Rasa dendam yang ada dalam diri Sagara membuat pria itu hanya fokus pada hari dimana ia bisa membalaskan rasa dendamnya. Kematian sang Kakak karena salah satu geng motor membuat ia melakukan segala cara agar ia bisa membalas kematian tersebut. Ia tidak pernah ikhlas. Ia membuat sebuah geng motor untuk tujuan balas dendam tersebut. Namun siapa sangka, ia malah bertemu dengan Danica, perempuan cantik asal Jakarta yang tiba-tiba memohon padanya agar mau mengalah dan membiarkan Danica yang mendapatkan nilai terbaik di kampus. Karena pada dasarnya, Sagara menjadi salah satu mahasiswa jenius di kampusnya. Bagaimana dengan kisah mereka? Apakah Sagara akan membantu Danica? Atau Sagara akan membiarkan Danica dan hanya fokus pada hari dimana ia membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon awnxbru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sagara Syams
“Kamu habis darimana?”
Melihat Sagara yang baru muncul membuat Kaivan dan Rafa khawatir dan segera mendekati Sagara. Bukannya menjawab pertanyaan Kaivan, Sagara malah membawa tasnya dan hendak pergi.
“Biwir maneh kunaon? Naha beureum?”
Translate: Bibir kamu kenapa? Kok merah?
Pertanyaan dari Rafa membuat Sagara dengan reflek menutup mulutnya. Ia tidak menjawab dan segera meninggalkan kedua temannya yang masih kebingungan.
Sagara bisa mendengar teriakan dari Rafa yang memanggil-manggilnya dari belakang. Namun tidak ia pedulikan, ia segera menuju parkiran dan menaiki motornya. Sekilas ia melihat wajahnya pada kaca spion. Sialnya perkataan Rafa benar, ada sesuatu yang merah pada bibirnya. Tangan Sagara dengan cepat mengelap warna merah itu dengan punggung tangannya. Ia meraih helmnya dan segera pergi meninggalkan kampus tanpa mendengarkan teriakan teman-temannya yang sedari tadi memanggilnya.
Danica benar-benar kelewatan.
...****************...
“Mah.”
Tangan kekar Sagara merengkuh pinggang Runika—Ibu kandung Sagara—yang sedang mencuci piring didapur. Pria itu mendusel pada bahu Runika dengan manja.
“Tos uih wae, naha tereh jang?”
Terjemahan: Udah pulang aja, tumben cepet nak?
“Kan tos teu belajar jang lomba deui, Mah. Jadi, uihna gancang.” Jawab Sagara melepaskan Runika dari pelukannya.
Terjemahan: Kan udah gak belajar buat lomba lagi, Mah. Jadi, pulangnya cepet.
“Sok atuh geura ibak, lamun cape bobo heula. Tapi lamun lapar, emam heula nya?” Tangan Runika mengelus pipi Sagara, ia tersenyum hangat pada anak satu-satunya.
Terjemahan: Yaudah sana cepet mandi, kalo cape bobo dulu aja. Tapi kalo lapar, makan dulu ya?
“Siap bu bos!” Ucap Sagara sembari memberikan hormat pada Runika.
Setelah itu, Sagara segera masuk kedalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia memejamkan matanya perlahan dan mengingat hal yang baru saja terjadi padanya.
Ia yakin, Danica bukan orang yang seperti itu. Buktinya, Janu yang mendekatinya saja menyerah karena temannya mengatakan jika Danica sulit untuk didapatkan. Lalu, kenapa ia memberikan dirinya pada Sagara dengan cuma-cuma hanya untuk sebuah nilai? Danica pasti memiliki alasan.
Tak sadar, mata Sagara semakin terpejam dan ia mulai masuk kedalam alam bawah sadarnya. Pria itu tertidur dengan pulas.
“Tos atuh tong ceurik deui, kan aya aa.”
Terjemahan: Udah dong jangan nangis lagi, kan ada Abang.
