NovelToon NovelToon
Menyamar Demi Cinta Tulus

Menyamar Demi Cinta Tulus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Tara Yulina

Cilla Anaya Salsabila,
putri tunggal pemilik perusahaan besar dan pewaris saham kampus barunya. Semua orang mengaguminya—kecuali dirinya sendiri, karena ia tak pernah tahu siapa yang benar-benar tulus.

Saat pindah ke kampus baru, Cilla memilih menyamar menjadi gadis culun. Tanpa kemewahan, tanpa nama besar, hanya dirinya apa adanya.

Ia ingin satu hal:
menemukan cinta yang memilih hatinya… bukan hartanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tara Yulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Kembali Datang

Di balik sunyinya danau yang tenang, ada satu hal yang terus mengusik pikiran Zayn. Ia teringat kejadian saat kembali ke kelas untuk mengambil barang yang tertinggal. Saat itu, ia sempat berpapasan dengan Cilla yang berjalan dengan pakaian basah kuyup. Meski kini Cilla sudah berganti pakaian, bayangan kejadian itu masih membuat Zayn penasaran. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk bertanya.

"Ci..." panggil Zayn pelan.

"Hm?" sahut Cilla sambil menoleh.

"Lo kenapa bisa basah semua? Pasti ada yang nakalin lo, ya?" tanya Zayn dengan nada khawatir.

"Iya... kamu benar," jawab Cilla jujur. Ia bukan tipe orang yang suka berbohong tentang apa yang dialaminya. Tidak melawan bukan berarti takut.

"Siapa, Ci?" tanya Zayn lagi.

"Abelia sama teman-temannya. Aku enggak nyangka, Zay. Mereka nyegat aku sebelum aku pulang. Mereka ngancam aku habis-habisan," ujar Cilla apa adanya. Berbohong adalah hal yang sia-sia baginya. Namun jika hal yang sama terulang lagi, ia tidak akan tinggal diam.

"Hah...?" Zayn tertegun. "Sebenci itu Abelia sama lo?"

Cilla mengangguk pelan.

"Ada masalah apa sampai mereka nyiram lo?" tanya Zayn.

"Abelia suka sama kamu. Dia enggak suka aku dekat-dekat sama kamu. Itu sebabnya dia sampai segitunya jahatin aku." Cilla tersenyum pahit. "Kenapa, ya, dunia percintaan bisa sekejam itu?"

"Dia... suka sama gue?" Zayn menunjuk dirinya sendiri dengan wajah tak percaya.

"Iya, suka sama kamu," jawab Cilla, meyakinkan.

Zayn mengembuskan napas panjang. "Maaf ya. Gara-gara nama gue, lo jadi dijahatin begini. Tapi gue pastiin, ini bakal jadi yang pertama sekaligus terakhir kalinya mereka nyakitin lo. Gue bakal jagain lo."

Ucapan itu keluar begitu tulus hingga membuat hati Cilla menghangat.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Zayn ternyata benar-benar peduli sama gue sebagai seorang cici. Dia baik... dan ketulusannya terasa nyata," batin Cilla.

Hari kian beranjak senja. Langit yang semula berwarna jingga perlahan berubah menjadi semburat ungu gelap. Permukaan danau memantulkan cahaya matahari yang mulai tenggelam, sementara angin sore bertiup lembut menerpa dedaunan di sekeliling mereka.

Zayn melirik jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Cilla.

"Udah mulai gelap, Ci. Kita pulang, yuk. Nanti keburu malam."

Cilla mengangguk pelan. Namun, sebelum beranjak, tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. Ia ingin mengabadikan momen sederhana itu bersama Zayn.

"Bentar... selfie dulu, yuk," ujar Cilla tanpa ragu.

Zayn tersenyum tipis lalu mengangguk. "Boleh."

