Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan Kedua
Willie menoleh ke arah Alia yang berlarian di halaman sambil mengejar kupu-kupu. Kemudian, ia menatap Tisha lagi.
"Alia sangat bergantung pada anda, saya lega akan hal itu. Tapi saya tidak tahu sampai kapan dia akan begitu. Saya juga tidak ingin memberatkan Bu Tisha terus menerus."
Willie melanjutkan, "Saya tahu ini terdengar konyol. Namun saya berpikir dengan kita menikah, itu lebih bijak. Saya akan berusaha memenuhi apapun yang Bu Tisha mau, sebagai balas jasa saya."
Tisha terdiam lama, "Saya benar-benar bingung dengan jalan pikiran anda. Kita tidak harus menikah hanya karena itu, lagipula saya tulus untuk Alia."
Willie menunduk, perasaannya campur aduk antara malu, sedih, dan kecewa. Harga dirinya sedikit terluka, ia jarang menerima penolakan.
"Kita tidak harus menikah seperti pasangan pada umumnya, apalagi dengan dasar tidak ada perasaan satu sama lain. Saya bermaksud mengajak anda melakukan pernikahan kontrak sampai batas waktu yang anda mau." kata Willie.
Tisha kaget mendengar itu. Ia tersenyum miris. "Pikiran anda benar-benar tidak bisa ditebak."
Willie bersikeras, "Saya akan mengirim penjelasan kontraknya ke surel anda nanti.
Tiba-tiba panggilan Alia mengagetkan keduanya, "Papa, lihat aku bisa menangkap kupu-kupu kecil." serunya.
Willie menoleh sebentar ke arah Alia, lalu menatap Tisha lagi. "Saya berharap anda bisa memikirkan lagi." ucapnya. Ia menunduk sekali lalu pergi begitu saja meninggalkan Tisha yang masih syok dengan pernyataan Willie.
"Hah, apa-apan itu. Dia benar-benar tidak terlihat normal." Dengus Tisha
***
Seperti biasa, saat Willie berada diluar kota, Alia tinggal dirumah Tisha. Kadang mereka pulang kerumah Alia hanya untuk mengambil baju dan perlengkapannya.
Tisha sudah mendapat email dari Willie yang berisi file beberapa kesepakatan untuk pernikahan kontrak. Namun Tisha tidak membalasnya, ia hanya membacanya sekilas.
Willie mengirimi pesan untuk Tisha, "Saya harap, anda bisa memberikan jawaban saat saya pulang nanti dan semoga itu adalah kabar baik."
Tisha menarik nafas panjang, ia bahkan tak berniat membalas pesan itu. "Kurasa dia sudah mulai gila sejak kepergian istrinya." gumam Tisha jengkel.
Namun sepertinya takdir berkata lain. Pagi itu, Alia tampak ceria seperti biasanya. Di sekolah, ia bermain bersama teman-temannya, menggambar rumah dan matahari besar dengan krayon warna kuning.
“Bu Tisha, lihat. Ini aku sama Papa. Nanti ada Mama dan Bu Tisha juga,” katanya polos sambil menunjukkan hasil gambarnya.
Tisha terkejut saat mendengar namanya ikut disebut, tapi ia mencoba menanggapi dengan senyum hangat, “Wah, gambar Alia cantik sekali.”
Saat jam bermain di taman sekolah, Alia tiba-tiba terhuyung. Bola yang tadi digenggamnya jatuh begitu saja. Wajahnya pucat, napasnya cepat dan pendek.
“Alia?” panggil Tisha cemas, berlari menghampiri. Anak itu tak menjawab, hanya menggigit bibirnya menahan pusing.
“Tunggu, Alia. Duduk dulu sayang.”
Namun belum sempat ia menopang tubuh mungil itu, Alia ambruk dalam pelukannya.
Beberapa guru segera berdatangan. “Ayo kita bawa ke UKS!”
Dengan panik, Tisha menggendongnya. Tubuh Alia terasa sangat ringan, bahkan terlalu ringan untuk anak seusianya.
Sesampainya di ruang UKS, wajah Alia semakin pucat, bibirnya membiru.
“Dia sangat lemah,” gumam salah satu guru sambil memeriksa denyut nadinya yang lemah.
"Kita harus segera membawanya kerumah sakit." ujar Ibu kepala sekolah.
Di perjalanan menuju rumah sakit. Tisha menggenggam tangan kecil Alia erat-erat.
“Sayang, kita sudah mau sampai. Ayo buka matanya, Nak.”
Namun Alia hanya terpejam, wajahnya tenang seolah sedang tidur, tapi kulitnya semakin dingin.
