Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.
Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: AKHIR PESTA !
Dua hari telah berlalu sejak pesta perayaan kecil-kecilan di rumah Alya. Suasana hangat dan manisnya kue cokelat kemarin masih menyisa kesan mendalam di dada Raka, namun roda kehidupan persekolahan harus tetap berputar seperti biasa.
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyapu halaman depan sekolah. Raka berjalan santai melewati gerbang utama dengan tas sekolah yang menyangkut di salah satu bahunya. Namun, pandangannya mendadak terhenti pada sosok cowok di depannya.
Dimas.
Cowok itu tampak melangkah dengan sangat cepat, setengah berlari kecil menyusuri koridor menuju kelas. Langkah kakinya penuh gairah, lengkap dengan wajah berbinar-binar gembira yang terlihat agak mencurigakan dari kejauhan.
Melihat Dimas yang berjalan super cepat seperti buronan dikejar petugas piket itu membuat Raka mengerutkan keningnya bingung.
"Lah, kenapa dia? Kumat lagi pasti tuh anak," gumam Raka melakukan basa-basi sendiri seraya menggelengkan kepala, bersiap mengantisipasi kelakuan aneh sahabatnya itu.
Sesampainya di dalam kelas yang masih lumayan sepi, Raka langsung melangkah menuju bangkunya. Tanpa membuang waktu, Raka menghampiri Dimas dan menggeser kursi kosong di sebelah bangku Dimas untuk duduk di sana.
"Mas," panggil Raka pelan.
Dimas yang sedang asyik memelototi layar ponselnya hanya melepaskan gumaman singkat tanpa menoleh. "Hmm?"
"Lu kenapa tadi pas jalan di gerbang semangat banget? Kayak habis dapet warisan sebaskom."
Dimas seketika mendongak, matanya berbinar melotot lebar. "Ohh! Itu, Rak! Gue lagi bahagia banget karena tadi subuh gue hoki parah dapet skin legend di FF!"
Mata Raka langsung membulat mendengarnya. "Wih, seriusan lu?! Mana coba gue liat, jangan bohong lu!"
Dengan senyum bangga dan penuh kesombongan, Dimas mulai membuka aplikasi gim di ponselnya dan memamerkan item eksklusif yang baru saja ia dapatkan ke hadapan Raka.
"Nih, liat sendiri kalau gak percaya! Kece kan, Rak?" pamer Dimas seraya memutar-mutar tampilan karakter 3D di layarnya.
Raka menatap layar ponsel Dimas dengan pandangan berbinar penuh rasa iri. "Gila... keren banget skin-nya! Gue jadi pengen dapet juga, tapi gak dibolehin..."
Dimas mengerutkan dahi. "Gak dibolehin? Sama siapa? Kan lu ada tabungan dari hasil komik?"
"Ibu gue lah! Bisa digeprak sapu gue kalau ketahuan beli diamond gim terus," keluh Raka pasrah sambil menghela napas berat.
Dimas mengelus dagunya seraya menatap Raka dengan cengiran penuh maksud terselubung. "Ohh... gitu. Hmm, gimana kalau gue beliin lu skin-nya, Rak?"
Telinga Raka langsung berdiri tegak. "Wih, seriusan lu, Mas?! Baik banget lu tiba-tiba!"
"Iya, serius. Tapi ada syaratnya," potong Dimas cepat seraya menaikkan alisnya. "Sebagai gantinya, lu wajib pijet bahu gue setiap baru berangkat sekolah selama seminggu penuh. Gimana?"
Muka gembira Raka langsung datar seketika. "Alah, gamau ah! Dijadikan babu gini gue mah namanya!"
Dimas malah tertawa terbahak-bahak melihat respon Raka. "Hahaha! Lah, kan ada balasannya, enak dong Rak! Itu namanya simbiosis mutualisme!"
Raka menoyor bahu Dimas pelan. "Simbiosis dungu itu mah, Mas! Lu yang untung, gue yang pegel!"
Melihat mereka berdua yang sedang asyik mengobrol dan tertawa heboh di pojokan kelas, Aira dan Alya yang baru saja tiba di kelas berjalan menuju tempat duduk masing-masing. Begitu menaruh tasnya, Aira langsung menghampiri mejanya Dimas dan Raka dengan rasa penasaran yang membuncah.
"Oi! Kalian lagi ngobrolin apa sih dari tadi heboh banget? Ikut dong!" seru Aira seraya berkacak pinggang.
"Lagi ngobrolin gim nih," jawab Dimas santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Aira menaikkan satu alisnya. "Gim? Gim apaan?"
"Gim FF," jawab Dimas singkat.
Aira mendengus geli, melipat kedua tangannya di dada. "Yaelah... gim jelek gitu dibanggain."
Dimas langsung tidak terima. Ia melotot menatap Aira. "Et- enak aja lu bilang jelek! Yang penting bisa dimainin dan seru! Emangnya lu pernah mainin gim apa, hah?" tantang Dimas dengan nada tidak mau kalah.
Aira mengibaskan tangannya santai, mengingat-ingat koleksi gim yang sering ia mainkan di kamar mewahnya. "Hmm... main RDR 2, GTA V, sama... hmm gatau deh, lupa gue, banyak banget di PC."
Dimas dan Raka seketika melongo.
"Anjir... gim gede semua, pantesan..." gumam Dimas pelan, mendadak keningnya mengkerut layaknya orang yang terintimidasi spesifikasi PC.
