Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 Ketergantungan
Dua hari tanpa sekretaris yang biasa mengatur jadwal dan menemaninya bekerja hingga lembur membuat Aksa merasakan sesuatu yang janggal dalam kesehariannya. Ia kembali uring-uringan dengan Dita yang ditugaskan untuk menggantikan tugas Alle selama wanita itu cuti.
Setiap hal yang dilakukan Dita serasa salah di mata Aksa. Entah mengapa, ia merasa hanya Alle yang mengerti keinginannya.
Seperti pagi tadi, ketika Dita membuatkan kopi untuknya. Lidahnya menolak rasa yang Dita buat hingga CEO tersebut beberapa kali menyuruh Dita membuat ulang kopi untuknya. Meski begitu masih saja salah hingga pria arogan itu mengusir Dita dari ruangannya.
Belum lagi tentang segala jadwal yang disusun Dita, semua berasa tidak tepat waktunya. Padahal gadis itu sudah mendapat instruksi dari Alle sebelum Dita menggantikan tugasnya sebagai sekretaris.
Aksa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri akibat terlalu banyak marah-marah. Mungkin tekanan darahnya tengah naik sekarang. "Bisa kena stroke aku kalau kayak gini terus," lirihnya pada diri sendiri.
Ia terus memijat kepalanya berharap rasa berdenyut itu berkurang. Matanya terbuka ketika terdengar ketukan dari luar.
"Masuk," jawabnya.
"Selamat siang, Pak. Saya ingin memberitahukan jika jam dua nanti akan ada meeting dengan bagian pemasaran."
"Batalkan saja semua agenda hari ini."
"Tapi, Pak ...."
Mata mendelik Aksa membuat Silvi tak lagi banyak bertanya. Bosnya itu sedang dalam mode marah kalau dilihat dari raut wajahnya. Tak ingin menggangu macam yang sedang ngamuk, Silvi putuskan untuk segera pamit. Namun, belum juga ia sampai pintu, Aksa memanggilnya kembali.
"Sil ...."
"Iya, Pak." Silvi membalik badan.
"Aksa!" Kalau Aksa minta dipanggil dengan nama saja tanpa embel-embel pak, berarti pria ini sedang mengajaknya bicara sebagi teman. Silvi memanglah teman Aksa semasa SMA dulu, Aksa juga yang membantu wanita itu untuk bisa masuk ke perusahaan ayahnya ini.
Dengan santai Silvi mendekat dan duduk di bangku tepat di depan Aksa.
"Kenapa?"
"Gue nggak mau lagi dibantu sama Dita. Kerjanya nggak ada yang bener. Bikin gue emosi terus. Bisa-bisa gue mati muda gara-gara tekanan darah tinggi menghadapi itu anak."
Silvi tertawa mendengar curahan hati temannya itu.
"Kenapa lo tertawa?"
"Sa, bukan Dita yang salah. Dia sudah mengerjakan semua seperti apa yang Alle instruksikan." Sebelumnya Dita sudah mengadu pada Silvi tentang kemarahan Aksa dan tugas yang ia kerjakan.
"Kalau benar begitu, kenapa semua kerjaannya nggak ada yang beres. Bikin kopi aja nggak bisa!"
"Bukan salah Dita juga, tapi emang lidah lo udah kecanduan ama Alle."
Aksa terdiam. Maksudnya apa?
"Lo tuh udah ketergantungan ama sekretaris lo itu, Sa. Cuma dia yang bisa ngertiin lo. Tahu selera lo, dan tahu bagaimana ngatur jadwal hidup lo," imbuh Silvi.
"Gue nggak ngerti maksud, lo."
"Intinya, yang lo butuhkan itu cuma Alle, bukan yang lain."
Aksa memikirkan apa yang Silvi katakan. Apa benar ia sudah merasa ketergantungan dengan sekretarisnya itu.
"Gue sih takutnya kalau lo jatuh cinta sama sekretaris lo," goda Silvi.
"Ngomong apa sih, lo!"
"Yah, kita lihat aja. Apakah si janda cantik mampu menggoda seorang Aksara Bumi. Gue berani bertaruh untuk Alle."
Tak tahan digoda oleh temannya ini Aksa berseru marah. "Keluar, lo!"
"Siap, Pak Aksa." Silvi tertawa sendiri, lalu pergi dari ruangan bos yang merupakan teman lamanya.
Aksa membuka ponselnya. Ia melihat kontak Alle di sana. Ingin rasanya ia menghubungi sekretarisnya itu untuk tahu kabarnya. Sudah dua hari sejak ia mengajukan cuti Aksa tak sekali pun mendengar kabar Alle.
Rasa bimbang yang bergelayut di hatinya membuat Aksa segera mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jas. "Ah, bodoh amat!"
