NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM YANG INGIN DI PERTAHANKAN

Malam semakin larut ketika pesta ulang tahun pernikahan Alexander dan Viviene akhirnya berakhir. Para tamu mulai meninggalkan kediaman keluarga Sinclair setelah menghabiskan waktu dalam suasana penuh kehangatan. Beberapa anggota keluarga masih terlihat berbincang di ruang utama, sementara para pelayan mulai membereskan sisa-sisa jamuan. Elma berdiri di samping Maxime yang sedang berbincang dengan ayahnya. Setelah memastikan tidak ada lagi urusan yang perlu diselesaikan, ia berniat mengajak suaminya pulang.

"Kita sebaiknya berpamitan sekarang," bisik Elma ketika Maxime kembali berdiri di sampingnya.

Maxime menoleh. "Sudah mengantuk?"

"Sedikit".

Maxime mengangguk, kemudian menggenggam tangan Elma. Keduanya berjalan menghampiri Alexander dan Viviene untuk berpamitan. Namun, sebelum Elma sempat mengucapkan selamat malam, suara Margaret terdengar dari belakang mereka.

"Kalian mau pulang?"

Elma tersenyum sopan. "Iya, Oma. Terima kasih untuk malam ini. Acaranya menyenangkan sekali."

Margaret menggeleng pelan. "Tidak boleh pulang."

Elma mengerjapkan mata. "Kenapa, Oma?"

"Kalian menginap saja malam ini. Oma masih ingin menghabiskan waktu bersama kalian. Apalagi Oma sudah lama tidak punya kesempatan berbincang dengan cucu menantu kesayangan Oma."

Elma tertawa kecil. "Tapi, Oma..."

"Jangan membantah. Kamar kalian masih ada, semuanya juga sudah disiapkan. Lagi pula ini kan akhir pekan, kenapa kalian harus terburu- buru".

Elma spontan melirik Maxime. Tatapannya jelas mengandung sebuah permohonan. Ia berharap suaminya memahami maksudnya dan memberikan alasan agar mereka tetap bisa pulang. Sayangnya, Maxime justru memberikan jawaban yang sama sekali tidak diharapkannya.

"Itu ide bagus, Oma. Kami akan menginap malam ini."

Elma langsung menoleh.

Maxime tersenyum tipis kepada Margaret.

"Maxime," panggil Elma pelan.

"Ada apa?" tanyanya seolah tidak memahami keberatan istrinya.

Elma menyipitkan mata. "Kita belum membicarakannya."

"Tidak ada masalah, bukan? Oma ingin menghabiskan waktu bersama kita."

Margaret tampak puas mendengar jawaban cucunya. Ia kemudian menepuk lembut tangan Elma.

"Nah, begitu. Sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang. Besok pagi sarapan bersama Oma."

Elma hanya bisa tersenyum pasrah.

Begitu mereka memasuki kamar Maxime, Elma langsung melepaskan genggaman tangan suaminya. "Kau benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama."

Maxime yang sedang melepaskan jam tangannya menoleh. "Tentang apa?"

"Jangan pura-pura tidak mengerti. Aku sudah memberikan isyarat agar kau menolak permintaan Oma."

Maxime meletakkan jam tangannya di atas meja.

"Kenapa harus menolak?"

"Karena aku ingin pulang."

"Padahal Oma hanya meminta kita menginap satu malam."

Elma mengembuskan napas panjang. "Kau tahu aku masih punya pekerjaan."

"Aku juga tahu kau sudah bekerja terlalu keras beberapa hari terakhir. Satu malam tanpa memikirkan pekerjaan seharusnya tidak menjadi masalah."

Elma terdiam sejenak.

Maxime mendekat, kemudian mengambil tas kecil yang dibawa istrinya dan meletakkannya di sofa. "Lagipula, aku juga ingin menginap."

Elma mengangkat alis. "Kau ingin menginap atau ingin membuatku tidak punya pilihan?"

Maxime tersenyum samar. "Keduanya mungkin."

"Maxime!"

Pria itu tertawa kecil. Jarang sekali Elma melihatnya menunjukkan ekspresi semacam itu. Di hadapan orang lain, Maxime selalu terlihat tenang, serius, dan sulit ditebak. Namun, ketika hanya berdua dengannya, ada sisi lain yang perlahan semakin sering muncul.

"Aku sudah lama tidak tidur di kamar ini bersamamu," katanya kemudian.

Elma terdiam.

Maxime menatap istrinya beberapa saat sebelum melanjutkan. "Aku merindukannya."

"Kau bisa tidur di sini setiap kali kita berkunjung."

"Aku tidak sedang membicarakan kamar ini." Tegas Maxime.

Elma memahami maksudnya, tetapi memilih mengalihkan pandangan.

Setelah suasana sedikit lebih tenang, keduanya duduk berhadapan di sofa dekat jendela. Maxime membuka percakapan mengenai sesuatu yang sejak tadi dipikirkannya.