Tisha menahan air matanya, ia benar-benar merasa takut. Di hatinya, ia terus berdoa. Tak lagi sebagai guru, tapi seperti seorang ibu yang sedang berdoa agar anaknya baik-baik saja.
Begitu sampai di rumah sakit, para perawat langsung membawanya ke ruang gawat darurat. Beberapa saat kemudian, dokter berkata, "Anaknya mengalami anemia berat,” ujarnya.
“Tolong segera siapkan transfusi darah. Kita harus stabilkan dulu,” perintah dokter.
Tisha berdiri kaku di depan pintu ruang tindakan. Suasana terasa jadi lebih sunyi, hanya suara monitor jantung kecil itu yang terus berdetak melemah, lalu kuat lagi, seperti harapan yang naik turun bersama setiap tarikan napas Alia.
Tisha menekan panggilan ke nomor Willie dengan tangan gemetar. Bagaimanapun ayahnya harus tahu keadaan Alia, Pikirnya.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon terhubung. Dengan cepat Tisha memberi kabar, “Pak Willie, Alia tadi pingsan di sekolah, sekarang Alia sudah dirumah sakit."
Willie yang mendapat kabar dari Tisha merasa hatinya tak tenang. Ia langsung pulang sore itu juga dan bergegas ke rumah sakit tempat Alia dirawat.
Sesampainya di ruang perawatan, Willie berhenti sejenak di ambang pintu. Pandangannya tertuju pada sosok kecil di atas ranjang.
Putrinya terbaring lemah dengan selang transfusi darah menempel di tangannya. Di sisi ranjang, Tisha duduk menggenggam tangan gadis kecil itu erat-erat, wajahnya terbenam dibalik lipatan tangannya.
“Alia... nak,” suara Willie lirih. Ia melangkah mendekat, membelai rambut Alia pelan. Gadis kecil itu masih tertidur, wajahnya masih pucat.
Tisha mendongak pelan. Tatapan mereka bertemu sesaat. Terlihat mata Tisha sembab, seperti orang yang sudah lelah menangis.
“Aku akan panggilkan dokter,” katanya Tisha singkat, lalu bergegas keluar ruangan.
Beberapa menit kemudian, dokter masuk. Dengan nada hati-hati, ia menjelaskan hasil pemeriksaan.
“Dari hasil laboratorium, putri Bapak menunjukkan diagnosa thalassemia. Kondisinya tergolong berat. Ia akan membutuhkan transfusi darah rutin setiap beberapa bulan sekali.”
Willie terdiam. Dunia seakan berhenti berputar. Dokter melanjutkan, “Apakah ada salah satu dari orangtuanya yang mengidap sakit yang sama ?” tanyanya pelan.
Willie mengangguk, “Iya,” jawab Willie pelan. “Istri saya mengidap thalassemia ringan.”
Dokter menatapnya penuh pengertian. “Kami akan bantu semaksimal mungkin. Tapi mohon dukungan dari kuarga dan orang terdekat. Anak seperti Alia harus dijauhkan dari stres, diberi makanan bergizi, dan perhatian yang konsisten.”
Willie hanya bisa mengangguk lagi.
Setelah dokter pergi, ia kembali menatap putrinya. Perlahan ia berbisik, “Nak, Papa di sini...”
Lalu ia menoleh pada Tisha. “Bu Tisha, terima kasih. Untuk sekian kalinya, Anda yang pertama kali ada di sisi Alia."
Tisha menatapnya sejenak, lalu menghela napas. “Tidak apa-apa, Pak. Setidaknya kita tahu lebih cepat bagaimana kondisi Alia.”
Willie menunduk, suaranya bergetar.
“Maafkan saya. Saya sempat bersikap konyol pada Anda. Saya terlalu egois.”
Tisha mengangguk pelan, ada sedikit senyum yang samar di ujung bibirnya. Ia sudah mendengar dari dokter lebih dulu soal penyakit Alia.
Dan sejak saat itu, pikirannya berputar tentang tawaran pernikahan oleh Willie. Ia tahu, Alia butuh perhatian khusus. Sementara ayahnya, dengan pekerjaan yang begitu padat, tak mungkin bisa selalu ada.
Tisha menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa, Pak Willie,” ucapnya
“Lagipula... setelah saya pikirkan, saya juga bersedia.”
Willie menatap Tisha dengan mata yang seakan tak percaya. “Bersedia? maksud Anda?” suaranya pelan, seolah takut jika salah mendengar.
Tisha menatap ke arah Alia yang masih tertidur lemah. “Bersedia untuk pernikahan kontrak itu, Pak. Karena saya ingin Alia punya kasih sayang yang utuh dan merasa aman”