NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Sebelum Saga

Bian mengeluarkan bulatan miliknya satu per satu dengan nafas menderu tanpa ragu.

"Kamu yakin, Yang?" tanya Theo memastikan.

"Aku ingin kamu yang pertama sentuh aku," ungkap Bian dengan tegas tanpa malu-malu seperti sebelumnya.

"Sentuh... Maksud kamu...?

"ML, Yang. ML sama aku sekarang juga."

Theo menatap kedua puncak kecoklatan di hadapannya sambil menelan saliva. Reaksi pun ia rasakan di area sensitifnya setelah apa yang Bian katakan. Lampu hijau sudah dikantonginya kini.

"Tapi Daddy kamu..." Logikanya masih menegur. Ia tak mau ada masalah setelah ini yang berpotensi membuat Theo kehilangan sang pacar.

"Jangan sampai Daddy tahu. Atau siapa pun. Ini rahasia kita berdua. Anak-anak juga jangan sampai tahu," ucap Bian memperingatkan.

Entah apa yang membuat Bian berubah pikiran. Tapi semua itu tidak lagi penting baginya. Theo pun melepas seluruh kancing Bian dan juga pengait yang ada di punggung sang pacar. Kini bagian atas tubuh Bian polos seluruhnya. Disentuhnya setiap inci kulit putih dan halus milik sang pacar dengan terkagum-kagum.

Tangannya puas menyentuh seluruh permukaan Bian. Ia pun menatap kedua mata Bian dengan tatapan tak tahan. "Aku sayang sama kamu, Yang."

"Aku juga..." lirih Bian meraup pipi Theo dan kemudian kembali mencium bibir sang pacar.

Bian sudah tak mau lagi menunda. Ia tak peduli lagi dengan kata-kata sang ayah. Yang ia inginkan hanyalah, Theo harus menjadi pria pertama yang menyentuhnya, sebelum Saga.

Ya, sebelum Saga merenggutnya.

Flash back ke malam hari

Setelah Theo pergi, Bian melihat rumah masih sepi. Kedua orang tuanya masih bersama dengan calon masing-masing. Entah kapan mereka akan pulang.

Bian berada di kamarnya. Ia membersihkan tubuh dan menggantinya dengan piyama. Saat sudah berpakaian ponselnya berbunyi. Sebuah notif masuk.

[Theo]: Yang, maaf aku gak bisa vicall. Mama minta anter ke kantornya. Ada ketinggalan katanya. Kamu tidur duluan aja ya, jangan nungguin takutnya lama. Nanti aku chat kalau udah sampai rumah. Love you.

Bibir Bian sedikit maju. Ia mende sah kecewa. Padahal ia sudah menunggu untuk mengobrol banyak hal dengan Theo.

Kemudian Bian membaringkan tubuhnya dan mengetik balasan untuk sang pacar.

[Bian]: Okay deh kalau gitu. Aku tidur ya. Sampai ketemu besok. Hati-hati ya. Love you too.

Ponsel pun Bian simpan di nakas dan ia mencoba untuk terlelap. Namun tiba-tiba saat matanya tertutup, ia mengingat kejadian di hotel itu. Hatinya kembali terasa panas.

Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi di sebelah kamar. Di wastafel ia mengambil sabun dan menggosok bibirnya dengan kasar.

'Saga gila!' pekiknya dalam hati dengan kesal.

Beberapa saat Bian mencuci bibirnya seakan bibir Saga yang sudah bermain di bibirnya adalah benda yang sangat kotor.

Setelah itu ia kembali ke kamar dan mendapatkan notif pesan dari sang ayah. Bian membukanya.

[Daddy]: Nak, Daddy pulang agak malam. Kamu tidur lebih dulu aja ya. Jangan lupa kunci pintu.

"Daddy mau ngedate sampai jam berapa sih emangnya," gumam Bian.

Kemudian ia balas pesan dari sang ayah. Tiba-tiba pesan dari sang ibu pun masuk, Bian membukanya.

[Mommy]: Sayang, maaf, mommy kayaknya gak akan pulang malam ini. Kamu hati-hati di rumah ya. Daddy juga katanya pulang telat, ya? Biar kamu gak sendiri, Mommy udah kabarin Saga buat nemenin kamu. Dia bakal nemenin sampai Daddy dateng. Akur ya sama calon saudara.

Sontak Bian panik bukan main. Ia segera menelepon sang ibu namun nomornya tidak aktif. Diana mematikan ponselnya tetap setelah mengirim pesan pada Bian.

"Mommy! Kenapa mati nomornya?!" gerutu Bian.

