Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Dua puluh empat jam sebelum penyerangan Mansion Laurent.
Ruang rapat bawah tanah perusahaan AI Laurent.
Ruangan itu hanya bisa diakses menggunakan sidik jari Lucas.
Di dalamnya...
Hanya ada lima orang.
Lucas.
Adrian.
Komandan Tim Alpha.
Komandan Tim Delta.
Dan kepala divisi intelijen.
Layar besar menampilkan peta kota.
Lucas berdiri di depan layar.
"Mulai."
Adrian menekan remote.
Beberapa foto satelit langsung muncul.
"Kami berhasil menangkap beberapa pola."
Lucas memperhatikan.
Adrian menjelaskan.
"Patrick memang sengaja menghilangkan jejak."
"Namun..."
"...semua pergerakan logistiknya mengarah pada satu kesimpulan."
Lucas menyilangkan tangan.
"Ia akan menyerang."
Adrian mengangguk.
"Dalam waktu dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam."
Komandan Alpha bertanya.
"Bagaimana tingkat keyakinannya?"
"Sembilan puluh enam persen."
Lucas mengangguk pelan.
"Cukup."
Adrian melanjutkan.
"Patrick terlalu percaya diri."
"Ia yakin target utamanya hanya Alyssa."
"Karena itu..."
"...ia tidak akan menduga kalau kita juga bergerak."
Lucas tersenyum tipis.
"Itulah kesalahannya."
Komandan Delta mulai memahami.
"Tuan..."
"Maksud Anda..."
Lucas menunjuk satu titik di layar.
"Kediaman utama Patrick."
Semua mata tertuju pada layar.
Adrian memperbesar gambar.
Rumah mewah yang dijaga sangat ketat.
Namun...
Lucas menunjuk sisi belakang bangunan.
"Keamanan mereka kuat di depan."
"Tetapi..."
"Belakangnya?"
Adrian menjawab,
"Jauh lebih lemah."
Lucas mengangguk.
"Karena mereka tidak pernah mengira akan diserang."
Semua mulai memahami arah pemikiran Lucas.
Adrian berkata,
"Jadi ketika Patrick menyerang mansion..."
"...kita menyerang balik."
Lucas mengangguk.
"Tepat."
Komandan Alpha tersenyum.
"Itu akan memecah fokus mereka."
Lucas menggeleng.
"Bukan."
"Lebih dari itu."
Ia memperbesar lagi peta.
Lalu muncul foto seorang remaja laki-laki.
"Demian Patrick."
"Putra tunggal Patrick."
Komandan Delta sedikit terkejut.
"Tuan..."
"Anda ingin..."
Lucas memotong.
"Tangkap."
"Bukan lukai."
"Bukan sakiti."
"Bawa hidup."
Ruangan langsung sunyi.
Lucas berkata lagi.
"Aku tidak pernah menggunakan keluarga sebagai sasaran."
"Tetapi..."
"...kalau Patrick mulai menjadikan orang lain sebagai alat ancaman..."
"...ia harus tahu bagaimana rasanya."
Adrian mengangguk pelan.
"Itu akan menjadi kartu tawar."
Lucas memandang seluruh tim.
"Tujuan utama."
"Selamatkan Alyssa."
"Tujuan kedua."
"Kurangi korban."
"Tujuan ketiga."
"Tekan Patrick tanpa melukai anaknya."
Seluruh komandan berdiri.
"Siap!"
Malam penyerangan.
Ketika seluruh perhatian Patrick tertuju ke Mansion Laurent...
Di sisi lain kota...
Sebuah kendaraan hitam tanpa tanda melaju perlahan.
Di dalamnya terdapat Tim Shadow.
Unit yang bahkan keberadaannya hanya diketahui segelintir orang.
Dipimpin langsung oleh Jackie.
Ia menatap jam tangan.
"Hitung mundur."
"Lima..."
"Empat..."
"Tiga..."
"Dua..."
"Satu."
Ledakan pertama terjadi di Mansion Laurent.
Bersamaan dengan itu...
Patrick langsung bergerak bersama sebagian besar pasukan elitnya.
Jackie tersenyum tipis.
"Rumah kosong."
Mobil berhenti.
Delapan orang keluar tanpa suara.
Mereka melompati pagar belakang.
Memotong sensor.
Membuka jalur.
Seluruh gerakan berlangsung hanya dalam hitungan detik.
Tidak ada suara.
Tidak ada kepanikan.
Di dalam rumah...
Demian sedang membaca buku di ruang keluarga.
Ia bahkan belum mengetahui ayahnya sedang menyerang Mansion Laurent.
Salah seorang penjaga belakang baru sempat mengangkat radio.
Namun...
Dalam hitungan detik ia sudah dilumpuhkan tanpa luka serius.
Jackie masuk paling akhir.
Ia berjalan tenang.
Demian langsung berdiri.
"Siapa kalian?"
Jackie menunjukkan kartu identitas perusahaan Laurent.
"Kami bukan datang untuk menyakitimu."
Demian mengernyit.
"Lalu?"
"Kau ikut bersama kami."
"Tidak mungkin."
Jackie menghela napas.
"Maaf."
"Demi keselamatanmu."
Dua anggota tim langsung bergerak cepat.
