NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:321
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Malam Pertama yang Bukan Malam Pertama

Untuk pertama kalinya, masa depan tidak terlihat seperti tagihan yang menunggu jatuh tempo.

Namun malam itu, masa depan Arya justru dimulai dari sebuah kasur tipis di lantai.

Sebelum urusan tidur menjadi masalah, ia harus melewati makan malam resmi pertamanya di Vila Kusuma.

Pria lanjut usia yang sempat dilihatnya saat sarapan sudah menunggu di ruang makan. Ia mengenakan batik lengan panjang berwarna gelap. Rambutnya hampir seluruhnya putih, tetapi punggungnya tegak dan tatapannya jernih.

Anindya berhenti di sampingnya. "Mas Arya, ini Pak Darto."

Pria itu membungkuk ringan. "Nama lengkap saya Sudarto. Sejak Eyang Kusumo masih muda, saya membantu mengurus rumah dan beberapa urusan keluarga."

Arya segera mengulurkan tangan. "Saya Arya, Pak. Maaf baru sempat memperkenalkan diri dengan benar."

Pak Darto menyambut jabatannya dengan kedua tangan. "Saya sudah tahu banyak tentang Den Arya."

Anindya batuk kecil.

Pak Darto meliriknya, lalu senyum halus muncul di bawah kumis putihnya. "Maksud saya, Non Anindya sudah memberi informasi yang diperlukan untuk menyiapkan kamar."

Arya memandang Anindya. "Informasinya sampai ukuran meja biliar?"

"Pak Darto teliti," jawab Anindya cepat.

"Tentu," kata Pak Darto, masih tersenyum. "Apalagi jika daftar persiapannya ditulis ulang empat kali oleh Non Anindya sendiri."

"Pak Darto."

Ada peringatan lembut dalam suara Anindya.

Pria tua itu langsung menarik kursi. "Silakan makan, Den Arya. Hidangannya akan dingin."

Meja panjang tersebut cukup untuk dua belas orang, tetapi hanya tiga tempat yang disiapkan. Arya hendak duduk di sisi seberang. Anindya menarik kursi di sampingnya lebih dulu.

"Di sini."

"Mejanya luas."

"Makanya jangan duduk jauh-jauh. Nanti kelihatan seperti rapat direksi."

Arya menurut.

Seorang asisten membuka tudung makanan. Ada sup hangat, ikan bakar, sayur, dan beberapa hidangan rumahan yang tidak berlebihan. Anindya mengambil potongan ikan, memisahkan durinya, lalu menaruh dagingnya di piring Arya.

"Aku bisa ambil sendiri."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa?"

"Karena istri melayani suami itu wajar."

Arya hampir menjawab, tetapi Pak Darto sudah menunduk pada mangkuknya untuk menyembunyikan senyum.

Anindya mengangkat dagu. "Mas Arya juga boleh mengambilkan aku sayur supaya adil."

Arya mengambil sendok saji dan meletakkan sayur di piringnya.

"Cukup?"

"Tambah sedikit."

Ia menambahkan satu sendok.

"Nah, begini baru pengantin baru," kata Pak Darto pelan.

Anindya terlihat puas. Arya hanya bisa menggeleng sambil makan.

Setelah makan malam, Pak Darto meminta bicara sebentar di ruang keluarga. Di sana terpajang foto Eyang Kusumo dan beberapa dokumen keluarga dalam lemari kaca.

"Den Arya," katanya, "wasiat Eyang memang menjadi alasan administratif pernikahan ini. Saya tidak akan ikut campur dalam kesepakatan pribadi kalian. Tapi bagi saya, Non Anindya bukan sekadar majikan. Dia seperti cucu sendiri."

Arya duduk lebih tegak. "Saya paham."

"Saya hanya ingin tahu satu hal. Apakah Den Arya akan memperlakukannya dengan hormat?"

"Ya, Pak. Apa pun yang terjadi setelah dua bulan, selama saya berada di sini, saya tidak akan mempermalukan atau menyakitinya."

Pak Darto mengamati wajahnya, lalu mengangguk. "Jawaban yang cukup. Sisanya biar waktu yang membuktikan."

Anindya menunggu di depan tangga. Begitu Pak Darto pergi, ia mendekat.

"Ditanyai macam-macam?"

"Cuma satu."

"Apa?"

"Rahasia laki-laki."

Anindya menyipitkan mata, lalu mengikuti Arya ke lantai dua.

Ketika Arya membuka pintu kamar dengan namanya, ia berhenti.

