NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Susu Untuk Keponakan Kembar

Menjadi Ibu Susu Untuk Keponakan Kembar

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:920.4k
Nilai: 5
Nama Author: De Shandivara

Berselang dua minggu sejak dia melahirkan, tetapi Anindya harus kehilangan bayinya sesaat setelah bayi itu dilahirkan. Namun, Tuhan selalu mempunyai rencana lain. Masa laktasi yang seharusnya dia berikan untuk menyusui anaknya, dia berikan untuk keponakan kembarnya yang ditinggal pergi oleh ibunya selama-lamanya.

Mulanya, dia memberikan ASI kepada dua keponakannya secara sembunyi-sembunyi supaya mereka tidak kelaparan. Namun, membuat bayi-bayi itu menjadi ketergantungan dengan ASI Anindya yang berujung dia dinikahi oleh ayah dari keponakan kembarnya.

Bagaimana kelanjutan kisah mereka, apakah Anindya selamanya berstatus menjadi ibu susu untuk si kembar?
Atau malah tercipta cinta dan berakhir menjadi keluarga yang bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon De Shandivara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Pria Merana

“Nin, tadi Prof. Baskoro bilang bimbingan kita di-reschedule. Beliau ada tugas luar,” begitu pesan yang ditulis oleh Alina–teman satu bimbingannya.

Anindya yang semula menyayangkan tidak bisa datang saat bimbingan, ternyata malah bimbingan berganti jadwal. “Syukurlah,” ucapnya merasa lega karena dia tidak merasa rugi sebab telah dilarang pergi.

Sekarang yang menjadi masalah adalah rasa bersalahnya pada ayah dari keponakannya ini. Sudah dua hari dia tidak keluar dari kamar si kembar karena rasa segan untuk bertemu dengan mantan kakak ipar.

Ranti yang selalu membawakan makanan dan minum untuk menantunya itu, “Tante, Mas Satya di rumah?” tanya dia dengan lirih dan ragu sebab sejak kemarin dia tidak mau bertemu atau bahkan menyebut nama pria itu.

“Satya belum pulang sejak kemarin, Nin,” jawab Ranti yang sedang membawakan nampan berisi makan siang.

“Sejak kami bertengkar?” tanya Anindya memastikan.

“Iya,” Ranti memvalidasi kekhawatiran Anindya.

“Kemana, Tan? Apa Mas Satya masih marah sama Anin? Padahal, bimbingannya juga gak jadi. Apa Anin perlu minta maaf supaya dia pulang?”

“Arsatya tidak suka diminta maafnya begitu saja, tapi Anin,”

Anindya menunggu kalimat Ranti yang terputus, wanita paruh baya itu lantas menjeda perkataannya dengan menggendong salah satu cucunya.

“Tapi apa, Tan?” tanya Anindya yang sudah menunggu.

“Hem, kalian kan sudah menikah. Bukan maksud Mama mencampuri urusan rumah tangga kalian, tapi, Mama belum pernah melihat kalian tidur seranjang. Jangan kan seranjang, sekamar saja tidak pernah. Anin tentu tahu kan apa yang harus dilakukan ketika sudah menjadi istri? Bukan sekadar menjadi ibu untuk si kembar, tapi juga istri untuk Arsatya,” ucap Ranti menasihati.

“Kami sepakat untuk tidak saling campur dulu, Tan. Maaf sebelumnya, Anin tidak mau membahas perihal itu terlebih dulu karena Anin tahu kalau Mas Satya masih kehilangan Kak Amelia, apalagi ini baru empat puluh hari sejak kepergiannya. Dan ada satu lain hal yang membuat kita sepakat untuk tidak bersama,” jawab Anindya tidak merasa kecil hati dengan pertanyaan sensitif itu.

“Ya, kamu benar,”

“Jadi, bagaimana membujuk Mas Satya supaya pulang dan memaafkanku, Tan?”

“Kirim saja pesan padanya supaya pulang, bilang saja malam ini ada pengajian 40 hari wafat istrinya.”

Malam hari, saat acara pengajian 40 hari setelah kepergiaan mendiang Amelia. Arsatya sudah duduk dan membaca doa bersama dengan para kyai, ustad, dan tetangga yang turut serta diundang untuk mendoakan.

Pria itu masih belum bisa melepaskan dengan ikhlas, beberapa kali saat surah yassin di bacakan oleh salah seorang ulama dengan tartil, dia mengusap air matanya dan sebelum tangisnya didapati oleh orang lain, dia menyingkir ke tempat yang lebih sepi untuk menumpahkan kerinduan pada mendiang istrinya.

