Sanaya dan Jordy terjerat cinta jarak dekat karena bertetangga sebelah rumah. Namun, mereka sulit untuk bersatu karena warisan kebencian turun temurun dari para leluhur keduanya. Sampai suatu saat mereka digrebek warga karena tanpa sengaja berada di dalam toilet mushola, yang akhirnya menyeret mereka dalam nikah dadakan.
Jordy mencari cara agar pernikahan mereka selesai dan terjadilah hal yang ajaib. Tiba-tiba Carla jatuh dan kejang-kejang menuju sekarat. Permintaan terakhir Carla adalah perceraian Sanaya dan Jordy saat itu juga. Keputusan apa yang akan diambil Jordy sebagai suami? Mampukah Sanaya menghadapi ibu mertuanya yang super ajaib itu?
Kisah ini menceritakan tentang percintaan dengan kemasan komedi, semoga bisa membuat kita yang membacanya terhibur dan mendapatkan hikmah dari setiap perjalanan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Saksi Langsung
“Eh, enak saja kau panggil saya dengan nama bubut? Apa mau tak bubut habis semua bulu yang lekat di tubuh kau itu?” tanya ibu Butet dengan tatapan sinis. Sepertinya perang bakalan tambah seru.
“Baiknya kau sekolah kan lah dulu mulut kau itu! Biar tak asal ngomong nya, jangan sampai tangan saya yang gatal ini menggaruk ginjal kau sampai berdarah!” canda ibu Butet yang sontak membuat sang pemuda merasa ngeri.
“Aduh Inang … jangan kejam kali lah Kak Butet sama anak muda kampung kita! Kasian pula nanti kalau sampai hilang ginjalnya satu, tak laku pula nya dia sama para gadis di sini, soalnya udah lemah anunya itu, hahaha,” celetuk Ibu Winda yang ikut menirukan logat bicara ala orang Sumatera Utara.
Kwkwkwkwk!
Buahahaha!
Wakakakaka!
Bermacam tawa terbahak pun pecah seketika di udara mendengar kalimat yang muncul barusan dari mulut Ibu Butet.
“Kau Bu Winda, bicara lah yang jelas sikit. Anu apanya maksud kau itu? Curiga pula awak jadinya,” sahut Bu Butet lagi.
Suasana tegang karena aksi penggerebekan pun berubah menjadi mata berair kebanyakan tertawa, para warga memang suka los dol kalau sudah bercanda. Hal ini membuat Pak Kyai memberikan kode kepada Pak RT untuk segera menenangkan kerusuhan yang terjadi.
“Tenang ya saudara-saudara warga sekampung saya, sebaiknya bercandanya kita jeda sebentar dan mari kita dengarkan apa keputusan dari mama Carla dan juga emak Maya!” ajak Pak RT dengan sengaja menaikkan kedua telapak tangannya di udara supaya semua warga tenang dan mau mendengarkan keputusan yang bakal disampaikan oleh mamanya Jordy.
“Baiklah … saya bersedia untuk memberikan mahar 50 Ribu rupiah.”
“Whaattt?! Saya tidak setuju, ini sama saja namanya menghina anak gadis saya! Enak saja maharnya 50.000! Pokoknya saya percaya kalau Sanaya tidak melakukan hal bejatt seperti yang warga tuduhkan! Kalau begini ceritanya lebih baik bawa saja Tim Ahli ke sini untuk memeriksa anak gadis saya, kalau dia sudah tak perawan lagi maka saya bersedia Jordy menikahi anak gadis saya mahar uang lima rupiah saja!” Emak Maya menatap sinis sang tetangga sebelah rumah lalu kembali dengan enteng melanjutkan kalimatnya.
“Tapi jika terbukti Sanaya masih Suci maka saya tak sudi punya menantu bernama Jordy.” Mak Maya masih belum puas lalu matanya mengelilingi semua warga yang hadir, seolah memindai satu persatu wajah mereka yang hadir saat ini mempermalukan putrinya.
“Dan saya akan menuntut semua orang yang telah memfitnah Sanaya dengan tuduhan pencemaran nama baik, bahkan akan saya pastikan semua yang terlibat bakal mendekam di —” Maya dengan sengaja menggantung lagi kalimatnya hingga mampu membuat seluruh warga yang hadir ketar-ketir untuk mendengar kalimat selanjutnya.
Gleg!
Bahkan salah seorang pemuda yang tadi berkoar-koar mengelu-elukan jika putrinya dan Jordy telah melakukan perzinahan di toilet mushola, terpaksa harus menelan saliva begitu berat seolah-olah ada biji Kedondong di dalam kerongkongannya.
“Tunggu dulu, Mak! Ayo kita bicara baik-baik nggak usah bawa-bawa sampai ke kantor polisi segala!” potong Pak Kyai yang sudah melihat jika suasana kembali memanas, terlihat jelas di mata Emak Maya yang memancarkan pusat kemarahan.
“Maaf ya Pak Kyai. Bukannya saya tidak mau menghormati Anda tapi anak saya ini difitnah dan Antum pasti mengerti kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan dan lebih pesing dari ke ******! Bukankah sebuah hukuman itu bisa dilakukan jika memang ada saksinya, ini siapa sebenarnya yang menjadi saksi kalau anak saya benar-benar berzinah dengan anak tetangga songong saya itu? Ayo maju siapa yang sudah melihat anak saya berzinah?” mata Emak Maya terlihat begitu nyalang, kembali mengalihkan pandang pada setiap warga yang terlihat malah saling berbisik dan saling menyalahkan.
“Iya, betul juga yang dibilang Mak Maya,” sela Mama Carla tiba-tiba saja setuju dengan perkataan musuh bebuyutannya barusan karena Mama Carla juga tidak suka punya besan tetangga sebelah rumah yang bisa sampai hanya berjalan lima langkah.
“Kalau begini ceritanya, kapan mereka nikahnya?” celetuk salah seorang warga.
“Sstt! Jangan memancing di air keruh, nanti yang ada kamu dapat buaya buntung terus digigit hingga menjerit, sakit baru tahu rasa loh! Mau digantung sama Emak Maya?” oceh warga yang lain menasehati sang pemuda yang sudah tak paham sebenarnya ingin makan enak secara gratis sebab kebetulan pemuda itu merupakan anak kos yang lumayan suka ngirit, mencari gratisan di setiap acara kondangan.
“Pokoknya jika memang ada saksi melihat langsung tanda tanda mereka berdua melakukan perzinahan maka saya akan langsung merestui pernikahan ini! Jangan hanya pandai mengadu domba sampai membuat kebohongan dan menjadi provokator di kampung ini! Ayo maju, siapa yang tadi katanya melihat Sanaya berzinah dengan Jordy!” tantang Emak Maya lagi mengambil langkah yang dirasa bisa menyelamatkan putrinya.
lanjutkan
lanjut thor