Follow sosmed author
IG:Mia novita23
Tiktok:Miss Mia Novita
Perceraian antara kedua orangtuanya membuat Argantara tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya. bagaikan air dan minyak yang tidak akan pernah bisa bersatu. Ikuti kisahnya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipercepat
"Bagaimana dia tau kalau aku menyukai ini semua?" pertanyaan itu terbesit dalam benak Kinara sambil memperhatikan paper bag pemberian Arga, karna memang Kinara tidak pernah mengatakan jika dirinya menyukai salad juga seblak, serta kebab. namun, bagaimana bisa Arga mengetahui nya?
Kinara meletakkan paperbag itu kemudian berjalan menuju dapur untuk membuatkan secangkir kopi hitam untuk Arga yang masih sholat. Ya, Arga sedang sholat di dalam kamar Kinara. entah kenapa Kinara membiarkan Arga sholat di sana tanpa adanya protes sedikitpun.
usai sholat, Arga menghampiri Kinara yang masih berada di dapur.
"kamu lagi apa?" Kinara menoleh sekilas "bikin kopi buat kamu" balas Kinara sambil kembali fokus menunggu air di depannya mendidih.
"Cie yang mulai perhatian sama calon suami.." Arga sengaja ingin menggoda Kinara seperti itu, membuat gadis yang memiliki jarak usia 3 tahun lebih tua dengannya itu kembali menoleh.
"Jangan kepedean, saya buatkan kamu kopi karna kamu disini itu tamu, anggap saja ini ucapan kata terimakasih karna kamu sudah mau membelikan pembalut untuk saya" kata Kinara, membawa secangkir kopi hitam keluar dari dapur dan diikuti oleh Arga yang mengekor di belakangnya dengan kedua sudut bibir terangkat.
"Gambaran setelah aku dengannya menikah nanti" batin Arga sambil terus menatap Kinara yang sudah meletakkan kopi itu du ruangan tengah.
Arga menikmati secangkir kopi hitam panas, sedangkan Kinara menikmati kebab lebih dulu. "Kamu mau?" tawar Kinara pada Arga. Arga menggeleng sambil terus menatap Kinara yang terlihat sangat menikmati oleh-oleh yang Arga bawa tadi.
"Gak sia-sia aku tanya makanan kesukaan Kinara pada kak Salma. Ternyata dia memang begitu menyukainya"batin Arga sambil terus menatap kinara yang masih fokus menikmati kebab di tangannya.
"Setelah kita menikah nanti, aku mau kamu ikut tinggal bersama ku di apartemen" Arga memecahkan keheningan diantara keduanya. membuat Kinara yang sejak tadi fokus pada ponsel di tangannya menoleh pada Arga, "kamu benar-benar serius mau menikahi saya?" tanya Kinara, karna jujur saja gadis itu merasa tidak yakin jika murid yang ada di depannya ini benar-benar akan menikahinya hanya karna kesalahan malam itu.
Jujur saja, sebenarnya Kinara tidak ingin menikah di usia sekarang, apalagi menikah dengan laki-laki yang memiliki umur 3 tahun lebih muda darinya. Terlebih Arga bukannya kriteria suami idaman yang selama ini Kinara harapkan. Sikapnya Arga yang menyebalkan serta kelakuan Arga yang sedikit minus dimata Kinara semakin membuat gadis itu tidak yakin pada Arga yang benar-benar serius dengan ucapannya malam itu.
"Menurut mu aku becanda, begitu? Memangnya tampang ku ini terlihat seperti orang yang sedang bercanda?" bukannya menjawab pertanyaan Kinara, justru Arga kembali memberikan pertanyaan pada gadis itu.
"Jujur saja saya belum mau menikah, apalagi dengan kamu yang statusnya adalah murid saya. Perlu kamu tau, kriteria suami idaman saya itu minimal usianya lebih tua, agar bisa menjadi imam dan panutan yang baik untuk keluarga. Bisa mengayomi dan mengajarkan banyak hal padaku" kinara menatap Arga."kalau sampai saya menikah dengan kamu, yang ada saya yang harus mengajarkan kamu tentang banyak hal.." lanjut Kinara lagi sembari menghembuskan nafas beratnya beberapa kali.
