NovelToon NovelToon
Halraf Saga: Rahasia Gelap Dan Petualangan Terang

Halraf Saga: Rahasia Gelap Dan Petualangan Terang

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah sejarah / Kontras Takdir / Dan perjuangan hegemoni / Epik Petualangan / Barat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fancatra

Berlatar di Nusantara pada abad ke 13 Masehi, terhampar kisah luar biasa seorang budak bernama Hal, yang melawan belenggu perbudakan dengan api semangat yang tak pernah padam. Ketika ia meraih mimpi kebebasannya, dunia di sekitarnya justru dilanda konflik kerajaan yang merajalela. Hal menemukan dirinya terperangkap dalam pusaran kekacauan dan intrik kekuasaan.

Ketika lolos dari kekacauan pun nasibnya tidak beruntung. Pasukan penjarah mongol menghancurkan segala harapan dan membawanya ke dalam dunia yang lebih gelap. Ia di latih oleh mongol untuk menjadi salah satu pejuang dari mereka, dan diberikan nama Halraf

Seiring usia dan pengalaman yang bertambah, Halraf merenungkan arti sejati dari hidup dan perdamaian. Ia memutuskan untuk meninggalkan jejak perang dan kekerasan, dan memulai perjalanan mencari makna di balik konflik yang mengiringi langkahnya. Di tengah medan yang pernah dipenuhi pertempuran, Halraf berusaha menemukan jalan menuju perdamaian yang ia yakini ada di luar sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fancatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah awal menjadi seorang pejuang

Di bawah sinar matahari yang terik, suara langkah kaki pasukan Mongol menggema di ladang yang sunyi. Sebuah kelompok kecil tentara yang berjumlah sekitar dua puluh orang dengan wajah serius dan penuh tekad, mereka sedang berburu seorang anak kecil yang melarikan diri dengan nafas terengah-engah.

Anak kecil yang bernama Hal adalah seorang budak berprofesi sebagai petani, ia berusia sekitar dua belas tahun. Hal terus berlari, nafasnya terengah-engah dan keringat mengucur deras di wajahnya. Namun ketangguhannya tak tergoyahkan, karena ia sedang diburu oleh pasukan yang berbahaya dan tidak akan berhenti sebelum menggapainya. Naran juga berlari di sampingnya matanya penuh rasa terima kasih dan keberanian.

Senyum mereka berdua yang penuh percaya diri dan matanya yang penuh keberanian telah berubah menjadi mata yang penuh dengan rasa takut. Hal memegang sebilah pisau sederhana dan pedang di tangannya, senjata yang menjadi pembela dirinya saat menghadapi situasi terdesak.

Dalam pelariannya, Hal mencoba mengandalkan pengetahuannya tentang hutan dan medan yang dulu sering ia jelajahi. Namun, pasukan Mongol terlatih dan tidak mudah dikecoh. Saat mereka semakin mendekat, Mereka berdua merasa terpojok merasa semakin terpojok. Ia terus berusaha mempertahankan dirinya dengan sebilah pisau dan pedang yang terasa semakin berat di tangannya.

Namun, usaha mereka untuk melarikan diri akhirnya berakhir ketika mereka terkepung oleh pasukan Mongol. Dikelilingi oleh prajurit-prajurit yang ganas, Tegar dan Maya merasa takut namun teguh pada prinsip mereka. Pasukan Mongol yang dipimpin oleh seorang prajurit berpengalaman, Jochi, mampu mengendalikan situasi dengan mudah.

Pasukan Mongol berhasil mengepungnya, dan Hal dengan ragu menyerahkan senjatanya. Mereka melihatnya dengan penuh waspada dan kemarahan, namun tanpa ancaman fisik yang langsung. Mereka berdua di seret menuju ke rumah tuan Gandaf, tempat dimana pemimpin pasukan itu singgah sementara.

Pemimpin pasukan Mongol itu, Ike mese, adalah sosok yang memiliki watak yang kuat, tegas, dan ambisius. Ia adalah prajurit yang berpengalaman dalam berdiplomasi, ia memiliki reputasi yang dihormati di antara pasukannya. Dengan postur yang tegap dan tatapan tajam, Ike mese selalu memancarkan aura kepemimpinan yang dominan.

