Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Serangga Dibalik Bayangan
Garis cakrawala Kerajaan Beast akhirnya terlihat. Dari puncak bukit tempat mereka berkemah, dataran luas yang liar membentang sebelum mencapai gerbang luar kerajaan ras Beast.
Arion duduk terdiam di dalam tendanya yang remang-remang.
Hanya ada suara angin perbatasan yang menderu di luar.
Tiba-tiba, langkah berat terdengar mendekat. Hanz masuk dengan napas yang sedikit tertahan, membawa sebuah kotak kayu besar yang diikat dengan rantai besi.
Wajah sang penempa itu tampak lelah, namun matanya memancarkan kebanggaan yang luar biasa.
"Tuan Muda," suara Hanz parau.
"Zirah itu... sudah selesai. Saya mengerjakannya dengan setiap tetes keringat sejak kita meninggalkan ibu kota."
Hanz meletakkan kotak itu dan membukanya. Di dalamnya, terbaring sebuah zirah hitam dengan aksen perak gelap yang tidak memantulkan cahaya.
Zirah itu ringan namun lebih keras dari baja mana pun, dirancang khusus untuk mobilitas tinggi Arion.
Yang paling mencolok adalah jubah panjang berwarna hitam pekat dengan pinggiran bulu serigala perak-ciri khas seorang pemimpin tertinggi yang tak terbantahkan. Beberapa saat kemudian, Arion melangkah keluar dari tenda.
Suasana perkemahan yang tadinya bising mendadak hening total.
Puluhan pasang mata menoleh ke satu titik. Mereka melihat Arion berdiri dengan zirah baru yang melekat sempurna di tubuh tegapnya.
Jubah panjangnya berkibar mengikuti angin bukit, memberikan kesan megah sekaligus mengintimidasi.
Arion menatap pasukannya dari ketinggian bukit.
"Kalian telah melewati tempaan ku. Sekarang, di depan sana, kalian hanya perlu mengikuti perintahku, entah kalian akan menjadi badai penyelamat atau badai kehancuran. Semua menjadi keputusanku."
Pidato singkat itu membakar semangat yang lebih panas dari api unggun mana pun.
Arion berbalik dan kembali ke dalam tendanya, meninggalkan pasukannya yang kini merasa telah memiliki "Raja" mereka kembali.
Di dalam tenda yang sunyi, suasana mendadak mendingin.
Nyx dan Sebas berdiri kaku, menunggu instruksi.
Arion duduk di kursi kayu besarnya, namun pandangannya tidak tertuju pada peta di meja.
Matanya menatap tajam ke arah bayangan di sudut tenda, tepat di balik tumpukan peti logistik.
"Sepertinya ada serangga di antara kita,"
ucap Arion dingin.
Nyx dan Sebas tersentak.
Sebagai orang yang bertanggung jawab atas keamanan, fakta bahwa ada penyusup yang bisa masuk sejauh ini tanpa terdeteksi adalah sebuah tamparan keras bagi harga diri mereka.
"Tuan Muda, saya-"
Sebas hendak bersujud memohon maaf, namun Arion mengangkat tangannya.
"Jangan bunuh dia. Dia bukan musuh yang kalian bayangkan," perintah Arion.
Mendengar itu, rasa malu Nyx dan Sebas berubah menjadi tekanan yang menyesakkan.
Nyx melepaskan aura bayangannya yang pekat, sementara Sebas melepaskan tekanan mana yang begitu berat hingga tiang tenda berderit dan pepohonan di luar hutan kecil itu bergoyang hebat.
"Keluar!" gertak Nyx.
Dari balik bayangan yang seolah-olah menyatu dengan tanah, seorang pemuda terjatuh sambil terbatuk-batuk.
Tubuhnya kurus, mengenakan pakaian compang- camping khas rakyat jelata Ras Beast. la gemetar hebat, air mata ketakutan mengalir di pipinya saat ia berusaha menghirup oksigen di bawah tekanan mana Sebas yang menghimpit pembunuh.
"Siapa namamu?" tanya Arion, suaranya kini tidak lagi menusuk, namun tetap penuh wibawa.
"K-Kael... mereka bilang aku monster karena aku sering menghilang..." bisik pemuda itu dengan suara bergetar.
"Aku hanya lapar... aku hanya mengikuti bau makanan dari perkemahan ini..." Nyx dan Sebas terpaku.
Mereka merasa malu bukan hanya karena kecolongan, tapi karena mereka gagal mendeteksi seseorang yang bahkan tidak sadar telah menggunakan kekuatannya.
Arion menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
la teringat pada dirinya sendiri; seorang pangeran yang dibuang dan dianggap tidak berguna karena kekuatan yang tidak dipahami orang lain.
"Kael," panggil Arion.
"Kau tidak bisa mengontrol kekuatanmu, bukan? Kau terabaikan karena semua orang takut pada apa yang tidak mereka pahami."
Pemuda itu mengangguk pelan.
"Mulai hari ini, kau bukan lagi serangga yang bersembunyi di bayangan," Arion berdiri tegak, jubah barunya berkibar megah.
"Kau akan menjadi bayangan yang sesungguhnya. Nyx, bawa dia. Ajari dia cara menggigit sebelum bayangannya sendiri menelannya."
Nyx membungkuk dalam, matanya menatap Kael dengan binar ketertarikan yang gelap.
la segera menarik pemuda itu menjauh dari hadapan Arion.
Saat itu, Arion belum menyadari satu hal.
la hanya merasa sedang memungut seorang pemuda malang yang berbakat namun terbuang-sebuah tindakan yang didorong oleh sisa-sisa empati terhadap nasib yang mirip dengannya.
la belum tahu bahwa sosok yang ia rekrut secara impulsif di atas bukit gersang ini, beberapa tahun ke depan, akan tumbuh menjadi predator paling berbahaya yang pernah ada. Seorang pembunuh tanpa wajah yang namanya akan dibisikkan dengan penuh ketakutan oleh raja-raja di seluruh benua.
Namun, itu adalah cerita untuk masa depan yang jauh.
Untuk saat ini, Kael hanyalah seorang pemuda yang baru saja menemukan alasannya untuk tetap hidup, tepat di bawah kaki sang pangeran yang telah menjadi monster.
Arion kembali duduk di takhtanya, menatap peta perbatasan yang terbentang di meja.
"Sebas, siapkan pasukan. Besok pagi, kita tidak akan mengetuk gerbang Kerajaan Beast. Kita akan mendobraknya."
Bersambung...