"Saat kesetiaan hanyalah topeng dan kasih sayang adalah alat untuk merampas, Karin memilih untuk tidak menjadi korban."
Karin mengira hidupnya sempurna dengan suami setia bernama Dirga, sahabat sejati seperti Laura, dan kasih sayang Mama Mona. Namun, dunianya runtuh saat ia menemukan Laura hamil anak Dirga. Kehancuran Karin memuncak ketika Mama Mona, ibu yang sangat ia cintai, justru memihak Laura dan memaksanya untuk dimadu.
Di balik pengkhianatan itu, terbongkar rahasia besar: Karin bukanlah anak kandung Mona. Sebaliknya, Laura adalah putri kandung Mona yang selama ini dirahasiakan. Mona sengaja memanfaatkan kekayaan keluarga Karin untuk masa depan Laura.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Setelah selesai sarapan, Karin dan Mona akhirnya bersiap pulang ke rumah Karin. Namun, sekali lagi Karin dibuat penasaran oleh sikap mamahnya terhadap sahabatnya itu. Dari sorot mata Karin, terlihat jelas bahwa Mona jauh lebih peduli pada Laura dibandingkan pada dirinya sendiri.
“Laura, sayang… apa kabar?” ucap Mona sambil memeluk Laura erat. Wajahnya tampak berseri, jelas menunjukkan betapa bahagianya ia melepas rindu.
“Mamah Mona… kabarku baik, Mah. Ih, Mamah datang ke sini kok nggak bilang dulu sih ke aku,” ucap Laura dengan wajah berseri, penuh rasa bahagia.
“Mamah memang sengaja, sayang, nggak ngabarin kamu, biar bisa kasih kamu kejutan. Nih, lihat, Mamah bawain kue kesukaan kamu.”
“Wah, makasih, Mah!” seru Laura spontan. Tangannya langsung meraih kotak kue itu, matanya berbinar cerah. Senyumnya merekah lebar, pipinya sedikit terangkat, seolah kebahagiaan kecil itu mampu mengusir lelah dan membuat dadanya terasa hangat.
Karin memandangi punggung mamahnya yang sibuk tertawa bersama Laura. Jemarinya saling bertaut di pangkuan, kukunya menekan kulit sendiri tanpa sadar. Sejak tadi tak ada satu pun pertanyaan tentangnya, tentang semalam ia menginap, tentang lelah yang masih menggantung di wajahnya.
“Ya sudah, sekarang ayo kita masuk. Kamu cicipi kue buatan Mamah, ya,” seru Mona kepada Laura.
Bahkan keberadaan Karin pun seakan tak dipedulikan oleh Mona dan Laura, Mona seperti sengaja membuat Karin merasa cemburu dengan sikapnya, tapi justru itu lah yang membuat Karin merasa curiga, sebenarnya siapa anak kandung Mona, apakah Karin atau Laura.
Karin mengatupkan bibirnya rapat. Tatapannya mengeras, rahangnya menegang seolah menahan gejolak di dada. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Ada tekad yang perlahan tumbuh, diam-diam namun pasti ia tak akan tinggal diam sebelum semua kejanggalan tentang Mamah Mona terjawab. "Aku harus cari tahu semua ini".
“Karin… kamu ngapain masih bengong aja di situ? Cepat masuk dan ambil piring buat Laura, biar dia cicipi kue buatan Mama,” sentak Mona kepada Karin.
“Loh, kenapa harus aku? Emangnya Laura nggak bisa ambil sendiri? Ingat ya, Mah, Laura itu cuma numpang di rumah aku. Jadi aku harap Laura bisa tahu diri,” seru Karin kepada Mona, tak terima terus disuruh-suruh.
Laura terdiam. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali dengan tatapan yang berubah ada rasa tersinggung yang jelas, disusul amarah yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Laura menatap Karin dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya terbuka, suaranya terdengar pelan namun penuh luka. Bahunya sedikit merosot, wajahnya menampilkan raut kecewa seolah kata-kata Karin barusan benar-benar menggores perasaannya.
“Rin, kamu kok jahat banget sih bilang kayak gitu ke aku?”
“Karin… Mamah minta kamu cepat minta maaf sama Laura! Mamah nggak suka dengan sikap kamu yang seperti ini,” Suara Mona meninggi, memecah suasana. Alisnya berkerut dalam, napasnya terdengar berat saat ia melangkah mendekati Karin.
“Mah… cukup ya Mamah bersikap seperti ini ke aku. Lagipula, kenapa aku harus minta maaf? Apa yang aku bilang itu memang benar,” jawab Karin, yang sudah tak lagi sanggup menahan sikap mamahnya.
“Aku capek dan mau istirahat. Kalau Laura mau makan kuenya, ambil piring sendiri .”
Setelah itu, Karin pergi ke kamarnya. Ia merasa muak selama ini ia berusaha berbuat baik, namun selalu dimanfaatkan, terlebih setelah melihat sikap Mona yang kini begitu berubah.
“Dasar anak Sinta sialan. Anak dan ibunya sama saja, sama-sama ngeselin,” ucap Mona dengan emosi.
Langkah Karin terhenti di depan pintu kamar. Dari balik ruang tengah, suara Mona terdengar samar terputus-putus, seolah sengaja direndahkan. Satu nama meluncur jelas di telinga Karin, membuat dadanya menegang seketika. Ia memejamkan mata, menahan napas, lalu berpura-pura melangkah lagi, sementara rasa penasaran tentang Sinta mulai merayap pelan di benaknya.
“Siapa sebenarnya Sinta, dan apa hubungannya denganku?” gumam Karin, diliputi rasa penasaran oleh ucapan Mona.
****Bersambung******
Dirga nikah siri sama Laura?
status belum cerai kan ya sama Karin
berarti Karin ijinin poligami apa bagemane kak
Dirga nikah pas status masih resmi sama Karin
kalau sama penghulu berarti Siri? Tapi itu sama aja Dirga poligami sementara dong ya
kalau secara hukum jelas gak bisa kan belom cerai
dan itu gak pake wali gak sah...
ku cuma bingung pas baca chapter 23-24 cuma mau mastiin nikahnya itu gimana maksudnya
maap banyak tanya, bingung beneran soalnya 🙏
pria itu kan menawarkan sebuah informasi
apalagi dibayar mahal
tapi di bawahnya kemudian dia malah gak gak kasih tahu, padahal yang menawarkan informasi itu si pria bukan Karin yang tanya
jadi ada inkonsistensi di sini
kalau aku jadi Karin, ku bakal tabok si informan dan ngomong
"Hei, aku sudah bayar kamu 100 juta untuk informasi receh?
Kamu tau info itu gak lapor polisi dan malah minta uang dariku? aku bakal laporin kamu ke polisi sebagian pemerasan! sekarang kasih tau aku siapa atau polisi akan datang, oh ya aku sudah rekam pembicara kita 🤣"
Karin bakal jadi the winner
keep update kak
semangat 💪
apakah ini cerita panjang??
semangat terus ya kak