambil mengedipkan mata.

Kami menyiapkan kue mini yang bentuknya lucu—mirip wajah Ma, lengkap dengan topi mini dari cokelat. Aku nyengir sambil menaruh satu piring di meja makan.

Dina menatapku sambil menahan tawa. “Raka… kalau Ma liat ini, dia pasti langsung ngakak. Aku nggak sabar lihat reaksinya.”

Tiba-tiba, Ma masuk ke ruang makan, matanya berbinar penuh semangat. “Pagi semua! Wah, aroma sarapan ini… hmm…”

Aku pura-pura serius, menepuk meja. “Ma, sebelum makan… ada sarapan spesial dari Raja Tidur dan Ratu Hangat Hatimu!”

Dina menahan tawa sambil menunjuk piring kue mini. “Lihat, Ma… ini versi mini dirimu, khusus dari kami!”

Ma menatap piring itu, lalu matanya melebar. “Hah… apa-apaan ini? Hahaha… Raka, Dina… kalian berdua gila!”

Aku dan Dina tertawa lepas. “Ma… ini semua untuk bikin sarapanmu lebih seru! Selamat menikmati, Yang Mulia!”

Ma menepuk tangan sambil tertawa. “Hahaha… oke, oke… kalian memang nakal. Tapi Ma suka! Rumah ini hidup karena kalian memang selalu lucu.”

Dina tersenyum, menempelkan kepalanya di bahuku. “Lihat, Raka… berhasil. Ma senang, kita senang… rumah ini tetap hangat dan penuh tawa.”

Aku menggenggam tangannya sambil tersenyum. “Iya… selamanya, Dina. Rumah ini hidup karena kita semua, dan momen-momen konyol kayak gini justru bikin kita lebih dekat.”

Ma tertawa lagi, sambil mengambil satu kue mini. “Hahaha… baiklah, Raka, Dina… aku menyerah! Tapi besok kalian harus siap untuk balas dendam Ma!”

Aku dan Dina tertawa lepas. “Siap, Ma! Tantangan diterima!”

Dan pagi itu, rumah dipenuhi tawa, aroma kue, dan kebahagiaan sederhana. Rumah ini benar-benar hidup—penuh cinta, perhatian, dan momen lucu yang membuat semua bahagia.

---

Tiba-tiba anak-anak masuk ke ruang makan, mata mereka masih mengantuk tapi berbinar-binar.

“Wah… apa ini?” seru si kecil sambil menunjuk kue mini wajah Ma.

Aku tertawa, menunjuk piring. “Ini, anak-anak… sarapan spesial dari Raja Tidur dan Ratu Hangat Hatimu!”

Dina menahan tawa. “Lihat, anak-anak… ini versi mini nenek kalian. Tapi kalian harus hati-hati, jangan sampai ketawa sampai jatuh dari kursi.”

Anak-anak menatap kue itu dengan serius… lalu meledak tertawa. “Hahaha… wajah nenek lucu banget! Kue ini mirip banget Ma!”

Ma masuk sambil tertawa keras. “Hahaha… anak-anak… kalian ikut licik juga ya? Rumah ini hidup karena kalian semua nakal dan lucu!”

Aku mengedip ke Dina. “Dina… momen kayak gini… bikin rumah terasa benar-benar hidup. Semua ikut tertawa, semua bahagia.”

Dina tersenyum, menatap anak-anak yang kini mulai memegang kue mini mereka masing-masing. “Iya… dan lihat mereka… anak-anak juga belajar bahagia dan bercanda. Rumah ini benar-benar hangat.”

Si kecil menatapku sambil serius. “Kakek… besok kita buat versi mini Raka dan Dina juga, ya!”

Aku tertawa keras. “Hahaha… siap! Kalau itu terjadi, kita bakal kalah sama anak-anak. Rumah ini makin ramai!”

