NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Semua menoleh kepadanya.

"Nenek jadi super perhatian sama aku." Ucapan polos itu membuat adiknya tersenyum tipis.

Namun, senyum Tara justru membuat hati Nina terasa seperti diremas. Ia mengenal putrinya lebih dari siapa pun. Tara memang selalu pandai menemukan sisi baik dari setiap keadaan. Bahkan ketika sedang menghadapi sesuatu yang mungkin tidak diinginkan, gadis itu masih bisa bercanda dan membuat orang lain tersenyum. Justru itulah yang membuat Nina semakin sedih. Seandainya keadaan keluarga mereka berbeda... Seandainya suaminya masih ada... Mungkin Tara tidak perlu mencari kebahagiaan dari perhatian yang baru datang setelah dirinya bersedia menerima sebuah perjodohan.

Nina mengalihkan wajahnya diam-diam agar air mata yang mulai menggenang tidak terlihat oleh siapa pun. Sementara Tara masih sibuk membuka isi paper bag dengan penuh rasa penasaran, sama sekali tidak menyadari bahwa senyum lebarnya malam itu justru membuat hati sang ibu semakin miris.

***

Tak terasa, hari yang telah disepakati akhirnya tiba. Hari pertemuan pertama antara kedua keluarga sekaligus acara lamaran sederhana. Rumah Nenek Bani sejak pagi sudah ramai. Nina dan Tara sibuk membantu menyiapkan hidangan, sementara anggota keluarga lain menyambut kedatangan tamu.

Tak lama kemudian, rombongan keluarga Sarif tiba. Suasana yang semula formal berubah hangat ketika kedua keluarga saling berkenalan.

Namun, saat mata Nenek Sarif tertuju kepada Tara, dahinya sedikit berkerut. "Lho," ucapnya spontan. "Kok calon cucu menantuku kelihatan lebih muda?"

Ucapan itu membuat beberapa orang menoleh ke arah Tara.

Tara yang memang tidak pernah kehabisan jawaban langsung tersenyum manis. "Tapi aku nggak kalah cantik, kan, Nek? Gimana-gimana, aku sesuai nggak dengan ekspektasi Nenek dan yang lainnya?"

Sesaat suasana hening. Lalu... "Hahaha..." Nenek Sarif tertawa lepas sampai menepuk paha. "Iya juga! Cantik, cantik. Banget malahan. Ayu banget, kecil mungil imut-imut. Biasanya yang baby face gini nggak akan cepat tua." Beliau langsung meraih tangan Tara dan mengusapnya penuh sayang. "Dari tadi Nenek kira kamu masih anak SMA."

Tara mengangguk polos. "Memang baru setahun lulus, Nek."

"Ya ampun..." Nenek Sarif kembali tertawa. "Pantas saja wajahmu masih imut."

"Iya, tapi tenang, Nek. Imut bukan berarti manja." Jawaban itu kembali membuat semua orang tertawa.

Melihat Tara yang cerewet, ramah, dan pandai mencairkan suasana, Nenek Sarif langsung merasa cocok dengannya. Berbeda dengan cucunya yang terkenal pendiam, Tara seperti memiliki energi yang tidak pernah habis. Dalam hati, beliau bahkan mulai membayangkan betapa serunya nanti jika gadis ceria itu benar-benar menjadi bagian dari keluarga mereka. Sarif yang super kalem sepertinya memang membutuhkan seseorang yang bisa membuat rumah selalu dipenuhi tawa.

Begitu rombongan keluarga Sarif memasuki ruang tamu, Tara yang sejak tadi sibuk menuang teh tanpa sengaja mengangkat kepala. Pandangannya langsung bertemu dengan seorang pria bertubuh tinggi, berbahu tegap, berambut cepak rapi, dan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna gelap yang sederhana, tetapi entah kenapa justru membuat auranya semakin berwibawa.

Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara langkahnya mantap layaknya orang yang sudah terbiasa hidup dengan disiplin. Tara sampai berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya tidak sedang bermasalah. Ya ampun... itu Sarif? batinnya. Tanpa sadar bibirnya sedikit menganga. Wow... tampan sekali kamu, Bang.

