Malam di Hutan Hitam tidak pernah ramah, tetapi bagi Dante, kegelapan malam ini adalah panggung pembantaian. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan aroma tanah basah dan darah yang menetes dari luka-lukanya. Dante, pria berusia tiga puluh dua tahun yang dipuja sekaligus ditakuti sebagai bos mafia paling kejam di wilayah utara, kini terdesak. Senjata otomatisnya telah habis meriamnya, tersisa hanya satu pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Suara langkah kaki yang berat dan makian dalam bahasa asing mendekat dari segala penjuru. Kelompok rivalnya, klan Arcanum, telah merencanakan penyergapan ini dengan sangat rapi. Puluhan tentara bayaran bergerak mengepungnya, menyisir semak-semak tebal dengan senter berdaya tinggi. Cahaya putih memotong kegelapan, mendekati titik semak tempat Dante bersembunyi.
"Dante! Keluar kau, Anjing! Tidak ada tempat bersembunyi lagi di hutan ini!" teriak suara serak yang sangat dikenalnya—Marco, mantan tangan kanannya yang berkhianat.
Dante menga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sumpah Dibawah Langit Kota
Malam pertama di kota akhirnya tiba, membungkus komplek apartemen megah itu dalam keheningan yang anggun. Di lantai dua, kamar utama yang luas dan mewah telah disiapkan khusus oleh Dante untuk Aura. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, Aura tidak perlu lagi tidur di atas balai-balai bambu yang keras sambil menggenggam pisau rakitan di bawah bantal karena takut akan kejaran marabahaya.
Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berselimut tebal dan empuk. Udara sejuk dari pendingin ruangan membelai kulitnya, namun yang paling menenangkan hatinya bukanlah kemewahan fasilitas tersebut, melainkan rasa aman mutlak yang kini melingkupinya.
Di bawah sana, di lantai dasar penthouse yang bernuansa modern, lampu-lampu penerangan redup menyala. Suara gumaman rendah dan tawa tipis sesekali terdengar dari ruangan tengah. Dante duduk di sofa kulit hitam, dikelilingi oleh Valerio dan belasan anak buah pilihannya yang mengenakan pakaian taktis serba hitam. Senjata-senjata otomatis yang terawat rapi serta peta digital kota terhampar di atas meja kaca di hadapan mereka. Mereka sedang berdiskusi, menyusun strategi pembalasan dendam dan mengepung pergerakan klan Marco dari balik bayangan.
Aura mendengarkan samar-samar derap langkah sepatu bot yang berjaga sigap di luar pintu koridor utama dan suara obrolan tenang pria-pria tegap di bawah. Untuk pertama kalinya sejak malam kelam saat keluarganya dibantai, dada Aura tidak lagi berdebar ketakutan. Rasa trauma yang menghantuinya perlahan meleleh, berganti dengan perasaan terlindungi yang begitu dalam.
Gadis itu memeluk bantalnya erat-erat, menatap bayangan lampu kota di balik kaca jendela yang tebal dan kedap peluru. Senyum tipis mengulas di bibirnya sebelum kelopak matanya terasa berat. Malam ini, Aura tahu ia tidak lagi bertarung sendirian. Di bawah naungan sang Iblis yang memilih menjadi pelindungnya, Aura akhirnya bisa memejamkan mata dan tertidur dengan sangat nyenyak.
Dua hari setelah kepindahan mereka ke safehouse, pagi hari menyapa penthouse dengan sinar matahari yang memotong tipis tirai kamar utama lantai dua. Aura berdiri tegak di depan jendela kaca besar yang menjulang dari lantai hingga langit-langit, menatap hamparan gedung-gedung pencakar langit yang membisu di bawahnya.
Di tangannya, ia memegang erat sebuah liontin emas tua berisi foto kedua orang tuanya—satu-satunya peninggalan berharga yang berhasil ia selamatkan dari dalam ransel hijau militernya.
Tatapannya yang dulu rapuh dan penuh ketakutan kini telah berubah total. Binar kepolosan yang menyelimutinya selama dua tahun di Hutan Hitam terapis oleh dinginnya tekad yang membara.
"Papa, Mama... Aura akan membalaskan dendam untuk kalian," ucap Aura dengan suara pelan namun sangat tajam, diiringi remasan makin erat pada liontin di genggamannya. "Orang-orang yang mencabut nyawa kalian dan merenggut masa mudaku... tidak akan pernah bisa tidur tenang lagi mulai hari ini."
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Dante berdiri menyandar pada kening pintu. Pria itu baru saja naik dari lantai dasar usai menuntaskan pemetaan jalur operasi bersama Valerio. Dengan kemeja hitam yang lengannya disingsingkan hingga siku dan kacamata berbingkai tipis di wajahnya, Dante memperhatikan setiap kata yang diucapkan gadis itu.
"Ucapan yang sangat bagus untuk memulai pagi hari," kata Dante dengan suara beratnya yang dalam, melangkah masuk ke dalam kamar.
Aura tidak terkejut. Ia memutar tubuhnya, menutup liontin di tangannya lalu menatap Dante dengan dagu terangkat. "Kapan kita mulai, Dante?"
Dante mengulas senyum tipis—sebuah senyum dingin penuh intrik yang menandakan bahwa mesin kematian klan terkuat di dunia bawah telah sepenuhnya berputar. Pria itu menyodorkan sebuah map dokumen tebal berwarna hitam ke arah Aura.
"Marco mengadakan pesta malam amal di gedung opera kota nanti malam," jelas Dante tenang. "Dia mengundang seluruh pejabat, jenderal kepolisian, dan pengusaha yang berhasil dia suap selama dua tahun terakhir. Dia berpikir dia telah memenangkan segalanya."
Aura menerima map tersebut dan membukanya. Di dalam map itu terdapat foto-foto Marco, denah lokasi, hingga daftar target yang terlibat dalam pembantaian keluarganya dua tahun lalu.
"Nanti malam," lanjut Dante, melangkah mendekati Aura hingga jarak mereka hanya tersisa satu jengkal, "kau tidak perlu lagi bersembunyi. Kau akan masuk ke pesta itu,aku dan anak buahku akan memberi arahan dari luar.
Aura menatap mata hitam Dante yang pekat, merasakan getaran kekuatan dan kepastian dari pria di hadapannya. Ia mengangguk pelan, menyembunyikan liontin orang tuanya ke balik kerah pakaiannya.
"Aku siap," bisik Aura tanpa ragu sedikit pun. Panggung pertunjukkan berdarah akhirnya siap dimulai.