"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."

Elma menoleh. "Apa?"

"Ulang tahun pernikahan kita."

Elma tampak berpikir sejenak. "Masih beberapa waktu lagi."

"Aku tahu. Karena itu aku ingin mempersiapkannya sejak sekarang."

Maxime menyandarkan punggungnya. Tatapannya tertuju kepada Elma. "Aku ingin mengadakan pesta seperti malam ini."

Elma langsung menggeleng. "Jangan."

"Kenapa?"

"Aku tidak suka pesta besar. Kau tahu sendiri bagaimana rasanya harus menyambut begitu banyak tamu, berbincang dengan orang-orang yang bahkan tidak semuanya kita kenal, kemudian tersenyum sepanjang malam."

"Aku bisa mengurus semuanya."

"Itu bukan masalahnya, Maxime."

"Lalu apa?"

Elma menghela napas.

"Aku hanya ingin merayakannya dengan sederhana. Tidak perlu mengundang banyak orang."

Maxime memperhatikan wajah istrinya. Ia tidak ingin sekadar mengadakan pesta untuk menunjukkan kemewahan keluarga Sinclair. Ada alasan lain yang jauh lebih pribadi.

"Aku ingin merayakan pernikahan kita dengan layak."

Elma menatapnya.

"Selama ini kita terlalu sering melewatkan banyak hal. Aku ingin tahun ini berbeda." Maxime mengulurkan tangan, menggenggam jemari Elma. "Aku ingin ada satu malam ketika kita tidak perlu memikirkan pekerjaan, urusan keluarga, atau masalah lain. Aku ingin kita menikmati hari itu bersama orang-orang yang berarti bagi kita."

Elma langsung menjawab. "Dan kau benar-benar ingin mengadakan pesta besar?"

"Jika kau menginginkannya sederhana, kita bisa membuatnya lebih intim. Hanya keluarga dan beberapa teman dekat."

Elma memperhatikan kesungguhan di wajah suaminya. "Jadi, kau tidak akan mengundang separuh kalangan bisnis Sinclair?"

Maxime terkekeh. "Tidak. Aku berjanji."

"Juga tidak ada sambutan panjang?"

"Tidak ada."

"Dan aku tidak perlu berdiri menyambut tamu sepanjang malam?"

"Aku yang akan mengurusnya."

Elma akhirnya tersenyum. "Baiklah. Aku setuju."

Maxime mengangkat alis. "Semudah itu?"

"Jangan membuatku berubah pikiran."

Pria itu tertawa pelan. "Terima kasih."

Percakapan mereka berlanjut. Tanpa terasa, jarak di antara keduanya semakin dekat.

Elma akhirnya berdiri dari sofa. "Aku ingin mandi."

Namun, ketika hendak melangkah, Maxime meraih tangannya dengan lembut. "Tunggu sebentar."

Elma menoleh. "Ada apa lagi?"

Maxime berdiri di hadapannya. "Kita bisa menyiapkan air hangat bersama."

Elma menatapnya dengan ekspresi curiga. "Kau sedang menawarkan bantuan atau sedang mencuri kesempatan?"

Maxime tersenyum tipis. "Mungkin keduanya."

Maxime kemudian melanjutkan dengan suara lebih pelan. "Aku merindukanmu, Elma."

Tidak ada nada bercanda kali ini. Elma menatap suaminya. Ada sesuatu dalam tatapan Maxime yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan. Pria itu memang tidak selalu pandai mengungkapkan perasaan, tetapi malam ini ia terlihat begitu terbuka.

"Max, aku,,,".

Maxime mengusap lembut punggung tangannya.

"Aku tidak ingin malam ini berlalu begitu saja. Aku ingin kita menikmati waktu bersama, tanpa terburu-buru."

Elma tersenyum kecil. "Kalau begitu, berhentilah bicara dan biarkan aku mandi.

Maxime tidak menyela, tangannya terangkat menyentuh pipi Elma dengan begitu hati-hati, seolah sedang memastikan bahwa perempuan itu benar-benar berada di hadapannya.

Tatapan mereka bertemu.

"Jangan menatapku seperti itu," gumam Elma.

"Seperti apa?"

"Seolah-olah kau sedang melihat sesuatu yang sangat berharga."

"Kau memang berharga, Elma. Sangat berharga bagiku?"

Elma tidak segera menjawab. Maxime mendekatkan wajahnya, memberikan kesempatan kepada Elma untuk membaca maksudnya. Ketika Elma tidak menjauh, ia mengecup kening istrinya dengan lembut, kemudian pipinya, dan akhirnya bibirnya. Ciu man itu bermula begitu pelan, namun perlahan berubah menjadi semakin intens. Maxime menarik Elma semakin dekat dalam pelukannya dengan ciu man yang masih saling bertautan.

"Aku merindukanmu," bisiknya, setelah melepas ciu mannya.