Tegas dan tajam dalam berbicara, Ike mese tidak pernah ragu untuk mengekspresikan pandangannya dengan jelas. Inilah yang membuatnya di percaya oleh Kubilai khan untuk menjalin diplomasi kepada kerajaan-kerajaan di wilayah asia tenggara. Ia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat dan tegas, bahkan dalam situasi yang penuh tekanan. Meskipun penuh dengan rasa marah dan dendam atas kematian rekannya akibat dibunuh oleh kertanegara dan seorang anak kecil, Ike mese juga memiliki naluri taktis yang kuat. Ia mampu menganalisis situasi dengan cermat dan membuat keputusan yang strategis. Ia juga yang menyarankan pasukannya agar menjarah desa-desa untuk menenangkan hati Khan nya karena ia telah gagal menjalankan tugas yang di berikan.

Dalam menghadapi Hal, Ike mese tidak hanya menunjukkan sifat ketegasannya, tetapi juga kecerdikan dalam berdiplomasi. Ia mengambil langkah yang cerdas dengan menawarkan Hal sebuah kesempatan untuk membuktikan diri dan menghadapi tantangan. Dibalik keputusannya untuk menguji Hal, ada juga ambisi besar untuk memperoleh pemimpin yang kuat untuk pasukannya.

Tindakan Ike mese dalam menahan Hal dan Naran menunjukkan sifat dominannya. Meskipun ia memiliki kekuasaan untuk mengambil tindakan drastis, ia memilih untuk memberi Hal peluang untuk membuktikan diri. Namun, tidak ada rasa belas kasihan dalam tindakannya.

Ike mese mungkin tampak sebagai sosok yang keras dan dingin, ada lapisan emosi yang lebih dalam di dalam dirinya. Kematian rekannya telah meninggalkan bekas yang mendalam, dan dendamnya mendorongnya untuk mencari balas dendam. Namun, di balik itu, terdapat kebijaksanaan dalam tindakannya. Ia menghargai kekuatan dan kemampuan, dan ingin mengambil manfaat dari potensi yang dimiliki oleh Hal.

"Pisau dan pedang itu adalah milikmu, bukan?" tanya Ike mese dengan suara tenang.

Hal mengangguk dengan hati-hati, masih dijaga oleh perasaan takut yang meliputi dirinya.

Ike mese berjalan memutarinya tersenyum tipis, "Hebat sekali kamu, membunuh tiga orang pasukanku sendirian"

Hal menatap ike mese dengan pandangan skeptis.

“Baiklah mari kita lihat apakah kemampuanmu itu memang murni karena pengalaman bertarung, ataukah hanya keberuntungan saja”

Ike mese melempar pedang kepada Hal, ia menyuruhnya untuk berduel dengannya.

Hal menatap Ike mese dengan mata yang penuh semangat. Meskipun hatinya berdebar kencang, tekadnya tidak goyah. Ia mengingat Maya, dan semua hal yang telah mereka lalui bersama. Ia merasa tanggung jawab untuk melindungi dan membuktikan dirinya, bahkan di hadapan ancaman yang sebesar ini.

Di bawah matahari yang terik, arena duel terbentang luas di depan rumah tuan Gandaf. Hal, anak kecil yang berani dan penuh semangat, berdiri di ujung arena dengan tangan kanannya yang menggenggam erat pedangnya. Di hadapannya, Ike mese, pemimpin pasukan Mongol, memandangnya dengan pandangan yang datar, seolah meremehkan lawannya.

Pertarungan dimulai dengan sinyal dari Ike mese. Hal melangkah maju dengan berani, mata penuh tekad, dan hati yang penuh semangat. Namun, seiring gerakannya, Ike mese dengan mudah menghindarinya dengan langkah cepat dan lincah. Ia seakan memainkan Hal, menggoda dan mengolok-oloknya dengan gerakan gesitnya.

Hal mencoba sekali lagi, mengayunkan pedangnya dengan kecepatan dan tekad yang membara. Namun, sekali lagi, Ike mese menghindar dengan tangkasnya, seolah-olah bermain-main dengan serangan-serangan Hal. Beberapa kali, Ike mese bahkan terlihat menghindar dengan anggun, sambil sesekali menyentuh kepala Hal seperti menggoda seekor banteng yang hendak menyerang.

Hal merasa semakin terdesak dan frustrasi. Ia tidak dapat menahan perasaan marah dan malu yang membara di dadanya. Bagaimanapun, ia adalah seorang pejuang yang gigih, dan tekadnya tidak akan goyah. Ia mencoba mengendalikan emosinya dan memusatkan perhatiannya pada gerakan Ike mese.

