NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semangkuk Mie Ayam

Mobil mercedes benz berwarna hitam milik Arjuna membelah jalanan aspal yang memantulkan hawa panas menyengat khas jam dua belas siang. Di dalam kabin, meskipun AC sudah disetel ke tingkat embusan maksimum, suhu udara di kepala Laila rasanya tetap berada di titik didih.

Kerah kemeja yang tadi disetrika rapi kini mulai terasa agak lengket oleh keringat, dan kunciran rambutnya yang sempat lepas kini ia ikat dua kali lebih kencang, mencerminkan suasana hatinya yang makin semrawut.

Setelah ketegangan Sidang Komando yang menguras energi batin, Laila mengira Arjuna akan membawanya ke restoran ber-AC di dalam mal, atau setidaknya ke kafe estetik tempat ia bisa memesan segelas es kopi susu berukuran besar dengan tenang.

Namun, begitu mobil Arjuna berbelok masuk ke sebuah gang sempit yang padat penduduk dan akhirnya berhenti di bawah pohon talok yang rindangnya tidak seberapa, harapan Laila runtuh seketika.

Di depan mereka, terparkir sebuah gerobak kayu berwarna hijau lumut dengan tulisan spidol permanen di kaca depannya 'Mie Ayam Bakso Pak Man'. Asap mengepul tebal dari panci besar di dalam gerobak, membawa aroma kuah kaldu gurih yang bercampur dengan hawa panas udara siang itu. Beberapa bangku plastik berwarna merah dan biru tampak penuh oleh bapak-bapak berkaus kutang dan anak-anak kecil yang sedang sibuk makan.

Laila menoleh arah Arjuna. "Lo... mau ngajak gue makan di sini?" tanya Laila. Suaranya rendah, sarat akan ancaman, dan setiap silabelnya ditekankan dengan ketajaman maksimal.

Arjuna, yang baru saja mematikan mesin mobil, menoleh dengan wajah tanpa dosa. Senyum tengilnya langsung mengembang sempurna, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Iya, Dek. Ini mie ayam paling legendaris loh Dek. Kuahnya mantap, mienya bikin sendiri, dan yang paling penting, porsinya bisa bikin kenyang sampai besok pagi. Ayo turun."

"Arjuna, lo yang bener kenapa sih?" semprot Laila, akhirnya meledak. Ia tidak peduli lagi dengan citra anggun yang sempat ia pertahankan di depan Komandan tadi.

"Gue ini habis pakai baju rapi, seharian nahan stres di kantor lo, dan sekarang lo bawa gue ke tempat yang jangankan AC, kipas angin aja enggak ada? Lihat tuh, orang-orang di sana aja sampai keringatan begitu, lo mau bikin gue pingsan karena kepanasan?!"

Arjuna tidak panik. Ia justru menjulurkan tangan ke jok belakang, mengambil sebuah kipas sate terbuat dari anyaman bambu yang entah sejak kapan ada di mobilnya. Ia menyodorkannya ke arah Laila sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Tenang, Tuan Putri. Mas sudah menyiapkan fasilitas VIP mini untuk kamu. Nih, kipas manual anti-panas. Anggap saja ini bagian dari latihan fisik calon istri tentara, biar terbiasa dengan medan tempur," kata Arjuna santai, lalu membuka pintu mobil dan keluar tanpa menunggu jawaban Laila.

Laila menggeram frustrasi. Ia menghentakkan kakinya ke karpet mobil, melempar kipas bambu itu ke dasbor, namun pada akhirnya ia terpaksa membuka pintu mobil juga. Tinggal sendirian di dalam mobil yang mesinnya mati di tengah hari bolong sama saja dengan membakar diri secara sukarela.

Laila melangkah dengan langkah besar yang dihentakkan, sengaja membuat suara berisik dengan heelsnya. Ketika mereka sampai di depan gerobak, aroma kaldu ayam yang gurih langsung menyergap indra penciumannya. Perut Laila sebenarnya merespons dengan bunyi keruyuk pelan, tetapi egonya yang setinggi langit langsung meredam rasa lapar itu.

"Pak Man! Mie ayam dua, baksonya lengkap, ceker satu porsi ya. Yang satu jangan pakai daun bawang, calon istri saya enggak suka," seru Arjuna kepada penjual mie ayam yang sedang sibuk mengocok mie di saringan.

