Niat awal Langit ingin membalas dendam pada Mentari karena telah membuat kekasihnya meninggal.Namun siapa sangka ia malah terjebak perasannya sendiri.
Seperti apa perjalanan kisah cinta Mentari dan Langit? Baca sampai tuntas ya.Jangan lupa follow akun IG @author_receh serta akun tiktok @shadirazahran23 untuk update info novel lainnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Perlahan, Langit berjalan mendekati dua wanita beda generasi itu. Dari pantulan cermin, Mentari melihat keberadaannya. Ia terkejut dan refleks hendak berdiri, namun Langit mengangkat tangan, memberi isyarat halus agar ia tetap diam.
“Sayang…” ucap Langit pelan.
Minara menoleh. Senyum muncul di wajah kecilnya, rasa takutnya tadi sudah hilang begitu saja.
“Papa jangan marahin Tante Tari, ya? Mina suka dia,” ucap Minara lembut, polos sekali.
Langit tersenyum tipis.
“Apa Papa membuatmu takut tadi?” tanyanya pelan.
Minara mengangguk.
“Baiklah… maafkan Papa, ya, Nak.”
“Tapi Papa harus janji… jangan marahin Tante Tari,” tekan Minara lagi, tatapannya serius seperti anak kecil yang sedang menuntut janji besar.
Langit menatap Mentari,wanita yang saat itu memangku putrinya dengan penuh kasih,lalu mengangguk pelan.
“Papa janji,” jawabnya.
“Hore!” Minara langsung turun dari pangkuan Mentari karena terlalu senang. Ia melompat-lompat kecil penuh semangat.
Namun gerakan itu membuat Langit membeku.
Tubuh Minara… berdiri. Kakinya menahan beban dengan stabil, seolah ada kekuatan baru di dalam dirinya. Padahal selama ini, gadis kecil itu hampir selalu bergantung pada kursi roda.
“Sayang… kamu…” suara Langit bergetar. Matanya berkaca-kaca melihat putrinya berdiri tegak sesuatu yang sangat jarang dilakukan Minara karena kondisinya.
“Terima kasih, Papa…” Minara memeluk sang ayah erat-erat, sementara Langit hanya bisa membalasnya dengan tangan bergetar, tak mampu menyembunyikan rasa haru yang membanjiri dadanya.
Ia menatap Mentari dengan mata berkaca-kaca,seolah mengucapkan terima kasih tanpa suara. Karena wanita itulah, Minara kembali menunjukkan perubahan.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
Riko muncul, mengingatkan Langit bahwa ia masih punya jadwal penting di kantor.
“Sayang, Papa mau bicara dengan Tante Tari dulu. Mina tunggu di luar sama Om Riko sebentar, ya,” ucap Langit lembut.
Minara menatap Langit dengan ekspresi mengancam ala anak kecil,seakan berkata kalau Papa marah lagi, Mina nggak mau bicara.
Langit tersenyum tipis.
“Papa cuma bicara, tidak akan menyakitinya. Papa janji.”
Baru setelah mendengar itu, Minara mengangguk.
Riko menggendong Minara dan membawanya keluar, meninggalkan Langit dan Mentari berdua di dalam kamar.
Begitu pintu tertutup, wajah Langit kembali dingin seperti es.
“Mulai sekarang kau jadi pengasuh Minara,” ucapnya datar.
“Perhatikan pola makan, kebiasaan, dan apa pun yang bisa mengganggu kesehatannya. Jika terjadi sesuatu yang tidak seharusnya… aku tidak segan-segan membunuhmu.”
Kata-kata itu menghantam seperti pedang. Mentari menelan ludah, tapi ia tidak mundur.
“Apa aku boleh pulang dulu?” tanyanya tenang, meski jelas ia sedang menahan gugup.
Langit menatapnya tajam, tatapannya menusuk tanpa belas kasihan.
“Aku tidak akan kabur,” lanjut Mentari lirih. “Aku akan menerima setiap hukuman yang kamu berikan.”
Ia menarik napas, mencoba tetap tegak.
“Aku hanya butuh mengambil beberapa pakaian dan keperluan lainnya. Hanya itu.”
Langit akhirnya mengangguk tipis.
