Revan adalah pria tampan dan pengusaha muda yang sukses. Namun di balik pencapaiannya, hidup Revan selalu berada dalam kendali sang mama, termasuk urusan memilih pendamping hidup. Ketika hari pertunangan semakin dekat, calon tunangan pilihan mamanya justru menghilang tanpa jejak.
Untuk pertama kalinya, Revan melihat kesempatan untuk mengambil keputusan sendiri. Bukan sekadar mencari pengganti, ia menginginkan seseorang yang benar-benar ingin ia perjuangkan.
Hingga ia teringat pada seorang gadis yang pernah ia lihat… sosok sederhana namun mencuri perhatiannya tanpa ia pahami alasannya.
Kini, Revan harus menemukan gadis itu. Namun mencari keberadaannya hanyalah langkah pertama. Yang lebih sulit adalah membuatnya percaya bahwa dirinya datang bukan sebagai lelaki yang membutuhkan pengganti, tetapi sebagai lelaki yang sungguh-sungguh ingin membangun masa depan.
Apa yang Revan lakukan untuk meyakinkan wanita pilihannya?Rahasia apa saja yang terkuak setelah bersatu nya mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Penasaran
Revan dan Eliana saling berpandangan begitu suara itu terdengar. Begitu pula dengan yang lain. Semua mata tertuju pada satu sosok yang baru saja melangkah masuk ke ruang keluarga.
Wajah Miranda seketika berubah cerah.
“Celin,” ucapnya sumringah.
“Terima kasih sudah mau datang.”
“Tentu saja, Tante,” jawab Celin manja sambil mendekat, lalu merangkul lengan Miranda.
“Demi Tante, apa sih yang tidak?”
Surya yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa menahan amarahnya. Rahangnya mengeras.
Ini pasti ulah Miranda, batinnya kesal.
Tak ada satu pun yang bersuara. Suasana seketika terasa canggung. Eliana memperhatikan dengan jelas bagaimana sikap ibu mertuanya begitu berbeda saat berhadapan dengan Celin, hangat, ramah, dan penuh perhatian. Berbanding terbalik dengan perlakuan yang ia terima.
Revan yang menyadari perubahan raut wajah istrinya segera menggenggam tangan Eliana lebih erat, seolah ingin menyalurkan kekuatan.
Eliana menoleh. Revan mengangguk kecil, tatapannya lembut namun meyakinkan, seolah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Eliana tersenyum tipis. Ia tahu apa yang harus ia lakukan.
Tak lama kemudian, mereka semua telah berada di ruang makan. Aneka hidangan tersaji rapi di atas meja panjang. Aroma masakan nan hangat memenuhi ruangan.
Revan menarik kursi untuk Eliana.
“ Silahkan duduk,” ucapnya lembut.
Eliana mengangguk dan duduk, sementara Revan mengambil tempat tepat di sampingnya.
Celin sempat melangkah mendekat, berniat duduk di sisi Revan. Namun sebelum niat itu terwujud, Riki yang peka membaca situasi langsung berdiri.
“Bro, gue duduk di sini, ya,” ucap Riki santai.
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung duduk di sebelah Revan.
Nadia yang melihat itu tersenyum kecil. Sementara Celin terpaksa menahan kesal, raut wajahnya jelas cemberut. Ia pun beralih duduk di sisi Miranda.
Satu per satu, mereka mulai mengisi piring dengan hidangan pilihan masing-masing.
Eliana menoleh pada suaminya, suaranya tenang namun terdengar jelas.
“Abang mau yang mana?”
Revan sempat tertegun. Ia memandang Eliana dengan sorot mata terkejut, bukan karena tidak suka, melainkan karena panggilan itu membuat hatinya menghangat… Dan begitu penuh makna.
Senyumnya mengembang. Ia tahu, ini bukan sekadar panggilan.
“Abang mau ayam bakar, dan sambal nya” jawabnya sambil menunjuk ke menu yang ingin kan.
Eliana mengangguk. Dengan telaten, ia mengambilkan apa yang Revan inginkan, lalu meletakkannya di piring suaminya.
Celin dan Miranda menahan geram melihat interaksi itu. Sementara yang lain justru tersenyum senang, menikmati kehangatan pasangan pengantin baru tersebut.
