Aku yang terjebak hubungan terlarang di luar nikah dan di tipu kekasihku yang membawaku kabur dari rumah ke kota, Tiba-tiba di lamar dan di nikahi oleh seorang Polisi yang terpaut 9 tahun lebih tua dariku. Polisi yang membantuku pulang ke rumah dan berdamai kembali dengan ayah.
Menjalani Pernikahan kilat dengan seorang pria asing yang sama sekali belum ku kenal sebelumnya, demi menebus dosa pada ayah yang sudah ku buat sedemikian hina.
"Kenapa kakak mau menikahi dan bertanggung jawab untuk seseorang yang tidak kamu kenal dengan baik?" ~ Karunia
"Karena aku tahu rasanya tidak punya orang tua." ~Anta Reza
meski begitu dia bukan sosok yang sempurna, dia memiliki kelemahan permanen yang membuatku akhirnya paham bahwa tidak ada seorang pria mau menikahi wanita asing yang mengandung anak dari orang lain dengan sukarela, sebagaimana pemikiran orang lain pada umumnya. hingga akhirnya aku mengetahui, bahwa ia memiliki alasan lain yang lebih masuk akal, selain dari yang telah dia ucapkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 - Penipu
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku sudah menikah? dari mana kamu tahu kalau suamiku polisi?"
Jantungku kembali berdetak kencang. apakah ini berarti Pria yang sosoknya selalu membuat perasaanku berkecamuk setelah perlakuannya padaku ini mengetahui sesuatu tentang pernikahanku?
Tidak. itu tidak mungkin. ia belum pernah mendengar tentang pernikahanku, sebab pernikahan itu kami langsungkan secara tertutup. bahkan teman-teman yang memperkenalkan kami pun tak ada yang tahu. tetapi, Petra ada di sini, mengatakan pengetahuannya secara tak terduga, amat sangat nyata.
Tiba-tiba dengan spontan Petra memelukku. begitu ia melepaskannya, seulas senyum merekah di wajah Petra yang jahanam.
"Ku rasa kamu telah keliru menilai ku. maaf aku marah-marah, dan bicara kasar padamu."
Aku tersadar dari lamunan mendengar hal mengejutkan itu, seakan menjelaskan maksud perkataannya itu mengingatkanku pada sosoknya yang dulu pernah ku sayangi, dia mengucapkan kata-kata itu dengan penuh perasaan, persis seperti saat dia bersama ku dulu. hanya bedanya sekarang, perkataannya malah membuatku terusik.
"Kurasa memang begitulah kamu." kataku pelan. "Jangan menyentuhku lagi!"
"Maaf. aku tahu mungkin sekarang pikiranmu telah di penuhi prasangka buruk tentangku. jika kamu mengizinkan, biar ku jelaskan semuanya."
Ekspresi menolak ku tampakkan di wajah dengan jelas. "Apa yang harus dibicarakan tentang dirimu?"
"Banyak hal."
"Kamu sudah menjelaskan isi hatimu sebelumnya, yang ingin aku tahun adalah mengapa kamu bisa tahu kalau aku sudah menikah dan suamiku seorang polisi?"
Ucapanku itu sepertinya membuat Petra kaget lagi. tetapi, meskipun begitu, ia masih bergeming.
"Ya, aku mengerti dan itu juga akan ku jelaskan, semuanya berkaitan. karena kalau tidak, kita bisa bermusuhan gara-gara alasan yang tidak tepat."
Tidak diragukan lagi Petra memang menyimpan sesuatu di belakangku, menyerap setiap kata yang pernah terucap dan meneruskannya dalam pengetahuannya sendiri.
Petra sepenuhnya keliru menginterpretasikan reaksinya. tetapi, jika aku tak memberikannya kesempatan, maka Petra tak akan memberitahukan yang sebenarnya. aku tak kuasa menyingkirkan bayangannya dalam pikiranku, aku ingin mengetahui rahasia hatinya. ini adalah rahasia yang lebih baik aku ketahui sebelum aku m4ti penasaran karena tak mendengar penjelasan yang akan diungkapkannya.
"Katakan," ucapku lantang.
Petra menatapku lekat-lekat. "Ceritanya panjang dan di sini bukan tempat yang baik untuk membicarakannya. well, di dekat sini ada cafe pinggir jalan yang lumayan buat nyaman. kita bicara di sana saja bagaimana?"
Mata ku terbelalak. "Aku mau di sini. semua tempat sama saja, aku cuma mau tau jawabannya saja."
"Masalahnya adalah orang-orang di sekitar sini memperhatikan kita, dan lihat penjual buah ini! dia terlihat tidak nyaman sekali dengan kehadiran kita berdua. aku takut mengganggu orang-orang di sini. memangnya kamu tidak?"
Dengan spontan aku melirik kanan kiri. ini memang lebih dari yang ku bayangkan. situasi ini telah menyulitkan ku di depan penjual dan orang di sekitar sini. tidak ada alasan yang tepat atas apa keributan yang timbul antara aku dan Petra yang mengganggu kenyamanan.