Sagara mencoba menahan tangisnya ketika Rigel—Kakak kandungnya—mengusap pipinya pelan dan menyeka air matanya.
“Terus lamun aya aa, ade ulah nangis?”
Terjemahan: Terus kalo ada Abang, ade ga boleh nangis?
Rigel tertawa kecil mendengar pertanyaan dari adiknya yang baru berumur 10 tahun. Tangannya perlahan mengusap puncak kepala Sagara dan berusaha menenangkan pria kecil itu. Sudah hampir setengah jam pria ini menangis. Ia mengadu padanya, jika teman-temannya meledek Sagara karena Sagara tidak memiliki seorang Ayah.
“Hoyong meluk aa.”
Terjemahan: Pengen meluk abang.
Melihat Sagara yang tiba-tiba naik kepangkuannya dan memeluknya dengan erat, Rigel tersenyum lebar. Ia mengusap punggung adiknya dengan hangat.
Rigel tidak tau bagaimana rasanya diledek seperti ini ketika masih kecil. Karena ketika Rigel berumur 10 tahun, Ayahnya masih berada disampingnya. Berbeda dengan sekarang, Ayah Rigel tidak ada disampingnya lagi. Beliau meninggal ketika ia masih duduk di Sekolah Menengah karena sakit. Makanya, ia tidak tau cara menghibur adiknya dan hanya memeluk tubuh pria kecil itu dengan erat berharap perasaan sedihnya dapat mereda.
“Teu aya bapa ge wios atuh, kan aya aa. Anggap we aa teh bapana ade.”
Terjemahan: Gaada bapa juga gapapa, kan ada abang. Anggap aja abang itu bapanya ade.
Mendengar hal itu, Sagara segera melepaskan pelukannya dan menatap kedua manik mata milik Rigel. “Kan aa SMA keneh, maenya rek jadi bapa-bapa?”
Terjemahan: Kan abang masih SMA, masa mau jadi bapa-bapa?
Tawa Rigel pecah, ia mencubit pelan pipi adiknya, “Jang ade mah, aa bisa jadi naon wae. Jadi super hero ge tiasa aa.”
Terjemahan: Kalo buat ade, abang bisa jadi apa aja. Jadi, super hero aja abang bisa.
“Bisa ngapung atuh cigah superman!”
Terjemahan: Bisa terbang dong kayak superman!
“Nya, tiasa ngapung.” Rigel mengangguk pelan dan tersenyum ketika kesedihan di mata sang adik perlahan berubah menjadi berbinar dan penuh semangat. “Tapi lamun hoyong ngapung jeung aa, ulah ogo wae.”
Terjemahan: Iya, bisa terbang. Tapi kalo mau terbang sama abang, jangan nangis terus.
“Naha kitu?”
Terjemahan: Kok gitu?
“Kan superman teh super hero, jadi jelmana kuat. Maenya babaturanna super hero ogoan, teu rame ah!”
Terjemahan: Kan superman tuh super hero, jadi orangnya kuat. Masa temennya super hero suka nangis, ga seru ah!
Sagara mengerucutkan bibirnya ketika mendengar perkataan sang kakak, “Jadi, ade ulah ceurik?”
Terjemahan: Jadi, ade ga boleh nangis?
“Lain ulah ceurik, tapi tong mineung teuing. Lamun ade ogoan wae, engke kacirina lemah. Lalaki mah kudu kuat, tong jadi lemah.”
Terjemahan: Bukannya gak boleh nangis, tapi jangan terlalu sering. Kalo ade nangis terus, nanti kelihatannya lemah. Laki-laki tuh harus kuat, jangan jadi lemah.
“Pantes we aa tara ceuriknya, da aa mah kuat cigah superman.”
Terjemahan: Pantes aja abang jarang nangis, kan abang kuat kayak superman.
“Nya jelas. Aa mah kuat.” Rigel tertawa. “Tapi aya hiji hal deui lamun arurang hayang jadi kuat, tong ngarendahkeun diri sorangan di hareupeun batur.”
