Ini lanjutan dari novel PESONA SI GADIS CULUN dan SECOND LOVE.
Arka Krismawan seorang CEO muda yang kalem, ramah, baik hati harus dipertemukan dengan Gilsya seorang Mahasiswi yang mempunyai sifat petakilan, bar-bar, dan suka sekali mengganggu Arka.
Bagaimana kisah lucu Arka dan Gilsya dalam menjalani kisah cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Gibran
❤
❤
❤
❤
❤
Gibran membawa Gilsya ke hotel tempat dia menginap hanya Hawa yang ikut serta, sedangkan teman-teman yang lainnya kembali ke rumah KKN.
"Papi, kenapa Gilsya dibawa kesini? Gilsya sudah ga apa-apa kok, jadi Gilsya bisa kembali ke rumah tempat KKN," rengek Gilsya.
"Tidak bisa, malam ini juga Papi akan bawa kamu pulang!" tegas Gibran.
"Apa? ga bisa Pi, KKN Gilsya masih satu minggu lagi kalau Gilsya pulang duluan, Gilsya ga bakalan dapat nilai dong," protes Gilsya.
"Papi tidak peduli, kamu mau dapat nilai atau tidak itu tidak akan ngaruh buat Papi pokoknya Papi tidak mau tahu, malam ini kita pulang. Papi tidak mau melihat kamu diperlakukan seperti itu lagi, berani sekali anak mereka mempermalukan dan menghina puteri Gibran Tanuwijaya Gilbert. Lihat saja mereka akan tahu akibatnya," seru Gibran dengan mata yang memerah.
"Apa yang mau Papi lakukan?" tanya Gilsya panik.
"Papi akan melakukan hal yang setimpal dengan perlakuan anak mereka kepada kamu!" sahut Gibran dingin.
"Tapi Pi----"
Ucapan Gilsya terhenti karena Gibran langsung melemparkan tatapan tajamnya dan itu membuat Gilsya menundukan kepalanya karena merasa takut.
Gibran mengambil handuk dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah kuyup.
Hawa menghampiri Gilsya dan duduk di samping Gilsya.
"Sudah lebih baik kamu pulang saja, perintah Om Gibran itu mutlak tidak bisa dibantah," seru Hawa.
"Tapi aku masih ingin menyelesaikan KKN ini."
"Hanya tinggal satu minggu lagi, sudahlah lagipula kalau pun kamu tidak mengikuti KKN, itu tidak akan mempengaruhi nilai kamu. Kamu lupa ya kalau orang tua kita itu sangat berpengaruh di Jakarta, lulus ataupun tidak dari kampus itu tidak akan membuat kita kesulitan mencari pekerjaan," seru Hawa.
"Papi nyebelin, bagaimana kalau sampai terjadi kenapa-napa sama keluarga Mas tampan? Papi ga pernah main-main loh sama ucapannya."
"Biarin aja kali, biarin tuh si petasan tahun baru merasakan akibat dari kelakuannya. Tuh bocah tidak tahu, dia sedang berhadapan dengan siapa?"
Gilsya hanya bisa pasrah, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi selain mengikuti perkataan Papinya.
Beberapa saat kemudian, Gibran pun keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.
"Kamu mandi dulu sana dan ganti baju, Papi ga mau kamu sampai sakit ya."
"Tapi Gilsya ga bawa baju ganti Pi."
Tok..tok..tok..
Pintu kamar Gibran pun ada yang ngetuk dan Gibran pun segera membukanya. Reza asisten Gibran membawakan koper milik Gilsya.
"Tuan, ini koper milik Nona Gilsya."
"Terima kasih Za."
"Sama-sama Tuan."
"Hawa, kamu mau ikut pulang sama kita?" tanya Gibran.
"Ah, tidak Om tanggung tinggal satu minggu lagi jadi sepertinya Hawa mau lanjut saja," sahut Hawa.
"Ya sudah, sekarang sudah malam biar Reza antar kamu ke rumah tempat kamu KKN. Za, kamu antarkan Hawa dulu."
"Baik Tuan."
"Om, kalau begitu Hawa pergi dulu sampaikan sama Papa dan Mama kalau Hawa baik-baik saja disini dan satu minggu lagi akan pulang."
"Iya, nanti Om bilang sama orang tua kamu."
"Sya, aku pergi dulu ya."
Gilsya hanya mampu menganggukan kepalanya, Gilsya sangat kesal kepada Papinya yang memaksa dirinya harus pulang padahal Gilsya masih betah dan ingin melanjutkan KKNnya.
Malam itu juga, Papi Gibran membawa Gilsya pulang ke kota.
***
Keesokan harinya....
Pagi-pagi sekali Arka dan Fatur sudah berada di rumah KKN, mereka setiap hari memang suka jogging dan pagi ini Arka memutuskan mampir ke rumah KKN untuk meminta maaf kepada semua Mahasiswa KKN khususnya kepada Gilsya.
