Karya pertama ku. jangan ada plagiat di antara kita❌❌❌
Apa jadinya, jika sang putri mafia, bertransmigrasi ke dalam sebuah novel cinta remaja. Menjadi tokoh figuran sebagai sahabat sang Antagonis wanita.
Yang akan mati di bunuh oleh sang Antagonis pria.
Sang antagonis pria, yang di gambar kan sangat terobsesi dengan sang protagonis wanita.
Dia yang akan membunuh sang antagonis wanita beserta kedua sahabat nya.
Namun sang Antagonis pria pun mendapat kan akhir yang buruk.
Mampu kah sang penjelajah waktu ini, merubah alur novel asli?
Atau, dia akan mati sama seperti di novel yang pernah ia baca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sean tidak sengaja melihat wajah aslinya Sofia.
Insiden memalukan yang menimpa Sofia pagi tadi akhirnya berlalu begitu saja. Namun, meski tubuhnya sudah bersih dan seragamnya telah berganti, rasa malu yang ia rasakan masih membekas di dalam hati.
Sore itu, Sofia terlihat mondar-mandir di apartemennya dengan wajah muram.
Pikirannya sedang dipenuhi satu hal.
Sebuah tas limited edition keluaran terbaru dari brand ternama yang baru saja diluncurkan minggu ini.
Tas itu sangat cantik.
Elegan.
Mewah.
Dan yang terpenting, hampir semua selebgram serta anak-anak sosialita sudah membicarakannya.
Sofia menginginkannya.
Sangat menginginkannya.
Sayangnya, harga tas tersebut membuatnya hampir putus asa.
"Kalau aku datang ke ulang tahun Jenny tanpa tas itu, pasti kalah saing."
Sofia menggigit bibir bawahnya.
Sebentar lagi ulang tahun Jenny akan tiba.
Ia harus tampil sempurna.
Bahkan lebih memukau daripada pemilik pesta itu sendiri.
Namun masalahnya...
Dari mana ia mendapatkan uang?
Meminta kepada orang tuanya jelas tidak mungkin.
Keuangan keluarganya pas-pasan.
Mereka bahkan harus bekerja keras untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
Meminta kepada Sean?
Belakangan ini Sean sangat sulit ditemui.
Pria itu seperti sengaja menjaga jarak darinya.
Sedangkan Ardiansyah...
Sofia menggeleng.
Menurut pengetahuannya, Ardiansyah hanyalah mahasiswa biasa seperti dirinya.
Ia sama sekali tidak mengetahui bahwa pria itu sebenarnya berasal dari keluarga yang sangat berpengaruh.
Karena kondisi keluarga Ardiansyah yang rumit, identitas aslinya memang jarang diketahui orang.
Sofia menghela napas panjang.
Lalu tiba-tiba matanya berbinar.
Sebuah ide muncul di kepalanya.
"Tante Grace."
Senyum perlahan terukir di bibirnya.
Dulu, setiap kali Amelia dianggap melakukan kesalahan terhadap dirinya, keluarga Sudibyo selalu berusaha menghiburnya.
Terutama Grace.
Wanita itu sering mengajaknya berbelanja.
Membelikan pakaian.
Sepatu.
Aksesori.
Bahkan barang-barang mahal yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.
Kalau rencananya berhasil...
Bukan tidak mungkin ia bisa mendapatkan tas itu secara cuma-cuma.
Tanpa membuang waktu, Sofia segera berangkat menuju kediaman keluarga Sudibyo.
*
*
*
Sore itu, matahari mulai condong ke barat ketika Sofia tiba di depan gerbang megah keluarga Sudibyo.
Ia turun dari taksi online dengan senyum manis yang sudah dipersiapkan sejak tadi.
Langkahnya anggun.
Sikapnya lembut.
Persis seperti gadis baik-baik yang selama ini ia tunjukkan kepada semua orang.
Saat memasuki halaman rumah, Sofia melihat Amelia sedang duduk santai di teras.
Gadis itu tampak begitu nyaman membaca sebuah novel tebal sambil menikmati teh hangat.
"Sore, Kak Lia."
Sapa Sofia dengan suara manis.
Amelia mengangkat sedikit kepalanya.
"Hehm."
Hanya itu jawabannya.
Lalu kembali fokus pada novel.
Senyum Sofia sedikit berkedut.
Namun ia tetap mempertahankan ekspresi ramah.
"Kak Sean ada di rumah?"
"Tanya aja sama GPS."
Sofia berkedip bingung.
Amelia menutup novelnya perlahan.
"Gue bukan babysitter-nya Sean."
"Mana gue tahu dia ada di mana."
Jawabannya datar.
Tanpa emosi.
Sofia tersenyum kaku.
"Boleh Sofia masuk nggak, Kak?"
Amelia akhirnya menatapnya.
Tatapan itu membuat Sofia merasa seperti sedang diperiksa dari ujung kepala sampai kaki.
"Mau ngapain?"
"Kak Sean nggak ada."
"Nyokap bokap gue juga belum pulang."
Sofia menunduk sedih.
"Kak Lia..."
"Sofia cuma kangen Tante Grace."
"Boleh kan Sofia nunggu di dalam?"
Amelia terdiam.
Sejujurnya, selama ini Sofia memang cukup dekat dengan keluarganya.