Aira menaikkan sudut bibirnya, tertawa kecil melihat ekspresi melongo cowok di depannya. "Reaksi lu gitu doang, Mas? Mana gaya sok bangsawan lu?"
"Yaiyalah! Lu kan kaya, PC-nya sultan! Gue mah apa, cuma rakyat jelata ber-HP kentang!" balas Dimas pasrah yang langsung disembur tawa oleh Aira dan Raka.
Namun di tengah gelak tawa mereka bertiga, Alya yang sejak tadi menyimak perdebatan melangkah mendekati meja seraya menepuk tangannya pelan.
"Nah, mumpung kalian lagi ngomongin gim dan visual, aku mau ngingetin sesuatu nih," ujar Alya ramah.
Raka menoleh. "Ngingetin apa, Al?"
Alya mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bercover merah dari dalam tasnya. "Komik pertama kita memang udah tamat dan responnya bagus banget. Tapi kalau kita mau jaga momentum pembaca, kita gak boleh terlena kelamaan. Kita harus mulai mikirin ide dan konsep visual buat proyek komik kedua kita."
Dimas yang mendengarnya langsung tegak. "Wah! Kalau gitu, karakter utamanya harus yang megang pedang berapi terus punya skin keren kayak di gim dong, Al!"
"Setelannya tetep alay ya, Mas," potong Aira cepat. "Lagian konsep visual itu gak cuma soal karakter keren. Latar tempat, suasana, sama vibe dunianya juga harus matang."
Raka mengangguk setuju. "Bener kata Aira. Tapi masalahnya... ide kepala gue agak buntu nih kalau cuma ngeliatin papan tulis kelas."
Aira tersenyum tipis. "Kalau gitu, gimana kalau habis pulang sekolah hari ini kita mengadakan studi lapangan? Cari referensi visual dan inspirasi cerita di luar!"
"Setuju!" seru Alya berbinar-binar.
Setelah perdebatan sengit menentukan tempat antara warnet langganan Dimas, kafe rooftop mahal milik Aira, akhirnya usul merakyat nan adem dari Alya yang menang: Taman Kota.
Sore harinya, angin sepoi-sepoi menyapu area Taman Kota yang tenang. Raka, Dimas, Aira, dan Alya duduk melingkar di atas rerumputan hijau di bawah rindangnya pohon beringin tua. Di hadapan mereka tersebar beberapa lembar kertas sketsa dan buku catatan.
"Coba liat deh sudut pencahayaan dari matahari terbenam itu," tunjuk Aira seraya membingkai pandangannya dengan kedua jari. "Kalau diterapkan buat adegan klimaks komik kedua nanti, efek visualnya pasti dapet banget."
"Bener juga," sahut Raka sambil mencoret-coret garis kasar di buku gambar. "Gue dapet ide nih buat adegan pembukanya..."
"Dan jangan lupa tambahin karakter bangsawan tampan yang selalu siap menyelamatkan situasi!" cerocos Dimas seraya berdiri dan bersedekap dada dengan pose sok heroik di depan mereka.
"Dimas, duduk gak lu! Merusak pemandangan estetik aja!" semprot Aira sambil melempar gulungan kertas kosong ke arah Dimas.
"Yee... iri aja lu sama ketampanan gue!"
TAK!
ZRRRRT!
Sebuah suara desingan halus di udara mendadak memotong kalimat Dimas. Hanya dalam hitungan detik, sesuatu meluncur deras dari arah semak-semak pepohonan rindang di belakang mereka.
STLEEEKKK!
Sebuah anak panah berujung tajam menghantam keras batang pohon beringin tepat di antara kepala Raka dan Alya—hanya berjarak beberapa senti saja dari telinga Raka!
Suasana taman yang tadinya hangat seketika berubah menjadi hening mencengkeram.
"AAAAAH!" Alya menjerit pelan, spontan menutup mulutnya karena terkejut luar biasa.
Aira refleks berdiri dan memasang posisi waspada, matanya membelalak menatap anak panah hitam yang menancap dalam di kayu pohon. "Apa-apaan itu?!"
Dimas yang tadinya bergaya heroik langsung terduduk lemas di rumput, wajahnya pucat pasi bagaikan kehilangan seluruh darahnya. "ANJIR! PANAH BENERAN?! KITA LAGI DISERANG SUKU GAIB APA GIMANA?!"
Jantung Raka berdegup kencang bak dihantam palu. Keringat dingin menetes menelusuri pelipisnya. Saat matanya menatap lekat ke arah anak panah tersebut, ia menyadari ada sesuatu yang aneh.
Di dekat bagian bulu anak panah itu, terdapat secarik kertas lusuh yang terikat rapi menggunakan benang hitam.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Raka melepaskan benang tersebut dan membuka lipatan kertas kecil itu. Aira, Dimas, dan Alya menyemut rapat di belakang Raka, ikut menahan napas saat kertas terkuak.
Tidak ada kalimat panjang. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada satu kata yang ditulis menggunakan tinta merah pekat yang tampak seperti ditulis terburu-buru:
"BAHAYA"
Raka mendongak cepat, matanya menyapu semak-semak dan pepohonan di kejauhan. Di balik kegelapan bayangan pohon yang mulai meredup, Raka sempat menangkap kilatan pantulan cahaya dari sebuah kacamata milik seseorang yang berdiri membelakangi mereka, sebelum sosok itu lenyap begitu saja di balik kegelapan sore.