Dalam beberapa detik...
Demian berhasil diamankan.
Tidak dipukul.
Tidak dilukai.
Hanya diborgol menggunakan alat pengaman.
Seluruh operasi selesai hanya dalam sebelas menit.
Saat mobil meninggalkan rumah...
Barulah sirene keamanan berbunyi.
Namun semuanya sudah terlambat.
Kembali ke masa sekarang.
Patrick masih menatap putranya.
Demian berteriak,
"Ayah!"
"Aku tidak apa-apa!"
Patrick mengepalkan tangan.
"Lucas..."
Lucas menjawab tenang.
"Anakmu aman."
"Aku tidak menyentuhnya sedikit pun."
Patrick menatap Jackie.
"Kau."
Jackie tersenyum tipis.
"Maaf."
"Rumah Anda terlalu mudah dimasuki."
Patrick benar-benar murka.
Namun...
Ia tahu Jackie berkata jujur.
Lucas melangkah satu langkah.
"Patrick."
"Kau mengancam seluruh penghuni mansion."
"Kau memakai Alyssa."
"Kau memakai Isabel."
"Kau memakai bom."
"Kini..."
"Aku hanya menunjukkan satu hal."
Patrick tidak menjawab.
Lucas melanjutkan.
"Aku masih memiliki batas."
"Anakmu tidak terluka."
"Karena dia bukan musuhku."
Hening.
Hanya suara hujan.
Patrick memandang Demian.
Kemudian Alyssa.
Lalu Lucas.
Ia sadar...
Hari ini ia kalah langkah.
Lucas sudah membaca seluruh rencananya jauh sebelum serangan dimulai.
Adrian membuka tablet.
"Tuan."
"Seluruh tim Shadow berhasil kembali."
"Tidak ada korban."
Lucas mengangguk.
"Bagus."
Ia kembali menatap Patrick.
"Kita akhiri malam ini."
Patrick bertanya pelan.
"Apa maumu?"
Lucas menjawab tanpa ragu.
"Kesepakatan."
Patrick diam.
Lucas berkata,
"Anakmu kembali kepadamu."
"Alyssa tetap bersamaku."
"Pertempuran berhenti."
"Tidak ada lagi serangan malam ini."
Patrick mengangkat kepala.
"Kalau aku menolak?"
Lucas menjawab datar.
"Itu hakmu."
"Tapi semakin lama kau menunda..."
"...semakin lama pula anakmu berada jauh darimu."
Patrick memejamkan mata beberapa detik.
Lalu mengembuskan napas panjang.
Untuk pertama kalinya...
Pria yang terkenal kejam itu tampak benar-benar berpikir sebagai seorang ayah.
Ia menatap Demian yang masih berdiri di bawah pengawalan.
Demian menggeleng pelan.
"Ayah..."
Patrick menutup mata sesaat.
Kemudian...
Ia mengangkat tangan.
Seluruh anak buahnya langsung menoleh.
"Tarik mundur pasukan."
Salah seorang bawahan terkejut.
"Tapi Tuan..."
Patrick menatap tajam.
"Itu perintah."
Semua langsung menjawab,
"Siap."
Lucas juga memberi instruksi.
"Tim Laurent."
"Turunkan status siaga."
"Namun tetap waspada."
Adrian mengangguk.
"Baik."
Beberapa menit kemudian...
Demian berjalan perlahan menuju ayahnya setelah borgolnya dilepas.
Begitu sampai di depan Patrick...
Anak itu langsung memeluk ayahnya erat.
Patrick membalas pelukan itu tanpa berkata apa-apa.
Lucas memperhatikan dari kejauhan.
Alyssa berdiri di sampingnya.
"Lucas..."
Lucas menoleh.
"Apa?"
"Kau sebenarnya..."
"...sudah merencanakan semuanya?"
Lucas tersenyum tipis.
"Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan langkah hari ini."
"Ia harus memikirkan langkah lawan berikutnya."
Alyssa menatapnya kagum.
Baru kini ia benar-benar memahami...
Mengapa Lucas begitu disegani.
Bukan semata karena kekuatan.
Bukan karena kekayaan.
Melainkan karena kemampuannya tetap berpikir jernih bahkan di tengah keadaan paling berbahaya.
Namun...
Di balik pelukan Patrick dan Demian...
Tatapan Patrick perlahan kembali mengarah kepada Alyssa.
Tidak lagi dipenuhi kemarahan.
Melainkan sebuah keyakinan yang belum berubah sedikit pun.
Dalam hati ia berbisik,
"Cepat atau lambat... kau akan menemukan alasan mengapa kau begitu penting."
"Lihat saja Alyssa kali ini kau masih beruntung"
"Namun nanti akan kupastikan kau bersujud di hadapanku"
"Dan kau Lucas, jangan sampai kau menyesalinya!"
"Kau sudah berani menyentuh anaku."
Dan Lucas, yang berdiri beberapa meter darinya, seolah dapat membaca tatapan itu.
Ia tahu...
Ini mungkin telah berakhir.
Tetapi perang sesungguhnya...
Baru saja dimulai.
Ketemu Alyssa di kebon cabe.
Wey Pembaca! Follow & Komen napa!
Jangan pada diem-diem bae...