Hanya saja kecurigaanku kepada Petra begitu kuat, aku tak mampu menahan kecewa atas kepribadiannya itu. hal tersebut membuatku bereaksi berlebihan dengan cara yang mungkin tidak dapat di maklumi oleh sekitar.
"Aku tidak memaksa, kalau memang kamu tidak mau dengar juga idak masalah. aku mau pulang, lagi pula seperti yang kamu dengar apa yang ku tahu biarlah aku yang simpan."
Aku terdiam, seraya memikirkan betapa sulitnya mengikuti keinginan Petra. tetapi, aku terpaksa. karena bila tidak, aku khawatir kembali menyesal.
"Baiklah," kataku beberapa menit kemudian. "Tetapi, tidak lama!"
"Aku mengerti! ayo naik."
Dia mengajakku naik ke sepeda motornya, dan tak ada yang bisa ku lakukan selain menuruti tawaran darinya. sepanjang jalan aku hanya berdoa, berharap Petra mampu memberikanku jawaban yang tepat sehingga aku mampu memupus pandanganku yang buruk terhadap dia dan pengetahuannya. aku penasaran tentang itu...
Petra memarkirkan sepeda motornya di halaman sebuah cafe yang kecil namun terkesan modern, dengan atap tinggi dan jendela bergaya Art Deco. ada banyak pasangan muda mudi yang berkumpul di kursi depan sambil menikmati kopi.
"Tunggu sebentar, ya. biar aku pesankan minum."
Tunggu sebentar, kata terakhir yang dia ucapkan saat meninggalkan ku. dan ku akui aku trauma pada kata itu. "Tidak, jangan. biar aku saja yang pesan." kataku melarang. lebih tepatnya antisipasi untuk mencegah kejadian yang sama terulang.
Petra tersenyum. "Yeah, baiklah kalau begitu." ia mengangkat sebelah tangannya dan mengacungkan jempol.
Aku bergegas ke bar memesan cappuccino dengan cokelat. dari sana terlihat suasana riuh di bagian depan cafe. banyak pengunjung berkumpul di sini untuk berebut antrean memesan, tak ubahnya sedang berjuang mendapatkan lotre saja. hampir sekitar dua puluh menit barulah pesanan ku jadi. aku segera kembali ke meja.
Tetapi, begitu sampai di meja, aku merasa diriku jadi tegang, bahkan sampai tersentak. aku segera memeriksa sekeliling mencari Petra yang sudah hilang dari tempat duduknya, dan jantungku berdetak cepat. dia sampai tak meninggalkan jejak apa pun jika mungkin ke toilet, berarti ada kemungkinan aku kecolongan lagi. aku tahu seperti apa masalah yang sedang ku hadapi ini.
Aku mencari tahu tentang dirinya, namun hasilnya menyedihkan. "Maaf lihat pria yang tadi duduk di sana tidak?"
"Oh tidak- kursi di sana memang kosong saat aku datang." jawab salah satu pengunjung wanita yang duduk tak jauh dari meja pesanan ku.
Aku menghembuskan napas yang sejak tadi terasa berat. setelah berdiam cukup lama, dan hari mulai malam. suasana cafe mulai sepi karena sudah banyak pengunjung yang pulang. rupanya aku sudah menunggu Petra di kursi ini hampir satu jam, karena ku lihat jam di dinding cafe sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. dengan berat hati dan kecewa, aku akhirnya memutuskan untuk pergi.
Ku susuri jalan yang mulai sepi, sambil terus merenungi nasib diriku yang menyedihkan. rasa kecewa ku memuncak mendapatkan kembali pengkhianatan ini. bagi Petra, aku mungkin hanya sebuah fase dari petualangan cintanya yang rumit dan liar. aku hanya sebuah jalan, bukan tujuan. aku tak lebih dari angka nol, yang ada namun tak eksis, yang hadir namun dianggap absen.
Tiap kali ku ingat kejadian dulu yang terjadi antara aku dan Petra, dan yang terakhir baru saja terjadi, aku merasa diriku sungguh bodoh. setiap kata manis yang dia ucapkan tak lebih dari siasat untuk mengelabui hatiku. kesalahan terbesarku adalah mempercayainya lagi dan memberinya kesempatan untuk kembali menipuku. ku pikir, dia hanya menjanjikan ku alasan agar bisa kembali menghindar, agar dia menemukan kebebasannya kembali, kecuali dengan obsesi dan ambisinya.
Aku terisak, bukan karena kecewa saja. tapi juga karena Petra sengaja mengasingkan ku di tempat yang tidak aku kenal dengan baik. aku tak tahu ini di mana, dan aku juga tidak tahu kemana jalan pulang.
Angkutan minim karena jalanan sudah sepi. bahkan orang-orang pejalan kaki juga kosong. tak ada yang bisa ku lakukan, selain hanya terus menyusuri jalan, jalan yang panjang dan nampak tak berujung. sambil terus merapalkan do'a, Tuhan... aku hanya ingin pulang.