"Nak, seorang suami itu ibarat sebuah rumah. Jika engkau mematuhinya, ia akan melindungi dan mencukupi kebutuhanmu. Namun, jika engkau mengkhianatinya, maka ia akan berpaling darimu. Jadi patuhilah suami kamu Nak, jangan pernah membuat Allah murka akan tindakan yang kamu lakukan," Hasan mengusap pipi mulus putrinya.
"Iya Abi, in sya Allah aku akan mengingat nasehat-nasehat yang Abi berikan kepadaku selama ini," Aida mendaratkan ciuman pada pipi cinta pertamanya itu.
"Bagus Nak, Abi akan sangat bahagia jika kamu menjalani itu semua. Ambillah teladan dari Siti Khadijah yang memiliki nilai kesetiaan yang tinggi, dari Aisyah nilai kejujurannya, dari Asiah nilai kesabarannya menghadapi suaminya yang selalu berbuat jahat bahkan mengaku dirinya Tuhan, dari Maryam nilai ketabahannya, dan dari Fathimah nilai keteguhannya." lanjut Hasan mencium lembut pipi putrinya.
"Terima kasih Bi, terima kasih sudah memberikan aku begitu banyak pelajaran. "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPA 11
Sinta memasuki kamar Husein dengan menutup pintu dengan kasar. sungguh hatinya saat ini tengah kesal dengan ucapan Aida. Dia sangat tersinggung dengan kata-kata wanita itu.
"Kamu kenapa Sayang? Kenapa wajahnya kesal gitu?" Husein bingung melihat kekasihnya dengan wajah kesal.
"Iya aku lagi kesal banget Sayang. Kamu tahu, istri kamu itu mulutnya sangat pedas. Tadi saja aku di kata-katain sama dia. Aku nggak terima istri kamu ngomong gitu sama aku ya Sayang. Aku mau kamu marahin dia, aku nggak rela." Sinta mendekati kekasihnya memeluk lengan kekar laki-laki itu posesif. Tak lupa menampilkan wajah sedih yang di buat-buatnya.
"Baiklah nanti akan aku marahin dia, Sayang," Husein mengusap lembut rambut wanitanya yang dicintainnya itu.
"Aku mau sekarang kamu marahin dia, Sayang. Nanti kalau aku ketemu lagi sama dia gimana? Emang kamu mau aku dikatain yang tidak-tidak lagi?" Sinta cemberut mendengar ucapan kekasihnya.
"Baiklah-baiklah, aku akan marahin dia sekarang. Kamu tunggu di sini dulu Sayang, aku akan temui dia dulu."
"Ok Sayang," Sinta tersenyum manis ketika keinginannya dipenuhi Husein.
"Rasain lo, jangan berfikir kalau gue tidak akan bisa membalas lo," Senyum licik menguasi wajah Sinta.
Sinta duduk manis di atas ranjang king size milik Husein. Mengembangkan senyum manis yang menghiasi bibir merah merona wanita itu. Bibir yang tidak pernah lupa dengan polesan lipstik terang.
Sedangkan Husein kini sudah berada di ruang tamu. Melihat Aida yang tengah memegang al-quran ditangannya. Bahkan bibir gadis itu tampak bergerak-gerak. Mungkin saja gadis itu tengah menghafal ayat yang terdapat dalam Al-Qur'an tersebut karena, mata gadis itu yang tertutup rapat.
"Apa yang kau katakan pada kekasih saya?!"
"Astagfirullah Mas, kamu kalau ngomong nggak usah dengan nada keras gitu Mas. Lagian telinga aku masih berfungsi." Aida melipat al-quran yang tadi dipegangnya. Meletakkan kitab suci itu diatas meja didepannya.
"Apa yang kau katakan pada Sinta?!" Husein menatap nyalang istri yang tak dianggapnya itu.
"Aku ngomong baik-baik sama dia kok Mas, kenapa kamu marah? Lagian dia dulu yang ngajakin aku ngomong." Aida menatap bingung suaminya. Bahkan mata tegas itu tetap menatap dirinya marah. Seakan ada rasa dendam yang tersirat di mata itu.
