sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Pukul 07.00 pagi saat pintu kamarku diketuk .
Aku melangkah turun dari tempat tidur membuka tirai jendela sebentar dan membiarkan cahaya pagi melewati kaca . Hamparan kota Hongkong langsung menyambutku melalui jendela kamar . Pagi yang mendung , dengan awan hitam menggelayut di langit . Tadi malam , jamuan makan malam Master Dragon , aku meluncur ke salah satu hotel bintang 5 untuk bermalam
Aku membuka pintu . Seseorang dengan pakaian pelayan Hotel menyerahkan amplop surat bersetempel aksara Cina , "LIN" , berwarna merah . simbol keluarga Lin, penguasa Shadow ekonomi di Makau. Aku menerima amplop tersebut tanpa bicara . Pelayan membungkuk balik kanan .
Aku merobek ujung amplop lalu mengeluarkan surat di dalamnya . Itu surat resmi dari keluarga Lin . Isinya pendek . memintaku datang ke markas besar mereka , di gedung Kasino lantai 40 malam ini pukul 09.00 . Pertemuan antar dua keluarga seperti perintah Master Dragon .
Aku meletakkan surat itu sembarang di atas tempat tidur . Berdiri di depan jendela menatap kesibukan kota Hongkong di bawah sana . Jalanan yang padat karena kesibukan orang-orang . Aku mengusap rambut . Seperti yang kuduga , mereka terlalu pengecut untuk bertemu di tempat lain . Benteng Kasino adalah satu-satunya pilihan teraman bagi mereka . Tidak masalah . Rencanaku berjalan lancar . Aku tidak perlu mengubah apalagi menyiapkan cadangannya . Aku melirik jam di atas meja . Masih 14 jam lagi aku punya waktu lebih dari cukup .
Saatnya mengumpulkan tim terbaik .
...****************...
Pukul 08.00 pagi aku turun ke lobby Hotel menggunakan pakaian kasual memakai kacamata hitam dengan topi golf Seraya membawa peta Hongkong seperti turis lain . Aku menyetop taksi dan memintanya Mengantar ke Victoria Harbour
Dari sana aku menumpang Feri yang melayani penyeberangan Teluk Hongkong . Kapal feri ramai oleh penduduk lokal yang berangkat bekerja sekolah berdagang beraktivitas juga turis-turis yang sibuk memoto sana-sini . aku melangkah di lorong kursi menuju belakang Ferry yang mulai bergerak Anggun membelah Teluk Hongkong
"halo. pemandangan yang indah bukan?"
Aku menyapa dua orang gadis . Mereka mengenakan pakaian seperti turis Jepang, warna-warni cerah , juga dengan topi lebar berwarna , di tangan mereka tergenggam kamera terkini . Usia mereka sekitar 25 tahun . Wajah Jepang Mereka terlihat jelas . Kembar .
"halo" salah satu gadis itu menjawab sapaan ku
"kau bisa mengambilkan foto kami berdua?"
Aku mengangguk, menerima kamera. Dua gadis itu berdiri, tersenyum dengan pose mengacungkan jari. Di belakang mereka, gedung-gedung tinggi Hongkong nampak gagah. Aku menjepret dua tiga kali sesuai jumlah pose centil yang dipasang dua gadis itu. Kemudian aku mengembalikan kamera. Angin kencang memainkan anak rambut mereka. Kapal feri melaju di perairan Hongkong. Sekali dua saat berpapasan dengan kapal kapal lainnya, feri kami membunyikan klakson
"kalian ada acara malam ini?"
Dua gadis kembar itu menggeleng. Asyik melihat hasil foto di layar kamera.
"kalian bisa menemaniku di Makau? Grand Lisabon lantai empat puluh pukul sembilan tepat."
"menemanimu, apa acaranya?"
Mengambil sesuatu. Di luar itu bebas, tidak ada peraturan"
"siapa tuan rumah nya?"
"tuan rumah yang sama sekali tidak ramah."
"oh ya? apa yang harus kami siapkan?"
"apapun yang bisa kalian bawa. Aku butuh semua bantuan yang tersedia, terutama saat kabur dari kejaran anjing pemilik rumah. Kalian bisa menemaniku?"
Dua gadis itu tersenyum centil, " tergantung. berapa bayarannya?"
"lima batang emas. Untuk setiap orang."
