My bad story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaLebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
***
Matahari sudah tenggelam, meninggalkan jejak jingga di langit Jeju. Renzi dengan licik telah memesan vila mewah yang terpencil, jauh dari keramaian.
"Kenapa kita nggak balik aja ke hotel masing-masing?" keluh Karmel dengan nada kesal, matanya memancarkan ketidakpuasan.
Renzi dengan sengaja mengabaikannya dan berpaling ke Nani. "Ibu pasti capek kan seharian tour?" tanyanya dengan suara lembut yang dibuat-buat.
"Lumayan, Renz. Makasih ya," jawab Nani dengan tulus, tak menyadari ketegangan antara mereka.
"Biar ibu istirahat dulu. Lagian aku udah pesan paket massage and spa tradisional Jeju buat ibu," ujar Renzi sambil tersenyum penuh arti, mengetahui bahwa ini akan membuat Nani senang dan mengalihkan perhatiannya.
"Nggak papa ya, Mel, kita nginep sehari di sini," pinta Nani dengan wajah penuh harap.
Karmel menghela napas, menyerah. Dia tak bisa menolak permintaan ibunya. "Iya, Bu," jawabnya dengan pasrah.
Ms. Park, pemandu wisata mereka, segera diajak Renzi untuk menemani Nani selama sesi spa. Kini, hanya Karmel dan Renzi yang tersisa di vila mewah itu.
Begitu Karmel masuk ke kamarnya dan hendak menutup pintu, Renzi dengan kasar mendorong pintu itu terbuka dan memaksa masuk.
"Apa-apaan sih kamu!" seru Karmel, suaranya bergetar antara marah dan takut. "Keluar!"
Renzi menatapnya dengan tatapan dingin, matanya menyipit penuh penghinaan. "Aku dengar kamu udah jadi Manager Pengembangan, ya?" tanyanya dengan nada sinis. "Kenaikan jabatan yang... terlalu signifikan untuk seorang pegawai baru."
"Bukan urusan kamu!" balas Karmel, berusaha menunjukkan keberanian.
Renzi mendekat, langkahnya penuh ancaman. "Hmmm, coba biar aku tebak-tebak. Apa yang bisa seorang Karmel Agata lakukan supaya bisa diposisinya sekarang." Suaranya semakin rendah, penuh ejekan. "Tidur sama atasan kamu?!"
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Renzi. Dia terkesiap, memegang pipinya yang memerah. Namun, alih-alih marah, senyum mengerikan justru muncul di bibirnya.
Dengan gerakan cepat, Renzi meremas kedua pipi Karmel, memaksanya untuk menatapnya. Satu tangannya menahan tubuh Karmel ke dinding.
"Perempuan murahan akan selalu jadi murahan," desisnya, setiap kata seperti racun yang menetes.
Tanpa ampun, Renzi membanting Karmel ke tempat tidur. Tubuh Karmel terpelanting, rasa sakit dan ketakutan menyergapnya. Renzi berdiri di atasnya, wajahnya gelap, menunjukkan sisi paling kejamnya yang selama ini tersembunyi di balik senyum manisnya.
Renzi menindih tubuh Karmel dengan berat, mengunci setiap kemungkinan untuk melarikan diri. Tangannya yang kuat mencengkeram pergelangan Karmel dengan erat, meninggalkan bekas kemerahan.
"Apa begini atasan kamu nyentuh kamu?" ejek Renzi dengan suara rendah penuh cemooh, matanya yang gelap memancarkan kegelapan yang membuat Karmel menggigil ketakutan.
"Lepas!" teriak Karmel, tapi teriakan itu seolah tenggelam dalam kesunyian malam Jeju yang sepi.
Renzi tak mengindahkan perlawanannya. Dengan gerakan kasar, ia memaksakan ciuman yang menyakitkan, membuat bibir Karmel terasa perih dan sedikit terluka. Rasanya seperti dikhianati oleh orang yang pernah paling dia percayai.
"Berhenti! Jangan!" seru Karmel dengan suara tercekik, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Lebih enak mana, Mel? Sama aku atau dia?" Renzi terus menyakiti dengan kata-kata, sambil tangannya dengan paksa merobahkan pakaian Karmel.
Tapi semua perlawanan itu sia-sia. Karmel merasakan setiap sentuhan Renzi seperti siksaan, setiap desahan napasnya seperti racun. Tubuhnya yang dulu pernah merespons dengan cinta, kini menegang dan menolak dengan segala kekuatan yang tersisa.
lanjut Thor plissssss🙏🙏🙏