Ranti lantas menyenggol lengan Anindya untuk menyusul suaminya lewat belakang. Melihat pria yang sedang menangis tersedu-sedu di tengah taman, membuatnya ikut menitikkan cairan bening dari matanya. Menyadari jika bukan hanya dirinya yang merasa kehilangan, bukan hanya dirinya yang mencintai sosok Amelia sedalam itu.

Arsatya menatap ke atas, matanya terpejam menghadap langit malam yang mendung tanpa bintang.

“Mas, kakakku sudah tenang di sana. InsyaAllah dia husnul khatimah sebab kepergiannya karena berjuang melahirkan dua buah hatinya. MasyaAllah. Tapi, dia pasti ikut sedih melihatmu yang sedih meratapi kepergiaannya,” ucap Anindya yang berjalan mendekat pada Arsatya yang berpegangan pada sandaran kursi besi yang berada di tengah taman.

Arsatya terkesiap mendengar suara yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Tanpa menoleh, dia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.

“Kak Amel pasti sedang berbahagia di sana melihat dua buah hatinya tumbuh dengan sehat bersama dengan ayahnya. Setahuku, kak Amel pernah berkata jika pernikahannya akan sempurna setelah kedua putri kembarnya terlahir. Kak Amelia menginginkan mereka dan kamu bahagia, Mas, bukan malah bersedih walaupun ditinggal pergi olehnya” ucap Anindya mencoba menghibur hati yang sedih itu.

“Kalau aku jadi Kak Amel, mungkin–”

“Diamlah, Anin! Kamu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku, apalah arti kebahagiaan jika dia pergi meninggalkanku. Apalah artinya anak-anak jika dia tidak ada di sini bersamaku,” ketus Arsatya menimpali ucapan Anindya.

Anindya terperanjak, “Astaghfirullah, Mas Satya. Kamu menyalahkan anak-anakmu yang sudah ditakdirkan terlahir itu?”

“Diam dan pergilah, jangan mencampuri urusanku!” sentak pria itu lantas meninggalkan Anindya seorang diri di tengah bangku taman.

Di tengah pintu belakang yang jauh, Ranti menggelengkan kepalanya sembari mengusap dadanya meminta Anindya bersabar atas sikap putranya. Namun, jelas, Anindya mengacungkan jempol kanannya memberitahukan jika dia baik-baik saja.

Anindya yang biasanya bersikap temperamental, kini seolah dia yang dituntut harus mengerti dan peka akan keadaan, situasi, dan kondisi pria yang sedang merana ditinggalkan kekasih hatinya.

...🦋🦋🦋...

Sabar ya, Anin...

1
eka wati
Tragis.. kisah tokohnya tragis. 2 hati yg masih terluka tapi dipaksa utk menjalani kehidupan pernikahan. Harusnya masing2 saling berdamai dulu dgn diri sendiri dan masa lalu, minimal konsul ke psikolog lah. Agak gedek juga sama mamanya Aryasatya yg maksa2 nikah. Padahal sebelumnya udah kejadian kalau pernikahan anak2nya nggak bahagia
Umicho
mataku sampe bengkak... nangis sambil tiduran... air mata gak bisa berenti ngalir /Sob//Sob//Sob/
Umicho
pengennya pasti happy ending... meskipun gak menutup kemungkinan sebaliknya yg terjadi.... dari awal sampai akhir bikin nangis, sedih nya sampe ke hati.. serius... kadang gemes.. tinggal bilang apa susahnya.. ternyata plot nya emang slow, pelan tapi pasti, bikin penasaran, bahasanya enak, typo dikit dah biasa, kadang salah nama jg... but sdh bagus.... lanjut terus thor... tetap semangaaat...
Ellya Muchdiana
pergi aja anin, bawa keponakannya, toh bapaknya juga ga peduli
Ellya Muchdiana
laki2 edan, kalo ga terima kenapa mau nikahin anak orang
Mamanya Ruslan
Luar biasa
Happy Kids
pengen ku jitak kepalanya
Happy Kids
ah nyesel bgt ini kl ditinggal mati.
Novita Anggraini
Luar biasa
Ah Serin
cerita menarik knapa tak buat saessson2 lagi
mang tri
ternyata adiknya pantesan panggilnya mas ☺️
mang tri
😭😭😭😭😭😭😭
mang tri
ya ampuuunnnn 😭😭😭😭😭
mang tri
Anin pernah berkata Tuhan boleh mengambil apapun asal jangan ansha, jd orang tua nya sebagai pengganti ansha 😭
Safa Almira
,suka
Muhammad Hakim
Buruk
Dewi Kadimen
Luar biasa
Jisa Ajach
bgus
Tety Boreg
kasian anin thor..jgn dgn keadaan mabuk lah thor..😭😭😭
MommaBear
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!