Laila yang mendengar ucapan Arjuna langsung menyikut pinggang pri itu dengan keras. "Siapa yang calon istri lo?! Jangan sembarangan klaim ya di tempat umum!" ketusnya dengan volume suara yang cukup keras hingga membuat Pak Man menoleh sambil tersenyum simpul.

"Lho, Mas Arjuna, ini toh calonnya yang kemarin diceritain? Cantik tenan toh, pantesan Mas Arjuna sampai bela-belain nungguin," sahut Pak Man dengan logat Jawa yang kental.

Wajah Laila mendadak memanas. Ia langsung memalingkan mukanya, melangkah menuju satu-satunya meja panjang kayu yang masih kosong di pojok, dekat dengan tempat sampah plastik. Tempatnya benar-benar tidak ideal, gerah, dan sesekali lalat hijau melintas di atas meja. Laila mengibaskan tangan dengan jijik, lalu duduk di ujung bangku plastik dengan posisi tubuh yang kaku, seolah-olah menyentuh meja kayu itu bisa membuatnya tertular penyakit menular.

Arjuna menyusul dan duduk di sebelah Laila. Jarak mereka dekat, dan hawa panas dari tubuh Arjuna yang terbalut seragam dinas tebal makin membuat Laila gerah.

"Jauh-jauh sedikit bisa enggak, sih? Sempit tau!" usir Laila sambil menggeser duduknya.

"Kalau jauh-jauh nanti disangka kita lagi musuhan, Dek. Kan enggak enak dilihat Pak Man. Lagian, biar Mas bisa mengipasi kamu," ujar Arjuna. Laki-laki itu ternyata membawa kembali kipas bambu dari dasbor tadi dan sekarang dengan telaten mulai mengayunkan kipas itu ke arah wajah Laila. Embusan anginnya hangat, tetapi ketelatenan Arjuna entah bagaimana membuat kekesalan Laila sedikit tertahan di tenggorokan.

"Enggak usah sok baik. Gue tetap benci tempat ini," gumam Laila, melipat tangannya di dada dan membuang muka ke arah jalanan gang yang berdebu.

Lima menit kemudian, dua mangkok mie ayam beruap mengepul diantarkan oleh Pak Man. Di depan Laila, tersaji semangkok penuh mie keriting kuning yang permukaannya tertutup potongan daging ayam kecap yang melimpah, tiga butir bakso sapi berukuran sedang yang permukaannya urat-uratnya terlihat jelas, dan kuah kaldu kental yang berminyak gurih. Aromanya begitu kuat, menusuk hidung, dan secara instan meruntuhkan konsentrasi Laila untuk tetap marah.

"Nih, makan dulu. Marah-marah terus dari tadi kan butuh energi banyak," ujar Arjuna, menyodorkan sepasang sumpit dan sendok yang sudah ia lap dengan tisu bersih ke tangan Laila.

Laila menatap sumpit itu dengan ragu, lalu menatap mangkok mienya. Perutnya sudah tidak bisa diajak bekerja sama lagi, bunyinya makin jelas. Dengan wajah yang masih ditekuk dan bibir yang dimajukan, Laila menerima sumpit itu dengan sentakan kasar.

"Gue makan ini cuma karena gue udah kelaparan, ya. Bukan karena gue mau nurutin lo," ketus Laila, menetapkan batasan pertahanannya.

"Iya, Tuan Putri. Silakan dinikmati. Jangan lupa berdoa, biar setannya yang di dalam hati pada keluar," sahut Arjuna tengil, lalu mulai menyantap mienya sendiri dengan lahap.

Laila mendengus. Ia mengambil sedikit sambal dengan ujung sendok, lalu mengaduk mie tersebut. Uap panasnya menerpa wajahnya, membuat beberapa anak rambut di pelipisnya basah oleh keringat.

Ia menjepit beberapa helai mie dengan sumpit, meniupnya tiga kali dengan tidak sabar, lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Deg.