Elma tersenyum kecil. "Kau sudah mengatakannya berkali-kali malam ini."

"Karena rasanya belum cukup."

"Kau memang selalu berlebihan."

"Kalau tentangmu, sepertinya begitu."

Elma tertawa pelan. Tawa yang membuat

Maxime ikut tersenyum. Pria itu kembali menarik istrinya ke dalam pelukan dan Elma langsung menyandarkan kepala di dadanya, sementara Maxime mengusap punggungnya perlahan. Beberapa saat mereka hanya diam, tidak ada percakapan penting. Hanya ada keheningan yang terasa nyaman.

"Maxime," panggil Elma.

"Ya?"

"Jangan kembali menjadi pria yang selalu membuatku menebak-nebak perasaanmu."

Maxime menunduk, menatap wajah istrinya.

"Aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan selalu sempurna. Tapi aku bisa berjanji untuk tidak berhenti berusaha."

Elma mengangkat wajah. "Dan jangan menyembunyikan sesuatu dariku."

Kali ini Maxime terdiam sedikit lebih lama. "Aku akan berusaha lebih terbuka."

Elma mengamatinya, kemudian mengangguk kecil. Maxime mengecup keningnya sekali lagi.

"Elma".

"Hm".

"Bolehkah,,," Ucapan Maxime terhenti.

Elma menatapnya, ia sepertinya tahu apa yang pria itu inginkan " Max,,,".

"Kamu terlalu lama menjauh, Elma. Aku, aku menginginkanmu malam ini". Ucap Maxime seraya mendekat dan ingin menci um istrinya.

Elma menahan dada Maxime " Aku belum mandi, Max".

"Tidak apa, setelah ini kita akan mandi bersama".

Tanpa membiarkan istrinya bicara, Maxime kembali menci um Elma dengan mesra dan penuh perasaan. Ia tidak membiarkan Elma bicara dan langsung membungkam bibir itu dengan Ciu man.

Malam semakin larut, keduanya akhirnya melewati malam panas yang penuh gairah setelah cukup lama berpisah. Seluruh perasaan dan kerinduan tercurahkan sempurna, tidak ada keraguan dan tidak ada jarak. Keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat bahkan sangat int im dengan penyatuan yang sempurna.

Maxime merangkul Elma dan mengecup keningnya dengan mesra, perasaannya sulit di jelaskan namun ia sangat puas karena akhirnya hasratnya tuntas. Sementara Elma menyandarkan kepala di lengan suaminya sambil memejamkan mata, ia begitu lelah. Maxime benar- benar mengerjainya malam ini, pria itu tidak membiarkannya terlepas dan menjauh sedikitpun. Maxime sepertinya ingin membalas atas sikapnya yang mengabaikan suaminya itu sekian lama.

Elma kelelahan, ia bahkan tidak sanggup membuka mata. Sebelum memejamkan mata, Elma sempat mendengar suara Maxime.

"Elma"

"Hm"

"Terima kasih sudah menerimaku kembali".

Elma membuka mata dan mengangkat wajah, padangan keduanya kembali bertemu. Mereka saling menatap tanpa bicara seolah mata keduanya telah mengatakan segalanya.

"Terima kasih sudah bersedia menginap." Ucap Maxime kemudian.

Elma tersenyum tipis. "Aku tidak punya pilihan."

"Aku tahu." Goda Maxime hingga membuat Elma cemberut.

Maxime mengangkat tangannya, merapikan beberapa helai rambut yang jatuh di dekat wajah istrinya. "Aku merindukan saat-saat seperti ini."

Elma menatapnya lekat-lekat, kemudian ia kembali menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

"Aku juga." Ucapnya jujur.

Maxime mengecup lembut puncak kepala istrinya.

"Elma?"

"Hm?"

"Besok jangan buru-buru pulang. Aku ingin sarapan bersamamu. Oma pasti senang."

Elma tersenyum tanpa membuka mata. "Baiklah. Tapi setelah sarapan kita langsung pulang."

"Kita lihat besok."

"Maxime!"

Tawa kecil pria itu kembali terdengar. Malam itu mereka tertidur dalam dekapan satu sama lain. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Maxime tidak merasa perlu memikirkan apa pun selain perempuan yang berada di sampingnya dan Elma pun membiarkan dirinya menikmati ketenangan tersebut. Barangkali hubungan mereka belum sepenuhnya pulih. Masih ada percakapan yang harus diselesaikan, kepercayaan yang harus dibangun kembali, dan masa lalu yang belum seluruhnya terungkap.

Namun, malam itu menjadi awal yang baik.

Sebab untuk pertama kalinya, keduanya sama-sama ingin mempertahankan kedekatan yang mulai tumbuh kembali di antara mereka.

☆

Pov author

Dikasih yang manis- manis dulu sebelum gonjang- ganjing terjadi.

Peace,,,,

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!