Cilla segera mengeluarkan ponsel Android miliknya dari dalam tas. Ponsel itu menjadi pengganti iPhone kesayangannya yang telah ia jual beberapa waktu lalu demi memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka pun mendekat. Cilla mengangkat ponselnya, mengarahkan kamera ke arah mereka dengan latar danau yang diterangi cahaya senja. Senyum keduanya terekam dalam satu bingkai sederhana.

"Udah, bagus banget hasilnya," ucap Cilla sambil tersenyum puas.

Setelah itu, keduanya berdiri dari tempat duduk. Cilla sempat menatap permukaan danau untuk terakhir kalinya sebelum mengikuti langkah Zayn menuju area parkir.

Zayn mengenakan helmnya, lalu menyerahkan satu helm lagi kepada Cilla.

"Pakai dulu," ujarnya.

Cilla menerima helm itu dengan senyum kecil. Setelah memakainya, ia naik ke jok belakang motor Zayn.

Mesin motor pun menyala. Perlahan mereka meninggalkan kawasan danau, membelah jalan yang mulai diterangi lampu-lampu jalan, sementara langit senja perlahan berganti menjadi malam.

Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kosan Cilla.

Motor Zayn berhenti tepat di depan gerbang. Cilla turun dari jok belakang, lalu melepas helm yang dikenakannya dan menyerahkannya kembali kepada Zayn.

"Makasih ya buat hari ini," ucap Cilla sambil tersenyum tulus.

Zayn menerima helm itu, lalu membalas senyumnya.

"Sama-sama. Gue duluan, ya."

"Iya, hati-hati."

Zayn pun memutar gas motornya dan perlahan menghilang di ujung jalan.

Cilla masih berdiri di depan kosan, memandangi kepergian Zayn hingga sosoknya tak lagi terlihat. Senyum di wajahnya perlahan memudar, berganti dengan kerinduan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

"Aku kangen Ayah..." lirihnya.

Ia menghela napas panjang.

"Apa aku pulang dulu, ya? Biar rasa berat ini sedikit berkurang."

Tekadnya pun mulai bulat.

"Iya... aku harus pulang. Kembali menjadi Cilla, lalu setelah semuanya selesai, aku akan kembali menjadi Cici."

Perlahan, Cilla melepas kedua kuncir rambutnya hingga rambut panjangnya terurai rapi. Kacamata yang selama ini menjadi bagian dari penampilan Cici juga ia lepaskan. Kini, sosok Cilla yang sebenarnya kembali terlihat.

karna mobil tidak bisa masuk di gang kos an Cilla yang kecil , ia berjalan keluar menuju depan gang. Tak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di sana. Ia segera masuk ke dalam mobil, lalu taksi itu melaju meninggalkan kawasan kos, membawanya pulang menuju rumah yang selama ini paling ia rindukan.

Tanpa disadari Cilla, di saat yang bersamaan seseorang juga sedang menuju rumahnya.

Siapa yang akan tiba lebih dulu? Cilla, atau sosok misterius itu?

Tak lama kemudian, taksi yang ditumpangi Cilla berhenti di depan gerbang rumahnya yang megah. Ia turun, lalu berjalan menghampiri gerbang dan menekan tombol bel agar satpam segera membukakannya.

Tak berselang lama, satpam keluar dari pos penjagaan. Begitu melihat wajah Cilla, senyum hangat langsung terukir di wajahnya.

"Non Cilla..."

Cilla membalas senyumnya.

"Ayah ada, Pak?" tanyanya.

"Ada, Non."

Gerbang pun terbuka. Cilla segera melangkah masuk, lalu sedikit berlari melewati halaman rumah yang luas menuju pintu utama.

Sesampainya di depan pintu, ia memasukkan PIN keamanan yang masih begitu dihafalnya. Bunyi beep terdengar, lalu pintu terbuka perlahan.

Begitu memasuki rumah, Cilla menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya menyapu setiap sudut rumah yang begitu ia rindukan. Kerinduannya pada rumah itu, terlebih pada sang ayah, seketika memuncak.

"Ayah... Cilla pulang!" serunya dengan suara lantang.

