Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
_
_
Drama percintaan beda usia ✅
Novel yang nggak ada konfliknya ✅ (Tapi Bohong)
Hidup Marsha dan Jeremy berubah seratus delapan puluh derajat. Gara-gara sebuah pakaian berbentuk mirip kacamata alias kutang, mereka terjebak dalam sebuah pernikahan konyol yang sejatinya sudah direncanakan oleh nenek-nenek mereka.
Bagaimana bisa Jeremy seorang CEO tampan nan tajir harus menikahi gadis berumur sembilan belas tahun yang lebih pantas menjadi keponakannya?
"Nahasnya aku harus mengambil alih beban keluarga Tyaga" ~ Jeremy
cover by Tiadesign_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Kehabisan Akal
Jeremy menemui Mia di sebuah kafe. Gadis yang menjadi kekasihnya setelah kedua orangtuanya meninggal itu nampak tersenyum dan melambaikan tangan. Pertemuan Mia dan Jeremy awalnya tidak sengaja, Jeremy beberapa kali datang ke klinik kejiwaan untuk melakukan konsultasi dengan psikolog, dan kebetulan Mia dulu bekerja di rumah sakit yang didatangi Jeremy, sebelum gadis itu pindah bekerja ke rumah sakit milik Kimi.
“Hei … liat wajahmu kusut sekali,” ucap Jeremy. Ia sentuh pipi Mia lantas duduk di depan gadis itu.
Mia hanya memulas senyum, semenjak Jeremy bercerita tentang perjodohan yang dicetuskan sang nenek, dia merasa sangat minder. Meski berprofesi sebagai seorang dokter, tapi dia hanya berasal dari sebuah keluarga biasa. Mia pun tidak tahu nama gadis yang akan dijodohkan dengan Jeremy, bagaimana rupanya, dari keluarga mana, karena Jeremy tidak ingin membahasnya.
“Banyak pasien datang pagi buta ke UGD tadi, untung dokter Kimi baik hati, dia yang seharusnya pulang pun ikut membantu kami.”
Mendengar nama ibunda Marsha disebut, Jeremy hanya menaikkan kedua alis. Ia tidak ingin memberitahu Mia, tidak untuk sekarang. Sebelum kesepakatannya dan Marsha terjadi, pria itu tidak ingin membuat sang kekasih semakin berkecil hati.
“Kamu pasti belum sarapan, ayo sarapan dulu,” ucap Jeremy. Ia benar-benar lembut memperlakuan Mia, berbeda saat bersama dengan Marsha.
_
_
_
“Dia pasti sengaja datang ke sini karena janjian sama pacarnya,” tuduh Mina ke Marsha. Wanita beranak tiga itu menyipitkan mata. Ia merasa tidak ingin dikalahkan oleh bocah ingusan seperti sang keponakan.
“Fitnah lebih kejam dari pada pembulian,” sanggah Marsha. Gadis itu bersedekap dada. Mukanya cemberut bak ikan buntal.
“Heh … kamu sudah berani menonton film biru ‘kan? itu pasti karena kamu terpengaruh pergaulan. Udah Kim, keputusan menikahkan dia memang benar. Dari pada terjebak pergaulan bebas.”
Mina melotot ke arah Marsha, masih segar diingatannya kala sang saudara datang siang itu ke rumahnya. Netra Kimi berkaca-kaca sambil bercerita bahwa di ponsel putrinya ada video hiyahiya. Meski Marsha mengelak dan berkata dia tidak tahu berasal dari mana video itu, tapi Kimi tak sertamerta percaya.
“Aku sudah bilang tante, aku tidak tahu. Itu mungkin teman di grup yang mengirim dan masuk ke gallery ponselku.” Marsha membela diri, dan sejatinya dia memang berkata jujur.
“Ah … sudah lah Kim, keputusanmu sudah benar. Nikahkan saja anakmu ini!”
Mina bertolak pinggang, dia memilih duduk di sofa karena sejak tadi berdiri berdebat dengan Marsha. Sedangkan Kimi memilih diam dan hanya menjadi penonton. Wanita itu tahu bagaimana sifat Marsha. Putri semata wayangnya itu akan ketakutan jika dirinya sudah diam dan tak mau bicara.
“Mi,” panggil Marsha ke Kimi dengan nada manja. “Aku nggak mau kawin sama dia Mi, aku masih muda masa depanku masih cerah – silau, bahkan aku butuh kacamata kuda agar cerahnya tidak membuat mataku sakit.”
Mina memasang muka geram, dia bahkan membuat gerakan mengepalkan tangan dan memukul sang keponakan dari belakang.
“Jangan dengarkan sengkuni Mi!” ucap Marsha lagi. Gadis itu sudah pasti sedang menyindir Mina.
“Andro itu baik Mi, dia nggak pernah kok morotin aku,” imbuh Marsha, mencoba mencari restu padahal keputusan papi dan maminya sudah final.
“Nggak pernah morotin tapi kamu belikan dia jam merek brolex, tas merek kremes, sepatu luis piton dan ikat pinggang dion, apa itu namanya?” tanya Kimi dengan sorot mata tajam ke sang putri.
“Ya … kan hadiah Mi, bentuk kasih sayang. Lagian dia juga nggak minta, aku liat sepatunya sudah bulukan ya aku belikan, aku liat tas dia nggak branded aku jadi kasihan, padahal sekolah kami ‘kan sekolah elit.”
Mina geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan kebucinan sang keponakan yang jika diteruskan akan mendatangkan bencana.
“Heh … Marsha and the Bor, kamu sepertinya memang butuh kacamata kuda,” sarkas Mina.
_
_
Sementara itu, Cantika dan Nova gelisah. Dua nenek yang masih terlihat segar, energik dan bohai itu sedang berdiskusi. Mereka mengadakan rapat menggunakan Joom Meeting di laptop masing-masing.
“Kita tidak bisa menunda lagi, secepatnya Marsha dan Jeremy harus bertunangan,” tegas Cantika.
“Iya, aku tidak ingin Jeremy berubah pikiran, kamu cerdas sekali menggunakan kesialan sebagai senjata menaklukkan cucumu itu, bahkan sampai sengaja membuat ambrol atap lobi perusahaannya." Nova mengacungkan jempol ke kamera.
“Pokoknya sebelum mati, aku ingin cucuku mendapat keluarga yang hangat dan bisa menyokongnya. Aku yakin keluargamu bisa melindungi Jeremy dan adiknya,” ucap Cantika, ada gurat putus asa di wajahnya yang keriput.
“Kita bestie, aku juga melakukan ini karena yakin, satu-satunya yang bisa menjadi pawang cucuku yang seperti uler keket itu hanya lah Jeremy.” Nova menganggukkan kepala mantap. Sampai sebuah ide keji dia cetuskan lagi-
“Ayo kita pura-pura sekarat agar Jeremy dan Marsha mau segera bertunangan.”
“Jangan bestie! ide itu sudah basi, yang ada Jeremy malah akan mendoakan aku agar benar-baner cepat mati,” tolak Cantika mentah-mentah.
“Lalu bagaimana?” tanya Nova yang mulai bingung karena kehabisan akal.
“Aku punya ide yang lebih bagus dari itu,” ucap Cantika.
“Aku akan memasang bom di mobil Jeremy dan meledakkannya agar dia pikir kesialannya sudah berada di fase akhir.”
nanti tak pinjemin ke Orang tua ku....