"Jujur saja kau sudah mengatai yang tidak-tidak bukan kepada Sinta? Nggak usah ngeles. Nyari-nyari alasan segala."
"Astagfirullah Mas, lagian aku nggak pernah ngata-ngatain dia. Emang salah jika aku deketin kamu? Bukankah kita itu suami istri Mas? Dan dimana letaknya aku ngata-ngatain dia?" Aida menatap suaminya. Menatap mata tajam itu dengan tatapan matanya yang lembut. Yakinlah jika Husein bukan suaminya Aida tidak akan pernah menatap seperti ini. Takut akan dosa zina mata.
"Salah!!! Kau salah mendekati saya!!" bentak Husein tak terima dengan ucapan istrinya itu. Dia sangat kesal dengan ucap Aida yang menjelaskan jika mereka sedekat itu.
"Salah?? Coba kamu jelaskan dimana letak salahnya Mas? Adakah larangan seorang istri mendekati suaminya yang jelas halal untuk dirinya? Coba Mas jelaskan sama aku?" Aida menantang suaminya.
"Nggak usah Kau bahas itu, apa yang Kau katakan pada Sinta sehingga dia tampak kesal? Jangan coba-coba untuk membuat dia tidak senang di rumah ini ya? Rumah ini milik saya, Kau ingat itu!!"
"Apa yang dia katakan sama kamu jika aku mengatai kamu, Mas? Coba kamu jelaskan bagian mana aku mengatainya? Ahhh masalah rumah ini? Benar banget Mas rumah ini memang rumah kamu. Tapi tak tahukah kamu jika apa yang menjadi milik suami juga merupakan milik istri kecuali milik istri tetap akan menjadi milik istri Mas. Kecuali dia dengan rela memberikan kepada suaminya maka dia akan mendapatkan pahala."
"Dia---" ucapan Husein terhenti karena laki-laki itu juga tidak tahu apa yang dikatakan Aida kekasihnya. lagian Sinta juga tidak menjelaskan apa yang dikatakan Aida pada gadis itu.
"Dia apa Mas?" Aida menungu ucapan dari suaminya yang ntah kenapa tidak melanjutkan ucapannya.
"Ahhh sudahlah. Intinya kau jangan pernah mengata-ngatai kekasih saya. Ingat itu!!" Tekan Husein dalam setiap katanya. setelah itu laki-laki itu kembali lagi menuju kamarnya menemui kekasihnya.
"Semoga kamu cepat taubat Mas. Aku nggak mau kamu terlalu terlena dengan cinta yang belum halal untuk kamu, Mas." Aida memperhatikan suaminya yang sudah berlari menuju kamarnya.
"Sayang kamu sudah marahin wanita itu?" Sinta menghampiri kekasihnya saat Husein sudah memasuki kamar luas itu.
"Sudah Sayang," Dusta Husein. Lagian apa alasan dia memarahi Aida yang bahkan dia sendiri tidak tahu apa masalahnya.
"Bagus Sayang. Istri kamu itu tidak sebaik yang orang-tua kamu kita. Dia itu wanita licik yang bermulut tajam." Sinta mengompori Husein. Membuat laki-laki itu percaya akan ucapan kekasihnya.
"Ya sudah yuk kita tidur, lagian ini juga sudah sangat malam. Besok aku harus ke kantor Sayang, ada meeting dadakan soalnya." Husein merangkul bahu kekasihnya. Membawa tubuh gadis itu menuju ranjang nan empuk milik dirinya.
Sebelum tidur Husein mendaratkan beberapa ciuman pada pipi dan dahi kekasihnya. Dan terlahir pada bibir merah merona itu. Bibir yang seakan candu bagi dirinya untuk melepaskan rindu yang mengebu.
\*\*\*\*
Husein sudah rapi dengan jas serta kemeja putih yang di pakainya. Tak lupa dasi putih yang juga sudah bertengger rapi di lehernya. Husein menggandeng tangan kekasihnya yang kini sudah berganti pakaian.