Meski dirinya tidak menyukai gadis itu, tidak mungkin juga mengusir tamu begitu saja.
"Lagian mungkin dia kesepian tinggal sendiri di apartemen."
Amelia menghela napas.
"Ya udah."
"Tunggu di ruang tamu."
"Cepetan masuk sebelum gue berubah pikiran."
Mata Sofia langsung berbinar.
"Terima kasih, Kak."
Namun baru beberapa langkah mereka berjalan menuju pintu rumah...
Suara mobil terdengar memasuki halaman.
Brumm...
Sofia menoleh.
Mobil Grace baru saja berhenti.
Seketika sebuah ide muncul di kepalanya.
Mata Sofia berkilat licik.
Detik berikutnya...
Bruk!
Ia menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai.
Tubuhnya menghantam keramik dengan cukup keras.
Sebelum Amelia sempat bereaksi, Sofia diam-diam mencubit pahanya sekuat tenaga.
Rasa sakit itu langsung membuat matanya berair.
Tangis pun mengalir deras.
Amelia membelalak.
"Ini anak kenapa lagi?"
Sofia bersimpuh di lantai.
Air matanya jatuh tanpa henti.
"Kak..."
"Sofia mohon..."
"Biarkan Sofia ketemu Tante Grace..."
"Sofia cuma kangen Tante..."
Amelia menatapnya seperti melihat makhluk aneh.
Bahkan beberapa detik ia benar-benar tidak bisa memahami apa yang sedang terjadi.
Saat itulah Grace turun dari mobil.
"Sofia?"
Wanita itu langsung berlari mendekat.
"Ya ampun!"
"Kamu kenapa, Sayang?"
Grace membantu Sofia berdiri.
Melihat itu, Sofia semakin menangis.
"Tante..."
Grace langsung menoleh ke arah Amelia.
"Lia!"
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan pada Sofia?"
Amelia mengangkat sebelah alis.
Sedangkan Sofia buru-buru menggeleng.
"Tante..."
"Ini bukan salah Kak Lia."
"Kak Lia pasti nggak sengaja mendorong Sofia."
"Aku yang memaksa ingin bertemu Tante..."
Kalimat itu sukses membuat Grace salah paham.
Wajah wanita itu berubah.
"Lia!"
"Kamu keterlaluan!"
"Sofia itu adik sepupumu!"
"Kalau memang nggak suka, bukan berarti kamu boleh kasar!"
Amelia menghela napas panjang.
Ia benar-benar kagum.
Kemampuan akting Sofia semakin meningkat.
"Mamah lihat nggak?"
Grace terdiam.
"Maksud kamu?"
"Mamah lihat Lia dorong dia?"
Tanya Amelia santai.
Grace sedikit ragu.
"Ya... tidak."
"Tapi Mama datang dan melihat Sofia sudah jatuh."
"Lihat siku Sofia sampai merah begini."
Amelia melirik siku Sofia.
Memang memerah.
Namun itu akibat ulahnya sendiri.
"Kalau Mama nggak lihat."
"Jangan nuduh sembarangan."
"Itu namanya fitnah."
Suasana langsung hening.
Amelia lalu berdiri.
Suaranya tetap tenang.
Namun setiap kata yang keluar terasa tajam.
"Rumah ini ada CCTV."
"Kalau penasaran, cek aja."
Selesai berkata demikian, Amelia berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Tanpa sedikit pun menoleh.
Meninggalkan Grace dan Sofia yang membeku di tempat.
Di dalam hati, Grace mendadak merasa tidak nyaman.
Belakangan ini hubungannya dengan Amelia memang mulai membaik.
Namun insiden tadi membuat semuanya kembali canggung.
Ia mengenal putrinya.
Dan untuk pertama kalinya...
Grace merasa Amelia mungkin tidak berbohong.
Sementara itu, Sofia mulai panik.
Wajahnya tetap terlihat sedih.
Tetapi jantungnya berdebar kencang.
"CCTV?"
"Sial!"
"Gue lupa soal CCTV!"
Kalau Grace benar-benar memeriksanya, semuanya akan berakhir.
Bukan hanya tas yang gagal didapatkan.
Citra baik yang selama ini ia bangun juga bisa hancur.
Sofia segera mengambil keputusan.
Ia harus pergi.
Sekarang juga.
Beberapa menit kemudian, ia memeluk Grace sambil menangis.
"Maaf ya, Tante."
"Sofia cuma kangen keluarga."
"Sampai bikin Kak Lia marah."
Grace mengusap kepalanya lembut.
Sofia lalu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah tersebut.
Tanpa mereka sadari...
Sepasang mata memperhatikan seluruh kejadian itu.
Dari jendela kamar lantai dua.
Sean berdiri diam sejak awal.
Ia menyaksikan semuanya.
Mulai dari kedatangan Sofia.
Percakapan dengan Amelia.
Hingga drama jatuh dan tangisan yang baru saja terjadi.
Sean terdiam cukup lama.
Pikirannya kacau.
Selama bertahun-tahun ia selalu menganggap Sofia sebagai gadis baik dan polos.
Namun apa yang baru saja ia lihat...
Tidak sesuai dengan gambaran yang selama ini ia percayai.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sean mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Selama ini...
Apakah ia sudah salah menilai seseorang?
Dan jika benar Sofia yang berbohong...
Berapa banyak, kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Amelia karena mempercayai gadis itu?