Arka melihat para laki-laki sedang membersihkan halaman rumah, sedangkan para perempuan sibuk di dapur.
"Pagi semuanya!" sapa Arka.
"Pagi Mas, ada apa ya Mas tumben pagi-pagi sudah kesini?" tanya Bimbim.
"Ah tidak apa-apa, aku datang kesini karena aku dan kedua orang tuaku mau meminta maaf kepada kalian atas kejadian tadi malam mengenai ucapan dan kelakuan adik aku Joya."
"Oh soal itu, sebenarnya kami masih sakit hati sih Mas atas kejadian tadi malam tapi karena Bu Kanaya sudah sangat baik kepada kami jadi kami memaafkan adik Mas," seru Danang.
"Terima kasih ya, oh iya boleh aku bertemu dengan Gilsya."
"Maaf Mas, Gilsya dari tadi malam tidak pulang," sahut Gaga.
"Apa?" seru Arka dan Fatur bersamaan.
Tidak lama kemudian Hawa pun keluar berniat memanggil teman-temannya untuk sarapan.
"Guys, ayo kita sarapan!" teriak Hawa.
Hawa menghentikan langkahnya saat melihat Arka dan Fatur sudah ada disana.
"Mas Arka dan Mas Fatur ada keperluan apa? pagi-pagi sudah ada disini?" ketus Hawa.
"Begini Nona Bule, kita kesini mau minta maaf atas kejadian tadi malam," seru Fatur.
"Kelakuan dan ucapan adik Mas Arka sungguh sangat keterlaluan, dia sudah menghina dan merendahkan kami. Kalau tadi malam aku berniat mengacaukan acara ulang tahun adik Mas Arka, aku sudah cakar-cakar tuh wajahnya. Asalkan kalian tahu, kalian sudah salah mencari lawan."
"Iya aku tahu, makanya aku datang kesini untuk meminta maaf. Bisakah aku bertemu dengan Gilsya?" seru Arka.
"Gilsya sudah pulang, dia tidak melanjutkan KKN ini karena Papinya marah besar dan memaksa Gilsya untuk ikut pulang," sahut Hawa.
"Apa?"
Arka hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi tidak jadi karena ponselnya tiba-tiba berbunyi dan itu ternyata dari Jonathan.
Wajah Arka berubah menjadi pucat saat mendengar ucapan Ayahnya itu, tanpa menunggu lagi akhirnya Arka pun pergi meninggalkan rumah itu tentu saja Fatur pun mengikutinya.
Sesampainya di rumah, Arka langsung masuk dan terlihat Ayah dan Bundanya duduk dengan termenung sedangkan Joya terlihat terisak.
"Ada apa Yah?" tanya Arka.
"Seketika saham perusahaan kita anjlok, kita mengalami kebangkrutan dalam waktu satu malam," sahut Jonathan frustasi.
"Ini semua gara-gara kamu Joya, kamu lihat kan apa akibat dari kelakuan kamu!" bentak Arka.
"Tuan Gibran itu bukan lawan kita, apalagi kalau teman-temannya sudah turun tangan bisa hancur kita sampai ke akar-akarnya. Kamu Joya selalu saja membuat masalah, perusahan kita sudah bangkrut bahkan kalau kita menjual perkebunan dan rumah ini juga tidak akan bisa mengembalikan perusahaan kita!" bentak Jonathan.
"Maafkan Joya Yah," lirih Joya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan? meminta maaf langsung kepada Tuan Gibran pun tidak akan mengubah keadaan, pasti Tuan Gibran tidak akan memaafkan orang yang sudah melukai hati puterinya," seru Jonathan.
Kanaya hanya bisa mengusap punggung suaminya itu memberikan semangat, sedangkan Arka tampak berpikir.
"Sepertinya kita harus pindah ke kota Yah, Arka masih punya pabrik peninggalan dari Ayah Rama dan Kakek sudah sejak lama meminta Arka untuk mengambil alih pabrik itu," seru Arka.
"Bunda juga sepertinya akan membuka toko kue lagi Yah, dulu kan Bunda sempat punya toko kue juga bersama Gina," seru Kanaya.
Jonathan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain pasrah menerima semua ini.
"Ya sudah, perkebunan dan rumah ini juga sepertinya harus kita jual," seru Jonathan.
"Tidak Yah, Joya tidak mau jatuh miskin bagaimana dengan teman-teman Joya pasti mereka akan menertawakan Joya," rengek Joya.
"Diam kamu Joya, memangnya kamu pikir semua kekacauan ini gara-gara siapa?" bentak Jonathan.
Joya pun akhirnya berlari meninggalkan semuanya menuju kamarnya, sedangkan keempat orang itu hanya bisa duduk termenung merenungkan nasib mereka yang langsung terbalik dalam waktu satu malam saja.
❤
❤
❤
❤
❤
Jangan lupa
like
give
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
.kasiam arka😫😫
. 🤭🤭