NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Pembalasan dalam Keheningan

Aruna melangkah menyusuri koridor rumah sakit; bunyi sepatunya yang beradu dengan lantai terdengar penuh keyakinan. Blazer hitam dengan bahu yang tegas itu membungkus sosok Aruna yang tampak begitu siap menghadapi apa pun. Di sampingnya, Pak Baskara berjalan dengan mata yang terus bergerak, memperhatikan setiap wajah asing yang mereka lewati. Di balik saku blazernya, Aruna tahu, dua benda ini bukan sekadar barang biasa; ini adalah penentu h silsilah panjang keluarga Adiwangsa : botol berisi Sari Akar Karma dan kristal hitam Gema Rasa Sakit.

"Hendrawan sudah di dalam, Aruna," bisik Pak Baskara saat mereka mendekati ruang ICU. "Bersama Dokter Gunawan."

Aruna memejamkan mata sejenak, membayangkan ketenangan Hutan Sanubari hingga hatinya juga ikut tenang. "Biarkan mereka menikmati momennya. Sebentar lagi, pertunjukan yang sesungguhnya akan dimulai."

Aruna mengganti topengnya dalam sekejap begitu pintu di hadapannya terbuka. Wajahnya mendadak cemas. 'Paman! Bagaimana kondisi Ayah pagi ini?' suaranya terdengar begitu rapuh dan penuh kekhawatiran.

"Ah, Aruna. Baru saja Dokter Gunawan memberikan vitamin tambahan. Kondisi Ayahmu stabil, tapi pergerakannya masih sangat minim. Kita harus bersabar," ucapnya, dengan nada bicara yang sengaja diberatkan seolah ia turut memikul beban duka yang sama.

Aruna melirik ke arah kantong infus. Cairan kuning pucat itu masih mengalir. Ia mendekat ke tempat tidur ayahnya, berpura-pura mengusap kening pria tua itu.

"Dokter Gunawan," Aruna memanggil dengan nada manis namun tajam. "Boleh tolong ambilkan saya air minum di meja sana? Saya tiba-tiba merasa pusing."

Saat Dokter Gunawan bergerak menjauh dan perhatian Hendrawan teralih oleh ponselnya yang berdering, Aruna bertindak. Dengan kecepatan yang dilatih oleh insting bertahan hidup, ia mengeluarkan Sari Akar Karma dan menyuntikkannya langsung ke dalam jalur infus ayahnya. Ia juga menukar botol "vitamin" sisa Dokter Gunawan yang tergeletak di nampan dengan botol berisi air biasa yang sudah ia siapkan.

Hanya butuh beberapa detik. Aruna kembali berdiri tegak saat Dokter Gunawan menyerahkan segelas air.

"Terima kasih, Dok," ucap Aruna. Ia meminum air itu, lalu menatap Hendrawan. "Paman, aku memikirkan sesuatu semalam. Tentang perusahaan. Aku merasa tidak sanggup memegang beban ini sendirian tanpa Ayah."

Hendrawan tak mampu menahan sorot matanya yang mendadak cerah, seolah beban di pundaknya hilang setelah melihat Aruna 'termakan' sandiwaranya. "Paman sudah bilang, kan? Kamu bisa menyerahkan urusan saham dan manajemen pada Paman sementara waktu. Paman hanya ingin kamu tenang."

Aruna tersenyum tipis. Inilah saatnya. Di balik saku blazernya, jemarinya mengepal kuat pada kristal hitam Gema Rasa Sakit, membiarkan aromanya yang tak kasatmata namun kuat menyebar ke seluruh ruangan. Termasuk di antara mereka.

"Paman sungguh-sungguh?" tanya Aruna, suaranya kini terdengar lebih berani. "Paman benar-benar melakukan semua ini demi kebaikan Ayah dan aku? Bukan karena menginginkan saham itu untuk diri sendiri?"

"Tentu saja, Aruna! Bagaimana kamu bisa meragukan Paman?" Hendrawan tertawa kecil, melangkah maju untuk menyentuh bahu Aruna. "Paman sangat menyayangi Ayahmu. Tidak ada sedikit pun niat buruk di hati Paman."

Tiba-tiba, wajah Hendrawan memucat. Ia menarik tangannya kembali dengan cepat seolah baru saja merasakan panas yang membakar tepat di bawah kulitnya.

"Paman? Paman kenapa?" tanya Aruna dengan nada pura-pura panik.

Hendrawan menahan rasa sakit, tangannya menegang dadanya sendiri. Sensasi terbakar mulai masuk dari ujung saraf di bahunya menuju seluruh tubuhnya. Rasanya seperti ribuan jarum panas sedang menusuk kulitnya dari dalam. Gema Rasa Sakit sedang bekerja kristal itu bereaksi terhadap kebohongan besar yang baru saja ia ucapkan.

"Hanya... sedikit sesak napas," desis Hendrawan. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Rasa sakit itu semakin hebat setiap kali ia mencoba mempertahankan kebohongannya dalam hati.

Di atas tempat tidur, sebuah keajaiban terjadi. Jika sebelumnya Pak Adiwangsa hanya mampu menggerakkan jari dengan lemah dan berkomunikasi lewat kedipan mata, kini Sari Akar Karma bekerja seperti air yang memadamkan api. Cairan itu menetralkan racun succinylcholine yang selama ini mengunci otot-ototnya.

Dada Pak Adiwangsa naik-turun dengan lebih stabil. Matanya yang semula sayu dan penuh ketakutan, kini memancarkan kekuatan yang kembali pulih.