Namun, setiap serangan yang dilancarkan oleh Hal, dielakkan dengan mudah oleh Ike mese. Dalam hitungan detik, Hal merasa ia seperti boneka yang diatur oleh pemimpin pasukan Mongol itu. Dengan gerakan lincah dan presisi, Ike mese berhasil menghindari serangan-serangan Hal dengan sempurna.

Akhirnya, setelah serangkaian serangan yang tidak berbuah hasil, Hal merasa kelelahan dan terhuyung. Ike mese, dengan tatapan datar, melihat Hal dengan pandangan yang seakan menghina. Dalam gerakan yang sangat cepat, Ike mese melancarkan serangan balasan yang tepat, dan Hal tak mampu menghindarinya.

Pedang Ike mese meluncur dengan kecepatan kilat, mengarah langsung ke arah Hal. Dan dalam satu hembusan napas, serangan itu menghantam sasaran. Ike mese masih berbaik hati ia tidak memukul menggunakan bilah pedangnya melainkan hanya pangkal pedangnya saja.

Setelah duel yang menghasilkan kemenangan bagi ike mese dan pasukannya, suasana di arena duel berubah menjadi sunyi. Hal terbaring lemah di tanah, nafasnya terengah-engah menggambarkan kelelahan yang mendalam, ia pun tak sadarkan diri.

Ike mese dan pasukannya berdiri di sekitarnya, wajah-wajah mereka mencerminkan kemenangan dan kepuasan atas hasil duel tersebut. Namun dibalik wajah-wajah para prajurit mongol, terdapat pemandangan yang mengharukan. Naran, teman perempuan Hal yang selama ini menemani hari-harinya, berlutut di sampingnya dengan wajah penuh kekawatiran. Matanya berkaca-kaca, mencerminkan kecemasan yang mendalam atas nasib Hal.

Dari kejauhan seorang paruh baya berlari sekuat tenaga datang mendekat, ia adalah tuan Gandaf sang pemilik ladang. Tuan Gandaf memohon-mohon kepada Ike mese agar segera menghentikan semua tindakan pasukan mongol. Ia menegaskan jika ladangnya ini dilindungi oleh raja dari singasari, jika sang raja tahu tindakan tak bermoral mereka, mereka akan diburu habis habisan.

Ike mese yang mendengarnya pun terkejut, dan membayangkan keganasan kertanegara. Ia berpikir jika ia tidak segera kembali ke kerajaan mongol ia akan mati dan kerajaan mongol tidak akan tahu informasi bahwa kertanegara telah menyulut perang kepada kerajaan mongol.

Ike mese kemudian memerintahkan pasukannya untuk segera pergi dari tempat ini. Ia mengangguk memberi isyarat kepada salah satu pasukannya. Tanpa kata-kata, prajurit itu segera mengambil tindakan. Ia membungkus tubuh Hal dengan kain dan mengangkatnya dengan hati-hati. Hal yang tidak berdaya terlihat lebih kecil dalam pelukan prajurit itu

Dengan langkah hati-hati, pasukan mongol bergerak menuju pelabuhan. Hal dibawa perlahan-lahan dalam keadaan pingsan,matanya yang tertutup rapat menggambarkan ketidakmampuannya untuk menyaksikan perjalanan ini. Naran mengikuti dengan langkah lesu,tangisnya tertahan tetapi ekspresi kekhawatirannya tak dapat disembunyikan. Tuan Gandaf mencoba untuk menenangkannya dan meminta untuk mengikhlaskan kepergiannya.

1
Monica Lora
ceritanya bagus.. bny pesan nya
deeyaa
jujur ya Thor, aku lebih suka cerita yang menceritakan sebuah perjuangan seperti ini. si tokoh utama gak semerta-merta langsung sukses dan bahagia. semua itu di lewati oleh kerja keras
Alfan
baru pertama kali baca aku udah suka aja sama ini buku, sukses selalu buat author ✌️
Rifky Rifandi
Mohon kritik dan saran untuk karya pertama saya:)
Gobets: bagus bro
total 1 replies
Angela M.
Pengalaman yang luar biasa! 🌟
Alphonse Elric
Penasaran banget sama kelanjutan cerita, semoga cepat diupdate lagi 🤞
PetrolBomb – Họ sẽ tiễn bạn dưới ngọn lửa.
Jangan tanya deh, aku udah addicted banget sama cerita ini!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!