NovelToon NovelToon
Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Cewe Cegil Vs CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"

Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.

Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.

Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kecemburuan tak masuk akal elio

" loh secantik ini kenapa kemarin pernikahan nya di sembunyikan dari publik bahkan keluarga sendiri, hamil duluan yah " celetuk Tante Maya.

Suasana hangat yang tadinya diciptakan Maria mendadak membeku dalam hitungan detik. Celetukan spontan dari bibir Maya—adik kandung Maria yang dikenal dengan mulut tajam dan rasa penasarannya yang tinggi—langsung mencairkan atmosfer ruangan menjadi setajam silet.

Maya, seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal dan perhiasan berlian yang mencolok di jemarinya, menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap Aratala dari ujung kepala hingga kaki dengan sorot mengevaluasi, sebelum akhirnya beralih menatap keponakannya yang berdiri tidak jauh dari sana.

"Maksud Tante Maya apa?" celetuk Elio dengan suara dingin yang langsung memotong ketegangan. Pria itu melangkah cepat, merangsek maju hingga berdiri tepat di samping Aratala, lalu melingkarkan satu tangan kokohnya di pinggang sang istri dengan posesif. Gerakan itu seolah menjadi pagar betis yang menegaskan bahwa siapa pun tidak boleh sembarangan menyerang wanitanya.

Maria sendiri tampak sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan blak-blakan adiknya. Ia berdehem pelan, mencoba mendinginkan suasana. "Maya, sudahlah. Namanya juga anak muda, mungkin mereka punya pertimbangan sendiri—"

"Bukannya begitu, Mbak," potong Maya sambil tersenyum miring, tidak merasa bersalah sama sekali. Ia kembali menatap Aratala lekat-lekat. "Kan wajar kalau kita-kita ini penasaran. Pengusaha sukses sekelas Elio tiba-tiba menikah secara diam-diam, tanpa resepsi, tanpa undangan ke keluarga besar, dan tahu-tahu menggandeng gadis secantik ini. Publik di luar sana bahkan heboh menebak-nebak siapa perempuan beruntung yang berhasil meluluhkan seorang Elio. Ya kan, Aratala?" panggil Maya langsung, melemparkan beban tanya itu ke pundak sang gadis muda.

Aratala, yang sejak tadi berdiri kaku di samping Elio, merasakan tenggorokannya mendadak kering. Sindiran halus bercampur rasa curiga dari bibir bibi mertuanya itu sangat jelas menusuk telinga. Ia tahu persis alasan pernikahan mereka disembunyikan: karena ini hanyalah pernikahan kontrak atas dasar keterpaksaan dan kebutuhan nya, bukan sebuah kisah cinta seperti yang dipikirkan keluarga besar ini.

Sebelum Aratala sempat membuka mulut untuk menjawab—entah dengan kalimat sarkas atau kilasan pembelaan—suhu di sekitar mereka terasa merosot drastis.

Elio mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Aratala hingga gadis itu bisa merasakan ketegangan mutlak dari tubuh suaminya. Pria itu menatap sang bibi dengan tatapan setajam elang, rahangnya mengetat kaku, dan suaranya menggelegar rendah penuh tekanan yang membuat seisi meja makan mendadak bungkam.

"Pernikahan kami adalah privasi saya dan istri saya, Tante Maya," ucap Elio dingin, setiap suku kata diucapkannya dengan penekanan mutlak yang tidak memberi ruang untuk membantah. "Dan saya tidak merasa perlu meminta izin atau melaporkan alasan apapun pada siapapun... termasuk keluarga saya sendiri.

Suasana di meja makan yang tadinya sempat menegang akibat sindiran tajam Maya dan balasan elio, mendadak mencair begitu saja. Seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, Rio, berlari kecil mendekat ke arah Aratala dengan mata berbinar-binar.

"O, ni ante ioo, antik banet," ucap Rio cadel dengan polosnya, menatap lekat wajah Aratala tanpa rasa canggung sedikit pun.