Terjemahan: Iya jelas. Abang tuh kuat. Tapi ada satu hal lagi kalo kita mau jadi kuat, jangan ngerendahin diri sendiri didepan orang
lain.
Rigel tau, kalimat ini akan sulit dicerna oleh adiknya. Hal ini terbukti karena adiknya hanya diam dan memasang wajah bingung.
“Teu nanaon, engke ge ngarti.”
Terjemahan: Gapapa, nanti juga paham.
Suara ponsel yang berdering membuat Sagara terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya dan segera meraih ponselnya, Rafa meneleponnya. Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali dan mengubah posisi duduknya sebelum mengangkat telpon dari Rafa.
“Dimana maneh!?” Suara Rafa terdengar sangat kencang sehingga Sagara menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Terjemahan: Lo dimana!?
“Ai sia, jawab lainna cicing!”
Terjemahan: Lo anjir, jawab bukan malah diem!
“Imah.”
Terjemahan: Rumah
Rafa dapat mendengar suara khas Sagara yang baru saja bangun tidur. Pria kecil itu mengumpat pada ponsel ketika menyadari hal tersebut.
“Jelema gelo! Aing jeung si Mas nyari-nyari sia, geus panik. Minimal tong ninggalkeun kitu lah tolol!”
Terjemahan: Orang gila! Gua sama Mas nyari-nyari lo, udah panik. Minimal jangan ninggalin kayak gitulah tolol!
“Heeh hampura.”
Terjemahan: Iya maaf.
“Buru kadieu, urang rek balik heula sakeudeung. Tapi didieu aya si Mas ngabaturan si Janu.”
Terjemahan: Cepet kesini, gue mau pulang dulu sebentar. Tapi disini ada si Mas nemenin si Janu.
“Heeh, engke urang kadinya saeunggeus mandi.” Sagara mengatakan hal tersebut sembari melihat ponselnya yang sudah menunjukkan jam 5 sore.
Terjemahan: Iya, nanti gue kesana setelah mandi.
Setelah itu Rafa mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
Sagara menghembuskan nafasnya pelan. Ia meraih figura foto yang ada dimeja nakasnya dan memandangi foto itu sembari tersenyum tipis. Mimpi sekilasnya tadi membuatnya merindukan sang kakak. Kenangan itu adalah salah satu kenangan yang membekas bagi Sagara, dimana sang kakak ingin dia menjadi lebih kuat.
Sagara menghela nafasnya lagi, ingatan mengenai kakaknya kembali terputar didalam otaknya. Ia masih ingat bagaimana hancurnya ia ketika melihat tubuh sang kakak yang sudah kaku dan terbaring ditengah rumah. Ia masih ingat tangisannya yang sangat kencang ketika ia memanggil-manggil nama sang kakak namun kakaknya itu tidak pernah lagi menjawab panggilan Sagara.
Air mata berhasil lolos dari kelopak mata Sagara. Pria itu masih ingat, ibunya yang menangis dengan keras ketika melihat jasad Rigel. Saat itu Sagara masih berumur 10 tahun, ketika jasad Rigel diantarkan kerumah, ada beberapa polisi yang datang kerumahnya. Samar-samar, Sagara mendengar jika kakaknya adalah salah satu korban salah sasaran dari geng motor. Sialnya, Sagara yang masih berumur 10 tahun itu tidak paham apa maksud dari hal itu. Ia baru paham ketika ia sudah menginjak kelas 2 SMP.
Saat ia sudah mengerti, rasa dendam dan sakit hatinya semakin menyesakkan dadanya. Ia berjanji akan membunuh siapa saja yang menjadi penyebab kematian kakaknya. Ia tidak akan pernah ikhlas dan melupakan kejadian tersebut.
Inilah alasan terbesar Sagara membuat Geng Aodra, ia ingin menjadi yang terkuat dan membalaskan dendamnya yang dibantu oleh teman-temannya.