Laila menghentikan kunyahannya sejenak. Matanya yang bulat melebar sedikit. Tekstur mienya sangat kenyal, kenyal yang pas dan tidak lembek karena tampaknya dibuat secara manual. Rasa gurih dari bumbu ayam kecapnya meresap sempurna hingga ke dalam tiap helai mie, berpadu dengan kaldu ayam yang kaya rasa dan hangat di tenggorokan. Rasa sambalnya yang menggigit langsung memicu adrenalin di lidahnya. Ketika ia mencoba menggigit baksonya, daging sapinya terasa sangat dominan, padat, dan juicy.

Ini... gila. Ini adalah mie ayam terenak yang pernah ia makan sepanjang hidupnya. Jauh lebih enak daripada mie ayam mahal di restoran mal yang biasa ia datangi dengan harga lima kali lipat.

Namun, Laila langsung tersadar dari keterpukauannya. Ia melirik Arjuna dari sudut matanya. Arjuna ternyata sedang memperhatikan ekspresi wajahnya dengan senyuman penuh kemenangan yang mulai terbit di bibirnya.

Laila tahu, jika ia menunjukkan sedikit saja tanda bahwa ia menyukai makanan ini, runtuhlah sudah harga diri dan benteng kejutekan yang sudah ia bangun dengan susah payah selama satu minggu ini. Arjuna akan meledeknya habis-habisan sampai tujuh turunan.

Maka, Laila dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi datar, judes, dan acuh tak acuh. Ia menelan mienya dengan gaya yang dibuat seolah-olah ia sedang menelan obat pahit.

"Gimana Dek? Enak toh? Lidah Mas itu ndak pernah bohong kalau soal makanan legendaris," tanya Arjuna dengan nada menyebalkan, menopang dagunya dengan tangan kiri sambil menatap Laila dengan mata berbinar meledek.

Laila meletakkan sumpitnya ke atas mangkok dengan denting yang disengaja. Ia mengambil tisu, mengelap bibirnya dengan gerakan elegan yang dipaksakan, lalu menatap Arjuna dengan pandangan meremehkan.

"Biasa saja," jawab Laila datar, nadanya sedingin es batu. "Mienya terlalu asin menurut gue, Ayamnya juga potongannya terlalu besar-besar, bikin pegal mengunyahnya. Kuahnya terlalu berminyak, bisa bikin kolesterol naik tau enggak? Pokoknya enggak ada istimewanya sama sekali. Masih mending mie instan di rumah."

Mendengar ulasan super kejam dari Laila, Arjuna bukannya sedih atau kecewa, ia justru meledak dalam tawa renyah yang cukup keras. Beberapa pelanggan lain di warung sampai menengok ke arah meja mereka. Arjuna menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkat gengsi Laila yang sudah menembus atmosfer bumi.

"Oh, biasa saja ya?" goda Arjuna, matanya menunjuk ke arah mangkok Laila. "Biasa saja tapi dalam waktu tiga menit mienya sudah hilang setengah porsi tanpa henti begitu ya, Dek? Hebat juga mulut kamu bilang biasa saja, tapi sumpit kamu jalan terus kayak panser militer."

Laila seketika membeku. Ia melirik ke dalam mangkoknya sendiri. Sialan. Arjuna benar. Karena terlalu menikmati rasa gurih mie tersebut, tanpa sadar ia sudah menyantap lebih dari setengah porsi dengan kecepatan tinggi. Baksonya bahkan sudah habis dua butir.

Wajah Laila memerah sempurna, kali ini murni karena malu karena tertangkap basah. Namun, jiwa judesnya menolak untuk menyerah kalah. Ia langsung menegakkan punggungnya, menatap Arjuna dengan mata yang menyala galak.

"Ini namanya menghargai makanan, Arjuna! Papi selalu mengajarkan kalau makan itu enggak boleh disisa-sisa, mubazir! Lagian gue udah kelaperan, energi gue habis ngadepin pertanyaan bejibun tadi, jadi apa pun makanan di depan mata, ya gue makan aja daripada gue mati kelaparan di gang sempit ini!" semprot Laila bertubi-tubi dengan nada judes andalannya.

Arjuna hanya manggut-manggut dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat seolah dia sangat percaya dengan penjelasan logis Laila yang penuh kepalsuan itu.

"Oh, jadi begitu... demi menghargai makanan ya. Siap, paham, Calon Istri. Kalau begitu, ceker ayamnya yang satu porsi ini biar aku saja yang makan ya, kan kamu enggak suka karena... biasa saja?" Arjuna sengaja menarik piring kecil berisi ceker ayam bumbu kecap yang menggiurkan mendekat ke arahnya.