Ia mulai kembali membuka berkas di hadapannya. Berkas yang seharian ini tak membuatnya tertarik untuk membuka apa lagi membacanya. Berusaha menyibukkan diri agar apa yang Silvi katakan tentang dirinya teralihkan dari pikirannya.
Berulang kali mencoba, tapi Aksa tak bisa menemukan fokus dirinya. Rasa penasaran akan kabar dari sekretarisnya membuat seorang Aksara Bumi untuk pertama kali tak bisa bekerja.
Kesal dengan dirinya sendiri, Aksa putuskan untuk keluar dari kantor. Mungkin pergi sejenak dari rutinitas untuk merefresh pikiran akan membuatnya kembali menemukan semangat bekerjanya.
Ia memilih mengemudikan mobilnya sendiri bergabung dengan keramaian jalan ibu kota. Sembari menyetel audio musik untuk menemani kesendiriannya. Beberapa kali ia menoleh ke samping, di mana biasanya tempat kosong itu diduduki oleh sang sekretaris.
Kenapa harus Alle lagi?
Niatnya kan ingin menghindari pikiran tentang wanita itu. Tapi setiap hal selalu mengingatkannya dengan Alle.
Tak punya tujuan dari awal, mobil yang ia kemudikan justru melewati rumah sakit yang kembali mengingatkannya akan Alle. Entah apa yang membuatnya membelok ke arah parkiran rumah sakit tersebut, yang pasti niatnya untuk tahu kabar sekretarisnya harus ia dapat hari ini.
Aksa turun dari mobil dan menelpon Alle. Menanyakan di mana anak dari sekretarisnya itu di rawat.
"Bapak, ada di sini?" tanya Alle yang berada di ruang rawat Chilla.
"Hemm."
"Di mana?"
"Di parkiran."
"Oh, Ok, Pak, saya jemput saja." Sebagai penghormatan pada atasannya, Alle memilih menjemput pria itu dari pada meminta Aksa mencari sendiri ruang rawat Chilla.
"Maaf, Pak, saya tidak bermaksud merepotkan Bapak, tapi terima kasih banyak sudah mau menjenguk anak saya," ujar Alle ketika mereka sampai ke ruang rawat Chilla.
Aksa hanya terdiam. Ia memperhatikan anak sekretarisnya yang terbaring dengan selang infus di tangan kiri anak itu.
"Siapa, Ma?" tanya Chilla melihat kedatangan sosok asing baginya.
"Kenalin Sayang, ini namanya Pak Aksa. Dia atasan Mama di kantor."
"Halo, Om." Chilla melambaikan tangan kanannya pada Aksa.
"Eh, halo juga," jawab Aksa yang terasa kaku.
"Om, bawa, apa?"
Aksa bingung dengan pertanyaan anak kecil di depannya. Dia tidak bawa apa pun, lalu kenapa ditanya bawa apa.
"Chilla, nggak boleh kayak gitu." Alle menasehati. Ia juga melihat raut Aksa yang bingung dengan pertanyaan anaknya.
"Tapi, yang jenguk Chilla semua bawa hadiah buat Chilla. Seperti Bu guru, juga mamanya Tio. Mereka bawa hadiah." Dengan polosnya Chilla menjawab.
Di situlah Aksa baru tersadar jika ia tak membawa apa pun sebagai buah tangan untuk anak kecil yang sedang sakit ini.
"Iya, tapi nggak boleh kayak gitu. Ok."
Anak kecil itu sedikit kesal dengan nasehat mamanya.
"Maafkan anak saya, Pak." Alle tersenyum malu atas kelakuan Chilla.
"Tidak apa, aku yang salah. Aku tidak tahu kalau menjenguk orang sakit itu harus membawa hadiah."
"Ah ... bukan seperti itu, Pak. Bapak mau menjenguk Chilla saja itu sudah membuat saya senang." Tentu saja. Selama jadi sekretaris seorang Aksa, pria itu jarang sekali atau bahkan tidak pernah menjenguk orang sakit. Hanya karangan bunga atau pun hadiah yang dikirimkan pada kolega bisnisnya jika ada yang sakit. Semua itu juga inisiatif dari Alle sendiri.
Aksa lebih mendekat pada Chilla. Ia duduk di bangku plastik di samping ranjang perawatan. "Hari ini, Om memang tidak bawa apa pun, tapi kamu boleh meminta apa saja yang kamu mau."
"Beneran, Om?"
Aksa mengangguk.
Anak kecil yang belum genap enam tahun itu meletakkan jari telunjuknya di dagu seolah berpikir keras ingin minta apa dari bos mamanya ini.
"Chilla boleh minta papa?"
Sontak Alle dan Aksa saling tatap. Permintaan macam apa ini? Mana bisa Aksa mengabulkannya.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.