NovelToon NovelToon
BadBoy

BadBoy

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Tamat
Popularitas:2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kiandra 025

Ini cerita tentang Aresha, Arjuna dan juga Arsen.
Aresha yang memiliki kekasih ketua osis tampan seperti Arjuna. Namun Arjuna yang selalu menomor duakan Aresha demi urusan sekolahnya .

Lalu bagaimana hubungan antara Arjuna dan Aresha bisa bertahan jika Arjuna tidak pernah ada di saat Aresha membutuhkanya, dan di saat itulah Aresha memiliki masalah dengan Arsen. Cowok bertubuh jangkung dengan wajah yang menawan namun terkesan datar dan dingin itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiandra 025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 09

Aresha menepikan mobilnya di pinggiran jalan yang sepi. Keadaanya sungguh kacau, matanya sembab, hidung merah, dan rambutnya acak acakan.

Hari sudah semakin sore, namun rasanya Aresha tak berani pulang dalam keadaan seperti ini. Aresha takut kepulanganya membuat orang satu rumah mengkhawatirkanya, dan Aresha tidak mau itu terjadi.

"Apa yang lo lakukan Aresha, kenapa lo begitu lemah hanya karena cowok." Aresha menumpahkan tangis air matanya didalam mobil. Matanya terpejam dengan kepala yang bertumpu pada stir mobil.

Tok tok tok.

"Keluar lo sekarang!" ketukan pintu, serta bentakan seseorang yang menyuruh Aresha untuk keluar, membuat seketika tubuh Aresha bergetar. Aresha mengangkat kepalanya dan melihat ada empat orang pria berbaju hitam mengerubungi mobil nya.

Aresha panik, Aresha tidak bisa berfikir jernih hingga dengan bodohnya, Aresha membuka pintu mobilnya dan memudahkan pria itu untuk menyeret Aresha keluar.

"Hei, apa yang kalian lakukan?" teriak Aresha saat dua orang mencekal tangan nya dengan sangat kuat.

"Tenang saja Nona, kami semua tidak akan menyakitimu jika kamu diam saja." ucap pria yang tadi mengetuk kaca mobil, tak lupa dengan seringaian licik diwajahnya.

"Kamu yang akan menemani kita perpesta nanti malam Nona manis, hahaha." sahut salah satu dari mereka dengan tawa yang mengerikan.

"Kumohon, biarkan aku pergi dari sini. Aku janji akan memberikan apapun yang kalian inginkan, tapi kumohon, biarkan aku pergi." mohon Aresha meronta ronta didalam cekalan dua orang itu. Air mata yang terus keluar dari matanya, menggambarkan betapa takutnya Aresha saat ini.

"Hahaha," Aresha semakin ketakutan mendengar tawa mereka semua.

"Kita tidak butuh apapun, Nona manis, kita hanya butuh tubuh Nona untuk menghangatkan kita nanti malam." pria yang Aresha yakini adalah ketua nya, langsung merangkul tubuh Aresha kedalam pelukan nya.

"Lepaskan aku," teriak Aresha meronta ronta ingin di lepaskan.

"Bawa masuk ke mobil nya, kita pergi dari sini!" tegas pria yang merangkul tubuh Aresha.

"Tidak! Lepaskan aku!" teriak Aresha meronta menolak untuk dibawa pergi.

Brugh..

Tubuh pria yang merangkul Aresha terjatuh bersamaan dengan datangnya seorang pria yang menyelamatkan Aresha.

"Bangun kamu, jangan jadi pengecut yang beraninya dengan perempuan " bentak pria yang menyelamatkan Aresha. Dengan berani nya, pria itu menghampiri keempat preman jalan dengan tangan terkepal.

"Aku tau siapa kalian, kalian adalah preman yang suka menganggu. Maka bersiaplah kalian akan mendekam di penjara setelah ini." mendengar kata penjara, buru buru mereka semua berlari pergi, meninggalkan pria itu yang menatap kepergian para preman dengan tatapan tajam.

Pria itu berbalik dan menghampiri Aresha yang masih menangis menutupi wajah nya.

"Hai, tenanglah, mereka semua sudah pergi. Kamu sudah aman sekarang." kata yang diucapkan pria itu, bukanya membuat Aresha merasa tenang, justru semakin membuat Aresha menangis.