Barang-barangnya dari apartemen sudah disusun di sudut. Namun kasur di kamar tampak jauh lebih besar daripada siang tadi, mungkin karena sekarang ada dua bantal di kepala ranjang.

Anindya masuk dari belakang dan menutup pintu.

"Kamarmu di mana?" tanya Arya.

"Ini."

"Katamu ini kamarku."

"Kita pasangan sah. Kalau staf melihat aku tidur di kamar lain pada malam pertama, sandiwara kita selesai sebelum dimulai."

Arya menatap pintu yang baru ditutup, lalu ranjang, kemudian Anindya.

Perempuan itu berusaha terlihat tenang, tetapi kedua tangannya saling meremas di depan tubuh.

"Aku tidur di lantai," putus Arya.

"Lantainya dingin."

"Ada karpet."

"Kasurnya besar. Kita bisa membuat batas bantal."

"Anindya."

"Baik." Ia mengalah terlalu cepat, lalu mengambil selimut tambahan dari lemari. "Tapi pakai kasur tipis. Jangan langsung di karpet."

Sepuluh menit kemudian, Arya sudah mengganti pakaian dan membentangkan kasur tipis di sisi ranjang. Anindya duduk di tepi kasur besar dengan pakaian tidur tertutup, memperhatikannya menata bantal.

"Mas Arya benar-benar takut kepadaku?"

"Aku menjaga batas."

"Aku juga bisa menjaga batas di atas ranjang."

"Tidur, Anindya."

Ponsel Arya bergetar di meja samping.

Nama Karina muncul di layar.

Suasana ringan di kamar langsung menghilang.

Arya menatap panggilan itu sampai berhenti. Beberapa detik kemudian, telepon masuk lagi.

Ia mengangkatnya. "Ada apa?"

"Mas lagi di mana?" Suara Karina terdengar ceria dan curiga sekaligus. "Sudah di rumah Anindya?"

"Itu bukan urusanmu."

"Ya urusanku, dong. Aku harus memastikan kesepakatan berjalan benar. Kamu tidur di kamar mana? Jangan aneh-aneh."

Rahang Arya mengeras. "Kamu sudah bukan istriku."

"Cuma dua bulan, Mas. Jangan besar kepala karena dikasih mobil. Setelah—"

Arya memutus panggilan.

Ia membuka kontak, menekan blokir, lalu menghapus nomor Karina.

"Selesai," katanya.

Ponsel Anindya langsung berbunyi.

Karina melakukan panggilan video.

"Tidak perlu diangkat," kata Arya.

Anindya melihat layar, lalu kepada Arya. "Kalau tidak diangkat, dia akan terus menelepon. Biar selesai malam ini."

Ia menerima panggilan.

Wajah Karina muncul. Di belakangnya ada kamar apartemen yang pernah ditempati Arya.

"Nin, tunjukkan kamarnya. Arya tidur di mana?"

Anindya memutar kamera. Kasur tipis di lantai terlihat jelas.

Karina tertawa lega. "Nah, bagus. Jangan baper sama dia. Arya itu membosankan. Nggak punya uang, baru saja dipecat, dan—"

Arya bangkit, mengambil ponsel dari tangan Anindya, lalu menghadapkan kamera ke wajahnya.

"Karina, dengarkan baik-baik. Kamu menerima uang karena menjual status pernikahan kita. Kamu tidak membeli hak untuk mengatur pernikahanku yang baru."

Senyum Karina lenyap. "Mas, aku cuma mengingatkan—"

"Aku tidak butuh pengingat dari orang yang sudah tidak punya hubungan denganku."

"Kamu akan kembali dua bulan lagi!"

"Itu khayalanmu."

Arya mematikan panggilan dan memblokir nomor Karina dari ponsel Anindya setelah mendapat anggukan darinya.

Kamar menjadi hening.

Anindya menatap Arya. "Kamu marah karena dia merendahkanmu?"

"Bukan cuma itu." Arya mengembalikan ponselnya. "Dia merendahkan suamimu di depanmu."

Mata Anindya melebar sedikit.

Arya berbaring di kasur tipis dan menarik selimut sampai dada. "Tidurlah. Besok dia mungkin mencari nomor lain."

Lampu dipadamkan.

Dalam gelap, Anindya tersenyum lebar sambil memeluk bantal.

Di lantai, Arya menutup mata dengan satu keputusan yang terasa lebih ringan daripada sebelumnya.

Nomor Karina sudah hilang.

Orang yang tidak lagi punya hubungan dengannya memang tidak perlu tinggal di dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!