Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DI DALAM ABU
Beberapa saat kemudian Anaxa sampai di kampus setelah melakukan aksi kebut-kebutan goes sepeda bahkan dirinya hampir nabrak pengguna sepeda motor di jalan. Pakaian atasnya basah oleh keringat. Kaki juga terasa seperti jelly akibat memaksakan diri goes secepat mungkin. Dan tentu saja energi tubuh Anaxa langsung banyak terkuras. Nafas ngos-ngos an. Namun, Anaxa tetap melangkahkan kaki nya ke ruang administrasi mahasiswa.
Sampai di depan pintu, Anaxa mengetuk pelan lalu masuk kedalam ruangan setelah diperbolehkan untuk masuk. Anaxa duduk di kursi dan kemudian mulai bertanya kepada orang yang bertugas disana.
"Saya Anaxa Daemyn Elrad dengan NIM 2802294881 jurusan psikologi. Bisa bantu saya untuk mendapatkan nomor telepon Alya atau alamat tempat tinggalnya? Ada urusan kelompok belajar yang lumayan mendesak."
"Baik. Bisa dibantu untuk menyebutkan nama lengkap dan NIM yang bersangkutan?"
"Tentu. Nama lengkapnya Alya..."
Bunyi keyboard yang ditekan pun berhenti. Orang administrasi itu menatap Anaxa seolah menunggunya memberi lanjutin informasi. "Bisa disebutkan lagi nama lengkapnya?"
Dan Anaxa seketika tersadar, bahwa selama ini dia juga tidak tahu nama lengkap dan NIM seorang gadis yang akhir akhir ini sempat dekat bahkan secara tidak langsung merasuk dan mempengaruhi kehidupan nya.
Anaxa tersenyum lemah. "Boleh lihat daftar absensi kelas psikologi G27L semester 5 dengan bu Aglaea sebagai dosen pembimbing? Aku... lupa lupa ingat nama panjangnya."
Dan orang administrasi tersebut langsung mengikuti instruksi Anaxa. Selain mencatat nomer telepon Alya dan alamat tempat tinggalnya, dia juga mencatat informasi tentang.. Keenan. Dimas. Dan Ribka.
"Tunggu sebentar" Anaxa berucap dalam hati. Dia mengernyitkan dahinya. Mendadak salah satu mesin di otaknya bergerak dan membuat sirkuit di otaknya juga ikut berputar. Dia hampir melupakan kehadiran Ribka yang absen pada kejadian drama hari ini. Bahkan gadis itu tidak disebut Dimas dan Keenan saat merencanakan kerja kelompok di kos Anaxa.
Dia yang tadinya sudah mau pergi meninggal kan ruangan kembali duduk dan bertanya ke orang administrasi tersebut. "Apakah Ribka Nathania hadir di perkuliahan pada hari ini?"
Ketikan keyboard mulai terdengar lagi. Bahkan orang administrasi tersebut sempat membuka laci meja, mengeluarkan map arsip, dan menarik selembar kertas keterangan sakit.
"Orangtua yang bersangkutan baru saja memberikan surat dokter. Dirawat di RS Sekar Ayu akibat demam berdarah." Anaxa langsung membaca surat keterangan sakit yang disodorkan ke arahnya.
"Baik. Terimakasih atas bantuannya" Ucap Anaxa, mengulas senyum sopan lalu pergi ke luar ruangan administrasi. Dirinya merasa bisa bernafas sedikit lebih bebas.
Satu tugas sudah selesai. Dan setelah Anaxa berpikir ulang, menghubungi teman-temannya lalu meminta maaf lewat panggilan telepon malah berpotensi untuk ditolak sepihak atau nomornya akan di block. Sehingga Anaxa pada akhirnya memilih opsi yang lebih aman. Dia berencana untuk menjenguk Ribka di rumah sakit dan meminta maaf kepada yang lain, melalui Ribka sebagai perantara.
Kini Anaxa melangkahkan kakinya menelusuri lorong kampus. Para mahasiswa masih memadati kampus walau sore segera berganti malam. Pembicaraan saling sambung menyambung antar mahasiswa.
Dan pada awalnya Anaxa acuh tak acuh pada keributan sekitar, tapi entah kenapa telinganya menangkap suatu nama yang diucapkan oleh seorang mahasiswa yang sedang bergosip di belakangnya. "Kamu tau gak? Bu Aglaea yang dosen baru itu... " Dan pergerakan Anaxa sukses terhenti. Dia membalikkan badan, kemudian mendekat ke gerombolan gosip, mencoba mendapatkan info lebih lanjut.
"Iya tau tau! Yang killer itu kan?!"
"Iya yang itu. Aku baru dengar dari yang lain kalau bu Aglaea dipanggil oleh anggota dewan kampus!" Ucap mahasiswa tersebut, yang tak hanya membuat teman gosipnya kaget, Anaxa sendiri yang mencuri dengar juga ikut kaget.