Pria paruh baya dengan setelan formal itu tersenyum menatap Aresha, tanganya bergerak untuk mengusap rambut Aresha.

"Jangan menangis lagi Aresha, Om ada disini." mendengar namanya disebut, Aresha mendongak untuk menatap wajah pria yang sudah menyelamatkan nya.

"Nama saya Aril! Om, temanya Papa kamu. Jadi kamu gak perlu khawatir ya," ucap pria itu seakan mengerti kebingungan diwajah Aresha.

"Makasih Om, saya sangat berterimakasih dengan Om Aril." ucap Aresha setelah lama berdiam. Aril tersenyum dan mengangguk.

"Yasudah, Om antar kamu pulang ya," Aresha hanya mengangguk sebagai jawaban, perasaan syok yang masih ada dalam dirinya, membuat Aresha tak tau harus bagaimana selain menyetujui pertongan teman Papa nya.

📝

"Astagfirullah Aresha, kamu kenapa sayang?" Nara yang baru saja membukakan pintu, dikejutkan dengan kedaan Aresha yang amat kacau.

"Bundaa... " Aresha langsung memeluk Nara dan menangis di pelukan nya.

"Aresha takut Bunda, tadi ada yang mau jahatin Aresha," lirih Aresha tanpa melepaskan pelukannya.

Nara mengusap bahu Aresha dengan sayang. Lalu beralih menatap pria yang sudah mengantarkan putrinya, yang ternyata adalah rekan kerja suaminya.

"Aril, maksih ya, sudah mengantarkan Aresha pulang," ucap Nara, Aril mengangguk dan tersenyum singkat.

"Lain kali hati hati ya Aresha, untung saja tadi Om lihat. Jika tidak, maka Om tidak tau apa yang akan terjadi pada kamu."

"Iya Om, makasih banget ya," ucap Aresha dengan nada lemah. Setelah nya, Aril berpamitan untuk pulang, karena hari yang hampir menjelang malam, dan Aresha yang butuh istirahat untuk menenangkan diri.

"kita masuk yuk Sayang, Papa udah nungguin Aresha dari tadi." Nara menuntun Aresha untuk masuk ke dalam rumahnya.

"Aresha kamu dari__ Astagfirullah Aresha, kamu kenapa Sayang?" Fandi yang baru saja keluar dari ruangan kerja nya, di buat khawatir dengan keadaan putri kesayangan nya.

"Kak Aresha kenapa? Kok bisa berantakan begitu." Areno juga sama, dia terkejut melihat penampilan kakak perempuan nya yang jauh dari kata rapi.

"Tanya tanya nya nanti saja. Sayang, kamu ke kamar dulu ya, mandi, habis itu makan! Kamu belum makan kan?"

Aresha hanya mengangguk dan menunduk, Aresha berjalan dengan pelan naik ke atas tangga, masuk ke dalam kamarnya dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Namun langkah nya harus terhenti ketika melihat Fandi masuk ke dalam kamar nya.

"Papa mau bicara sebentar sama kamu, Sayang."

Aresha menghela napas nya, niatnya untuk masuk kedalam kamar mandi, terurung karena papa nya.

"Ceritakan semuanya pada Papa, kenapa kamu bisa seperti ini, siapa yang udah buat anak Papa seperti ini?" Aresha hanya menunduk dan menangis, bayangan keempat preman itu kembali membuat Aresha merasa ketakutan.

Fandi mendekati Aresha dan memeluk nya dengan penuh kasih sayang. Fandi rindu putrinya setelah 2 hari ia pergi keluar kota. Fandi memang ingin segerah bertemu dengan putrinya, namun tidak dengan keadaan dan kondisi seperti ini, yang membuat Fandi merasa gagal menjadi seorang ayah yang dapat melindungi anak anaknya.

"Aresha takut Pah, mereka hampir saja ingin lecehin Aresha." isak Aresha di pelukan Papa nya.

Fandi melepaskan pelukan nya dan menghapus air mata yang mengalir dari mata Aresha.

"Jangan nangis Sayang, kamu buat Papa sedih."