"Pagi Mas," sapa Aida menampilkan senyum manisnya. Sekilas Aida menatap pada wanita suaminya. Ada rasa nyeri yang dirasakan Aida saat melihat gadis itu sudah berpakaian lain. Kadang pikiran negatif itu menghinggapi Aida. Sepasang anak manusia yang sudah dewasa tidur satu kamar apa yang biasa di lakukannya. Bukan Aida mau berfikir buruk tentang suaminya, hanya saja setiap wanita pasti akan berfikir demikian saat menyaksikan suaminya membawa seorang wanita ke dalam kamarnya dan tidur di kamar yang sama.
Husein tak menjawab ucapan Aida. Laki-laki itu menarik kursi dan mempersilahkan kekasihnya untuk menduduki kursi tersebut. Sedangkan Sinta menampilkan senyum miring ke arah Aida. Merasa dirinya kini tengah menang.
"Terima kasih, Sayang," Sinta memberikan senyum manisnya kepada sang kekasih.
"Sama-sama Sayang," balas Husein membalas senyum Sinta.
Iri? Jelas Aida sangst iri dengan perlakuan Husein kepada kekasihnya yang sangat berbeda dengan dirinya. Jangankan untuk berbicara baik-baik, tersenyum saja Husein tidak pernah kepada dirinya. Sebagai istri dia sungguh terluka dengan perlakuan Husein yang tak mencerminkan seorang suami.
Andai Aida bisa memilih dia ingin menyerah, tapi di sisi lain dia sungguh tak ingin mertuanya sedih lantaran kegagalan rumah tangga mereka. Belum lagi kedua orangtuanya yang juga menyayangi Husein. Menganggap suaminya seperti anak kandungnya sendiri.
"Silahkan di makan Mas," Seperti biasa Aida mengambilkan Husein sarapan untuk suaminya. Meketakkan piring itu di atas meja depan suaminya.
"Untuk gue mana? Kenapa nggak lo ambilin?" Sinta protes karena dirinya tak dilayani seperti Husein, kekasihnya.
"Mbak punya tangan bukan? Maka ambillah sendiri." Aida menyuap nasi ke dalam mulutnya. Membiarkan wanita itu menatap dirinya sinis.
"Sayang dia tidak mengambilkan aku sarapan." Adunya sambil menyenderkan kepada pada lengan Husein.
"Ambilkan sarapan untuk Sinta!!" Tegas Husein kepada Aida yang tengah menyuap sarapan paginya.
"Maaf Mas, aku bukan pembantu yang akan mengambilkan sarapan untuk dia. Dia punya tangan yang bisa di pergunakan untuk melakukan sesuatu. Maaf jika aku tidak menuruti keinginan kamu, Mas. Karena aku punya kewajiban untuk melayani kamu namun, bukan kekasih kamu." Aida tak terima jika dirinya harus mengambilkan sarapan untuk wanita asing itu. Yang benar saja dirinya harus menjadi pembantu untuk kekasihnya sendiri.
Tak ada lagi ucapan yang keluar dari mulut Husein. Laki-laki itu mengambil piring lalu mengambilkan kekasihnya sarapan pagi.
"Terima kasih Sayang," Lagi-lagi senyum kemenangan tercetak jelas di bibir merah Sinta.
Aida mengabaikan apa yang dilakukan suaminya. Sebenarnya dia tak terima jika suaminya harus melayani kekasihnya seperti ini. Diamlah yang bisa di buat Aida, jika apapun ucapannya tidaklah mempan.
TBC
asuh thor...parah bangettt typo nya
lakukan saja kewajibanmu sbg istri yg baik
sambil doakan suamimu
krn hanya Allah yg bisa membolak balikkan hati manusia
kadang kita sebagai anak tak bisa bersuara,takut kalo kita bicara menyakiti hati orang tua,namun pedih yg anak rasakan tau kah mereka.