NovelToon NovelToon
Godaan Pelakor

Godaan Pelakor

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bollyn

Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.

Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.

Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Sah

Suasana di dalam ruang sidang Pengadilan Agama pagi itu terasa sangat dingin, bukan hanya karena pendingin ruangan yang bekerja maksimal, tetapi karena ketegangan yang merayap di antara dua kubu yang berseteru. Aroma kayu tua dan tumpukan kertas laporan seolah menambah beban di pundak siapa pun yang masuk ke sana. Aini duduk di barisan depan sebelah kiri, punggungnya tegak mencerminkan keteguhan hati yang sudah bulat. Di sampingnya, Pak Kodim tampak sangat tenang, jemarinya sesekali merapikan berkas di dalam koper kulitnya yang elegan.

Di seberang ruangan, Varo duduk dengan gelisah. Keringat dingin sesekali menetes di pelipisnya meski ruangan itu dingin. Di belakangnya, Ibu Sarah dan Cilla duduk di kursi penonton dengan dagu terangkat, mencoba memamerkan wajah penuh percaya diri, seolah kemenangan sudah berada di genggaman tangan mereka.

Hakim Ketua, seorang pria paruh baya dengan tatapan mata yang sangat tajam, mengetuk palu tiga kali.

"Sidang lanjutan dengan agenda pembuktian akhir dan pembacaan putusan atas perkara cerai talak dan gugatan harta bersama antara Saudara Varo dan Ibu Aini dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Hakim dengan nada bicara yang berwibawa.

Varo berdiri lebih dulu saat diberi kesempatan bicara. Suaranya sedikit gemetar, namun ia mencoba memaksakan nada bicara yang tegas.

"Mulia, saya tetap pada tuntutan awal saya. Seluruh aset berupa rumah tinggal dan usaha rumah makan adalah harta bersama yang dibangun selama pernikahan. Saya adalah kepala rumah tangga dan manajer di Artha Kencana Group, gaji sayalah yang menjadi modal utama pengembangan usaha tersebut. Sudah sepatutnya aset itu dibagi rata."

Ibu Sarah di kursi penonton mengangguk-angguk setuju, sementara Cilla tersenyum sinis ke arah Aini.

Namun, Pak Kodim hanya tersenyum tipis. Beliau berdiri dengan tenang, tanpa ada sedikit pun keraguan.

"Izin menyela dan memberikan bukti pamungkas, Mulia. Kami membawa bukti mutasi rekening asli yang telah dilegalisir dari pihak perbankan dan surat keterangan resmi dari Artha Kencana Group. Di sini tercatat dengan sangat jelas bahwa bonus prestasi dan dana pesangon milik Ibu Aini dicairkan tiga bulan sebelum akad nikah terjadi. Dana itulah yang digunakan secara utuh untuk membeli tanah dan membangun rumah tersebut."

Pak Kodim menjeda sejenak, menatap Varo yang mulai pucat.

"Selain itu, kami melampirkan laporan pajak tahunan Saudara Varo selama lima tahun terakhir. Anehnya, dalam dokumen negara ini, Saudara Varo tidak pernah sekalipun mencantumkan aset rumah dan usaha tersebut sebagai miliknya. Jika sekarang ia mengaku itu adalah asetnya yang dibeli dari gajinya, maka secara hukum Saudara Varo telah melakukan penggelapan pajak dan memberikan laporan palsu kepada negara selama bertahun-tahun."

Wajah Varo mendadak berubah menjadi seputih kertas. Ia menoleh ke arah ibunya dengan tatapan minta tolong, namun Ibu Sarah hanya bisa melongo kaget, kehilangan kata-kata. Hakim Ketua kemudian memeriksa dokumen-dokumen tersebut dengan sangat saksama, lembar demi lembar. Ruangan menjadi hening total selama beberapa menit, hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti dentuman jantung yang berpacu.