"Tapi Aresha masih takut Pah,"

"Ada PapaSayang. Papa janji sama Aresha, kejadian tadi tidak akan terulang lagi. Aresha jangan takut ya,"

Aresha mengangguk didalam pelukan Papa nya, rasa tenang kini mulai Aresha rasakan.

Fandi tersenyum dan mengelus punggung Aresha yang bergetar. Namun jauh dari lubuk hatinya, Fandi masih merasa terluka, Fandi tidak rela anak perempuan satu satunya disakiti. Dan Fandi berjanji, akan membalas perbuatan mereka yang sudah berani membuat anaknya menangis ketakutan.

"Yaudah, sekarang kamu mandi dulu ya, habis itu turun buat makan malam bersama. Papa rindu makan bareng sama anak anak Papa." Aresha mengangguk lesu dan kembali masuk ke dalam kamar mandi nya. Untuk sesaat, Aresha hanya ingin tenang, dia tidak mau memikirkan apapun dulu karena sekarang melupakan kejadian tadi adalah yang terpenting untuk nya.

📝

Pukul 22:00 malam, Arsen baru pulang ke rumah nya masih lengkap dengan seragam sekolah nya. Karena seperti biasa, Arsen akan bermain bersama para sahabat nya sepulang sekolah. Tidak mempedulikan amukan mama nya setelah tahu kepulanganya.

Arsen berjalan dengan langkah tenang masuk kedalam rumah nya yang sepi, menaiki tangga demi tangga untuk sampai di kamar nya. Begitu sampai di depan pintu kamar, Arsen langsung membukanya.

Arsen yang baru saja akan melangkah masuk, terhenti karena adanya Arkan didalam kamarnya.

"Kemana aja lo, baru pulang jam segini?"

Arsen menatap datar Arkan, tanpa ada niat untuk menjawabnya.

"Lo budek atau gimana?" sentak Arkan.

"Keluar!" satu kata yang terucap dari mulut Arsen, membuat Arkan tertawa diatas ranjang. Arsen memincingkan matanya menatap Arkan yang beranjak mendekati nya.

"Kenapa gue harus keluar?"

"Karena ini kamar gue." jawab Arsen dingin, masih mencoba untuk tenang, atas rasa marah yang perlahan mulai merasukinya.

"Mulai sekarang, ini juga kamar gue, karena gue akan tinggal disini."

Bugh.

Arkan terjatuh akibat pukulan Arsen yang tiba tiba.

"Gue gak akan biarin lo tinggal dikamar gue," desis Arsen dengan mata menyalang tajam. Kamar ini adalah kamarnya, tidak ada yang boleh menempatinya selain dirinya.

"Ada apa ini, kenapa kalian ribut sekali." ucap Erina yang baru datang bersama suaminya, Aril.

"Arkan, kamu ngapain dibawah?" tanya Aril menatap Arkan yang masih duduk dilantai dengan sudut bibir yang terluka.

"Arsen, kamu apakan Kakak kamu?" sentak Erina menatap Arsen marah.

"Aku gak suka, ada yang menempati kamar ini selain aku." jawab Arsen dingin, tanpa menoleh ataupun menatap wajah mama nya.

"Tapi mulai sekarang Arkan tinggal di sini Arsen. Dia juga berhak menempati kamar ini," perkataan Erina, berhasil membuat Arsen menoleh menatap Mama nya.

"Iya, Arkan akan tidur satu kamar dengan kamu, dan kamu juga harus berbagi ranjang dengan Arkan."

Arsen tersenyum miring menatap mama nya. Tidur satu ranjang bersama Arkan? Arsen ingin tertawa rasanya, jangankan tidur satu ranjang, makan dimeja yang sama pun Arsen tidak sudi.

"Mama pikir, aku mau satu kamar dengan nya? Asal Mama tau, aku lebih baik pergi dari sini dari pada harus berbagi tempat tidur dengan nya."

"Tidak masalah, pergilah kalau kamu mau pergi."

"Tidak ada yang boleh pergi dari sini! Arsen, kamu akan tetap tinggal dan tidur di kamar ini, dan Arkan, kamu akan tidur di kamar sebelah." ucap Aril dengan nada tegas.

"Arsen," Aril ingin menepuk bahu Arsen, namun dengan gesit, Arsen menepisnya dan menatap penuh kebencian kepada papa barunya.