"Kayak suara Cilla..." gumam sang ayah yang saat itu sedang berada di ruang kerja.

Beliau segera keluar. Begitu melihat putri kesayangannya benar-benar berdiri di ruang tengah, wajahnya langsung dipenuhi kebahagiaan.

"Cilla..."

Tanpa menunggu lebih lama, Cilla berlari menghampiri sang ayah dan langsung memeluknya erat.

"Cilla kangen sama Ayah..."

Sang ayah membalas pelukan putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Ayah juga kangen sama kamu, Nak."

"Kamu dari mana, Sayang?" tanya sang ayah lembut sambil mengusap kepala putrinya. "Kamu baik-baik aja, kan, peri kecil Ayah?"

Cilla tersenyum hangat. Julukan peri kecil yang selalu diucapkan ayahnya seakan menjadi sumber kekuatan yang mampu membangkitkan semangatnya setiap kali ia merasa lelah.

"Aman kok, Yah. Malam ini Cilla mau tidur di sini."

Sang ayah tersenyum penuh kasih.

"Sayang, ini rumah kamu. Kamu boleh tidur di sini kapan pun kamu mau."

Cilla mengangguk pelan.

"Iya, Yah. Tapi Cilla belum selesai. Masih ada urusan yang harus Cilla beresin."

Belum sempat sang ayah menanggapi, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi.

Ting... tong...

"Siapa ya, Yah? Sore-sore begini ada yang bertamu," tanya Cilla penasaran.

Sang ayah menggeleng pelan.

"Ayah juga enggak tahu."

"Cilla yang bukain, ya, Yah."

Wijaya mengangguk mengizinkan.

Cilla pun melangkah perlahan menuju pintu utama. Setiap langkahnya diiringi rasa penasaran.

Siapa tamu yang datang di balik pintu itu?

Tangannya perlahan meraih gagang pintu, lalu memutarnya.

Krek...

Pintu terbuka.

Seketika tubuh Cilla membeku.

Matanya membelalak ketika melihat sosok yang berdiri tepat di hadapannya. Wajah itu... wajah yang tak pernah ia sangka akan kembali muncul di hadapannya.

Sosok yang pernah menghancurkan hatinya.

Jantung Cilla berdetak tak karuan. Luka yang pernah Raga tinggalkan masih membekas begitu dalam di hatinya. Kini, melihat pria itu kembali berdiri di hadapannya, dadanya terasa semakin sesak.

Tanpa berpikir panjang, tangan Cilla terangkat.

Plak!

Tamparan keras mendarat tepat di pipi Raga.

"PERGI DARI SINI!" bentak Cilla dengan mata yang mulai memerah.

Raga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara.

"Cilla... dengerin penjelasan gue dulu."

Cilla menggeleng tegas.

"Enggak ada yang perlu dijelasin lagi. Lo bukan siapa-siapa gue."

Raga menarik napas panjang.

"Cil... Lo masih cinta, kan, sama gue? Gue mau kita balikan lagi kayak dulu. Kita mulai semuanya dari awal."

Mendengar kalimat itu, Cilla justru tersenyum sinis.

"Cinta gue buat lo udah habis. Paham?"

Suasana seketika menjadi hening.

Cilla menatap Raga tanpa sedikit pun keraguan.

"Mau pergi sendiri... atau diseret pengawal?"

"Cil, tapi—"

"Pengawal!" potong Cilla tegas. "Bawa dia keluar dari sini."

"Baik, Non."

Dua orang pengawal segera menghampiri Raga dan menggiringnya menuju gerbang.

"Cilla... maafin gue! Gue tahu gue salah!" teriak Raga sambil berusaha melepaskan diri.

Namun Cilla tidak bergeming. Tatapannya tetap dingin, seolah pria itu sudah tak lagi memiliki tempat sedikit pun di hatinya.

1
falea sezi
lanjut donk
Tara Yulina: terimakasih,aku bakal lanjutin dengan penuh semangat ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!