"Paman lihat!" Aruna menunjuk ke arah ayahnya. "Tangan Ayah... gerakannya jauh lebih kuat dari kemarin. Sepertinya 'vitamin' dari Dokter Gunawan memang luar biasa, bukan?"

Hendrawan kehilangan suaranya. Setiap kali ia mencoba merangkai dusta, ingin berkata betapa senangnya ia melihat sang kakak siuman. Rasa panas di sarafnya meledak hebat, seolah darahnya baru saja berganti menjadi cairan api yang membakar pembuluh nadinya.

Aruna sengaja menekankan kata "vitamin" sambil melirik tajam ke arah Dokter Gunawan yang mulai gemetar.

Tiba-tiba, suara serak yang amat dirindukan Aruna terdengar. Bukan sekadar bisikan, melainkan sebuah kata yang jelas meski berat.

"Ar... u... na..."

Pak Adiwangsa berhasil mengeluarkan suara. Ia bahkan mampu memegang sprei ayahnya dengan tenaga yang nyata. Penawar dari Hutan Sanubari tidak hanya memulihkan sarafnya, tapi juga memberikan kekuatan hidup yang membuat wajah Dokter Gunawan pucat. Pasien yang seharusnya perlahan mati itu justru menunjukkan tanda-tanda akan segera sembuh sepenuhnya.

Hendrawan kehilangan kata-kata. Begitu ia mencoba membangun narasi palsu, rasa panas di sarafnya meledak hebat. Tiba-tiba, pertahanannya runtuh."Diam! Diam kamu, Adiwangsa!" teriak Hendrawan tiba-tiba.

Hendrawan mendekat ke arah ranjang. Dengan mata yang melotot, ia mencoba mencabut paksa selang oksigen dan menekan dada kakaknya sendiri. Dokter Gunawan hanya berdiri diam, terlalu pengecut untuk menghentikan kegilaan itu.

"Jika kamu tidak mati sekarang, maka aku yang akan hancur!" Hendrawan berteriak keras. Tangannya bergetar hebat saat mencoba mencekik leher kakaknya yang baru saja mulai pulih.

Aruna tidak bergerak. Ia tidak perlu memanggil satpam, karena ia tahu Gema Rasa Sakit tidak akan membiarkan pengkhianat itu menyentuh ayahnya.

"Paman, lepaskan," ucap Aruna dingin. "Semakin Paman menyakiti Ayah, semakin besar juga beban yang akan menghancurkanmu ."

Tepat saat jari Hendrawan hampir menekan tenggorokan Pak Adiwangsa, kristal hitam di saku Aruna bergetar hebat. Aroma mistis memenuhi ruangan.

Tiba-tiba, Hendrawan diam tak bergerak. Matanya melotot, namun bagian kiri wajahnya mendadak turun, tangannya lemas seolah otot-ototnya tak berfungsi. Tangan kanannya yang tadi mencekik, kini kaku, sementara tangan kirinya gemetar tak terkendali.

Gema Rasa Sakit telah mencapai puncaknya. Kebohongan, kebencian, dan niat membunuh yang meluap dari hati Hendrawan memicu reaksi balik yang mengerikan pada sarafnya sendiri.

"Ugh... Ar... gh..." Hendrawan mencoba bicara, namun hanya suara kesakitan tidak jelas yang keluar dari mulutnya yang kini miring.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai porselen yang dingin tepat di bawah tempat tidur kakaknya. Orang yang tadinya begitu sombong dan licik, kini tergeletak dengan saraf di bawah mata kiri Hendrawan berkedut menatap langit-langit dengan tatapan kosong.

Aruna melangkah mendekat, berdiri tepat di atas tubuh pamannya yang tak berdaya. Ia menunduk, menatap wajah Hendrawan yang kini lumpuh total persis seperti kondisi ayahnya kemarin.

"Sakit, Paman?" bisik Aruna, suaranya rendah dan tajam. "Itu adalah rasa sakit yang Paman tanam sendiri. Dokter Gunawan bilang saraf Ayah bisa lumpuh permanen karena 'kesalahan penanganan', bukan? Sepertinya doa Paman terkabul, tapi untuk diri Paman sendiri."

Dokter Gunawan gemetar hebat, ia mencoba berjalan mundur menuju pintu, namun Pak Baskara sudah berdiri di sana menahan Dokter Gunawan kabur.

"Dokter, tolong periksa Paman saya," perintah Aruna dengan senyum tipis. "Sepertinya dia terkena serangan stroke mendadak karena... terlalu bahagia melihat Ayah siuman." sindir Aruna.

Pak Adiwangsa, yang kini sudah sepenuhnya sadar, menggenggam tangan Aruna dengan sisa tenaganya. Ia menatap putrinya dengan rasa bangga sekaligus ngeri melihat kekuatan baru yang dimiliki Aruna.

Aruna menoleh pada ayahnya dan tersenyum tulus. Ia menggenggam tangan ayahnya erat, menyalurkan kehangatan yang tersisa dari Sari Akar Karma.

"Tenang, Ayah. Keadilan sudah membalaskan semuanya. Tidak akan ada lagi ular yang bisa menyentuh kita," bisik Aruna lembut.

Di dalam hatinya, Aruna menambahkan: Terima kasih, Ibu. Hutanmu benar-benar menjaga kita.

Di lantai, Hendrawan hanya bisa mengeluarkan air mata keputusasaan. Ia sadar, sisa hidupnya akan dihabiskan dalam siksaan tubuhnya sendiri. Sebuah Titik Nol yang sesungguhnya.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!