Riki, yang tak ingin suasana kembali tegang, ikut bersuara dengan nada bercanda.
“Dek,” katanya pada Nadia,
“Abang mau sayurnya. Tolong ambilkan, dong.”
Nadia langsung memahami maksud Riki. Ia tersenyum dan meraih piring Riki.
“Sini piringnya. Adek ambilkan.”
Melihat pemandangan itu, Ridwan tersenyum lebar.
“Melihat kalian begini, jadi ingin muda lagi, ya, Bu.”
Fatma mengangguk sambil tersenyum hangat.
“Iya, Yah. Manis sekali.”
Surya ikut menimpali sambil tertawa ringan.
“Jangan dong, Wan. Kalau kalian kembali muda, aku bagaimana?”
Miranda menoleh tajam ke arah suaminya. Namun Surya berpura-pura tidak menyadari tatapan itu.
Nenek Sonya berdeham kecil.
“Sudah, ayo makan dulu,” ucapnya bijak.
“Nanti acara manis-manisnya disambung lagi. Makanannya keburu dingin.”
Ia lalu menoleh pada Revan.
“Revan, pimpin do'a.”
Revan mengangguk dan memimpin do'a dengan khidmat. Setelah itu, mereka mulai makan.
Celin sesekali mencuri pandang ke arah Revan dan Eliana. Setiap interaksi kecil seperti tatapan, senyum, perhatian terasa seperti menusuk dadanya. Amarah dan iri bercampur jadi satu, membuat selera makannya lenyap.
Sementara itu, Revan sama sekali tak peduli. Dengan tenang, ia memotongkan daging untuk Eliana, lalu meletakkannya di piring sang istri.
Eliana tersenyum kecil dan tanpa diminta segera mengambilkan minuman untuk Revan.
Dua orang yang telah sah, tak akan memberi celah bagi siapa pun untuk masuk di antara mereka.
---
Makan malam telah usai. Kini mereka berkumpul di ruang keluarga. Suasana terlihat lebih santai, meski tetap menyimpan ketegangan yang samar. Revan dan Eliana duduk bersebelahan.
Celin duduk di sisi Miranda. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya tak bisa menyembunyikan perasaan yang bergejolak.
“Duh, pasangan pengantin baru,” celetuk Nadia sambil tersenyum jail.
“Nempel terus.”
“Iya, sudah kayak perangko,” timpal Riki sambil tertawa.
Semua tertawa kecil, kecuali Celin dan Miranda.
Surya ikut tersenyum lalu menatap Riki dan Nadia yang duduk berhadapan.
“Kamu kapan lagi, Riki? Jangan kelamaan, nanti keburu tua. Dengan yang di depanmu itu, kelihatannya cocok.”
Nadia dan Riki saling pandang, sama-sama terkejut.
“Loh… aku?” sahut Nadia spontan.
“Doakan saja, Om,” jawab Riki sambil nyengir.
“Semoga segera menyusul Revan dan dapat yang sesuai.”
“Kamu ke sini sama siapa, Nad?” tanya Eliana lembut.
Nadia menoleh, sedikit ragu.
“Eee… sama Riki,” jawabnya pelan.
“Lah, sudah ada hilalnya ini,” sahut Ridwan terkekeh.
Revan tersenyum kecil, lalu tiba-tiba wajahnya berubah lebih serius. Ia menegakkan tubuhnya.
“Maaf semuanya,” ucapnya tenang.
“Mumpung kita sedang kumpul, Revan ingin menyampaikan sesuatu.”
Semua mata tertuju padanya.
“Sekarang Revan sudah menikah,” lanjutnya.
“Dan Revan ingin mulai hidup mandiri bersama istri Revan. Kami berencana tinggal di rumah sendiri.”
Hening sejenak.
Miranda langsung bereaksi.
“Jadi kamu mau pindah? Tidak tinggal di sini lagi?” suaranya meninggi.
“Kamu tega meninggalkan Mama?”
Revan sudah menduga reaksi itu. Ia menatap ibunya dengan sabar.
