Stella seorang pegawai pajak, tiba-tiba terbangun di sebuah novel berjudul "love Anastasya", dia tak percaya namun sedetik kemudian rasa senang melingkupi hati nya.
akhir nya impian nya masuk ke dunia fiksi bisa terwujud.
Namun kesenangan itu berubah menjadi keresahan ketika mengetahui dia masuk ke tubuh antagonis anak tunggal kaya raya, yang berakhir mengenaskan.
Stella pun mengambil langkah berani, dengan keluar dari alur, dan menjalani kehidupan nya sendiri, namun akan kah semudah itu?.
Apalagi ketika tanpa sadar terlibat dengan antagonis pria, yang paling berkuasa di dunia novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ka nvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
antagonis
Stella tak suka sebetulnya nya pikiran pemeran utama Dava itu, wajah tampan saja tak cukup untuk penilaian, apalagi Anna yang di gambarkan polos itu. Karena beberapa ucapan yang keluar dari mulut nya itu berpotensi merugikan orang lain.
"Lalu dimana Damian sekarang? "
"Di belakang sekolah, Dava the geng sedang membully nya. "
Stella segera berjalan cukup cepat menuju belakang sekolah, langkah nya terhenti melihat bagaimana Dava dan geng nya membully Damian.
Wajah Damian dari rambut hingga baju nya di penuhi tepung, jangan lupakan dengan warna warna pink ah mungkin cat.
Stella hendak menghentikan mereka namun suara sistem memberi nya peringatan. "Tunggu Nona, ini sesuai dengan alur jangan anda rusak! "
"Sistem kau tak lihat mereka keterlaluan, mana ada pemeran utama yang seperti nya, bukan nya terlihat seperti antagonis!! "
Ujar Stella dengan kesal, apalagi melihat Dava yang entah mencekoki Damian apa, yang jelas Dava meminum kan sesuatu.
"Sistem, apa yang di berikan dava itu?! ".
" minuman pahit Nona, tak berbahaya hanya saja akan menimbulkan rasa pahit di mulut selama beberapa jam kedepan. "
Stella mengepalkan tangan nya, apalagi beberapa teman Dava juga ikut tertawa, sedangkan Damian hanya terdiam.
"Ini akibat nya kalau kau merayu Anna, dia hanya milikku, paham! kau ini hanya mainan Stella, perempuan tak tahu malu itu. "
Seru Dava, "Ya tahu diri lah, jangan berharap bisa mengambil milik ketua. " ucap vian sinis.
"Davaaaa... " pekik Anna dari kejauhan.
Stella yang menyembunyikan diri di balik tembok pun mendengus malas, membaca dari buku nya saja sudah sebal, apalagi melihat adegan nya secara langsung.
Ingin sekali dia pergi, tapi hey Damian itu target nya, perubahan apapun berpengaruh pada hidup nya, jadi Stella memilih mengamati.
"Dava apa yang kamu lakukan, jangan sakiti dia, dia gak salah. "
"An_na, kamu ngapain di sini. "
"Dava jangan sakitin orang lain, dia gak salah."
"Terus kenapa kamu tanyain dia? "
"Aku cuman tanya aja, gak ada niat lain. "
"Benar yah, aku cemburu Anna. "
"Ma_af Dava, aku cuman suka sama kamu."
Dava pun memeluk Anna, "Maaf Anna. "
"Aku anter kamu pulang, " lalu Dava pun menggenggam tangan Anna, dan mengkode teman nya yang lain untuk pergi.
Mereka pun pergi meninggalkan Damian yang terpejam rasa pahit nya sampai di tenggorokan, apalagi wajah, rambut, dan baju nya banyak sekali tepung dan ada cat pink.
Stella yang melihat itu melangkah mendekati Damian, "Sistem poin nya bisa tuker sama. madu dan tisu basah gak? "
"Bisa, jangan bilang anda akan membantu nya Nona, saran saya jangan Nona, biarkan saja. "
"lh kau ini, kriminal sekali otak mu itu, lagian ini tak ada di alur nya, yang berarti di luar alur novel, gapapa kan, lagian gak akan baik baik banget . "
"Ya anda coba saja Nona, soal nya pertama kali nya saya menghadapi Nona rumah aneh seperti anda. "
Tring
Sebuah madu dan tisu basah muncul di dalam tas Stella. Damian menundukan kepala nya, berusaha membersihkan baju nya, dia ingin mengusap kedua mata nya, namun tangan nya juga kotor.