“Setelah Minara tidur, sopir akan mengantarmu. Tapi ingat…” suaranya merendah, dingin, mengancam.
“Kemanapun kau pergi, aku akan tahu. Jangan coba-curang padaku.”
"Kau bisa mempercayaiku,” balas Mentari lirih.
Sesuai permintaannya, hari itu Mentari pulang ke rumahnya diantar oleh sopir Langit. Dengan langkah pelan, ia membuka pintu rumah yang beberapa hari ini ia tinggalkan Dindingnya terasa dingin… sepi… seperti tidak ada lagi jejak kehidupan di sana.
Ia berjalan menuju kamarnya, membuka daun pintu yang berderit pelan.
Dengan berat hati, Mentari mengambil tas besar, lalu membuka lemari dan mulai memilih beberapa pakaian. Tangannya bergerak otomatis.
Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Mentari terkejut, tubuhnya refleks berusaha melepaskan diri.
“Sayang… ini aku,” ucap Abi pelan.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Bi?” suara Mentari bergetar. Ia masih berontak, mencoba melepaskan diri, namun pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
“Aku merindukanmu, Mentari…” bisik Abi lirih.
“Lepas, Bi. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi,” balas Mentari tegas meski suaranya pecah.
Abi memutar tubuh Mentari paksa, lalu menempelkannya ke dinding yang dingin. Kedua tangannya menahan bahu Mentari agar tidak bisa pergi. Tatapannya tajam… berbahaya.
“Sudah kukatakan padamu… aku tidak ingin putus. Apa kau tidak mengerti?” tekan Abi, suaranya rendah namun mengancam.
“Aku tidak pernah menyangka kamu akan seegois ini,” balas Mentari, menatap balik tanpa gentar. “Tapi apa pun itu… aku tetap tidak mau kembali padamu.”
Wajah Abi berubah semakin gelap.
“Dasar wanita tidak tahu diri!” bentaknya. “Sudah untung aku mau sama kamu,kamu itu narapidana! Kenapa kamu keras kepala sekali?!”
Mentari menahan napas, matanya memanas.
“Dan aku menyesal, Bi. Ingat… yang membuat aku jadi narapidana itu kamu!” suaranya meninggi, penuh luka.
“Andai saja aku tidak menerima mobil itu atas namaku… andai saja malam itu aku tidak membawa pulang mobil yang kamu pakai… mungkin nenekku masih ada. Dan mungkin… bukan aku yang masuk penjara. Tapi kamu!”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya. Mentari tersentak, tubuhnya goyah. Abi yang melakukannya tanpa ragu.
“Jangan sembarangan bicara! Aku tidak melakukan apa-apa! Kau yang membunuhnya, bukan aku!” suara Abi bergetar, entah antara marah atau ketakutan.
Mentari memegangi pipinya yang memerah dan perih. Matanya berkaca-kaca, namun suaranya tetap tenang.
“Kau yang paling tahu kebenarannya, Abi. Dan aku… aku hanya wanita tolol yang berkorban untukmu.”
Bersambung…
Riko. kasian ya di culik hingga sepuluh tahun baru di ketemukan oleh kakanya
Riko ga boleh cemburu ya Ok
sendiri. orang tua luknat 🤮 muntah Rini nasib nya menyedihkan sekali pantas ga mau menikah karena sudah ga perawan
biadap sekali menghancurkan seorang gadis yang akan menjalin sebagai pasangan jahat,, apabila masih hidup, kelak renta Jangan di tolong terkecuali
tunggu sampai muncul atau update lgi 👍😁
semoga belum janda wekkk
gugu di tiru,,,,dan dokter Siska nanti apa akan membalas ke langit dan mentari seandainya tau awal mulanya,,,jangan ya saling mengasihi dan berbalik hati karena kalau selalu bermusuhan hidup seperti di neraka' ga nyata ga fiksi, Ok lanjutkan,,,lope lope sekebon jengkol buat Author bunga ya jengkol mahal 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹😂
jangan ada pelakor atau apapun lho thor,baru aja bahagia ,sdh bikin deg2an ini 🙏🙏, jangn digoncang lg lah thor kasihan 🙏🙏