Setelah pemeriksaan selesai, Hakim Ketua kembali mengetuk palu dengan keras. "Berdasarkan bukti-bukti otentik yang tidak terbantahkan, pengadilan menyatakan bahwa aset berupa rumah, tanah, dan usaha rumah makan adalah harta bawaan murni milik Penggugat, Ibu Aini. Dengan ini, tuntutan harta gono-gini dari Tergugat ditolak secara keseluruhan dan tanpa syarat. Pengadilan juga secara resmi memutuskan hubungan perkawinan antara Saudara Varo dan Ibu Aini telah berakhir dengan perceraian karena adanya pelanggaran komitmen dan perselingkuhan yang terbukti."

TOK! TOK! TOK!

"Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih atas keadilan-Mu," ucap Aini lirih. Air mata bening akhirnya luruh membasahi pipinya, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur yang luar biasa. Beban berat yang ia pikul selama lima tahun penuh hinaan itu seolah runtuh seketika.

"Selamat ya, Ai! Akhirnya lo benar-benar lepas dari belenggu laki-laki tidak tahu diri itu!" seru Siska dengan suara lantang begitu mereka melangkah keluar dari ruang persidangan menuju lobi pengadilan yang ramai.

Aini langsung memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat, menumpahkan segala sisa emosinya.

"Terima kasih banyak, Sis. Terima kasih sudah memberi gue tempat berteduh dan menguatkan aku selama seminggu ini. Tanpa lo, gue mungkin sudah menyerah."

"Sama-sama, Ai. lo itu perempuan hebat. Lo pantas mendapatkan kebahagiaan ini," balas Siska sambil mengusap punggung Aini dengan penuh kasih sayang.

"Ibu Aini, Ibu Siska," panggil Pak Kodim yang berjalan menghampiri mereka.

Aini segera melepas pelukannya dan mengusap air matanya.

"Eh, Pak Kodim! Maaf ya Pak, saya benar-benar bahagia sampai lupa tempat."

Pak Kodim tersenyum bijak, wajahnya mencerminkan kepuasan seorang profesional yang berhasil menegakkan keadilan.

"Tidak apa-apa, Ibu Aini. Ini adalah kemenangan kejujuran atas keserakahan. Ingat, mulai detik ini, Ibu adalah pemilik mutlak atas seluruh jerih payah Ibu. Jangan biarkan siapa pun mengintimidasi Ibu lagi."

"Amin... Sekali lagi terima kasih banyak atas perjuangannya, Pak," tambah Siska ikut menyalami pengacara senior tersebut.

Namun, momen haru itu mendadak rusak saat suara langkah kaki yang kasar terdengar dari arah belakang. Ibu Sarah datang menghampiri dengan wajah merah padam, matanya melotot penuh kebencian. Di belakangnya, Varo dan Cilla mengikuti dengan wajah yang tak kalah muram.

"Heh, perempuan tidak tahu untung! Jangan kamu pikir dengan putusan hakim itu kamu bisa tenang!" teriak Ibu Sarah dengan suara melengking yang mengundang perhatian orang-orang di lobi.

"Kamu sudah mempermalukan keluarga kami! Kamu tega memiskinkan suamimu sendiri? Dasar perempuan berhati batu!"

Aini dan Siska memutar tubuh mereka dengan gerakan anggun. Aini sama sekali tidak terlihat takut; ia justru memasang wajah datar yang sangat tenang.

"Maaf, Anda sedang bicara dengan siapa? Seingat saya, saya tidak punya urusan lagi dengan orang asing."

"Anda?! Kurang ajar kamu, Aini! Masih berani kamu memanggil Ibu dengan sebutan 'Anda'? Aku ini masih suamimu, dan dia ibuku!" bentak Varo, mencoba menggunakan otoritasnya yang sebenarnya sudah musnah.