Stella berdiri di depan Damian yang bersimpuh, Stella mengambil tisu basah di tas nya, lalu berjongkok, menangkup wajah Damian yang penuh tepung.
Damian yang memejamkan mata nya mengernyit panik, "Damian," lirih Stella, suara itu membuat Damian terdiam.
Tentu saja Damian mengenali suara itu, kendati tubuh nya bergetar kecil, Stella mengusap pelan wajah itu pelan, membersihkan nya dengan telaten.
Wajah ini, Stella hampir kehilangan fokus nya,dari dekat tambah tampan, namun Stella sedikit tersentak ketika kedua kelopak mata itu terbuka, menampilkan kedua bola mata yang indah, bulu mata yang panjang dan tebal, dan alis yang lebat.
Dunia seakan ikut membeku, Stella segera tersadar, melepaskan tangkupan pada wajah tampan itu, dan mengambil tangan Damian yang penuh tepung itu, membersihkan nya dengan tisu basah.
Damian terdiam menatap Stella yang sibuk sendiri. Merasa di tatap, menghela nafas. "Apa liat-liat, gara gara lo gue gak bisa pulang ini, kesel banget gue, apalagi liat lo kayak gini! "
Damian menatap Stella sendu, "Maaf, Stella pulang duluan aja, gak usah tungguin aku."
Stella gelagapan, "Ya gak bisa gitu dong, yang ada bisa abis gue di ceramahin sama Papi gue, lo tau kan! ah udah lah ngomong sama lo bikin emosi aja!! "
Damian tak menatap mata Stella lagi, "Kenapa lo? " tanya Stella berpura-pura tak tahu.
"Pahit" lirih nya
"Apa nya yang pahit, ck apa yang di kasih dedemit itu sama lo. " ucap Stella menggerutu.
Sembari mengambil madu yang bisa di sedot langsung, pokok nya seperti itu lah, lalu menyodorkan nya kepada Damian.
"Nih minum ini, cepet, kita harus pulang!"
Damian menatap madu di tangan Stella dan mengambil nya perlahan, dan meminum nya, "Masih pahit gak? " tanya Stella dengan ketus.
"Sedikit" lirih Damian.
"Udah kan, berdiri lo, kita harus pulang. "
"Tapi_Stella_nanti mobil nya kotor" lirih Damian.
Stella menatap Damian dari atas hingga bawah, benar juga, Stella menjentrikan jari nya. "Ikut gue. " ujar nya seraya menarik tangan Damian.
Dari belakang Damian menatap tangannya yang di genggam Stella, tanpa Stella sadari sang predator sedang mengaitkan sebuah tali tak kasat mata.
Stella membawa Damian ke sebuah toilet, suasana sekolah sudah sepi, tidak papakan Stella masuk ke toilet pria, tak aneh aneh juga.
"Nah, cepet bersihin diri lo, pake switer ini dulu sementara! cepet yah! " ujar nya ketus.
Stella menyodorkan switer berwarna coklat ke Damian, seperti nya cukup karena Stella menggunakan ukuran besar, entahlah Stella hanya suka saja, memakai nya membuat tubuh Stella nampak sedikit gemuk.
Damian mengerjap menatap switer itu, nampak ragu ragu, Stella berdecak kesal, lalu menaruh switer di tangan Damian, lalu menunggu di luar.
Cukup lama menunggu Damian keluar menggunakan switer Stella, Stella mengangguk ternyata cukup juga.
Menatap Damian, "Udah cepetan lama banget si lo, besok pake mobil yang lain aja! "
"Maaf Stella, aku nyusahin kamu,"
"Emang, ah udah lah males gue bahas nya, bisa gak sih kalau ada yang ganggu tuh lawan, lo cowo kan?! "
"Dia Dava" lirih Damian.
"Ya kenapa kalau Dava, siapapun lawan kek, ga cape di bully terus?! ".
" Bagus Nona ayo pancing lagi. "
"Iya Stella" lirih Damian.
" Bagus, ah cape gue, buruan jalan nya, gue mau pulang. "
lalu Stella pun pergi setelah mengucapkan itu yang di ikuti Damian. Muncul seringai kecil di wajah Damian, menatap punggung Stella dari belakang.
semnagattt💪😍😍😍