Mendengar pujian tulus dari bocah cilik itu, ketegangan di wajah Aratala serta-merta menguap. Senyum tulus yang manis langsung terbit di bibirnya. Tanpa memedulikan gaun mahal atau cardigan yang melekat di tubuhnya, Aratala refleks berjongkok di atas lantai restoran untuk menyetarakan tinggi tubuhnya dengan sang bocah.

"Halo..." balas Aratala dengan suara lembut yang penuh kehangatan, sangat kontras dengan nada bicara dingin yang biasa ia keluarkan saat menghadapi Elio. Jari lentiknya dengan gemas mencolek hidung mungil anak laki-laki itu. "Kamu juga ganteng banget, pinter lagi. Mau dipuji gitu ya biar dibeliin mainan sama Tante?" candanya lembut diiringi tawa renyah.

Interaksi manis yang terjadi secara natural itu berhasil membius seisi meja makan. Maria tersenyum lebar sambil menatap penuh persetujuan ke arah menantunya, sementara beberapa kerabat lain mulai tersenyum simpul melihat sisi lain dari Aratala yang ternyata sangat keibuan dan menyenangkan.

di tempatnya berdiri, Elio hanya bisa terdiam. Pria itu menatap lurus ke arah Aratala yang sedang berjongkok dan tertawa lepas bersama keponakannya. Untuk kesekian kalinya hari itu, debar asing yang aneh kembali menghantam dada Elio—sebuah sensasi hangat yang tidak biasa, bercampur dengan keengganan yang semakin besar untuk membiarkan senyuman tulus itu dilihat oleh orang lain selain dirinya.

"Ah, sudah, sudah! Mari makan, dari tadi perutku keroncongan menunggu pengantin baru ini," ucap Antonia, ayah dari Rio, mencoba memecah keheningan sekaligus mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta akibat ulah sang istri.

Seruan itu langsung disambut tawa ringan dari anggota keluarga yang lain. Suasana meja makan yang sempat tegang kembali mencair, diwarnai senyum hangat dari Maria yang lantas mempersilakan semuanya untuk menikmati hidangan yang sudah tersaji.

Namun, di tengah gelak tawa dan dentingan alat makan yang mulai beradu, suasana dingin masih terpancar jelas dari sudut lain meja. Tante Maya memilih bergeming, tidak ikut tertawa bersama yang lain. Matanya menyipit tajam, menatap lurus ke arah Aratala dengan sorot penuh selidik dan ketidaksukaan yang amat kentara.

Melihat ketegangan kecil itu, tangan Elio yang sejak tadi terlepas mendadak bergerak cepat. Pria itu kembali merangkul pinggang Aratala dengan erat, seolah memberikan peringatan tak kasat mata kepada siapa pun di meja itu bahwa wanita di sampingnya sepenuhnya berada di bawah perlindungan—dan kuasanya.

"Duduk, Aratala," bisik Elio rendah di dekat telinga istrinya, menarik gadis itu untuk duduk di kursi di sebelah kirinya, tepat di hadapan tatapan tajam Maya yang belum juga teralihkan.

Begitu Aratala mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah kiri Elio, Rio—yang sepertinya langsung jatuh hati pada kecantikan dan kelembutan wanita itu—menolak untuk pergi jauh. Bocah kecil tersebut langsung merengek pelan sambil menarik-narik ujung gaun Aratala.

"Ante ikut... mau duduk sama ante," rengek Rio dengan suara anak-anak yang polos.

Sebelum Aratala sempat merespons, Rio sudah lebih dulu memanjat naik dan mendudukkan diri dengan nyaman di atas pangkuan Aratala.

Aratala sempat terpekik tertahan karena kaget, namun ia langsung sigap menahan tubuh kecil bocah itu agar tidak merosot. "Eh, aduh... Berat juga ya jagoan Tante ini," canda Aratala sambil tertawa kecil, kedua tangannya melingkar lembut menopang tubuh Rio di pangkuannya. Ia sama sekali tidak keberatan, justru merasa senang bisa menghindari ketegangan di meja makan dengan meladeni kepolosan sang bocah.

Namun, reaksi yang sama sekali berbeda ditunjukkan oleh pria di sebelah Aratala.