Ma menepuk tangan sambil tertawa. “Hahaha… baiklah… kalau begitu, hari ini semua berhak tertawa! Rumah ini hidup karena cinta dan tawa, tidak ada yang bisa menggantikannya!”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku, tersenyum hangat. “Raka… lihat… semua bahagia. Rumah ini benar-benar sempurna.”

Aku menggenggam tangannya, tersenyum. “Iya… selamanya, Dina. Rumah ini hidup karena kita semua, dan momen lucu kayak gini akan selalu kita ingat.”

Dan pagi itu, rumah dipenuhi tawa, aroma kue, dan kebahagiaan sederhana—semua orang ikut terlibat, tertawa, dan merasakan kehangatan yang membuat rumah ini benar-benar hidup.

---

Anak-anak berlarian ke meja, membawa cokelat, selai, dan beberapa buah kecil.

“Raka… Bunda… kita mau bikin kue mini versi kalian!” seru si bungsu sambil menepuk meja penuh semangat.

Aku menahan tawa sambil menatap Dina. “Wah… anak-anak makin kreatif saja. Ini bakal kacau tapi lucu banget.”

Dina tersenyum nakal. “Raka… siap-siap jadi model kue paling konyol yang pernah ada!”

Ma menatap kami sambil tertawa. “Hahaha… baiklah… kalau begitu, Ma mau ikut juga. Ma bikin versi mini diri Ma lagi!”

Aku pura-pura serius sambil mengedip ke Dina. “Oke… jadi ini perang kue versi mini? Kita lawan Ma dan anak-anak?”

Dina tertawa, menepuk bahuku. “Iya… tapi jangan sampai kita kalah. Rumah ini tetap harus hidup penuh tawa, tapi tetap harmonis!”

Si sulung mulai menempelkan selai untuk membuat mata pada kue mini wajahku. “Ini, kakek… matanya harus besar biar lucu!”

Aku menahan tawa, mengelus dagu kecilku di kue itu. “Waduh… jangan sampai aku terlihat menakutkan ya. Hahaha…”

Si bungsu menempelkan potongan buah untuk hidung dan topi kecil dari cokelat ke kue versi Dina. “Ini, Bunda… biar seperti ratu hangat hatiku!”

Dina menahan tawa, menatap anak-anak. “Hahaha… kalian ini nakal! Tapi aku suka! Rumah ini hidup karena semua orang bisa ikut kreatif dan bercanda.”

Ma menepuk tangan sambil tertawa. “Hahaha… lihat kue versi Ma! Ini paling lucu! Dan kalian semua ikut bikin wajah sendiri. Rumah ini benar-benar ramai!”

Aku tersenyum ke Dina sambil menggenggam tangannya. “Iya… momen kayak gini bikin rumah terasa hidup. Semua ikut tertawa, semua bahagia… tidak ada yang lebih indah.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Raka… selamanya, ya? Rumah ini, keluarga ini, momen lucu kayak gini… kita jaga terus.”

Aku mencondongkan tubuh, tersenyum hangat. “Selamanya, Dina… dan besok, kita bikin kue versi anak-anak lagi. Rumah ini penuh tawa, cinta, dan perhatian karena kita semua saling terlibat.”

Anak-anak bertepuk tangan, tertawa, dan mulai saling membandingkan kue mini mereka. Ma tertawa keras sambil menunjuk satu kue yang paling lucu.

“Hahaha… Raka, Dina… anak-anak menang versi kreatif! Tapi Ma bahagia… rumah ini hidup karena semua orang ada di sini!”

Aku menatap Dina, tersenyum. “Iya… rumah ini hidup, hangat, dan penuh tawa. Semua orang ikut bahagia, dan momen sederhana kayak gini… itulah yang bikin rumah ini sempurna.”

Dina menatapku lembut, tersenyum. “Selamanya, Raka… selamanya.”

Aku menggenggam tangannya erat, tersenyum. “Selamanya, Dina… selamanya. Rumah ini, keluarga ini… dan semua momen lucu ini akan selalu jadi bagian kita.”

---

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!