Arga yang mendengar perkataan Kinara menatap gadis itu dan menggeser posisinya mendekat pada Kinara"apa hanya karna usiaku 3 tahun dibawah kamu sampai kamu beranggapan jika aku tidak bisa melakukan tugas ku sebagai suami dengan baik? Apa karna aku laki-laki nakal yang menurutmu tidak akan sanggup mengajarkan banyak hal padamu?" Arga menatap kedua bola mata Kinara sambil menggenggam kedua tangan Kinara. "Percayalah, umur hanyalah angka, Kinara. Aku bisa menjadi sosok suami yang kamu idamkan. Tolong berikan aku kesempatan untuk memilikimu. Jadilah rumah untuk menjadi tempat pulangku yang sesungguhnya" kata Arga yang terdengar begitu dalam. Kinara bahkan tidak bisa menjawab, terbawa akan suasananya sore dengan angin yang menghembus masuk kedalam rumah dan menerpa wajah keduanya.
Sore sudah beranjak pergi dan berganti dengan malam yang begitu sunyi. Kinara menatap pesan yang Arga kirimkan beberapa saat lalu.
[ pernikahan kita nanti kita lakukan di masjid dekat rumah kedua orang tua kamu saja, aku sudah mengurus dan mengatakan pada ibu juga kak Salma ]
Berulang kali Kinara terus membaca pesan itu dalam diamnya. Begitu serius dengan ucapannya tadi siang. Arga benar-benar mempercepat pernikahan yang seharusnya dilakukan rabu depan tapi malah di petcspat, yaitu besok lusa.
Kemudian Kinara memperhatikan kebaya putih yang dikirim oleh Arga tadi. "apa ini memang sudah jalannya? aku harus menikah dengan laki-laki yang berandal biang rusuh seperti Arga? Terlebih dia muridku sendiri. Entah apa yang akan terjadi nanti jika pernikahan itu benar-benar terjadi" kinara merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Malam semakin larut namun entah kenapa rasanya semakin sulit walaupun sekedar memejamkan matanya dan istirahat.
Disaat Kinara masih terus menatap langit-langit kamar, beberapa pecahan memori kembali berputar pada ingatannya. Sebenarnya alasan Kinara tidak ingin segera menikah bukan hanya karna usia, tapi gadis itu berusaha menepati janji pada seseorang, seseorang yang pernah menyelamatkan nyawa kinara beberapa tahun lalu. Namun sialnya hingga kini Kinara tidak bisa menemukan orang tersebut. bahkan nama serta wajahnya Kinara tidak bisa mengingat dengan jelas.
"Aku dimana?" kata Kinara ketika terbangun dari tidur yang cukup panjang. Setelah mengalami kecelakaan yang menyebabkan gadis itu koma selama kurang lebih satu bulan.
"anda dirumah sakit, nona. Setelah satu bulan anda koma, akhirnya hari ini anda sadar juga"
Kinara memegangi kepalanya yang masih sedikit terasa pusing.
"Maaf nona, ini adalah barang milik laki-laki yang sudah membawa anda kesini" suster itu memberikan barang yang sejak seminggu ini dia simpan pada Kinara.
Kinara menatap kalung yang ada di tangannya "maaf, sus. siapa yang sudah membawa saya kesini?"
"seorang anak SMP, anak itu yang sudah membawa anda kesini, bahkan dia juga yang sudah menunggu nona beberapa minggu kemarin, hanya saja seminggu terakhir dia tidak lagi datang" terang suster itu. samar-samar Kinara memang masih sedikit bisa mengingat kejadian malam dimana dia kecelakaan, hanya saja saat itu pandangannya buram dan Kinara langsung tak sadar kan diri.
"baik, sus. terimakasih"
Kinara menatap kalung ditangannya"aku janji akan melakukan apapun untuk orang yang sudah menyelamatkan nyawa ku, bahkan kalau perlu aku akan menyerahkan sisa hidupku untuk nya. tapi dia siapa?"
terdengar tidak masuk di akal. namun begitulah keputusan yang Kinara buat setelah sadar dari koma. akan menyerahkan sisa hidupnya untuk sosok yang sudah menyelamatkan nya malam itu.
kinara mengambil kalung yang ada di dalam tas nya. gadis itu kembali menatap kalung milik orang yang sudah menyelamatkan nya malam itu. "tolong berikan aku petunjuk tentang siapa pemilikmu" ucap Kinara menatap lekat kalung itu.