Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perselingkuhan.
"Masuk," sahut Rajendra sembari menaruh kembali kalung itu ke dalam tempatnya.
Saat pintu terbuka sosok wanita paruh baya masuk ke dalam ruangannya, Arimbi datang menemui putranya untuk meminta penjelasan. Ia sudah tak tahan dengan prilaku Raisa yang terus-menerus menuduh putranya itu selingkuh.
Ia sendiri bahkan sudah berusaha untuk meredamnya, agar gosip itu tak muncul kepermukaan. Namun sepertinya, putranya itu makin kebablasan.
Itulah alasannya datang langsung ke kantor sang putra, tak peduli anak lelakinya itu sibuk. Ia akan tenang, setelah memberikan peringatan pada anak kesayangannya tersebut.
Beliau duduk disofa yang tersedia, diikuti oleh Rajendra yang beranjak ketika tahu siapa yang datang. Mereka duduk dengan berhadapan, tanpa gangguan hanya ada mereka berdua diruangan tersebut.
"Ada apa mamah kemari? Tak biasanya datang ke kantor aku," tanya Rajendra sembari menautkan kedua jemarinya dan menatap ibunya lekat.
"Mamah dengar, Erika sudah kembali. Apa kau sudah tahu soal itu?" tanya Bu Arimbi.
Rajendra menelan ludahnya, ia duduk dengan tegak dan melihat ibunya yang menatapnya penuh selidik. Ia pun mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Berarti kamu sudah sering bertemu dengannya, benar?" tanya bu Arimbi lagi.
"Itu, tidak seperti yang mamah pikirkan. Kami hanya—" ucapan Rajendra terpotong kala bu Arimbi berdecih memalingkan mukanya, seakan enggan mendengar perkara Erika.
Rajendra diam, ia tahu ibunya tak suka membicarakan wanita itu lagi. Namun ia hanya ingin bahagia bersama orang yang dicintainya, apa itu salah?
"Mamah peringatkan kamu, jangan pernah ada perceraian dan perselingkuhan dalam pernikahan kamu. Kau tidak boleh seperti ayahmu, bukankah kau sudah berjanji, Rendra," ujar bu Arimbi mengingatkan anaknya.
"Kamu sendiri yang sudah memutuskan menikahi Elea, jadi lupakan soal Erika. Ia wanita penyakitan," lanjut ibunya yang kemudian menghela nafas berat dan kembali menatap putranya.
"Tapi aku mencintainya, mah," Bela Rajendra dengan kukuh memberitahukan.
"Cinta, kalau dia mencintai kamu gak akan dia jodohkan kamu dengan Elea. Gadis yatim piatu yang miskin. Jadi lupakan semua tentang Erika!" bungkam bu Arimbi menaikkan nada suaranya sekian oktaf.
Dada ibu Rajendra itu kembang kempis dan matanya yang tajam menatap putranya, ia tak akan diam saja jika putranya salah jalan lagi. Ia harus mengaturnya mulai kini, agar semuanya berjalan dengan mulus sesuai keinginannya.
"Kamu harus fokus pada Elea dan lahirkan seorang penerus Suma group. Ingat perkataan mamah!" tekan bu Arimbi, kini dengan nada yang melunak.
Rajendra diam, ia tak tahu harus berkata apalagi agar sang ibu mengerti perasaannya. Ia menundukkan kepalanya, kembali manutkan kedua jemarinya. Tentunya dengan hati yang dipenuhi rasa kesal mendalam.
Sedangkan bu Arimbi mencoba mengatur nafasnya, meredakan marah yang mulai bergejolak dihatinya. Sesekali ia melirik putranya, berharap ia mengerti dengan apa yang diucapkannya.
Sekian menit hening, akhirnya bu Arimbi berdiri untuk pergi. Namun sebelum pergi, ia kembali melihat pada sang putra yang masih dengan posisi sama.
"Oh iya, pelakor dan anaknya sudah kembali. Kamu harus hati-hati, jaga citramu baik-baik. Jangan ada gosip yang meruntuhkan kamu dari posisi presdir!" kata bu Arimbi, memberitahukannya, mengekangnya dan mengingatkannya akan posisi anaknya sebagai pewaris Suma Group yang harus bersih dari keburukan apapun.
Beliau pergi, ia sudah mengatakan apa yang harus ia katakan pada putranya termasuk istri siri dari ayahnya yang sudah kembali.
Rajendra menyugar rambutnya kebelakang, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Ia selalu mengingat perkataan ibunya, termasuk menjaga citranya. Tak peduli ia harus berbohong pada Elea, yang terpenting ia masih bisa berhubungan dengan Erika.
Namun sekarang masalahnya adalah ibu tirinya, sudah pasti kedatangannya adalah ancaman baginya. Karena adik tirinya adalah laki-laki yang lebih muda darinya, serta ibunya sudah sah menjadi istri kedua yang mana bisa melakukan apapun untuk menyingkirkannya.
Drrrrttt
Drrrrrtttt
Suara ponsel berdering membuyarkan lamunan Rajendra, ia beranjak dan mengambil perangkat tersebut yang berada diatas meja kerjanya. Nama seseorang yang dicintainya tertera diatas layar, senyum mengembang pun terukir dibibir manisnya.
Segera ia geser tombol hijau diperangkat tersebut, lalu menempelkannya ditelinga kiri.
"Sayang, ada apa? Jangan bilang kamu kangen," sapa Rajendra dengan pedenya berkata manis.
"Jawab aku dengan jujur. Kamu sudah tidur dengan Elea, iya kan?" pertanyaan itu menyahutnya membuat Rajendra makin pusing.
