Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sombong
Tanpa di jelaskan lagi, Mahen mengerti dengan apa yang Naya lakukan. Kemudian ia tersenyum begitu lebar dan mengusap pipi Naya dengan lembut.
"Ada apa sayang?" tanyanya tanpa canggung.
"Aghhh ini tidak sengaja bertemu dengan—teman lama!" cetus Naya dengan bicara sedikit tersendat.
Kemudian Mahen mengulurkan tangannya memperkenalkan diri, tapi Miko dan Shella tidak menggubrisnya. Dari wajahnya mereka terlihat kesal.
"Ternyata secepat itu Naya melupakanku!" batin Miko.
"Kenapa sih pacarnya yang sekarang lebih tampan dari Miko? Kenapa selalu beruntung kau Naya?" batin Shella.
"Apa ada yang akan kalian bicarakan lagi? Kalau tidak, kami permisi duluan!" ujar Naya.
"Ekhemmm ... Saya Miko direktur Jaya Corp. Kau dari keluarga mana? Sepertinya saya tidak pernah bertemu denganmu di acara mana pun?" tanya Miko.
Naya mengerjapkan matanya sejenak, ia melupakan hal itu. Di kalangan mereka, status dan latar belakang setiap orang adalah hal yang paling terpenting.
Memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal dan dapat di percaya.
Sementara Mahen tersenyum menyeringai, ia bisa menebak orang seperti apa Miko itu.
"Pacarku—" Naya belum selesai bicara, Mahen memotongnya.
"Saya hanya seorang fotografer," jawab Mahen jujur.
Naya menatap Mahen seraya mengernyitkan dahinya dan berbisik pelan, "kenapa kamu jawab jujur sih? Jatuh harga diriku!"
Miko dan Shella tersenyum menyeringai penuh ejekan.
"Ternyata gak lebih baik dariku!" cetus Miko.
"Tampan sih, tapi hanya seorang fotografer. Haha ..." Shella tertawa mengejek. "Tidak bisa di bandingkan sedikit pun dengan Miko!" sambungnya merasa menang.
Naya tidak bisa menahan diri lagi. Menghina orang lain tanpa berkaca pada diri sendiri yang sama sekali tidak sesempurna itu.
"Hehh ... Kau berani meremehkan pacarku?" cetusnya.
"Halah halah ... Tidak ada pria yang bisa menyaingiku. Seleramu jatuh sekali!" cetus Miko.
"Hehhh memangnya ada masalah apa denganmu kalau pacarku sekarang hanya fotografer? Yang terpenting dia itu setia, bukan tukang selingkuh!" cerca Naya.
"Ternyata seorang fotografer ini lebih terhormat dari pada seorang direktur yang suka main perempuan!" ucap Mahen penuh sindiran.
"Ka–kau!!!"
"eh ... Kau jangan macam-macam padaku, ya! Mau aku sebarkan bukti perselingkuhan itu?" ancam Naya.
"Sudah, jangan di ladeni lagi. Lebih baik kita pergi saja!" bisik Shella.
Tanpa bicara lagi, Miko dan Shella berlalu pergi.
"Resek banget tuh orang dua itu!" gerutu Naya.
"Selera mantanmu turun sekali. Dari waita cantik ke wanita itu ... Aghhh rugi sekali menyia-nyiakan wanita sesempurna dirimu!" tutur Mahen.
Kemudian Naya memukul lengan kekarnya itu. "Hehhh ... Ngapain kamu tadi pakek jujur segala sih?"
"Awww sakit tau!" Mahen mengusap lengannya itu. "Terus aku harus jawab apa? Apa aku harus mengaku sebagai direktur Nugo group?" ujarnya.
"Hehhh ... Lancang sekali mulutmu itu!" tegur Naya.
"Hmmmm ... Kenapa tiba-tiba memanggilku sayang? Tau kok tau ... Kamu manfaatin aku lagi!" cetus Mahen.
"Saya refleks aja! Udah deh ayo kita pergi. Nanti terlambat ke kantor!" Naya berlalu lebih dulu masuk ke mobil dan mengantarkan Mahen terlebih dahulu ke kontrakannya.
"Jangan sampai terlambat dan jangan lupa motor pak satpam balikin!" pesan Naya.
"Siap bu bos!" Mahen berlalu pergi.
Naya memperhatikan Mahen lalu merasa iba dan kasihan.
"Apa dia semiskin itu sampai ngontrak di gang sempit begini? Ya ampun, aku sampai lupa berterima kasih soal tadi udah bantuin aku. Aghhh aku terlalu gengsi ..." gerutu Naya.
Kemudian ia ingat dengan kemeja yang di muntahinya. Sebagai ucapan maaf dan terima kasih, Naya memesan beberapa pakaian untuk di berikan pada Mahen.
Naya sampai di rumah dan sudah di tunggu oleh kedua orangtuanya.
"Naya ... Kamu baru pulang? Sini duduk," ajak Suci.
"Ada apa? Muka kalian serius sekali," ujar Naya.
"Naya, Lusia itu sudah menikah. Apa sebaiknya kamu jangan lagi menginap di rumahnya, gak enak loh. Bagaimana kalau orang lain menilai tidak baik?" tutur Suci.
"Iya Naya. Apa yang mamamu katakan itu ada benarnya. Kami bicara seperti ini karena tidak mau kamu mendapat masalah ke depannya," timpal Ilham.
Berarti Lusia semalam menghubungi Suci dan Ilham seperti biasanya.
"Ma ... Pa ... terima kasih sudah selalu perhatian padaku. Tenang saja, setelah ini aku tidak akan menginap lagi di rumah Lusia. Lagi pula sekang kami jarang ketemu, kalian tenang saja, jangan terlalu khawatir soal itu."
"Baiklah. Papa harus pergi ke kantor sekarang, sana kamu siap-siap. Mau ke kantor juga, kan?" ujar Ilham.
"Iya, Pa."
"Papa duluan, ya." Ilham pamit pergi. Tidak lupa mengecup dahi kedua perempuan yang di sayanginya itu.
"Ma, aku mau mandi dulu." Naya berlalu ke kamarnya.
Sementara itu, Mahen selesai mandi dan di kejutkan dengan ketukan pintu. Bergegas membukanya dan cukup terkejut dengan kedatangan kedua orang berpakaian hitam-hitam dengan membawa beberapa paperbag di tangannya.
"Mas Mahen?" tanyanya.
"I–iya ... Ada apa ya?" tanyanya ragu.
Kedua orang itu nyelonong masuk dan meletakkan paperbag itu di atas meja. "Ini ada kiriman pakaian dari Nona Naya untuk Mas Mahen."
"Pakaian?"
"Tugas kami sudah selesai, kami permisi." kedua orang itu berlalu pergi setelah mendapatkan tanda tangan penerimaan barang.
Mahen membuka setiap paperbag itu dan senyuman tersungging di bibirnya. "Hmmm perhatian juga dia padaku. Walaupun bicaranya ketus, tapi cukup manis. Pasti dia berniat mengganti kemejaku yang kotor karena dirinya. Hahaa ... Lumayan lah ..." Mahen senang.