Laila menatap ceker ayam tersebut dengan pandangan lapar. Ia sebenarnya sangat menyukai ceker ayam, apalagi yang bumbunya meresap sampai ke tulang seperti itu. Dengan gerakan secepat kilat, tangan Laila bergerak menyambar piring ceker itu kembali ke wilayah mejanya.

"Enggak boleh! Ini kan dipesan buat satu paket tadi. Aku juga mau makan!" ketus Laila, langsung mengambil satu ceker dengan sumpitnya dan menggigitnya dengan emosi yang tertahan. Dan lagi-lagi, rasanya sangat lembut, dagingnya langsung terlepas dari tulangnya dengan sekali tarikan. Enak banget, ya Tuhan, jerit Laila dalam hati, menangis bahagia dalam keheningan egonya.

Arjuna kembali tertawa, menopang kedua tangannya di atas meja sambil memperhatikan Laila yang terus-menerus makan dengan lahap namun tetap dengan wajah yang ditekuk sedemikian rupa agar terlihat tidak bahagia.

Sifat konsisten Laila dalam menjaga kejutekannya justru menjadi hiburan tersendiri bagi Arjuna. Baginya, Laila yang judes dan ketus ini jauh lebih menarik dan menggemaskan daripada ribuan perempuan yang mencoba bersikap manis di depannya demi seragam yang ia kenakan.

Setengah jam kemudian, mangkok mie ayam Laila benar-benar bersih tanpa sisa, bahkan kuahnya pun hanya tersisa sedikit di dasar mangkok. Laila meletakkan sendoknya, bersandar pada bangku plastik sambil mengembuskan napas panjang, merasa sangat kenyang dan puas secara biologis, meskipun secara psikologis ia masih berada dalam mode perang.

Arjuna membayar semua makanan mereka kepada Pak Man, lalu kembali ke meja dengan memegang dua botol teh manis dingin yang permukaannya berembun tebal. Ia memberikan satu botol ke hadapan Laila.

"Nih, minum dulu. Biar tenggorokan kamu ndak kering setelah me-review makanan Pak Man dengan sangat kejam," ujar Arjuna, duduk kembali dengan senyuman tengilnya yang tidak pernah luntur semenjak pagi tadi.

Laila menerima botol minuman tersebut, menempelkan botol dingin itu ke pipinya yang terasa panas karena keringat dan efek sambal, sebelum akhirnya meminumnya hingga tersisa setengah. Sensasi dingin langsung menyegarkan tubuhnya yang sempat kepanasan di warung gerobakan itu.

"Jadi," kata Arjuna, sengaja menjeda kalimatnya untuk memancing reaksi Laila. "Minggu depan, setelah kita selesai tes kesehatan di rumah sakit pusat, kita makan di sini lagi ya? Kan mienya... biasa saja?"

Laila memasang tutup botolnya kembali dengan sentakan kuat. Ia menatap Arjuna dengan alis yang menukik tajam, mempertahankan posisi bertahannya hingga detik terakhir hari itu.

"Jangan harap ya, Arjuna! Ini pertama dan terakhir kalinya gue mau diajak ke tempat terpencil, panas, dan banyak lalat begini! Dan gak ada lain kali lagi, karena seterusnya gue yang bakal nentuin tempat makan," ancam Laila dengan nada ketus yang paling maksimal yang bisa ia keluarkan.

Laila langsung bangkit berdiri dan melangkah lebar-lebar kembali menuju mobil tanpa menoleh ke belakang lagi.

Arjuna yang ditinggal sendirian di meja hanya bisa tersenyum lebar, mengambil baret birunya yang sempat ia letakkan di meja, lalu memakainya kembali dengan posisi miring yang pas. Ia menatap punggung Laila yang berjalan dengan gaya angkuh namun menggemaskan itu dari belakang.

"Siap, laksanakan, Calon Ibu Pia yang galak. Kita lihat saja minggu depan siapa yang bakal minta nambah ceker lagi," gumam Arjuna pelan dengan tawa kecil yang tertahan, lalu melangkah tegap menyusul calon istrinya yang keras kepala itu membelah terik siang kota.

...Bersambung... ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!