Siska meledak dalam tawa yang sangat puas. "Hahaha! Lucu sekali ko, Varo. Apa telinga lo tadi tertinggal di dalam ruang sidang? Hakim sudah mengetuk palu! lo dan Aini sudah sah bercerai. Jadi, jangan mimpi masih dianggap suami. Sadar diri, Varo! Ibu Sarah itu sekarang bukan lagi mertua Aini, tapi mertua resmi bagi si perempuan simpanan lo ini."

Siska menunjuk ke arah Cilla yang tampak pucat, tangannya terus gemetar memegang lengan Varo.

"Jangan sampai lo stres berat lalu jadi gila gara-gara kehilangan harta yang bukan milik lo ya, Varo. Kasihan istri lo yang baru ini, masa baru sah sudah punya suami yang hilang ingatan," sindir Siska dengan kata-kata yang menusuk.

"Eh, perempuan lancang! Jangan berani menghina kami!" sahut Cilla dengan suara parau.

"Kami menikah karena dasar cinta, bukan karena harta! Lagipula wajar kalau Mas Varo mencari kebahagiaan lain, karena Aini itu mandul! Pria mana yang mau bertahan selamanya dengan wanita yang rahimnya kering?"

PLAK!

Satu tamparan yang sangat keras dan bertenaga mendarat tepat di pipi Cilla. Kepala perempuan itu sampai terlempar ke samping. Suasana lobi yang bising mendadak senyap seketika.

"Aduh! Sakit! Mas, dia menamparku!" rintih Cilla sambil memegangi pipinya yang langsung membiru kemerahan.

"Dengar ya, perempuan murahan," ucap Aini dengan nada suara yang sangat dingin, setiap katanya terasa seperti silet yang tajam.

"Jangan pernah coba-coba menghina fisikku lagi. Kamu lupa dengan hasil tes kesehatan yang dibacakan Pak Kodim tadi? Aku sehat, aku tidak mandul. Justru kamu yang harusnya malu, bangga menjadi istri orang padahal sudah hamil duluan. Video syurmu yang memalukan itu sudah menyebar di mana-mana, masih berani kamu bicara soal harga diri di depanku?"

"Bagus, Ai! Kalau perlu tampar lagi sebelah satunya!" seru Siska yang merasa sangat puas.

Ibu Sarah yang tidak terima menantunya disakiti langsung bergerak maju dengan tangan terangkat.

"Berani kamu menyentuh menantuku! Sini kamu!"

Namun, sebelum tangan Ibu Sarah sampai ke wajahnya, Aini dengan sangat sigap menangkap pergelangan tangan wanita tua itu dan memelintirnya dengan kuat.

"Aww! Sakit! Lepaskan, Aini! Sakit sekali!" ringis Ibu Sarah yang kini terpaksa membungkuk karena tangannya terkunci.

"Jangan pernah berani menyentuh kulit saya lagi dengan tangan kotor Anda," desis Aini tepat di depan wajah Ibu Sarah. Sorot matanya kini begitu mematikan.

"Saya bukan lagi Aini yang bodoh, diam, dan bisa kalian injak-injak seperti keset kaki. Aini yang dulu sudah mati kalian bunuh dengan pengkhianatan kalian. Jadi, jangan coba-coba memancing kemarahan saya lebih jauh."

Aini menghempaskan tangan Ibu Sarah dengan sangat kasar hingga wanita itu terhuyung dan hampir jatuh jika tidak ditangkap oleh Varo.

"Setelah ini, saya beri kalian waktu tepat satu jam untuk mengosongkan rumah saya. Bawa semua barang-barang murah kalian. Jika lewat dari satu jam kalian masih ada di sana, saya akan memanggil pihak berwajib untuk menyeret kalian keluar dengan cara yang paling memalukan!"

"Ayo, Sis, kita pergi dari sini. Bau orang-orang serakah ini membuatku pusing," ujar Aini tegas.