"Oke! Aku akan pergi dari sini, dan pastikan, tidak akan lagi menganggu kebahagiaan Mama dengan keluarga baru Mama." ucap Arsen tanpa ada keraguan di setiap perkataan nya, Arsen melangkah keluar dari kamarnya sendiri, kamar tempatnya dibesarkan dan kamar tempatnya menanggung luka setelah dibesarkan.

"Arsen! Arsen tunggu, kamu mau kemana Arsen," Aril berteriak ingin berlari mengejar Arsen, namun terhalang, karena Erina mencekal tanganya.

"Biarkan Arsen pergi dulu, nanti dia juga balik sendiri kalau butuh kita." ucap Erina menatap kepergian Arsen dengan tatapan tak terbaca.

Arkan tersenyum penuh kemenangan melihat Arsen telah pergi. Rasa puas kini Arkan rasakan saat mama nya lebih membela dirinya daripada Arsen. Dan Arkan tau, pasti rasanya sangat menyakitkan buat Arsen, sama seperti perasaan yang sudah bertahun tahun Arkan rasakan, rasa sakit yang Arkan pendam selama ini.

1
K_Forza
beranda sekali aku baca pas bagian ini 🤣
K_Forza
ternyata novel ini udah ada di tahun 2020 dan aku baru tau di 2025 lewat dubber nya novel ini..
keren novel nya bikin terharu, terbawa suasana mengingatkan jaman sekolah dlu
K_Forza
gak suka Arjuna ih
K_Forza
jangan bilang kalo vino juga suka Aresha?
K_Forza
bener, paling gak kuat dan males punya cowok cuek apalagi gak peka🥲
K_Forza
astaga koplak juga gurunya 🤣😂
Qaisaa Nazarudin
Kenapa aku gak rela cerita ini END sih thor,, Aku pengen baca sampai mereka nikahan semua dan punya anak masing2 nya..ck thor huaaa..Aku gak rela END😩😩😩😩
Qaisaa Nazarudin
Kita kawal sampai pelaminan thor..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Yezzzz 💪🏻💪🏻💪🏻👏🏻👏🏻👏🏻 Mau2,Mau dong 🥰🥰🥰😍
Qaisaa Nazarudin
Pikuran yg kel gini yg gak benar,Harus di perjuangkan,Bukannya nyerah gitu aja,,Sebel aku..
Qaisaa Nazarudin
Berarti cinta kamu belum kuat utk Aresha,nyatanya kamu tdk mempercayai nya,,Kamu malah lebih memilih Ego mu,Aku kecewa dgn mu Arsen..
Qaisaa Nazarudin
Aresha terlalu gengsian dan gak pernah peka dgn keadaan Arsen,Heran aku,,,
Qaisaa Nazarudin
Waahh Arjuna licik,Bawak bawain mama nya utk dekatin Aresha lagi, Curang..
Qaisaa Nazarudin
Mendingan sama Aldrin dari pada kamu yg masih mencintai cewek lain,tapi pacaran dgn Stephany,,🙄🙄Rasain kamu kan..
Qaisaa Nazarudin
Aneh ya,Kok ada kembaran yg saling musuhan kek gitu,Hanya di dunia novel kan..😂😜
Qaisaa Nazarudin
Sengaja ya Arsen kasih nomornya ke Nabila, katanya Cinta sama Aresha,Tapi kenapa gak bisa jagain hatinya Aresha?? Lama2 sebel aku dgn sikapnya Arsen,,
Qaisaa Nazarudin
Itu pasti nomor Nabila,Blokir aja deh Aresha nomor nya..
Qaisaa Nazarudin
Arsen gengsian banget, giliran di dekatin Nabila malah diam aja,, Ini yg bikin mereka tambah salah paham, Kamu sendiri yg kasih peluang Arjuna dekatin Aresha lagi, Ntar jgn nyesel kamu..
Qaisaa Nazarudin
Harusnya kamu yg nemuin Arsen dan minta maaf,Kok sekarang malah kebalik,kamu yg ingin Arsen nemuin kamu,ck🤦🏻‍♀️🤦🏻‍♀️
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa,Sikap Arsen yg suka berantem membuatkan Aresha meninggalkan Arsen,Udah tau Aresha gak suka kamu berantem,Malah Arsen kayak menantang..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!