"Kasus bro kasus!"
"Katanya ya, ada yang laporin kalau bu Aglaea melakukan penelitian ilegal terhadap mahasiswa yang diajarnya sendiri."
"Serius itu beneran? Kok serem banget ya..." Mahasiswa yang bergosip ria itu malah merinding sendiri. Dan Anaxa sadar bahwa kejadian yang sedang digosipkan itu terjadi akibat laporan dari dirinya.
Tanpa berpikir panjang, Anaxa melangkah lagi lebih dekat dan langsung menembakkan pertanyaan. "Ada yang tau bu Aglaea dimana?"
Para mahasiswa yang bergosip tadi sempat kaget saat ditanya Anaxa tiba-tiba, tapi dengan cepat menjawab. "Gak tau. Bahkan dewan kampus juga lagi cari bu Aglaea. Udah dipanggil dari terakhir dia beres kelas, tapi belum datang-datang."
"Oke. Makasih." Ucap Anaxa. Dia ingin lanjut melangkahkan kakinya keluar lorong kampus, namun dirinya mendadak menyadari bahwa semua mahasiswa di dekatnya menyebutkan satu nama dan satu kejadian yang sama...
Bu Aglaea dan penelitian ilegal
Anaxa meneguk ludahnya, tidak mengira suasana kampus akan se chaos ini akibat dirinya. Dan tanpa sadar pikiran nya yang semula ingin meminta maaf melalui perantara Ribka, malah berganti fokus ke Bu Aglaea
Menit demi menit berlalu. Anaxa menghabis kan waktu untuk bertanya dimana kah bu Aglaea saat ini. Namun sebagian besar yang ditanya hanya menggeleng tidak tahu. Sebagian lain malah mengulang informasi tentang anggota dewan kampus yang juga mencari kehadiran nya. Dan itu semua sukses memperparah rasa frustasi Anaxa
Jujur saja, Anaxa mulai capek mengelilingi kampus untuk terus bertanya sekaligus mencari keberadaan bu Aglaea. Dirinya hampir pasrah, tapi tanpa diduga seorang mahasiswa yang tak dikenal Anaxa berlari mendekati nya.
"Ya?"
"Aku dengar kakak lagi cari bu Aglaea kan?"
"Iya benar. Dimana dia sekarang?"
"Aku pas pas sama bu Aglaea di tangga darurat. Jalan ke atas. Setengah jam lalu."
Dengan cepat Anaxa mengucap terimakasih dan langsung menuju tangga darurat. Dia melangkah naik, tapi mendadak bingung ke lantai berapakah bu Aglaea pergi?
Dan Anaxa tadinya mau mengecek mulai dari lantai tiga. Tapi indra penciuman nya samar-samar mencium bau asap terbakar. Anaxa mencoba mencari sumber baunya. Dan semakin Anaxa ikuti, semakin dekat pula dirinya ke pintu rooftop kampus.
Anaxa melihat pintu yang biasa terkunci gembok, kini malah sedikit terbuka. Lalu Anaxa memberanikan diri untuk membuka lebar pintu rooftop. Kedua mata pria itu langsung tertuju ke sosok bu Aglaea yang berdiri membelakangi Anaxa.
"Bu Aglaea?" Panggil Anaxa
Namun yang dipanggil sama sekali tidak menjawab, bahkan tidak terkejut sekalipun saat ada seseorang yang menemukan keberadaan dirinya.
"Bu Aglaea?" Panggil Anaxa lagi sembari melangkah mendekat ke arah dosennya. Dan secara tiba-tiba, dosen itu membuang beberapa halaman kertas dan membiarkan nya dilahap api hingga hangus.
Anaxa sampai ke hadapan bu Aglaea. Lalu tatapan matanya mengarah ke tumpukan dokumen, kertas arsip, foto dokumentasi penelitian, bahkan Anaxa terkejut setelah matanya mengenali sisa sisa buku yang sempat dia pinjam beberapa kali untuk tugas.
"Catatan Observasi Longitudinal Perubahan Perilaku pada Mahasiswa Dewasa Awal"
Keterkejutan terpatri jelas di wajah Anaxa. Dengan gerakan patah-patah, Anaxa mengangkat kepalanya dan menatap bu Aglaea. Dosen perempuan itu malah membalasnya dengan tatapan dingin sembari melipat kedua tangannya di dada.
Sebelum Anaxa sempat mengatakan satu patah kata pun, ucapan bu Aglaea langsung membuat Anaxa mematung di tempat dan juga merasakan kengerian yang tak pernah pria itu alami seumur hidupnya.
"Kalau bukti fisiknya hilang, semuanya bisa dianggap rekayasa kan?'