Mereka saling tatap sejenak, tertawa. Mengangguk serempak
Aku menyerahkan selembar kertas yang berisikan rencana detail nanti malam. Kapal feri sudah hampir merapat di dermaga seberang. para penumpang bersiap turun.
"Selamat bersenang senang." aku berpamitan.
Salah satu pelajaran penting yang kopong ajarkan padaku adalah jangan pernah tertipu dengan tampilan fisik. Di dunia hitam, ada banyak sekali orang orang bergaya, terlihat wah, berpakaian meyakinkan, tapi kosong didalamnya. Dibaliknya, ada orang orang yang terlihat seperti orang kebanyakan, tapi dalamnya sangat berisi, orang yang sangat lihai Dann berpengalaman di dunia hitam.
Selintas lalu, dua gadis kembar dari jepang ini seperti turis. Wajah mereka imut, berpenampilan centil, asyik beranjangsana di atas feri. Tapi jangan tertipu, mereka adalah ninja keturunan dari guru Bushi. Merekalah yang mencuri patung naga emas dari Singapura. aku mengenal mereka dengan sebutan Yuki dan Kiko.
dari dermaga feri, aku berjalan menuju stasiun subway terdekat, membeli tiket, lalu menunggu di peron. Aku melirik jam, masih dua belas jam lagi pertemuan dengan kepala keluarga Lin.
Kereta yang telah ku naikin berhenti di stasiun tujuanku. Aku berjalan kaki menuju kawasan Lan Kwai Fong, sentral kuliner terkenal di Hongkong.
Pukul sembilan lewat tiga puluh, aku melangkah menuju salah satu restoran seafood. Aku memilih meja luar dekat dinding, persisi menghadap jalanan. Duduk di kursinya, juru masak sekaligus pemilik restoran itu melangkah ke mejaku.
"selamat pagi, Kenzy. Kejutan. Kapan kau tiba di Hongkong" dia menyapa, tersenyum lebar.
aku balas tersenyum, mengangguk. "selamat pagi, white. Aku baru tiba tadi malam. Perutku lapar. Bisakah kau menyiapkan sesuatu? aku sengaja tidak sarapan di hotel."
"kau mau pesan seperti biasa?"
"iya, untuk yang itu seperti biasa, tapi kali ini aku ingin kau menemaniku makan. Ada yang hendak kubucarakan. Kau mungkin tertarik."
Juru masak akrab menepuk bahuku, "baiklah. Akan ku siapkan dulu makanannya, setelah itu akan ku temani, Kenzy"
Dua puluh menit kemudian, dia kembali sembari membawa dua piring berisi udang dan cumi.
"ada apa, Kenzy? Apa yang hendak kau bicarakan?"
"aku ada urusan malam ini di Makau"
"Makau? Kau sedang ada urusan dengan keluarga Lin?"
Aku mengangguk
"kau punya masalah dengan mereka?"
Aku mengangguk lagi.
"itu buruk, Kenzy. Kau bisa membuat perang antar keluarga"
"aku tidak punya pilihan. Mereka yang memulai"
"apa rencanamu, Kenzy?"
"sederhana. Aku mengetuk pintu, basa basi sebentar, mengambil barang yang mereka curi, kemudian bilang terima kasih, pergi"
"siapa yang bertugas mengalihkan perhatian?"
"Yuki dan Kiko"
White menepuk celemek yang dikenakannya, berseru, "aku tidak suka cucu kembar guru Bushi. Mereka selalu bermain main di setiap misi."
Aku tertawa kecil, " cukup adil, mereka juga tidak suka dengan kau, yang terlalu serius dalam setiap misi. Kau tertarik bergabung?"
"Baiklah, aku ikut. Aku bosan hanya memotong cumi dan memukuli udang. Lama sekali aku tidak menembaki para penjahat."
Aku menghabiskan makanan dan minumanku selama setengah jam kemudian. Kami berbicara santai tentang banyak hal, sesekali tertawa dan bergurau.
Aku berdiri, mengenakan kacamata hitam dan topi golf, berpamitan menepuk lengan white.
"salam untuk Frans. Aku minta maaf tidak bisa menemuinya pagi ini."
White mengangguk. Mengantarku hingga ke jalan.
"jangan lupa, pukul sembilan malam."
"aye aye, Kenzy"