Tiba-tiba terdengar pintu gerbang dibuka, lalu diikuti pintu utama yang terbuka. Bian segera mengecek siapa yang datang. Saat membuka pintu, ia melihat Saga berada di sana, tepat di depan kamarnya. Saga langsung tahu itu kamar Bian karena ada nama Bian di depan kamar yang diukir di sebuah hiasan yang tertempel di pintu.

"Lo ngapain ke sini?!" Bian kontan berteriak.

Saga tersenyum senang. Ia membawa Bian memasuki kamar dan menyanderanya di atas kasur.

Bian tidak berkutik. Tenaga Saga sungguh besar. Ia juga sangat kasar. Tak ada kesempatan yang Bian miliki untuk melawannya.

"Cowok brgsek!!!" Bian kesal bukan main.

"Kamu gak bisa nyalahin Kakak kalau Kakak dateng ke sini, Bi. Mommy kamu yang nyuruh, loh. Kakak harus nemenin kamu sampai daddy kamu selesai ngedate sama ibunya kakak. Bahkan Mommy ngasih kode akses masuk rumah."

Kedua tangan Bian kembali disandera di atas kepalanya oleh Saga. Tubuhnya dikunci oleh tubuh tinggi dan kekar milik sang calon kakak sambung.

"Berani macem-macem, gue bakal teriak! Tetangga pasti denger suara gue dan lo bakal abis!"

Saga malah tertawa meremehkan. "Kamu gak akan sempet teriak, karena kamu akan men de sa h keenakan."

Kedua mata Bian membulat. Ia panik sekali. "Lo gila! Tolong! Lepasin!"

"Kamu sendiri yang bikin Kakak gemes, Bi. Harusnya kamu gak kayak tadi, disuruh pulang malah pergi ketemu sama cowok kamu. Pas dijemput, malah nolak. Tadinya Kakak mau lebih pelan-pelan, tapi karena kamunya gak nurut sama Kakak, Kakak akan hukum kamu."

"Lo siapa berani ngehukum gue?! Gue juga gak salah sampai harus dihukum!" Bian terus meronta.

"Kamu adalah adik sambung Kakak sebentar lagi. Jadi kamu harus nurut sama Kakak. Atau kamu mau hukuman yang lain?"

"Hukuman yang lain apa maksud lo?" Bian bisa membaca ke arah mana ancaman ini.

"Kamu mau dihukum Kakak, atau dihukum pihak sekolah? Tentunya yang dihukum gak cuman kamu, tapi pacar kamu juga."

"Jangan macem-macem ya! Jangan pernah sentuh Theo!"

"Sayang 'kan kamu sama cowok kamu? Makanya, jangan ngehindar atau gak nurut lagi. Atau cowok kamu yang bakal kena getahnya."

Bian mulai terisak karena tak tahu harus berbuat apa. Ia sudah berada di ujung jalan buntu.

"Janji kamu bakal nurut sama Kakak? Kalau kamu janji Kakak juga janji gak akan ganggu pacar kamu. Semua ini akan jadi rahasia kita berdua."

Bian mengangguk cepat. Ia tak mau Theo ataupun dirinya dihukum oleh sekolah. Daddynya akan dipanggil ke sekolah dan kecewa padanya, tidak, ia tidak mau.

"Good girl," puji Saga. "Ingat, kamu udah janji untuk nurut. Kakak gak main-main, Bi. Jadi kamu jangan sampai bikin Kakak kecewa sama kamu. Paham?"

Bian mengangguk lagi.

"Bilang dong pakai bibir kamu. Jangan cuma ngangguk."

"Iya. Aku janji..." isak Bian.

Tangan Saga yang menyandera Bian pun terlepas. Ia bangkit sambil memandang ke sekeliling. "Kamar kamu bagus," pujinya. "Tapi kamar kamu di mansion kita nanti akan jauh lebih bagus. Akan Kakak pastikan itu."

Bian tak peduli. Ia hanya bisa menangis meredam kekesalannya.

Saga pun membaringkan tubuhnya di sebelah Bian dan menjadikan kedua tangannya bantal untuk kepalanya. "Bi, sekarang Kakak pengen kita lanjutin yang tadi."

"Apa?!"

"Kamu gak bisa nolak. Kamu udah janji," ujar Saga mengingatkan dengan wajah yang serius.

"Ya udah..." Bian menyeka air matanya. "Aku harus ngapain?"

"Kakak seneng kalau kamu nurut gini." Diusapnya pipi Bian. "Kakak ingin hisap punya kamu."

Bian mematung dan merasakan panas menjalar di seluruh tubuhnya. Ia amat sangat marah.

"Ayo tunggu apa lagi? Keluarin pydra kamu. Sus uin kakak sekarang juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!