“Siapa yang mau meninggalkan, Mama. Revan tetap anak Mama. Tapi sekarang Revan sudah punya istri. Izinkan Revan menjalani kehidupan rumah tangga Revan sendiri.”
“Kamu tega sekali, Re,” potong Celin tiba-tiba, tanpa malu.
“Meski sudah menikah, kan bisa tetap tinggal di sini, kalau aku yang menikah denganmu, aku akan tetap tinggal di rumah ini supaya bisa terus bersama Mama.”
Belum sempat Revan menjawab, Nenek Sonya sudah lebih dulu angkat bicara. Suaranya tegas.
“Cukup, Celin. Kamu sebaiknya diam. Di sini kamu hanya tamu, orang luar. Tidak perlu memberi pendapat yang tidak pada tempatnya.”
Wajah Celin memucat. Malu dan marah bercampur jadi satu. Ia menunduk tanpa suara.
Surya menoleh pada Revan.
“Kalau Papa setuju dengan pilihanmu,” katanya pelan namun mantap,
“bagaimana menurut Mama?”
Miranda terdiam sejenak.
Sebelum Miranda menjawab, Nenek Sonya kembali berbicara,
“Nenek setuju. Bagus kamu sudah berpikir sejauh itu.”
“Satu hal yang harus kamu ingat, Van utamakan kenyamanan dan keselamatan istrimu.”
Ridwan dan Fatma saling pandang. Senyum haru terukir di wajah mereka.
Mereka yakin Revan akan menjaga putri mereka sebaik-baiknya.
Malam semakin larut. Revan dan Eliana pun pamit untuk beristirahat.
Nadia dan Riki ikut berpamitan pulang.
Dion sudah pulang lebih dulu, karena ada hal yang harus dia selesaikan.
Celin pun pamit. Miranda mengantarnya sampai ke mobil.
“Kamu sabar dulu,” ujar Miranda mencoba menenangkan.
“Semuanya akan kembali seperti semula.”
Celin tidak menjawab. Ia hanya masuk ke mobil dan melajukannya keluar halaman, meninggalkan perasaan yang makin kusut.
Miranda kembali ke dalam rumah. Ruang keluarga sudah kosong. Ia melangkah menuju kamar. Baru saja membuka pintu, ia mendapati Surya berdiri dengan tatapan tajam.
“Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Miranda?” tanya Surya menahan emosi.
“Apa yang ada di kepalamu?”
“Kenapa sih, Pa?” jawab Miranda ketus.
“Kamu masih tanya kenapa?” suara Surya meninggi.
“Kenapa kamu mengundang Celin. Kamu tidak memikirkan perasaan menantu kita?”
“Ah, Papa lebay,” balas Miranda.
“Mama lihat Eliana baik-baik saja. Apa salahnya Mama mengundang Celin?”
“Itu menurutmu,” sahut Surya tegas.
“Tolong jangan hanya memikirkan keinginanmu sendiri. Ingat, tidak semua yang kamu mau harus terwujud.”
Miranda tersenyum angkuh.
“Siapa bilang? Buktinya selama ini semua yang aku mau bisa aku dapatkan. Dan bisa aku miliki sampai sekarang.”
Surya menarik napas dalam.
“Itu karena kebodohanku,” ucapnya getir.
“Tapi untuk anakku, aku tidak akan membiarkan ambisimu menghancurkan kebahagiaannya.” ia menatap istrinya dalam-dalam.
“Aku diam bukan berarti aku takut,
ada hati yang harus aku jaga, Revan dan Mama. Aku ingin kamu berubah, Miranda. Biarkan anak kita bahagia dengan pilihannya." Surya berusaha menasehati istrinya.
“Tapi jika kamu masih dengan keinginanmu, jangan salahkan aku kalau suatu hari aku bertindak tegas.”
Tanpa mereka sadari, percakapan mereka didengar oleh Revan yang berdiri di depan pintu. Revan begitu penasaran.
“Apa yang Papa dan Mama bicarakan?” tanyanya pelan.
“Kebodohan apa yang Papa maksud?”
jafi pinisirain.. 😁😁😁
sprti ny Revan, hrs menyia jan pengawslbsysngsn deh buat Elliana.
jingga segitu nyenilsi dxn ketidak sukaan ny pada Elliana