Jantungnya yang sejak tadi biasa saja mendadak berdebar lebih cepat. Ia buru-buru menundukkan kepala agar tidak ketahuan sedang melongo. Namun, rasa penasarannya menang. Baru dua detik menunduk, ia mengintip lagi. Masih ganteng... Dua detik berikutnya mengintip lagi. Ya Allah, ternyata tetap ganteng dari sudut yang ini.

Tara sampai menggeleng pelan untuk menyadarkan dirinya sendiri. Tara, jaga harga diri. Jangan kelihatan norak. Ingat, kamu calon pengantin, bukan fans yang ketemu idolanya. Sayangnya, nasihat itu hanya bertahan sekitar lima detik. Setelah itu matanya kembali melirik diam-diam. Kali ini lebih lama. Apakah... kamu jodohku? pikirnya dengan wajah berbinar. Lalu imajinasinya mulai berlari ke mana-mana. Kalau benar jadi nikah, berarti nanti tiap pagi lihat wajah setampan ini? Astaga... kayaknya aku bakal semangat bikin sarapan.

Tara bahkan nyaris tersenyum sendiri sebelum akhirnya tersadar. Ia cepat-cepat memalingkan wajah ketika Sarif seolah hendak menoleh ke arahnya. "Aduh, ketahuan lagi melihatin, malu banget," gumamnya dalam hati sambil pura-pura sibuk merapikan baki yang sebenarnya sudah rapi sejak lima menit lalu.

Dari kejauhan, Akmal yang memperhatikan tingkah kakaknya hanya menggeleng pelan. Baru lihat calon suami lima menit aja, Kak Tara udah senyum-senyum sendiri. Kayaknya bentar lagi lupa cara jalan.

Berbeda dengan Tara yang diam-diam merasa seperti baru memenangkan hadiah utama, Ratna justru berdiri mematung di sudut ruang tamu. Tatapannya tak lepas dari sosok Sarif. Semakin diperhatikan, semakin ia merasa ada yang tidak beres.

Lho... Katanya tentara? Kenapa wajahnya malah setampan ini? Ratna mengerjapkan mata beberapa kali. Kulit pria itu bersih, bahkan cenderung putih. Rahangnya tegas, posturnya tinggi, dan pembawaannya tenang. Tidak banyak bicara, tetapi justru memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.

Dalam benaknya, tentara yang ia bayangkan seharusnya berkulit gelap karena sering latihan di bawah terik matahari. Nyatanya... Pria di hadapannya jauh dari bayangannya. "Kenapa wajahnya tampan, sih?" gerutunya dalam hati. "Terus... kulitnya putih lagi." Ratna mulai merasa sesak oleh penyesalan yang datang terlambat. Kalau tahu orangnya begini... Harusnya aku saja yang dijodohkan.

Namun, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakui hal itu. Ia buru-buru mencari pembenaran agar hatinya sedikit lebih tenang. Ah, tapi dia cuma lulusan SMA.Kalimat itu diulang-ulang dalam kepalanya. Aku calon sarjana. Sebentar lagi lulus S1, bahkan mau lanjut S2. Masa aku menyesal hanya karena wajahnya tampan?

Ratna mengangkat dagunya sedikit. Sudahlah. Aku pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih hebat daripada dia. Lebih kaya, lebih berpendidikan, dan lebih sesuai dengan standarku.

Ia melirik sekilas ke arah Tara yang sedang tersenyum malu-malu setiap kali tanpa sengaja bertatapan dengan Sarif. Seketika tekad Ratna semakin bulat. Pokoknya aku tidak akan kalah dari Tara. Sayangnya, semakin keras ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri, semakin sering pula matanya diam-diam kembali melirik ke arah Sarif. Dan itu membuat penyangkalan yang dibangunnya perlahan mulai retak.

***

Usai perbincangan kedua keluarga selesai, suasana menjadi lebih santai. Para orang tua masih asyik mengobrol di ruang tamu, sementara beberapa saudara mulai menikmati hidangan yang tersaji.

Sarif lalu berdiri dan menghampiri Nenek Bani. "Maaf, Nek. Saya ingin berbicara sebentar dengan Tara, kalau diizinkan."

Nenek Bani mengangguk sambil tersenyum. "Silakan."

Tara yang sedang membantu mengumpulkan gelas bekas minum langsung membeku. "Hah? Ngobrol... berdua?" Ia menunjuk dirinya sendiri, memastikan tidak salah dengar. "Sa-sama aku, Bang?"

Sarif mengangguk singkat. "Iya."

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!