"Aini, tunggu! Mas belum selesai bicara soal biaya persalinan Cilla nanti!" teriak Varo yang masih mencoba mencari celah untuk meminta uang.

Aini tidak menghiraukan teriakan itu. Ia masuk ke dalam mobilnya bersama Siska dengan anggun. Namun, sesaat sebelum mobil bergerak, Aini menurunkan kaca jendela dan menatap Varo yang masih berdiri terpaku.

"Tunggu, Sis! Berhenti sebentar," pinta Aini. Ia turun kembali dari mobil dan berjalan menghampiri Varo yang kini memasang wajah penuh harapan.

"Kenapa, Ai? Kamu berubah pikiran? Kamu sadar kan kalau kamu sebenarnya masih butuh pria di sampingmu?" ucap Varo dengan percaya diri yang luar biasa tinggi.

Aini menatapnya dengan tatapan yang sangat malas.

"Jangan terlalu percaya diri, Varo. Aku turun hanya untuk meminta satu hal yang sangat penting. Mana kunci mobil merahku?" Tanya Aini tentang mobil pertama kali ia beli diwaktu masih gadis dulu.

"Loh, kan Mas yang pakai tadi untuk bawa Ibu dan Cilla ke sini..." jawab Varo dengan wajah bingung.

"Sini, berikan kepadaku sekarang juga!" Aini merampas kunci mobil dari saku kemeja Varo dengan gerakan yang sangat cepat.

"Mobil ini aku beli dengan bonus prestasiku dari Artha Kencana Group jauh sebelum kita menikah. Jadi, ini mutlak hakku. Kalian silakan cari taksi, atau lebih baik naik angkot saja untuk pulang ke... oh maksud saya, kembali ke rumah saya untuk segera berkemas dan pergi!"

Aini langsung berjalan menuju mobil merah mewahnya yang terparkir di sudut lobi. Ia masuk ke dalamnya, menyalakan mesin yang menderu halus, dan melesat pergi meninggalkan mereka bertiga yang kini berdiri mematung di tengah terik matahari yang menyengat. Sedangkan Siska membawa mobil putih barunya.

Ibu Sarah berteriak histeris di tengah lobi, memaki-maki seperti orang kehilangan akal karena tidak terima mobil itu diambil kembali. Karena cuaca yang sangat panas dan tidak ada satu pun taksi yang mau berhenti untuk mereka, mereka terpaksa berjalan kaki menuju halte terdekat untuk menaiki sebuah angkot tua yang bau dan penuh sesak. Kehidupan mewah yang selama ini mereka nikmati dari keringat Aini, akhirnya berakhir dengan kehinaan yang paling dalam tepat di hari ketukan palu hakim terdengar.

BERSAMBUNG...

1
aku
gk jd nonton layar tancep dah pengunjung nya... 🤧🤧
Anonymous
awokawok diem kan lu tua bangka
Dede Azwa
bagussss Aini dasar manusia serakah...kok ada manusia kaya mereka..bukan ny nyadar atas kesalahan..malah berlaku kaya orang terzolimi 😏😡
Anonymous
kalau istri yang mengajukan itu namanya cerai gugat, kalau cerai talak itu kalau suami yang memohon
Anonymous
yahh harus nunggu besok 🥹
Sasikarin Sasikarin
drama bgt
Dede Azwa
gereget.. padahal lapor kan ke sekuriti/polisi...usir manusia" tamak Gedeg baget lihat ny...
Ray
jangan lupa komen ya 🙏
rian Away
MAMPUS JALANG
Dede Azwa
kejutan Mulu thorrr..bosen denger ny,,,harus ny langsung ke inti ny....bikin darting liat ny😡
Dede Azwa: iya kak othor sama"🤭semoga kedepannya lebih gacorrr lagi...bagus ceritanya pemeran utama ny gak menye" pertahan kan KK..sukses selalu kak othorr buat novel ny👍💪🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!