"Maksud kamu apa, sayang?" tanya Rajendra butuh penjelasan, bagaimana tidak, kekasihnya tiba-tiba menanyakan hal seperti itu jelas-jelas ia sudah menuruti semua keinginannya.
"Elea bilang dia hamil," ungkap Erika disebrang sana.
Mata Rajendra membulat, rasanya ingin meloncat keluar mendengar pernyataan kekasihnya, Erika. Kabar yang mengejutkannya ini sangat tidak benar, ia yakin itu.
"Apa?! Elea hamil, kata siapa? Aku sudah lama gak sentuh dia, mana mungkin dia hamil," tanya Rajendra, ia menjelaskan kabar sebenarnya tentang rumah tangganya dengan Elea.
"Kamu gak usah bohong lagi, Jen. Katanya kamu sudah menuruti kemauan aku, faktanya apa? Elea malah hamil, pantas saja kamu belum menceraikannya," suara isakan terdengar dari sebrang sana, membuat Rajendra makin pening.
Rajendra berjalan lalu duduk dikursi kebesarannya, ia pijat pelipisnya yang serasa berputar oleh problema dua wanita didekatnya.
"Erika, aku—"
Tuuuut
Ia hendak menjelaskan lagi, namun suara sambungan yang terputus membuatnya menggila. Ia melihat ponselnya yang ternyata mereka sudah tak lagi terhubung panggilan bicara.
Rajendra semakin bingung, pikirannya melayang pada pernyataan Erika. "Elea hamil," gumamnya.
Ia rasa itu tak mungkin, ia yakin ada yang salah. Namun mengingat sikap Elea semalam dan pagi tadi membuatnya dipenuhi banyak pertanyaan. Tetapi ia tetap membantah pernyataan itu karena ia tahu betul seperti apa Eleanor.
"Gak mungkin Elea hamil," benak Rajendra.
**
Ditempat lain namun masih di kota yang sama, Elea mendatangi kantor pengacara terkenal. Ia ingin berkonsultasi masalah perceraiannya dengan Rajendra, dengan sejuta keberanian ia mengungkapkan permasalahan rumah tangganya.
Perselingkuhan adalah masalah yang lazim dimasa kini, banyak pasangan yang akhirnya memutuskan berpisah paska tahu pasangannya mendua. Itulah yang Elea bicarakan, agar ia tahu apa yang harus dipersiapkan.
"Ibu pengangguran, bagaimana bisa mendapatkan hak asuh kedua anak ibu. Ibu harus punya penghasilan tetap," tutur pengacara berkelamin laki-laki itu.
"Penghasilan tetap, bukan kah anak dinafkahi oleh ayahnya. Aku baca dari internet, yang terpenting adalah kedekatan ibu dengan anaknya secara emosional. Ya ... Seperti itu," ujar Elea dengan yakin.
"Memang finansial itu tidak terlalu penting dalam syarat hak asuh anak untuk istri, namun anda harus tahu bahwa setelah bercerai belum tentu ayahnya memberikan nafkah. Itu tidak bisa menjamin ibu mendapatkan hak asuh, kecuali ...." jelas pengacara tersebut menghela nafas berat.
"Kecuali apa?" tanya Elea seakan merasa ada harapan lain untuk menjadi wali anaknya paska bercerai dari Rajendra.
"Ibu punya penghasilan tetap," jawab pengacara tersebut membuat Elea tak percaya, wajah yang tadinya penuh senyuman kini luntur oleh perkataan pengacara tersebut.
Ia mulai memikirkan sesuatu yang mana itu adalah yang terbaik untuknya dan putri kembarnya.
Semua yang dijelaskan pengacara memang jauh dari yang ia baca diinternet, akan tetapi ucapannya itu ada benarnya juga, orang kaya seperti Rajendra pasti tidak akan mengingat kedua putri mereka jika mereka berpisah.
Apalagi jika Rajendra punya anak dari Erika, pria itu pasti melupakan kewajiban menafkahi anak dari wanita yang sudah jadi mantannya.
Elea menganggukan kepalanya, walau tak sesuai setidaknya ada benarnya juga dari apa yang dikatakan pengacara berbadan gemuk itu.
"Baiklah, aku akan mencari pekerjaan dulu baru setelah itu aku menggugatnya," ucap Elea akhirnya, ia pun berpamitan dengan pengacara tersebut.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, ia melangkah keluar meninggalkan pengacara yang ia percayai bisa membantunya. Namun Elea salah, tidak semua orang bisa dipercaya didunia ini.
Pengacara itu merogoh ponselnya dari saku jasnya, ia mencari kontak dan menghubungi seseorang yang sudah memberitahukan kedatangan Elea.
Siapa lagi kalau bukan Rajendra.
"Pak, anda benar nyonya datang sesuai dengan yang anda perkirakan," ucap pengacara tersebut memberitahukan.
"Alasan apa ia menggugatku?" tanya Rajendra disebrang sana.
"Perselingkuhan," jawab pengacara tersebut dengan jelas.
"Apa?!"
Rajendra yang mendapatkan penjelasan pengacara terkenal itu terkejut, ia sampai berdiri dan bertanya lagi untuk mengulang dan bahwa apa yang ia dengar adalah benar. Namun jawaban dari pengacara tersebut memang benar adanya.
"Apa Elea sudah tahu tentang hubunganku dengan Erika?" tanya Rajendra dalam hatinya.
"Apa karena itu juga ia ingin bercerai?" benak Rajendra mulai mencerna sikap dari Elea yang mulai aneh.