🌴🌴🌴

Elio langsung menoleh dengan raut wajah yang menggelap seketika. Rahang pria itu mengeras, matanya menatap tajam ke arah Rio yang dengan santainya menyandarkan kepala di dada istrinya. Bagi Elio, pangkuan Aratala adalah zona privat miliknya—bahkan seorang anak kecil pun mendadak terasa seperti pengganggu yang tidak diundang di mata posesif Elio.

"Rio, turun. Jangan merepotkan tantemu," tegur Elio dengan nada datar namun bernada perintah mutlak yang cukup tegas untuk membuat meja makan sedikit senyap.

Maria yang duduk di seberang langsung mendelik protes ke arah putranya. "Elio! Biarkan saja, sih. Namanya juga anak kecil gemas sama tantenya. Jangan galak-galak begitu, nanti ponakanmu takut!" bela Maria, diangguki setuju oleh Antonia dan beberapa kerabat lainnya.

Aratala melirik sekilas ke arah Elio. Melihat wajah elio yang tertekuk kesal dan cemburu setengah mati pada bocah lima tahun, bibir Aratala justru nyaris melengkungkan senyuman penuh kemenangan. Di balik meja, tangan Aratala dengan sengaja menepuk-nepuk punggung Rio pelan, seolah menantang tatapan membunuh yang dikirimkan Elio kepadanya.

Suasana di meja makan perlahan kembali tenang seiring dimulainya santap malam dengan hidangan mewah yang tersaji di hadapan mereka. Di tengah obrolan ringan keluarga besar yang kembali mengalir, Aratala tampak fokus menikmati makanannya.

kesibukannya terbagi karena ia harus melayani bocah yang masih betah duduk di pangkuannya. Dengan telaten, Aratala beberapa kali menyuapi Rio menggunakan piring kecil di depannya, memastikan anak itu ikut makan dengan lahap.

Melihat kepolosan dan kelucuan Rio yang mengunyah makanan dengan pipi tembam, rasa gemas Aratala mendadak membuncah. Gadis itu terkikik pelan, lalu tanpa ragu beberapa kali mendaratkan ciuman gemas di pipi serta pucuk kepala Rio.

"Duh, gemesin banget sih jagoan siapa ini..." bisik Aratala lembut, tidak bisa menahan rasa gemasnya.

Di sampingnya, urat di pelipis Elio nyaris berdenyut. Pria itu menatap lurus ke arah Aratala dan keponakannya dengan sorot mata yang kian menghitam. Napas Elio mendadak memburu dalam diam; ia merasa cemburu luar biasa setengah mati bukan hanya pada orang dewasa, melainkan bahkan pada seorang bocah lima tahun yang bisa mendapatkan kehangatan, perhatian, dan ciuman bertubi-tubi dari wanita yang sudah ia klaim sebagai miliknya.

Bagi Elio, kelembutan dan afeksi yang ditunjukkan Aratala saat itu seharusnya hanya menjadi hak istimewa miliknya seorang, bukan dibagikan begitu saja—bahkan kepada keponakannya sendiri.

🌴🌴🌴

1
partini
elio kata"mu itu weleh
Nalara amora: tenang kaaa😭🙏
total 1 replies
partini
masih juga nyalahin orang lain situ tuh yg sarappp pak elio,, jangan lah unboxing kaya gitu trauma loh bukanya suka malah benci
Nalara amora: kaaaaaaa😭😭
total 1 replies
partini
good story
Nalara amora: ahhhhhh makasihh kaaa😄🤭🤭
total 1 replies
partini
busettt agresif sakleeee angel ini pura ' nih ceo ga mau di kokop 🤭
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu
Nalara amora: tebak hayoo kaa🤭🤭
total 1 replies
partini
ya elah di tuduh menggoda dasar CEO 1/2 ons ,,noh si angel datang jadikan pelampiasan emosi mu dasar CEO murahan
partini: esmosi aku thor🤭🤭 ,cegil ga boleh bersentuhan ma laki" lain eh dianya mah bebas grepek"😂
total 2 replies
Nalara amora
bagus bgt nih cerita nya, rekomendasi buat yg pengen baca yg manis manis plus ada tom and jary nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!